The 20 Best Movie Performances of 2017


What makes an acting performance so remarkable and/or memorable? Kemampuan seorang aktor untuk menghidupkan karakternya dan sekaligus menghantarkan sentuhan-sentuhan emosional yang dirasakan sang karakter jelas membuat sebuah penampilan akan mudah melekat di benak para penontonnya. Kadang bahkan jauh seusai penonton menyaksikan penampilan tersebut. Penampilan tersebut, tentu saja, tidak selalu membutuhkan momen-momen emosional megah nan menggugah. Bahkan, pada beberapa kesempatan, tidak membutuhkan durasi penampilan yang terlalu lama.

Berikut adalah dua puluh – well… dua puluh lima, untuk tepatnya – penampilan akting yang paling berkesan dalam sebuah film yang dirilis di sepanjang tahun 2017, termasuk sebuah penampilan yang At the Movies pilih sebagai Performance of the Year. Disusun secara alfabetis.amy-adams-arrival-header

Amy Adams sebagai Louise Banks dalam Arrival (Denis Villeneuve, 2016)

Berperan sebagai sosok ilmuwan sekaligus seorang wanita yang baru saja menerima berbagai pengetahuan baru tentang dirinya sendiri, Adams tampil sangat mengesankan dan menjadi pusat kehidupan utama bagi Arrival. Adams-lah yang menjadikan karakter Louise Banks yang ia perankan sebagai pemandu bagi penonton untuk menjelajahi teka-teki yang disediakan oleh Villeneuve sekaligus menghantarkan deretan sentuhan emosional dalam penceritaan film. Adams mampu membawakan karakternya dengan ketenangan yang meskipun tidak pernah terlihat menonjol namun selalu berhasil menghanyutkan.

jessica-chastain-mollys-game-header

Jessica Chastain sebagai Molly Bloom dalam Molly’s Game (Aaron Sorkin, 2017)

Tentu, Molly Bloom sekilas terlihat seperti karakter-karakter wanita cerdas nan tegas yang sepertinya selalu sesuai untuk diperankan oleh Chastain – lihat saja penampilannya sebagai Elizabeth Sloane dalam Miss Sloane (John Madden, 2016). Meskipun begitu, lewat naskah pengisahan sekaligus arahan Sorkin, Chastain menjadikan karakternya sebagai sosok wanita yang tidak hanya cerdas namun memiliki daya manipulasi yang luar biasa mengikat. Penampilan yang fantastis.

andrew-garfield-silence-header

Andrew Garfield sebagai Sebastião Rodrigues dalam Silence (Martin Scorsese, 2016)

2016 seharusnya ditasbihkan menjadi tahunnya Andrew Garfield. Setelah memberikan penampilan yang begitu emosional dalam Hacksaw Ridge (Mel Gibson, 2016), Garfield memperkuat kualitas filmografinya dengan tampil – dan bersinar terang – dalam film arahan Scorsese, Silence. Dalam film yang memiliki ritme pengisahan berjalan cukup lamban dan disajikan dalam durasi 161 menit(!), penampilan Garfield sebagai Pastur Sebastião Rodrigues menjadi bahan pengikat untuk penonton dalam terus mengikuti seluk beluk penceritaan film ini. Melalui penampilan Garfield – yang juga didukung oleh penampilan Adam Driver dan Liam Neeson, Silence mampu menyajikan elemen emosional dan kemegahan film yang jalan ceritanya diadaptasi dari buku karangan Shūsaku Endō ini.

christine-hakim-djenar-maesa-ayu-kartini-header

Christine Hakim sebagai Ngasirah dan Djenar Maesa Ayu sebagai Moeryam dalam Kartini (Hanung Bramantyo, 2017)

Meskipun hanya tampil sebagai pemeran pendukung dalam Kartini, Hakim dan Ayu justru menjadi pemeran dengan penampilan paling kuat di sepanjang pengisahan film. Berperan sebagai dua karakter perempuan yang sama-sama menyimpan kepedihan hati mereka selama bertahun-tahun, keduanya tampil dengan penampilan akting yang akan mampu memicu pergolakan emosional dari para penonton.

sally-hawkins-the-shape-of-water-header

Sally Hawkins sebagai Eliza Esposito dalam The Shape of Water (Guillermo del Toro, 2017)

Jiwa dan nyawa penceritaan The Shape of Water jelas terletak pada penampilan akting Hawkins. Berperan sebagai sosok wanita yang tidak memiliki kemampuan berbicara, Hawkins  mampu menghidupkan karakter Elisa Esposito dengan tatapan mata, mimik wajah, dan gestur tubuhnya. Dengan penampilan luar biasa tersebut, Hawkins menjadikan karakternya begitu mempesona – penonton dapat merasakan bahwa ia adalah sosok wanita yang selalu merasa kesepian meski di tengah keramaian akibat kekurangan yang dimilikinya, seorang sahabat yang dengan setia mendengarkan setiap keluh kesah sahabatnya, hingga seorang pecinta yang rela melakukan apa saja demi selalu berdekatan dengan kekasihnya. Sebuah peran luar biasa yang sukses dihidupkan oleh seorang aktris yang luar biasa pula.

charlie-hunnam-the-lost-city-of-z

Charlie Hunnam sebagai Perry Fawcett dalam The Lost City of Z (James Gray, 2017)

Gray menghadirkan The Lost City of Z dengan eksplorasi kisah dan karakter yang begitu kuat. Karakter-karakter yang digambarkan dengan kuat oleh Gray kemudian berhasil dipresentasikan dengan penampilan yang kuat pula oleh barisan pengisi departemen akting film ini. Hunnam yang memerankan Perry Fawcett hadir dengan penampilan yang begitu mengikat. Ia mampu menampilkan perubahan karakteristik sekaligus emosi karakternya dengan begitu meyakinkan sekaligus menghadirkan chemistry yang begitu erat – khususnya dengan Robert Pattinson yang juga tampil gemilang di film ini.

jennifer-lawrence-mother-header

Jennifer Lawrence dalam mother! (Darren Aronofsky, 2017)

Dalam film terbaru Aronofsky, Lawrence berperan sebagai sosok wanita/istri/ibu yang tenggelam dalam rasa cinta sekaligus kekagumannya pada seorang pria yang merupakan suami sekaligus ayah bagi anak yang dikandungnya. Rasa cinta serta kekaguman tersebut secara perlahan justru membuat karakter yang diperankan Lawrence terperangkap dalam komposisi rumah tangga yang terus bergerak menuju kehancuran. Lupakan Jennifer Lawrence yang selama ini Anda kenal. Lawrence tampil dalam ketenangan yang membeku dan sentuhan emosional yang kaku di sepanjang film. Kebekuan tersebut secara perlahan mulai mencair – meledak, untuk tepatnya. Namun Lawrence berhasil menjadikan karakternya menjadi pusat perhatian di setiap kali keberadaan karakter tersebut hadir di dalam pengisahan film.

putri-marino-adipati-dolken-posesif-header

Putri Marino sebagai Lala dan Adipati Dolken sebagai Yudhis dalam Posesif (Edwin, 2017)

Sulit untuk memisahkan penampilan Marino dengan Dolken dalam Posesif. Seperti karakter Lala dan Yudhis yang mereka perankan, penampilan Marino dan Dolken tampil dalam satuan chemistry yang erat dan saling mendorong kualitas penampilan yang satu dengan yang lain. Sebagai seorang remaja penyendiri dengan kepribadian yang kelam, Dolken mampu menyajikan karakter Yudhis dengan sangat kuat – mulai dari gestur tubuh hingga tatapan dalam matanya. Penampilan yang membuat karakter Yudhis dapat terasa begitu manis dan romantis di beberapa bagian dan berubah menjadi menakutkan di bagian lain. Dan meskipun merupakan penampilan akting pertamanya, Marino mampu mengimbangi penampilan Dolken dengan baik. Chemistry antara Dolken dan Marino hadir meyakinkan dan menjadikan karakter yang mereka perankan tampil begitu meyakinkan.

james-mcavoy-split-header

James McAvoy sebagai Kevin Wendell Crumb – dan 23 kepribadian lainnya – dalam Split (M. Night Shyamalan, 2017)

Selain dari kemampuan pengisahan Shyamalan, kekuatan utama Split jelas hadir dari kemampuan akting yang sangat prima dari McAvoy. Memerankan 23 karakter yang berbeda – meskipun tidak semua karakter tersebut ditampilkan dalam film ini – McAvoy mampu memberikan identitas yang berbeda-beda pada setiap kepribadian yang ia tampilkan. Sebuah penampilan yang sangat menggugah dan jelas merupakan salah satu penampilan terbaik McAvoy. The gutsiest performance of the year!

frances-mcdormand-three-billboards-outside-ebbing-missouri-header

Frances McDormand sebagai Mildred Hayes dalam Three Billboards Outside Ebbing, Missouri(Martin McDonagh, 2017)

McDormand menghadirkan Mildred Hayes sebagai sosok karakter yang penuh kemarahan akibat ketidakadilan yang dialami puterinya namun tetap dengan penampilan tenang yang mampu membuatnya tetap hadir dengan pemikiran jernih. Sebagai seorang ibu, apa yang dialami karakter Mildred Hayes jelas menghadirkan beberapa momen emosional – khususnya ketika jalan cerita film menggali lebih jauh mengenai jalinan hubungan karakter Mildred Hayes dengan puteranya, Robbie Hayes (Lucas Hedges), dan mantan suaminya, Charlie Hayes (John Hawkes) – dan McDormand mampu mengisi setiap elemen emosional yang dihadirkan oleh karakternya dengan sempurna. Salah satu penampilan terbaik untuk tahun ini.

michelle-pfeiffer-mother-header

Michelle Pfeiffer sebagai “woman” dalam mother! (Darren Aronofsky, 2017) dan sebagai Caroline Hubbard dalam The Murder on the Orient Express (Kenneth Branagh, 2017)

Baiklah. Anda dapat menyebut pemilihan Pfeiffer dalam dua peran yang dihadirkannya pada tahun ini sebagai sebuah kecurangan. Namun, dengan durasi pengisahan karakter yang sebenarnya singkat, Pfeiffer mampu begitu mencuri perhatian dalam perannya sebagai “woman” dan Caroline Hubbard. Begitu mengesankannya penampilan Pfeiffer, ketika kedua karakternya absen dalam deretan adegan mother! dan, khususnya, The Murder on the Orient Express, penonton dapat merasakan sebuah kekosongan dan kerinduan akan kehadiran kedua karakter tersebut kembali.

brooklynn-prince-the-florida-project-header

Brooklynn Prince sebagai Moonee dalam The Florida Project (Sean Baker, 2017)

Seperti halnya Tangerine (2015), Baker juga memilih untuk mengisi departemen akting The Florida Project dengan deretan pemeran yang mayoritas merupakan aktor dan aktris dengan pengalaman akting yang minimalis. Dan Baker berhasil mengarahkan para pemerannya untuk mendapatkan kualitas akting yang benar-benar bersinar. Lihat saja bagaimana aktris cilik Prince yang memberikan salah satu penampilan akting dari seorang pemeran muda yang paling mengesankan dalam beberapa tahun terakhir. Penampilan seorang pemeran muda paling mengesankan setelah penampilan Jacob Tremblay di Room (Lenny Abrahamson, 2015). Penampilan Prince hadir begitu memikat dan menghipnotis dan jelas akan meninggalkan kesan mendalam pada penonton bahkan jauh seusai mereka menyaksikan film ini.

Wind River - 70th Cannes Film Festival, France - 19 May 2017

Jeremy Renner sebagai Cory Lambert dalam Wind River (Taylor Sheridan, 2017)

Kesuksesan Wind River mungkin berasal dari kecerdasan Sheridan dalam merangkai kisah dan karakter yang mampu tampil begitu kuat. Namun, penampilan Renner sebagai sosok Cory Lambert yang tangguh namun memendam duka dan rahasia yang mendalam dalam kepribadiannya jelas turut menjadi elemen yang mendukung penuh mengapa penceritaan Wind River menjadi salah satu yang terbaik di sepanjang tahun 2017 lalu. Sangat emosional. Jelas menjadi penampilan terbaik Renner setelah penampilannya Staff Sergeant William James pada The Hurt Locker (Kathryn Bigelow, 2008).

margot-robbie-i-tonya-header

Margot Robbie sebagai Tonya Harding dalam I, Tonya(Craig Gillespie, 2017)

Robbie hingga saat ini mungkin hanya dikenal sebagai aktris berparas jelita yang menggoda Leonardo DiCaprio dalam The Wolf of Wall Street (Martin Scorsese, 2013) – atau gadis jelita yang cerdas dan begitu mengerti akan perekonomian Amerika Serikat dalam penampilan selintas pada film arahan Adam McKay, The Big Short (2015). Namun, pandangan tersebut akan segera berubah total dengan penampilannya sebagai atlet legendaris/kontroversial, Tonya Harding, dalam film arahan Craig Gillespie. Robbie – yang juga berperan sebagai produser bagi film ini – mampu menghadirkan pesona seorang Tonya Harding yang kuat sekaligus menjadikannya sebagai karakter yang mampu memainkan perasaan setiap orang yang menyaksikannya meskipun karakter tersebut disajikan secara komikal di sepanjang presentasi film. A career-defining performance.

saoirse-ronan-lady-bird-header

Saoirse Ronan sebagai Christine McPherson dalam Lady Bird (Greta Gerwig, 2017)

Gerwig mendapatkan sokongan yang luar biasa untuk kualitas penceritaan film yang menjadi debut pengarahannya melalui penampilan Ronan. Sekilas, karakter Christine McPherson – yang memaksa semua orang untuk memanggilnya dengan sebutan Lady Bird – tampak sebagai deretan karakter remaja lain yang biasa dihadirkan Hollywood. Namun, Ronan memberikan nyawa yang begitu mempesona bagi karakternya sehingga karakter tersebut mampu tampil begitu mudah untuk disukai dan sangat relatable – terlepas dari  karakteristik keras kepala karakter tersebut yang kadang membuatnya susah untuk dimengerti.

tatjana-saphira-sweet-20-header

Tatjana Saphira sebagai Fatmawati/Mieke Wijaya dalam Sweet 20 (Ody C. Harahap, 2017)

Perannya sebagai sosok perempuan tua bernama Fatmawati yang kemudian menemukan sebuah keajaiban dan berubah menjadi sosok perempuan muda bernama Mieke Wijaya – yes, based on THAT actress – yang mampu menarik perhatian setiap orang yang melihatnya mungkin bukanlah penampilan perdana Saphira di industri film Indonesia. Namun, penampilan tersebut jelas akan mendefinisikan karir akting Saphira di masa yang akan datang – sekaligus meroketkan namanya ke jajaran aktris muda papan atas Indonesia. Saphira tampil dengan penuh pesona, daya tarik dan energi yang luar biasa mengikat. And nope. It’s not a fluke. Beberapa bulan kemudian, Saphira tampil memerankan karakter Hulya dalam Ayat-ayat Cinta 2 (Guntur Soeharjanto, 2017) dan menjadi penampilan yang setidaknya meringankan beban otak penonton yang telah begitu menderita akibat buruknya pengisahan cerita film tersebut.

michael-stuhlbarg-call-me-by-your-name-header

Michael Stuhlbarg sebagai Mr. Samuel Perlman dalam Call Me by Your Name (Luca Guadagnino, 2017), Dr. Robert Hoffstetler dalam The Shape of Water (Guillermo del Toro, 2017), dan Abe Rosenthal dalam The Post (Steven Spielberg, 2017)

Ya. Sebuah kecurangan lainnya. Seperti halnya Michelle Pfeiffer, Stuhlbarg tampil dalam sebagai aktor pendukung dalam beberapa film dengan kualitas prima di sepanjang tahun 2017. Dan Stuhlbarg sama sekali tidak mengecewakan. Perannya sebagai Abe Rosenthal dalam The Post mungkin tidaklah terlalu signifikan. Namun, sebagai Dr. Robert Hoffstetler dalam The Shape of Water dan Mr. Samuel Perlman dalam Call Me by Your Name, Stuhlbarg hadir begitu mencuri perhatian. Kredit khusus jelas layak diberikan pada penampilannya dalam Call Me by Your Name. Berperan sebagai sosok ayah bagi karakter utama Elio Perlman yang diperankan Timothée Chalamet, Stuhlbarg mampu menampilkan sosok ayah yang begitu lembut, penyayang, dan penuh pengertian. Sebuah adegan penutup dimana karakter ayah dan anak tersebut saling berdialog bahkan mampu menjadi salah satu bagian paling esensial dalam film arahan Guadagnino tersebut berkat penampilan Stuhlbarg yang sangat kuat.

marsha-timothy-marlina-the-murderer-in-four-acts-header

Marsha Timothy sebagai Marlina dalam Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (Mouly Surya, 2017)

Penampilan Timothy hadir begitu memukau dalam film yang dirilis secara internasional dengan judul Marlina the Murderer in Four Acts ini. Seperti halnya Hawkins dalam The Shape of Water (Guillermo del Toro, 2017), Timothy tidak membutuhkan banyak baris dialog untuk mampu membuat karakternya menjadi hidup. Timothy mampu dengan meyakinkan melakukannya lewat tatapan mata dan gestur tubuhnya. Lewat karakternya, Timothy hadir “kalem” dan kelam namun secara total membuat karakter Marlina menjadi begitu berharga. Sebuah pembuktian posisinya sebagai salah satu aktris dengan kemampuan akting terbaik yang dimiliki negeri ini.

adinia-wirasti-critical-eleven-header

Adinia Wirasti sebagai Anya dalam Critical Eleven (Monty Tiwa, Robert Ronny, 2017)

Aset kesuksesan terbesar dari Critical Eleven jelas berasal dari performa departemen aktingnya. Reza Rahadian dan Wirasti – yang untuk kali ketiga tampil bersama dalam sebuah film – hadir dengan jalinan chemistry yang luar biasa hangat sekaligus meyakinkan. Penampilan akting mereka mampu menghidupkan karakter Ale dan Anya menjadi sosok karakter yang tidak hanya mudah disukai keberadaannya tapi juga dengan kisah hidup yang secara alami terkoneksi dengan para penontonnya. Wirasti, dalam salah satu penampilan terbaik di sepanjang karirnya hingga saat ini, bahkan berhasil memberikan kedalaman emosional yang begitu kuat dalam menyajikan perasaan jatuh cinta, bahagia maupun rasa duka yang dialami karakternya.

PERFORMANCE OF THE YEAR

timothee-chalamet-call-me-by-your-name-header

Timothée Chalamet sebagai Elio Perlman dalam Call Me by Your Name (Luca Guadagnino, 2017)

Armie Hammer might be the hunk but it’s Chalamet who controlsCall Me by Your Name. Berperan sebagai sosok karakter Elio Perlman – seorang remaja yang sedang dilanda kebingungan ketika merasakan “sensasi aneh” dari perasaan jatuh cinta yang dialaminya – Chalamet tampil luar biasa memikat. Penggambaran yang diberikan Chalamet akan karakternya – dimana karakter Elio Perlman sempat membenci perasaan yang dirasakannya hingga akhirnya menyerah untuk kemudian menyambut sebuah fase baru dalam kehidupannya – hadir dengan begitu kuat. Kolaborasi penceritaan Guadagnino dan penampilan akting Chalamet membuat penonton mampu merasakan seluruh pengalaman jatuh cinta (dan patah hati) pertama yang dirasakan karakter Elio Perlman. Sebuah perasaan kuat nan emosional yang akan menghantui penonton dan turut mengembalikan mereka pada rasa jatuh cinta pertama mereka dahulu. Penampilan fenomenal yang akan melekat secara mendalam di benak para penontonnya sekaligus menandai kehadiran seorang aktor muda Hollywood berbakat dengan masa depan yang sangat menjanjikan. (Chalamet juga tampil mengesankan dalam Lady Bird arahan Greta Gerwig, by the way.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s