Review: Surat Kecil untuk Tuhan (2017)


Masih ingat dengan Surat Kecil untuk Tuhan (Harris Nizam, 2011)? Well… walau memiliki kesamaan judul, versi terbaru dari Surat Kecil untuk Tuhan yang diarahkan oleh Fajar Bustomi (Romeo + Rinjani, 2015) ini sama sekali tidak memiliki keterkaitan maupun kesamaan garis penceritaan dengan film yang berhasil meraih tiga nominasi di ajang Festival Film Indonesia di tahun 2011 tersebut. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Upi – yang juga menjadi penulis naskah cerita bagi film Sweet 20 (Ody C. Harahap) yang dirilis di waktu yang sama dengan film ini, Surat Kecil untuk Tuhan menawarkan deretan konflik maupun karakter yang berbeda bagi para penontonnya. Tidak lagi menghadirkan alur kisah tentang seorang gadis remaja yang sedang berjuang untuk melawan penyakit yang ia derita, Surat Kecil untuk Tuhan kini bercerita tentang perjuangan seorang adik yang berusaha untuk menemukan sang kakak setelah guratan nasib secara tragis memisahkan mereka berdua. Sebuah perubahan yang cukup radikal dan cukup menyegarkan meskipun pengarahan Bustomi sayangnya tidak selalu berhasil membuat film ini mampu untuk menyentuh hati para penontonnya.

Surat Kecil untuk Tuhan berkisah mengenai Angel (Bunga Citra Lestari), seorang gadis cerdas yang ketika kecil diadopsi oleh pasangan Soraya (Maudy Koesnaedi) dan Edward (Jeroen Lezer) dan kini tumbuh menjadi sosok pengacara yang handal di Sydney, Australia. Hubungan asmara yang ia jalin bersama seorang dokter bernama Martin (Joe Taslim) juga semakin membuat kehidupan Angel terlihat begitu sempurna bagi kebanyakan orang yang melihatnya. Namun, di lubuk hati terdalamnya, Angel tidak mampu melupakan sosok Anton (Bima Azriel), sang kakak yang dahulu selalu menjaganya namun tiba-tiba menghilang tanpa jejak dan kabar setelah dirinya juga diadopsi oleh pasagan orangtua yang lain. Di saat yang sama ketika Martin mengutarakan niatnya untuk melamar Angel, di saat itu pula Angel memutuskan bahwa ia harus berdamai dengan masa lalunya. Angel akhirnya kembali ke Jakarta dan memulai pencariannya akan keberadaan sang kakak tercinta.

Surat Kecil untuk Tuhan memulai langkah awal pengisahnnya dengan kurang begitu meyakinkan. Paruh awal film yang bercerita tentang suramnya kehidupan masa kecil dari karakter Anton dan Angel seringkali disajikan Bustomi dengan ritme pengisahan yang kurang begitu mampu menggali potensi yang sebenarnya terkandung di bagian penceritaan tersebut. Bukan salah Bustomi sepenuhnya. Naskah garapan Upi dalam memperkenalkan deretan karakter dan konflik awal bagi Surat Kecil untuk Tuhan juga tidak memberikan pengembangan kisah yang cukup kuat dan lebih sering berisi adegan-adegan yang terasa manipulatif dalam usaha untuk terasa lebih emosional. Untungnya, dua pemeran muda yang memerankan karakter Angel dan Anton, Izzati Khanza dan Azriel, memberikan penampilan akting dan chemistry yang cukup meyakinkan untuk mampu menarik simpati penonton bagi karakter yang mereka sajikan.

Presentasi cerita film mulai menemukan kekuatannya ketika alur Surat Kecil untuk Tuhan mulai berfokus pada masa kehidupan dewasa para karakternya. Meskipun naskah cerita film masih sering tersandung pada karakter-karakter yang gagal untuk tergali pengisahannya dengan lebih baik atau deretan plot yang mengandung inkonsistensi pada beberapa bagian ceritanya, pengarahan Bustomi berhasil menghadirkan pengisahan film dengan alur yang cukup dapat dinikmati. Tentu saja, pilihan untuk menghadirkan penceritaan film dengan durasi sepanjang 127 menit serta mengiringi banyak adegan dengan komposisi orkestra arahan Purwacaraka adalah sebuah pilihan yang beresiko dan justru seringkali terasa mengganggu. Bustomi juga kurang mampu untuk mengolah court drama yang terdapat dalam paruh akhir cerita Surat Kecil untuk Tuhan agar mampu untuk tampil lebih kuat. Namun, kemampuan Bustomi untuk tetap mempertahankan ritme pengisahan yang dinamis serta dukungan penampilan dari pengisi departemen akting film ini berhasil menjaga kualitas penceritaan film ini untuk tetap terasa apik.

Berperan sebagai karakter Angel dewasa, Lestari mampu memberikan penampilan yang cukup mengikat. Meskipun chemistry yang ia jalin bersama Taslim seringkali terasa dipaksakan – dan dengan Taslim yang juga seringkali terlihat tidak nyaman dengan karakternya yang dramatis, Lestari mampu membuat karakternya tampil hidup dan emosional. Pun begitu, adalah para barisan pemeran pendukung yang benar-benar tampil mencuri perhatian di sepanjang pengisahan Surat Kecil untuk Tuhan. Mulai dari penampilan Koesnaedi dan Susan Bachtiar yang begitu minimalis namun akan mampu membuat banyak orang berharap karakter yang mereka perankan tampil dengan porsi pengisahan lebih besar, Lukman Sardi dan Teuku Rifnu Wikana yang sekali lagi membuktikan posisi mereka sebagai dua aktor paling bertalenta di industri film Indonesia hingga Aura Kasih yang secara mengejutkan berhasil memberikan penampilan akting terbaik bagi film ini. Deretan penampilan yang membantu Surat Kecil untuk Tuhan untuk tampil bercerita dengan lebih baik. [C]

surat-kecil-untuk-tuhan-joe-taslim-bunga-citra-lestari-movie-posterSurat Kecil untuk Tuhan (2017)

Directed by Fajar Bustomi Produced by Frederica Written by Upi (screenplay), Fajar Bustomi (storyStarring Bunga Citra Lestari, Joe Taslim, Izzati Khanza, Bima Azriel, Lukman Sardi, Aura Kasih, Teuku Rifnu Wikana, Ben Joshua, Maudy Koesnaedi, Jeroen Lezer, Chew Kin Wah, Susan Bachtiar, Dorman Borisman Music by Andhika Triyadi Cinematography Yudi Datau Edited by Ryan Purwoko Production company Falcon Pictures Running time 127 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s