Tag Archives: Niniek L Karim

Review: Sweet 20 (2017)

Diarahkan oleh Ody C. Harahap (Kapan Kawin?, 2015), Sweet 20 berkisah tentang kehidupan seorang nenek berusia 70 tahun, Fatmawati (Niniek L. Kariem), yang berubah drastis setelah dirinya secara magis bertransformasi menjadi seorang gadis berusia 20 tahun. Untuk menutupi identitasnya, Fatmawati lantas menggunakan nama Mieke (Tatjana Saphira) sesuai dengan nama artis idolanya, Mieke Wijaya. Dengan identitas barunya tersebut, Mieke merasa mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk meraih berbagai mimpi terdahulunya yang belum sempat ia wujudkan. Di saat yang bersamaan, dengan penampilan, sikap dan bakatnya yang bersinar, Mieke berhasil menarik perhatian dua orang pemuda, Juna (Kevin Julio) dan Alan (Morgan Oey), sekaligus membuat sahabatnya, Hamzah (Slamet Rahardjo), yang sedari dulu telah meyimpan perasaan suka pada dirinya kembali jatuh hati kepada dirinya. Continue reading Review: Sweet 20 (2017)

Advertisements

Review: 12 Menit (2014)

12 Menit (Big Pictures Production/Cinevisi, 2014)
12 Menit (Big Pictures Production/Cinevisi, 2014)

Pernah mendengar tentang Grand Prix Marching Band? Well… Grand Prix Marching Band adalah sebuah kompetisi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Grand Prix Marching Band dan diikuti oleh kelompok orkes barisan yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Diadakan semenjak 1982, ajang kompetisi ini biasanya digelar pada setiap bulan Desember di tiap tahunnya dan memperebutkan Piala Presiden bagi kelompok orkes barisan pemenang utamanya. Anyway… film terbaru arahan Hanny R Saputra (Love is U, 2012), 12 Menit, adalah sebuah film drama yang mengikuti perjalanan satu tim orkes barisan asal Bontang, Kalimantan Timur dalam usaha mereka untuk mengikuti Grand Prix Marching Band di Jakarta. Tidak menawarkan sesuatu yang baru dalam formula penceritaannya namun penggarapan film yang cukup apik membuat 12 Menit mampu menghasilkan momen-momen emosional yang jelas akan membekas selama lebih dari 12 menit di hati para penontonnya.

Continue reading Review: 12 Menit (2014)

Review: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (2013)

Tenggelamnya-Kapal-Van-Der-Wijck-header

It’s a classic love story. Berlatar belakang kisah di tahun 1930an, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dimulai dengan kedatangan seorang pemuda keturunan Minang asal Makassar, Zainuddin (Herjunot Ali), ke Batipuh, Tanah Datar, Sumatera Barat, dengan tujuan untuk mengenal tanah kelahiran ayahnya sekaligus memperdalam pengetahuan agamanya disana. Kedatangan Zainuddin sendiri tidaklah mendapat sambutan baik dari masyarakat desa tersebut karena sejarah keturunan Zainuddin – yang berasal dari ayah yang berdarah Minang namun seorang ibu yang berdarah Bugis sementara struktur masyarakat Minang mengatur alur keturunan dari pihak ibu – tidak lagi dianggap memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarganya di Minangkabau. Meskipun begitu, Zainuddin meneguhkan hatinya untuk tetap tinggal di Batipuh, khususnya ketika ia telah mengenal seorang gadis cantik bernama Hayati (Pevita Pearce). Dengan segera, keduanya lantas saling jatuh cinta. Sayang, masalah asal-usul keturunan Zainuddin lagi-lagi menjadi penghalang kisah asmara mereka. Zainuddin bahkan terpaksa harus meninggalkan Batipuh karena hubungan tersebut dianggap tidak layak keberadaannya. Meskipun begitu, Zainuddin dan Hayati saling berjanji untuk tetap setia dan mencintai satu sama lain.

Continue reading Review: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (2013)

Review: Hasduk Berpola (2013)

hasduk-berpola-header

Sukses dengan Surat Kecil untuk Tuhan (2011) yang dimasa rilisnya berhasil menjadi salah satu film dengan jumlah raihan penonton terbesar di sepanjang tahun tersebut, sutradara Harris Nizam kembali duduk di kursi penyutradaraan untuk mengarahkan sebuah film yang berjudul Hasduk Berpola. Berbeda dengan film drama remaja yang menjadi debut penyutradaraan layar lebarnya tersebut, Hasduk Berpola mencoba untuk menyinggung tentang sikap nasionalisme dan patriotisme di kalangan masyarakat Indonesia saat ini dengan balutan sebuah kisah drama keluarga. Hasduk Berpola sebenarnya memiliki potensi yang kuat untuk menjadi sebuah drama keluarga yang kuat. Sayangnya, eksplorasi yang (sedikit terlalu) berlebihan pada tema nasionalisme/patriotisme di beberapa bagian cerita membuat Hasduk Berpola terlihat berusaha terlalu keras sehingga gagal untuk tampil wajar dan efektif dalam menyampaikan kisahnya.

Continue reading Review: Hasduk Berpola (2013)

Review: Dalam Mihrab Cinta (2010)

Ketika novelnya, Ayat-Ayat Cinta (2008), diangkat ke layar lebar dengan Hanung Bramantyo duduk di kursi sutradara, dan kemudian meraih kesuksesan yang luar biasa, Habiburrahman El Shirazy, atau yang lebih dikenal sebagai Kang Abik, dikabarkan kurang merasa puas dengan cara Hanung menghantarkan cerita adaptasi novel best seller-nya tersebut. Film tersebut kemudian diikuti dengan dua seri dari adaptasi novel laris Kang Abik lainnya, Ketika Cinta Bertasbih (2009), yang dibawah arahan sutradara senior, Chaerul Umam, berhasil kembali meraih kesuksesan, khususnya dari mereka yang semenjak lama memang menggemari novel tersebut.

Continue reading Review: Dalam Mihrab Cinta (2010)

Review: Red CobeX (2010)

Walaupun memulai debut penyutradaraannya pada film 30 Hari Mencari Cinta (2004) yang sangat bertema girly, nama Upi Avianto sendiri mungkin lebih banyak dikenal melalui film-film bertema maskulin dan keras yang ia kerjakan selanjutnya, seperti Realita, Cinta dan Rock ‘n Roll (2006), Radit dan Jani (2008) serta Serigala Terakhir (2009). Lewat Red CobeX, sebuah film komedi yang ia rilis tahun ini, Upi sepertinya mencoba sebuah tema baru yang ingin ia tawarkan pada penikmat film Indonesia.

Continue reading Review: Red CobeX (2010)