Review: Bebas (2019)


Sunny mungkin merupakan salah satu film drama komedi bertema persahabatan terbaik sekaligus paling hangat yang pernah diproduksi oleh industri film Korea Selatan. Dirilis pada tahun 2011, film arahan sutradara Kang Hyeong-cheol tersebut tidak hanya berhasil meraih kesuksesan secara komersial – dengan pendapatan sebesar US$51.1 juta, Sunny merupakan film dengan raihan pendapatan terbesar kedua pada tahun 2011 dan menjadi salah satu film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa di Korea Selatan hingga saat ini – namun juga mampu meraih pujian luas dari kalangan kritikus film serta meraih sembilan nominasi di ajang The 48th Annual Grand Bell Awards dan memenangkan dua diantaranya, Best Director dan Best Editing. Seperti halnya kesuksesan Miss Granny (Hwang Dong-hyuk, 2015) – yang di Indonesia diadaptasi dan dirilis dengan judul Sweet 20 (Ody C. Harahap, 2017), Sunny lantas diadaptasi menjadi film layar lebar di sejumlah negara lain. Kolaborasi antara produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza yang sebelumnya telah menghasilkan Athirah (2016), Ada Apa Dengan Cinta? 2 (2016) dan Kulari ke Pantai (2018) menangani adaptasi Sunny di Indonesia dan merilisnya sebagai Bebas.

Naskah cerita Bebas yang digarap Lesmana bersama dengan Gina S. Noer (Dua Garis Biru, 2019) tidak melangkah terlalu jauh dari garisan cerita yang telah ditetapkan Kang untuk Sunny. Dikisahkan, seorang ibu rumah tangga bernama Vina (Marsha Timothy) secara tidak sengaja bertemu kembali dengan sahabat akrabnya dahulu di masa SMA, Kris (Susan Bachtiar). Pertemuan tersebut, sayangnya, tidak diwarnai dengan warna kebahagiaan yang utuh. Vina bertemu dengan Kris di sebuah rumah sakit dimana Kris kini dirawat akibat sebuah penyakit kronis yang membuat dokter memvonis usia hidupnya hanya sepanjang dua bulan lagi. Mengenang masa SMA mereka, Kris lantas meminta Vina untuk mengumpulkan kembali teman-teman akrab mereka untuk terakhir kali. Vina awalnya merasa pesimis dirinya dapat mewujudkan permintaan terakhir sahabatnya tersebut. Namun, termasuk dengan meminta bantuan seorang detektif, Vina mulai dapat menemukan jejak keberadaan para sahabatnya semasa SMA yang dahulu dikenal dengan sebutan Geng Bebas itu.

Terlepas dari beberapa perubahan pada sejumlah karakter dan penyesuaian yang tent saja dilakukan untuk mengikuti latar lokasi dan sejarah cerita yang kini berada di Indonesia, Bebas tampil cukup patuh dengan formula dan ritme pengisahan yang sebelumnya telah diterapkan oleh Sunny. Beruntung, baik naskah cerita garapan Lesmana dan Noer serta arahan yang diaplikasikan oleh Riza mampu membawa sekaligus mengangkat sentuhan drama maupun komedi yang membuat pengisahan Sunny dahulu begitu berkesan. Dengan cerita yang berada di era ‘90an, konflik cerita tetap diolah secara membumi yang akan membuat para penonton dewasa akan merindukan masa-masa sekolah mereka dan, di saat yang bersamaan, turut mampu membawa para penonton muda terhubung dengan kisah persahabatan yang sedang mereka jalani. Sejumlah guyonan yang dihadirkan juga terasa segar dan menghibur. Beberapa komentar tentang kondisi sosial dan politik yang coba diselipkan Lesmana dan Noer juga tampil efektif walaupun tidak sepenuhnya terasa bekerja dengan utuh.

Pengarahan yang diberikan Riza sukses membuat pengisahan Bebas mengalir dengan dinamis. Perubahan fokus cerita antara karakter dewasa dengan karakter remaja – yang sekaligus membawa perubahan latar kisah antara tahun ‘90an dengan masa sekarang – disajikan secara mulus. Arahan Riza terhadap departemen produksi, artistik, serta suara dan musik juga membuat Bebas tampil begitu nyaman untuk diikuti. Kesan ’90an yang coba dihadirkan film ini dikemas secara meyakinkan. Pilihan-pilihan lagu yang mengiringi tiap adegan krusial – dari Bidadari milik Andre Hehanussa, Kebebasan yang dinyanyikan Singiku, Kujelang Hari-nya Denada, hingga Cukup Siti Nurbaya dari Dewa 19 dan, tentu saja, Bebas yang ditampilkan Iwa K. – disajikan sebagai pendorong energi serta sentuhan emosional dari pengisahan film. Dengan garapannya yang kuat, Bebas cukup layak disebut sebagai surat cinta yang indah bagi masa muda maupun bagi tiap kisah persahabatan yang jelas akan mampu menyentuh tiap penontonnya.

Jika ada satu hal yang gagal “diterjemahkan” Riza dan Lesmana dari Sunny kepada Bebas, hal tersebut dapat dirasakan pada chemistry yang dihadirkan oleh para pengisi departemen akting filmnya. Jangan salah. Timothy, Bachtiar, Indy Barends, Widi Mulia, Baim Wong, Maizura, Sheryl Sheinafia, Agatha Pricilla, Zulfa Maharani, Lutesha, maupun Baskara Mahendra menghadirkan penampilan yang meyakinkan dalam menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan. Namun, chemistry antar pemeran menjadi salah satu elemen paling penting dalam presentasi kisah Sunny yang membuat film tersebut sanggup memberikan sentuhan emosional secara mendalam. Hal tersebut tidak begitu mampu dihadirkan oleh barisan pemeran film Bebas. Chemistry yang tercipta antara setiap karakter terasa setengah matang dan tidak pernah benar-benar mampu tampil hangat maupun meyakinkan. Bukan sebuah masalah besar memang. Bebas tetap berhasil hadir sebagai presentasi kisah yang menarik. Namun, mereka yang terlanjur telah menyaksikan Sunny jelas dapat merasakan “kehampaan” pada hubungan yang terjalin antara para karakter dalam pengisahan Bebas. Barisan pemeran pendukung film ini juga hadir dengan penampilan prima: Amanda Rawles, Dea Panendra, Sarah Sechan, Giorgino Abraham, dan Jefri Nichol, khususnya, mampu mencuri perhatian lewat kehadiran mereka.

popcornpopcornpopcornpopcorn3popcorn2

bebas-glorious-days-film-indonesia-movie-posterBebas (2019)

Directed by Riri Riza Produced by Mira Lesmana Written by Mira Lesmana, Gina S. Noer (screenplay), Kang Hyeong-cheol (original screenplay, SunnyStarring Maizura, Sheryl Sheinafia, Agatha Pricilla, Lutesha, Zulfa Maharani, Baskara Mahendra, Marsha Timothy, Susan Bachtiar, Indy Barends, Widi Mulia, Baim Wong, Amanda Rawles, Giorgino Abraham, Brandon Salim, Kevin Ardilova, Syifa Hadju, Bisma Karisma, Timotius Juventus, Windy Apsari, Shindy Huang, Nada Novia, Cut Ashifa, Agnes Naomi, Sarah Sechan, Tika Panggabean, Daan Aria, Edward Suhadi, Jefri Nichol, Cut Mini, Irgi Fahrezi, Oka Antara, Happy Salma, Dea Panendra, Darius Sinathrya, Reza Rahadian, Salvita Decorte Music by Lie Indra Perkasa Cinematography Gunnar Nimpuno Edited by W. Ichwandiardono Production company Miles Films/CJ Entertainment/Ideosource Entertainment/Base Entertainment Running time 119 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s