Tag Archives: Jefri Nichol

Review: Surat Cinta untuk Starla the Movie (2017)

Berawal dari sebuah lagu berjudul sama milik vokalis Virgoun – yang begitu populer hingga judulnya menjadi kata kunci paling dicari di Google Search Indonesia pada sepanjang tahun 2017, Surat Cinta untuk Starla kemudian dikembangkan menjadi sebuah webseries berjudul sama yang dirilis sebanyak tujuh episode melalui YouTube. Dibintangi oleh Jefri Nichol dan Caitlin Halderman, webseries tersebut juga berhasil memperoleh kepopuleran yang sama dengan setiap episode telah disaksikan rata-rata sebanyak lebih dari dua juta kali. Berbekal kesuksesan tersebut, Screenplay Films dan Legacy Pictures menugaskan duo penulis naskah yang sebelumnya bertanggungjawab atas naskah cerita film-film arahan Asep Kusdinar seperti Magic Hour (2015), London Love Story (2016), dan Promise (2017), Sukhdev Singh dan Tisa TS, untuk menggarap naskah cerita versi film dari Surat Cinta untuk Starla. Hasilnya? Well… mungkin Surat Cinta untuk Starla the Movie dibuat murni untuk menghibur para penggemar berat lagu dan webseries Surat Cinta Untuk Starla karena, lebih dari itu, film ini tampil nyaris mati rasa di setiap bagian penceritaannya. Continue reading Review: Surat Cinta untuk Starla the Movie (2017)

Advertisements

Review: One Fine Day (2017)

Indonesia’s current reigning heartthrob, Jefri Nichol, is back in yet another teenage romance, One Fine Day. Diproduksi oleh tim yang juga menghasilkan ILY from 38.000 Ft (2016) – mulai dari produser Sukdev Singh, penulis naskah Tisa TS, sutradara Asep Kusdinar, dan turut dibintangi oleh aktris Michelle Ziudith – One Fine Day berkisah mengenai kehidupan Mahesa (Nichol), seorang pemuda asal Indonesia yang awalnya sedang berkuliah di Barcelona, Spanyol namun kemudian memutuskan untuk mengejar impiannya menjadi seorang musisi bersama dengan dua sahabatnya, Revan (Dimas Andrean) dan Dastan (Ibnu Jamil). Selain dengan cara mengamen, guna memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka, Mahesa, Revan, dan Dastan sering melakukan penipuan khususnya kepada para wanita yang sering tergila-gila dengan ketampanan wajah Mahesa. Alana (Ziudith) – gadis cantik asal Indonesia yang tidak sengaja ditemui Mahesa di sebuah restoran – sendiri awalnya akan dijadikan korban baru bagi ketiga pemuda tersebut. Namun, seiring dengan semakin dekat hubungannya dengan Alana, Mahesa mulai merasa bahwa dirinya jatuh cinta terhadap gadis tersebut. Continue reading Review: One Fine Day (2017)

Review: A: Aku, Benci & Cinta (2017)

Dua bulan setelah perilisan Jailangkung (Jose Poernomo, Rizal Mantovani, 2017) – yang dirilis dua bulan setelah kesuksesan Dear Nathan (Indra Gunawan, 2017) – aktor muda, Jefri Nichol, kembali hadir dalam sebuah film drama remaja berjudul A: Aku, Benci & Cinta. Juga menghadirkan penampilan aktris Amanda Rawles – yang turut mendampingi Nichol dalam Jailangkung dan Dear Nathan – film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Rizki Balki ini berkisah mengenai konflik percintaan yang membelit para karakter-karakter remajanya. Of course. Namun, berbeda dengan film-film remaja sepantarannya, A: Aku, Benci & Cinta berusaha menghadirkan lebih banyak lapisan pengisahan dengan balutan komedi yang cukup kental dalam presentasi ceritanya. Berhasil? Continue reading Review: A: Aku, Benci & Cinta (2017)

Review: Jailangkung (2017)

“Jelangkung. Jelangkung. Disini ada pesta kecil-kecilan. Datang tak dijemput. Pulang tak diantar.” Masih ingat dengan mantra tersebut? Mantra tersebut sempat menjadi barisan kalimat yang begitu popular di kalangan masyarakat Indonesia setelah kesuksesan fenonemal yang diraih oleh film horor arahan Rizal Mantovani dan Jose Poernomo, Jelangkung (2001). Tidak hanya berhasil untuk menarik perhatian penikmat film Indonesia untuk datang dan menyaksikannya di bioskop, kesuksesan Jelangkung bahkan mampu “menginspirasi” para produser film Indonesia lainnya untuk memproduksi puluhan (ratusan?) film horor lainnya untuk dirilis ke pasar film nasional – yang secara perlahan kemudian membuat layar bioskop Indonesia didominasi oleh judul-judul horor selama bertahun-tahun. Jelangkung sendiri kemudian diikuti oleh tiga film berikutnya yang berada dalam seri film tersebut: dua buah sekuel berjudul Tusuk Jelangkung (Dimas Djayadiningrat, 2003) dan Jelangkung 3 (Angga Dwimas Sasongko) serta sebuah subseri berjudul Angkerbatu (Poernomo, 2007). Continue reading Review: Jailangkung (2017)

Review: Dear Nathan (2017)

Sekilas, Dear Nathan terlihat sebagai drama remaja yang biasa disajikan oleh deretan film Indonesia sejenis lainnya: kisah mengenai sesosok remaja pria dengan masa lalu kelam yang mencoba untuk mendekati seorang remaja perempuan cerdas sekaligus jelita di sekolahnya yang tentu saja kemudian diikuti dengan deretan drama khas remaja yang menghiasi hubungan mereka. Dear Nathan, yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Erisca Febriani, memang harus diakui tidak mampu menghindari dirinya dari sejumlah konflik klise yang sering ditemukan dalam film-film drama remaja Indonesia. Namun, naskah cerita film yang digarap bersama oleh Bagus Bramanti (Talak 3, 2016) dan Gea Rexy serta pengarahan yang sangat dinamis dari Indra Gunawan (Hijrah Cinta, 2014) justru berhasil mengolah segala ke-klise-an konflik drama remaja tersebut menjadi sebuah sajian cerita yang kuat dan bahkan seringkali terasa emosional. Padanan tepat yang jelas akan membuat drama remaja yang satu ini mampu mencuri hati banyak penontonnya – dan tidak hanya akan berasal dari kalangan remaja saja. Continue reading Review: Dear Nathan (2017)

Review: Pertaruhan (2017)

Setelah sebelumnya menjadi produser bagi film-film Indonesia seperti Coklat Stroberi (2007) dan Tarzan ke Kota (2008), Krishto Damar Alam melakukan debut pengarahannya melalui Pertaruhan yang naskah ceritanya ditulis oleh Upi – yang baru saja meraih sukses besar lewat My Stupid Boss (2016), Sebagai sebuah debutan, Alam harus diakui mampu menampilkan filmnya dengan ritme pengisahan yang tepat, kualitas produksi yang meyakinkan sekaligus berhasil menghadirkan penampilan prima dari jajaran pengisi departemen aktingnya yang diisi nama-nama seperti Tio Pakusadewo, Adipati Dolken, Aliando Syarief, Jefri Nichol dan Giulio Parengkuan. Film ini, sayangnya, kemudian harus takluk terhadap lemahnya penulisan naskah cerita yang akhirnya membuat Pertaruhan gagal untuk tampil untuk menjadi sebuah drama yang lebih mengesankan. Continue reading Review: Pertaruhan (2017)