Review: #TemanTapiMenikah (2018)


#TemanTapiMenikah adalah film terbaru arahan Rako Prijanto (Bangkit!, 2016) yang naskah ceritanya diadaptasi dari buku berjudul sama yang ditulis oleh pasangan suaami istri, Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion. Jalan cerita yang diinspirasi oleh kisah romansa pasangan penulis buku tersebut dimulai dengan Ditto (Adipati Dolken) yang telah sekian lama memendam rasa sukanya pada Ayu (Vanesha Prescilla). Hubungan persahabatan yang telah semenjak lama terjalin antara gadis yang juga merupakan seorang bintang serial televisi tersebut membuat Ditto terus menahan hasratnya untuk menyatakan perasaan yang sebenarnya pada Ayu. Suatu hari, Ayu menyatakan bahwa dirinya telah dilamar oleh kekasihnya (Refal Hady). Di saat itu pula, Ditto baru menyadari bahwa momen tersebut merupakan momen terbaik untuk menyatakan perasaannya kepada Ayu.

#TemanTapiMenikah boleh saja memiliki premis yang mengesankan bahwa jalan pengisahan film ini hadir dengan jalinan konflik yang (terlalu) minimalis. Tidak sepenuhnya salah. Untuk sebuah film yang berdurasi tayang selama 102 menit, #TemanTapiMenikah memang hanya bertutur tentang naik turunnya kondisi hubungan antara kedua karakter utama khususnya dengan menggambarkan kegelisahan yang dialami oleh karakter Ditto ketika terus memendam perasaan cintanya terhadap karakter Ayu. Namun, paduan dari pengarahan dinamis dari Prijanto yang berpadu dengan pengembangan naskah cerita yang kuat dari Johanna Wattimena dan Upi (Pertaruhan, 2016) serta penampilan apik dari Dolken dan Prescilla, berhasil memperkaya penampilan keseluruhan dari presentasi cerita film ini. Ketika konflik penceritaan nyaris tidak memiliki perubahan yang berarti sedari awal hingga akhir, Wattimena sukses menghidupkan naskah cerita film dengan deretan dialog yang terasa manis sekaligus kuat. Dialog-dialog yang dilontarkan oleh para karakter inilah yang kemudian mampu menonjolkan elemen komedi romantis dari #TemanTapiMenikah sekaligus membuatnya menjadi begitu mudah untuk disukai.

Prijanto juga berhasil mengemas filmnya dengan tatanan penceritaan serta kualitas produksi yang handal. Dengan naskah cerita yang mengedepankan pertukaran dialog antara karakter-karakternya, Prijanto menyajikan #TemanTapiMenikah dengan ritme pengisahan yang cepat. Tidak pernah terasa terburu-buru sehingga tetap dapat menangkap berbagai momen romansa maupun komedi yang muncul di sepanjang pengisahan film. Kualitas produksi film ini juga harus diakui berada dalam tingkatan yang sangat memuaskan. Lihat saja bagaimana permainan kamera dari Hani Pradigya berhasil menghantarkan banyak gambar dalam film ini dengan sentuhan yang terasa berbeda dari kebanyakan film sepantarannya. Tidak hanya indah namun juga menyegarkan. Aline Jusria juga tidak ketinggalan memberikan penataan gambar yang kreatif pada beberapa sudut penceritaan #TemanTapiMenikah. Arahan musik dari Andhika Triyadi yang berpadu dengan manis dengan beberapa lagu pop yang mengisi adegan-adegan film juga sukses memberikan energi tambahan bagi presentasi #TemanTapiMenikah.

Namun, nyawa terbesar dari #TemanTapiMenikah jelas berasal dari penampilan yang sangat meyakinkan dari Dolken dan Prescilla. Penampilan Dolken di film ini sekali lagi membuktikan posisinya sebagai salah satu aktor muda paling berbakat yang dimiliki oleh industri film Indonesia. Dolken menjadikan karakter Ditto sebagai sosok yang begitu relatable dengan segala kegundahan dan problema asmaranya. Prescilla sendiri hadir memerankan sosok karakter yang memang terasa tidak terlalu jauh dari karakter Milea (Dilan 1990, 2018) yang baru saja melambungkan namanya. Meskipun begitu, penampilan Prescilla dalam #TemanTapiMenikah terasa jauh lebih lepas dan ekspresif. Sebagai pasangan karakter Ditto dan Ayu, Dolken dan Prescilla juga hadir dengan chemistry yang hangat dan mengikat – bahkan jauh lebih kuat jika dibandingkan chemistry Prescilla dengan Iqbaal Ramadhan dalam Dilan 1990 yang begitu digilai tersebut. Meskipun karakter-karakter pendukung dalam jalan cerita film ini tidak banyak mendapatkan pengembangan kisah yang kuat, para pengisi departemen akting #TemanTapiMenikah tetap berhasil menyajikan penampilan yang solid untuk menghidupkan karakter-karakter tersebut.

Harus diakui, sangat menyenangkan untuk menyaksikan Prijanto dan seluruh kru #TemanTapiMenikah berhasil mengemas pengisahan film yang sebenarnya riskan untuk tersaji secara medioker menjadi sebuah presentasi komedi romantis yang begitu hangat. Dengan kehandalannya – mulai dari pengarahan cerita, kualitas tata produksi, hingga penampilan para aktornya, Prijanto memberikan sentuhan-sentuhan segar pada jalan cerita film yang kemudian membuat #TemanTapiMenikah sukses tampil menghibur – bahkan terkadang juga terasa menyentuh. Salah satu romansa Indonesia terbaik – dan termanis – dalam beberapa tahun terakhir. [B-]

teman-tapi-menikah-adipati-dolken-vanesha-prescilla-movie-poster#TemanTapiMenikah (2018)

Directed by Rako Prijanto Produced by Frederica Written by Johanna Wattimena, Upi (screenplay), Ayudia Bing Slamet, Ditto Percussion (book, #TemanTapiMenikahStarring Adipati Dolken, Vanesha Prescilla, Cut Beby Tshabina, Refal Hady, Denira Wiraguna, Diandra Agatha, Rendi John, Shara Virrisya, Sari Nila, Sarah Sechan, Iqbaal Ramadhan Music by Andhika Triyadi Cinematography Hani Pradigya Editing by Aline Jusria Studio Falcon Pictures Running time 102 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

3 thoughts on “Review: #TemanTapiMenikah (2018)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s