Review: Milea: Suara dari Dilan (2020)

Well… jika Anda masih merasa belum terpuaskan akan kisah romansa dari pasangan karakter Dilan dan Milea setelah pengisahan Dilan 1990 (2018) dan Dilan 1991 (2019), sutradara Fajar Bustomi dan Pidi Baiq kembali menuturkan kisah cinta antara kedua karakter tersebut lewat Milea: Suara dari Dilan. Diangkat dari buku berjudul sama yang ditulis oleh Baiq, Milea: Suara dari Dilan bertutur mengenai perjalanan cerita cinta antara Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanesha Prescilla) namun kini dihadirkan dari sudut pandang karakter Dilan. Semua alur kisah dan konflik yang diceritakan dalam film ini tidak mengalami banyak perubahan yang berarti: Dilan berkenalan dengan Milea; Dilan melancarkan barisan rayuan puitis nan gombalnya; Milea secara perlahan mulai jatuh hati; Dilan dan Milea meresmikan hubungan mereka sebagai pasangan kekasih; berbagai konflik yang terjadi akibat ketidaksukaan Milea pada Dilan sebagai pemimpin geng motor; serta berbagai perbedaan yang lantas membuat Dilan dan Milea akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Masih kisah yang sama. Hanya kali ini penonton ditemani oleh narasi yang dituturkan oleh Ramadhan dengan membuka beberapa sudut pandang baru akan karakter yang ia perankan.

Jika ingin memberikan perbandingan, garapan cerita yang diberikan pada Milea: Suara dari Dilan merupakan langkah yang serupa seperti yang dilakukan Hadrah Daeng Ratu ketika merilis Mars Met Venus (2017) dalam dua bagian, (Part Cewe) dan (Part Cowo), dimana keduanya menghadirkan satu linimasa cerita yang sama namun dengan presentasi perspektif karakter yang berbeda. Perlakuan tersebut, tentu saja, dilakukan untuk memperluas pandangan penonton akan sesosok karakter maupun sejumlah konflik yang ingin disampaikan oleh alur cerita film ini. Entah karena konsep yang kurang tergali dengan matang, alih-alih memberikan penontonnya “cerita yang sama dengan warna yang berbeda,” Milea: Suara dari Dilan lebih memilih untuk menjadi sebuah “album greatest hits” bagi Dilan 1990 dan Dilan 1991 dimana film ini menghadirkan kembali adegan-adegan familiar dari kedua film tersebut. Hal ini, khususnya, sangat terasa pada satu jam pertama presentasi Milea: Suara dari Dilan. Memang, tata cerita seperti yang disajikan dalam film ini mengadaptasi penuh tata cerita versi novel dari Milea: Suara dari Dilan. Tetap saja, sebagai sebuah presentasi film, hal tersebut membuat film ini terasa malas dan jelas membosankan.

Milea: Suara dari Dilan secara perlahan mulai mengalami pergerakan dalam jalan ceritanya pada pertengahan paruh kedua film. Pada bagian ini, daripada menghadirkan satuan adegan-adegan yang terkesan seperti deretan adegan yang dahulu terbuang dan tidak digunakan oleh Dilan 1990 dan Dilan 1991 setelah melalui proses penataan gambar, Milea: Suara dari Dilan benar-benar mengarahkan ceritanya untuk menghadirkan perspektif dari karakter Dilan bagi beberapa konflik yang sebelumnya telah dikisahkan dalam Dilan 1991. Tidak banyak hal baru yang mampu disampaikan oleh naskah cerita garapan Baiq dan Titien Wattimena di tahapan ini. Dilan 1990 dan Dilan 1991 sesungguhnya telah memberikan liputan yang cukup bagi karakterisasi dari karakter Dilan maupun karakter Milea – meskipun dua film tersebut menggunakan narasi dan sudut pandang yang berasal dari karakter Milea. Setidaknya, Milea: Suara dari Dilan masih berhasil memberikan selipan pandangan tentang fatalnya kehadiran ego berlebihan serta miskomunikasi dalam jalinan hubungan asmara. Beberapa elemen cerita bahkan cukup berhasil dieksekusi dengan baik guna menghasilkan sejumlah momen emosional – setidaknya bagi mereka yang cukup menggemari seri film ini.

Seperti dua film sebelumnya, daya tarik Milea: Suara dari Dilan selalu menguat tiap kali Ramadhan dan Prescilla menampilkan chemistry yang sangat kuat dan meyakinkan bagi kedua karakter yang mereka perankan. Tidak banyak yang berubah namun tetap cukup menyenangkan untuk disaksikan. Dengan alur kisah yang berfokus penuh pada hubungan romansa yang terjalin antara karakter Dilan dan Milea, film ini tidak memberikan ruang pengisahan yang terlalu luas bagi para pengisi departemen aktingnya. Bukan masalah besar. Setidaknya penampilan Ramadhan dan Prescilla tetap akan mampu menghibur para penikmat seri film ini – pangsa pasar yang sepertinya menjadi target satu-satunya bagi perilisan Milea: Suara dari Dilan.

popcornpopcornpopcorn2popcorn2popcorn2

milea-suara-dari-dilan-iqbaal-ramadhan-vanesha-prescilla-movie-posterMilea: Suara dari Dilan (2020)

Directed by Fajar Bustomi, Pidi Baiq Produced by Ody Mulya Hidayat Written by Pidi Baiq, Titien Wattimena (screenplay), Pidi Baiq (book, Milea: Suara dari Dilan) Starring Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla, Ira Wibowo, Bucek Depp, Adhisty Zara, Happy Salma, Muhammad Farhan, Yoriko Angeline, Debo Andryos, Zulfa Maharani, Gusti Rayhan, Omara Esteghlal, Giulio Parengkuan, Andovi da Lopez, Jerome Kurnia, Tike Priyatna, Bima Azriel, Steffi Zamora Music by Andhika Triyadi Cinematography Dimas Imam Subhono Edited by Ryan Purwoko, Wildan M. Cahyo Production company MAX Pictures Running time 102 minutes Country Indonesia Language Indonesian

2 thoughts on “Review: Milea: Suara dari Dilan (2020)”

Leave a Reply