Review: Dilan 1990 (2018)


Seperti halnya Galih dan Ratna (Galih & Ratna, 2017), Nathan dan Salma (Dear Nathan, 2017), serta Yudhis dan Lala (Posesif, 2017), Dilan 1990 berkisah mengenai romansa remaja yang terbentuk antara seorang remaja pria, Dilan (Iqbaal Ramadhan), dengan seorang remaja wanita yang baru saja pindah ke sekolahnya, Milea (Vanesha Prescilla). Meskipun mengemban jabatan sebagai “panglima tempur” di sebuah geng motor, memiliki jiwa pemberontak, dan sanggup untuk bertarung secara fisik dengan orang-orang yang memusuhi dirinya, namun Dilan berubah menjadi sosok yang begitu romantis ketika berada di dekat Milea. Milea sendiri sebenarnya telah mengetahui reputasi kurang menyenangkan yang dimiliki Dilan. Meskipun begitu, dengan usaha Dilan yang teramat gigih, tembok pertahanan hati Milea secara perlahan mulai dapat diruntuhkan. Benih-benih cinta mulai tumbuh diantara keduanya.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Titien Wattimena (Hujan Bulan Juni, 2017) bersama dengan Pidi Baiq berdasarkan novel remaja popular karya Baiq, Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990, Dilan 1990 menawarkan jalinan kisah drama romansa remaja yang tergolong familiar dan sederhana jika dibandingkan dengan film-film sepantarannya. Bahkan, dengan tampilan deretan karakter yang  cenderung berwarna monoton dan pengembangan konflik yang terasa begitu minimalis, Dilan 1990 sebenarnya tidak memiliki kualitas penceritaan yang terasa istimewa untuk mampu membuatnya tampil menonjol. Kekuatan utama penceritaan film ini datang dari deretan dialog bernuansa puitis yang terlontar dari interaksi yang terjalin antara dua karakter utamanya. Meskipun dialog puitis tersebut kadang terdengar menggelikan namun, harus diakui, Wattimena dan Baiq mampu menempatkan dan memanfaatkan dialog-dialog tersebut untuk menciptakan atmosfer pengisahan bernuansa romantis yang kuat.

Penampilan akting yang dihadirkan Ramadhan dan Prescilla juga mampu menjadikan karakter Dilan dan Milea yang mereka perankan hadir dengan jalinan kisah romansa yang menarik untuk dinikmati. Sebagai sosok pemuda dengan jiwa pemberontak namun juga dipenuhi dengan berbagai ide-ide romantis untuk dapat memikat hati wanita yang diincarnya, Ramadhan tampil sangat meyakinkan. Dilan yang dihadirkannya mampu tampil dengan pesona dan daya tarik alami dan jauh dari kesan dibuat-buat – meskipun Ramadhan masih terasa sulit untuk melepas imej boy next door dari dirinya ketika jalan cerita film mengharuskannya untuk tampil dengan emosi kemarahan yang meledak-ledak. Begitu pula dengan Prescilla yang tampil sebagai sosok memikat yang mudah untuk disukai. Seperti halnya karakter-karakter ikonik di banyak film drama romansa remaja Indonesia lainnya, Ramadhan dan Prescilla menyajikan hubungan romansa antara karakter yang mereka perankan dengan chemistry yang begitu hangat. Momen-momen terbaik Dilan 1990 hadir setiapkali keduanya tampil bersama dalam deretan adegan yang dibalut nuansa romantisme yang kental.

Jalan cerita Dilan 1990 yang memberikan fokus penuh pada perkembangan hubungan romansa antara karakter Dilan dengan Milea memang membuat konflik maupun karakter lain yang hadir dalam jalan cerita film ini tampil dengan ruang pengisahan yang terlalu sempit. Hasilnya, banyak elemen pendukung penceritaan film kemudian terasa tampil dengan penataan kisah yang kurang matang. Lihat saja kisah mengenai pemberontakan karakter Dilan terhadap guru-gurunya atau gambaran mengenai karakter Dilan sebagai bagian sebuah geng motor atau hubungan karakter Milea dengan karakter Kang Adi (Refal Hady). Kisah-kisah pendukung tersebut sebenarnya mampu memberikan tambahan warna pada pengisahan kisah romansa antara karakter Dilan dengan Milea. Namun, dengan pengembangan yang terbatas, kisah-kisah pendukung tersebut justru menjadi distraksi bagi pengisahan utama film.

Pengarahan yang diberikan Fajar Bustomi (Surat Kecil untuk Tuhan, 2017) dan Baiq – yang sebelumnya juga mengarahkan Baracas: Barisan Anti Cinta Asmara (2017) yang diadaptasi dari novel karyanya sendiri – tampil tidak mengecewakan. Bustomi dan Baiq mampu menghadirkan kisah romansa remaja mereka dengan ritme pengisahan yang tepat. Tidak pernah terasa terburu-buru sehingga penonton dapat menikmati perjalanan kisah romansa antara karakter Dilan dengan Milea dengan lebih syahdu. Sebagai film yang mengemas ceritanya dengan nuansa nostalgia akan tahun 1990, Dilan 1990 sayangnya tidak terlalu mampu tampil meyakinkan. Tidak (terlalu) buruk namun jelas membutuhkan desain produksi akan tahun tersebut yang lebih kuat. [C]

dilan-1990-iqbaal-ramadhan-movie-posterDilan 1990 (2018)

Directed by Fajar Bustomi, Pidi Baiq Produced by Ody Mulya Hidayat Written by Pidi Baiq, Titien Wattimena (screenplay), Pidi Baiq (book, Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990) Starring Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla, Giulio Parengkuan, Omara Esteghal, Yoriko Angeline, Zulfa Maharani, Debo Andrios, Refal Hady, Brandon Salim, Gusti Rayhan, Zara JKT 48, Mora, Teuku Rifnu Wikana, Happy Salma, Ira Wibowo, Muhammad Farhan, Yati Surachman, Joehana Sutisna, Iang Darmawan Music by Andhika Triyadi Cinematography Dimas Imam Subhono Edited by Ryan Purwoko Production company Max Pictures Running time 110 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

3 thoughts on “Review: Dilan 1990 (2018)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s