Tag Archives: Djenar Maesa Ayu

Review: Kafir (2018)

Tahun lalu, Joko Anwar memberikan “kuliah singkat” kepada para pembuat film horor Indonesia modern bagaimana cara untuk menggarap sebuah horor yang efektif meskipun dengan menggunakan premis cerita yang sebenarnya telah banyak diangkat oleh film-film horor sebelumnya. Pengabdi Setan arahan Anwar, yang merupakan versi teranyar dari film horor legendaris berjudul sama garapan Sisworo Gautama Putra, lantas berhasil meraih pujian luas dari kalangan kritikus film, mendapatkan 13 nominasi di ajang Festival Film Indonesia 2017 – termasuk nominasi Film Terbaik dan Sutradara Terbaik, sekaligus memberikan Anwar kesuksesan komersial perdananya ketika Pengabdi Setan kemudian ditonton lebih dari empat juta penonton yang menjadikannya sebagai film horor Indonesia tersukses sepanjang masa hingga saat ini. Jelas sebuah standar kesuksesan baru – baik dari segi kualitas maupun dari segi komersial – bagi film-film horor Indonesia yang hadir setelahnya. Continue reading Review: Kafir (2018)

Advertisements

Review: Kenapa Harus Bule? (2018)

Merupakan film panjang kedua arahan Andri Cung setelah The Sun, The Moon & The Hurricane (2014), Kenapa Harus Bule? berkisah mengenai perjuangan yang harus dilalui oleh Pipin Kartika (Putri Ayudya) untuk memenuhi obsesinya dalam mendapatkan jodoh seorang pria bule. Terus-menerus gagal dalam menemukan sosok pria bule yang tepat untuknya di Jakarta, Pipin Kartika lantas nekat untuk meninggalkan pekerjaan serta kehidupannya di ibukota dan lantas pindah dan tinggal bersama sahabatnya, Arik (Michael Kho), di Bali. Tidak lama setelah kepindahannya tersebut, Pipin Kartika berkenalan dengan seorang pria tampan berdarah Italia, Gianfranco Battaglia (Cornelio Sunny), yang dengan segera mampu mencuri perhatian dan hati Pipin Kartika. Namun, di saat yang bersamaan, Pipin Kartika bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya, Buyung (Natalius Chendana), yang kini telah tumbuh sebagai seorang pria tampan sekaligus mapan. Buyung telah berulangkali menunjukkan perhatian dan rasa sukanya pada Pipin Kartika. Meskipun begitu, Pipin Kartika telah bertekad untuk mendapatkan seorang pria bule untuk mendampinginya di pelaminan – meskipun secara perlahan Pipin Kartika mulai menyadari bahwa Gianfranco seringkali berbohong pada dirinya. Continue reading Review: Kenapa Harus Bule? (2018)

The 20 Best Movie Performances of 2017

What makes an acting performance so remarkable and/or memorable? Kemampuan seorang aktor untuk menghidupkan karakternya dan sekaligus menghantarkan sentuhan-sentuhan emosional yang dirasakan sang karakter jelas membuat sebuah penampilan akan mudah melekat di benak para penontonnya. Kadang bahkan jauh seusai penonton menyaksikan penampilan tersebut. Penampilan tersebut, tentu saja, tidak selalu membutuhkan momen-momen emosional megah nan menggugah. Bahkan, pada beberapa kesempatan, tidak membutuhkan durasi penampilan yang terlalu lama.

Berikut adalah dua puluh – well… dua puluh lima, untuk tepatnya – penampilan akting yang paling berkesan dalam sebuah film yang dirilis di sepanjang tahun 2017, termasuk sebuah penampilan yang At the Movies pilih sebagai Performance of the Year. Disusun secara alfabetis. Continue reading The 20 Best Movie Performances of 2017

Festival Film Indonesia 2017 Nominations List

Setelah Fiksi (Mouly Surya, 2008) yang berhasil memenangkan beberapa kategori utama, termasuk kategori Film Bioskop Terbaik dan Sutradara Terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2008 dan Belenggu (Upi, 2013) yang berhasil meraih 13 nominasi di pada Festival Film Indonesia 2013, tahun ini panitia penyelenggara Festival Film Indonesia kembali menunjukkan rasa cinta mereka terhadap genre horor dengan memberikan 13 nominasi kepada film Pengabdi Setan arahan Joko Anwar. Pengabdi Setan berhasil mendapatkan nominasi di beberapa kategori utama seperti Penulis Skenario Adaptasi Terbaik dan Sutradara Terbaik untuk Joko Anwar, serta Film Terbaik dimana Pengabdi Setan akan bersaing dengan Cek Toko Sebelah (Ernest Prakasa, 2016), Kartini (Hanung Bramantyo, 2017), Night Bus (Emil Heradi, 2017), dan Posesif (Edwin, 2017). Continue reading Festival Film Indonesia 2017 Nominations List

Review: Kartini (2017)

Merayakan Hari Kartini tahun ini, sutradara Hanung Bramantyo bekerjasama dengan produser Robert Ronny merilis biopik dari Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan di Indonesia tersebut. Berlatarbelakang lokasi di Jepara, Jawa Tengah, di masa Indonesia masih berada dibawah jajahan Belanda dan dikenal dengan sebutan Hindia Belanda, Kartini (Dian Sastrowardoyo) yang berasal dari kalangan kelas bangsawan Jawa telah terbiasa hidup dalam tatanan adat Jawa yang seringkali dirasa mengekang kehidupan kaum perempuannya. Meskipun begitu, berkat arahan sang kakak, Kartono (Reza Rahadian), yang mengenalkannya pada banyak literatur Belanda, pemikiran Kartini menjadi jauh lebih maju dan terbuka dibandingkan dengan kebanyakan perempuan Jawa di era tersebut. Dengan pemikirannya tersebut, Kartini memulai usahanya untuk memperjuangkan kesetaraan hak kaum perempuan, khususnya hak untuk memperoleh pendidikan, agar kaum perempuan, khususnya perempuan Jawa, tidak lagi hanya berfungsi sebagai istri atau pendamping para suami dalam kehidupan mereka. Continue reading Review: Kartini (2017)

Review: Purple Love (2011)

Setelah Ngebut Kawin (2010) dan sebuah bencana perfilman nasional yang berjudul Kabayan Jadi Milyuner (2010), sutradara Guntur Soeharjanto untuk kali ketiga bekerjasama dengan penulis naskah Cassandra Massardi. Lewat Purple Love, Guntur kali ini menggunakan para personel salah satu kelompok musik paling populer di Indonesia, Ungu, sebagai bintang utamanya. Para personel Ungu, walaupun tidak menampilkan kemampuan akting yang spektakuler, harus diakui tampil dengan kapasitas akting yang sama sekali tidak mengecewakan untuk debut penampilan layar lebar mereka. Naskah karya Cassandra Massardi dan arahan dari Guntur Soeharjanto, di sisi lain, adalah dua hal yang membuat Purple Love terlihat akan segera menyusul prestasi Kabayan Jadi Milyuner tahun lalu dengan menjadi salah satu kontender film Indonesia terburuk tahun ini.

Continue reading Review: Purple Love (2011)

Review: Melodi (2010)

Film musikal mungkin adalah salah satu genre yang paling menantang untuk dipasarkan di pasar perfilman Indonesia. Bukan hanya karena penontonnya yang segmented, dari sisi proses produksi, proses pembuatan film ber-genre ini memang memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi daripada film-film biasa. Tidak hanya harus memperhatikan sisi dramatisasi, sang pembuat film juga diharuskan menyusun banyak komposisi lagu yang sesuai dengan jalan cerita untuk ditampilkan di sepanjang film. Mungkin karena itu pula genre musikal di Indonesia lebih difokuskan pada pangsa film anak-anak, seperti yang dilakukan Petualangan Sherina dan Joshua Oh Joshua, yang akan lebih mudah menerima cerita yang disertai dengan iringan lagu-lagu berirama ceria.

Continue reading Review: Melodi (2010)