Review: Dua Garis Biru (2019)


Merupakan debut pengarahan bagi Gina S. Noer – yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penulis naskah untuk film-film seperti Hari Untuk Amanda (Angga Dwimas Sasongko, 2010), Habibie & Ainun (Faozan Rizal, 2012), Posesif (Edwin, 2017), dan Keluarga Cemara (Yandy Laurens, 2019), Dua Garis Biru bercerita tentang kehamilan di luar nikah yang dialami oleh pasangan remaja, Dara (Adhisty Zara) dan Bima (Angga Yunanda). Awalnya, agar tidak mengganggu masa kelulusan sekolah mereka, Dara dan Bima merahasiakan tentang kehamilan tersebut. Rencana tersebut gagal setelah pihak sekolah mengetahui tentang kehamilan Dara. Dara kemudian dipecat dari sekolah dan bahkan ditinggalkan oleh kedua orangtuanya, David (Dwi Sasono) dan Rika (Lulu Tobing), yang kalut dan marah akibat kejadian tersebut. Kini, Dara tinggal bersama Bima dan kedua orangtuanya, Rudy (Arswendy Bening Swara) dan Yuni (Cut Mini), sembari memikirkan ulang berbagai rencana dan tindakan yang akan dilakukan dengan bayi yang kini sedang berada di kandungannya.

Kekuatan utama dari Dua Garis Biru jelas berasal dari kelihaian Noer dalam mengemas cerita yang ingin ia sampaikan. Cukup mudah untuk membayangkan film ini sebagai sebuah presentasi melodramatis dengan banyak adegan yang berusaha untuk menyentuh hati para penontonnya. Noer dapat saja mengambil jalan mudah tersebut – dan bahkan kemungkinan besar mampu melakukannya dengan lebih baik dan berkelas daripada film sejenis kebanyakan. Namun, daripada menghadirkan jenis pengisahan yang mengglorifikasi berbagai konflik yang terjadi pada karakternya, Noer meramu Dua Garis Biru sebagai penceritaan yang membumi tentang problema yang dihadapi oleh sepasang remaja yang kemudian secara perlahan mulai mempengaruhi kehidupan keluarga dan orang-orang terdekat mereka. Noer tidak pernah membiarkan Dua Garis Biru mengacungkan jari telunjuknya dan memberikan arahan pada penonton untuk mengetahui mana perbuatan yang benar dan mana perbuatan yang salah. Dua Garis Biru adalah sebuah film yang ingin menunjukkan arti sebuah konsekuensi dan Noer membiarkan penonton terlarut dalam pengisahannya untuk mendapatkan esensi tersebut.

Dengan karir yang solid sebagai seorang penulis naskah di industri film Indonesia, cukup menyenangkan untuk melihat Noer akhirnya memilih untuk mengambil langkah yang lebih tegas lagi sebagai seorang sutradara. Mengarahkan sendiri naskah cerita yang ia tulis, Noer jelas terlihat memiliki pemahaman yang kuat akan berbagai seluk karakter maupun konflik yang ingin ia sajikan. Noer juga tidak segan untuk menyentuh berbagai isu sosial yang menghinggapi kisah hamil di luar nikah yang seringkali dihadapi oleh kaum remaja – mulai dari tindakan aborsi ilegal yang dapat membahayakan nyawa dan kehidupan mereka, remaja perempuan yang mendapatkan hukuman sosial lebih berat akibat kehamilannya daripada pasangan remaja laki-lakinya, gambaran akan reaksi pasangan orangtua pada anak mereka yang menghadapi kehamilan di luar nikah yang kemudian dengan jeli dijadikan Noer sebagai sketsa mengenai ruang dan kelas sosial di lingkungan masyarakat Indonesia, hingga berbagai pandangan relijius yang terkait dengan konflik tersebut. Sungguh sebuah naskah penceritaan yang kaya namun mampu dibungkus dengan kesederhanaan yang begitu mengena.

Harus diakui, posisi Noer sebagai seorang sutradara perempuan juga memberikan andil tersendiri pada kemampuan Dua Garis Biru untuk tampil sensitif dalam mengemukakan berbagai isu dalam kisahnya. Meskipun dengan banyak momen emosional yang kuat, Dua Garis Biru berjalan dengan penuh ketenangan dalam membuka setiap lapisan kisahnya. Dari sisi teknis, Noer juga dapat memastikan filmnya tampil berkelas. Mulai dari pemilihan warna lembut pada gambar-gambar filmnya, iringan lagu yang mewarnai banyak adegan, hingga tata sinematografi dan tata gambar – adegan long take di ruang Usaha Kesehatan Sekolah yang melibatkan banyak limpahan emosional dari para karakter utama film ini jelas akan menjadi salah satu adegan terbaik yang pernah ditampilkan di sepanjang sejarah perfilman Indonesia – dihadirkan dengan kualitas yang jelas tidak akan menunjukkan bahwa film ini merupakan kali pertama Noer duduk di kursi penyutradaraan.

Dua Garis Biru sendiri bukanlah sebuah perjalanan kisah yang sempurna. Atas pencapaian separuh awal penceritaan film yang nyaris tanpa cela – ketika film ini mulai mengenalkan para karakter serta memaparkan deretan konflik yang akan dikupas di paruh cerita selanjutanya, separuh akhir Dua Garis Biru terasa terjebak untuk menyajikan penyelesaian konflik yang tepat bagi karakter Bima dan Dara. Tidak seperti Juno (2007) – film arahan Jason Reitman yang juga menyentuh konflik yang serupa – Noer terlihat ragu untuk memberikan penutup kisah. Ragu untuk memberikan pilihan tegas atau menyajikan kisah yang masih berpijak pada “adat ketimuran.” Pilihan yang akhirnya diambil Noer untuk para karakter Dua Garis Biru kemudian terasa bermain di zona aman yang membuat film ini terasa kurang kuat dalam menyesakkan tujuan pengisahan yang telah dibangun semenjak awal. Tetap saja, hal tersebut tidak terlalu merusak keutuhan kualitas film yang menjadikan Dua Garis Biru sebagai film Indonesia terpenting tahun ini.

Tidak hanya kaya dari kualitas susunan cerita dan pengarahannya, Noer juga mendapatkan dukungan solid dari penampilan para pengisi departemen aktingnya. Dua aktor muda yang berada di garda terdepan film, Zara dan Yunanda, tampil dengan penampilan dan chemistry prima yang membuat karakter mereka mudah untuk disukai. Para pemeran lain juga tampil sama mengesankannya. Namun, jelas keberadaan Mini dan Tobing yang berperan sebagai sosok ibu dari latar belakang kehidupan sosial yang berbeda menjadi elemen krusial sekaligus penting bagi aliran emosional di berbagai sudut penceritaan film. Bangunan hubungan antara ibu dan anak yang ditampilkan Zara dengan Tobing dan Yunanda dengan Mini menjadi jiwa serta nyawa bagi penceritaan Dua Garis Biru. [B]

dua-garis-biru-film-indonesia-Zara-JKT48-Angga-Yunanda-movie-posterDua Garis Biru (2019)

Directed by Gina S. Noer Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia Written by Gina S. Noer Starring Angga Yunanda, Adhisty Zara, Cut Mini, Arswendy Bening Swara, Dwi Sasono, Lulu Tobing, Maisha Kanna, Rachel Amanda, Shakira Jasmine, Ligwina S. Purwo, Ucok R. Siregar, Ernest Samudra, Ravil Prasetya, Cindy JKT48, Ariel JKT48, Meirina Alwie, Arief Ash Shiddiq, Yayu Yuliani, Irgi Fahrezi, Rahma Alia, Asyla Fatima Aurelia, Ahmad Fikri Music by Andhika Triyadi Cinematography Padri Nadeak Edited by Aline Jusria Production company Starvision/Wahana Kreator Running time 113 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s