Tag Archives: Cecep Arif Rahman

Review: Gundala (2019)

We’ve all been here before. Kisah tentang seseorang yang awalnya merasa tertindas, lemah, atau tidak berguna lalu secara perlahan mulai menemukan kekuatan yang lantas digunakannya untuk membela dan/atau membantu orang-orang lain yang merasa tertindas, lemah, atau tidak berguna untuk keluar dari kesulitan mereka. Kali ini, kisah familiar tersebut dituturkan oleh Joko Anwar (Pengabdi Setan, 2017) lewat Gundala – sebuah film yang juga dicanangkan sebagai langkah awal bagi keberadaan jagat sinematik film-film bertemakan pahlawan super di industri film Indonesia. Layaknya sebuah origin story, Gundala memperkenalkan penonton pada sosok sang pahlawan super, kekuatan yang dimilikinya, hingga berbagai masalah yang menghampiri: mulai dari usaha untuk mengenal sekaligus mengendalikan kekuatan yang ia miliki serta orang-orang yang kemudian mulai merasa terganggu dengan keberadaan kekuatan tersebut. Pola pengisahan yang cukup mendasar bagi film-film sejenis namun jelas akan tetap mampu terasa menarik ketika diaplikasikan dalam ruang lingkup cerita yang memiliki latar belakang lokasi dan budaya yang lebih dekat dengan penonton lokal. Continue reading Review: Gundala (2019)

Review: John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019)

Jika John Wick (2014) memperkenalkan penikmat film dunia pada sosok mantan pembunuh bayaran bernama John Wick (Keanu Reeves) yang sedang berduka atas kematian sang istri dan lantas harus kembali melakukan aksi brutalnya setelah sekelompok penjahat secara tidak sengaja membunuh anjing (sekaligus mencuri mobil) kesayangannya dan John Wick: Chapter 2 (2017) berakhir dengan adegan dimana nyawa John Wick menjadi incaran bagi para pembunuh bayaran di seluruh dunia setelah kesalahan fatal yang ia lakukan, maka John Wick: Chapter 3 – Parabellum yang masih diarahkan oleh sutradara dua film John Wick sebelumnya, Chad Stahelski, melanjutkan kisah pelarian John Wick dari para pembunuh bayaran dan anggota kelompok kriminal yang mengincarnya. Pelarian tersebut kemudian membawa John Wick bertemu kembali dengan mantan rekan pembunuh bayarannya, Sofia (Halle Berry), guna meminta informasi mengenai keberadaan pemimpin kelompok kriminal yang telah menjebaknya dalam situasi mematikan tersebut. Di saat yang bersamaan, seorang pembunuh bayaran profesional yang dikenal dengan sebutan Zero (Mark Dacascos) beserta dengan dua muridnya, Shinobi #1 (Yayan Ruhian) dan Shinobi #2 (Cecep Arif Rahman), telah menyiapkan rencana matang untuk menyambut kedatangan John Wick. Continue reading Review: John Wick: Chapter 3 – Parabellum (2019)

Review: Wiro Sableng (2018)

Seperti halnya Si Doel the Movie (Rano Karno, 2018) – yang sejatinya merupakan sebuah novel karya Aman Datuk Majoindo berjudul Si Doel Anak Betawi yang kemudian diadaptasi menjadi sebuah film berjudul sama (Sjuman Djaja, 1972) namun mencapai popularitas yang lebih besar ketika diadaptasi menjadi sebuah serial televisi berjudul Si Doel Anak Sekolahan (1994 – 2008), perjalanan kisah Wiro Sableng juga dimulai sebagai seri novel garapan Bastian Tito sebelum akhirnya diadaptasi menjadi sejumlah film layar lebar yang dirilis pada akhir tahun ‘80an dan serial televisi yang cukup terkenal ketika ditayangkan pada pertengahan ‘90an hingga awal tahun 2000an. Film layar lebar terbaru Wiro Sableng sendiri diarahkan oleh Angga Dwimas Sasongko (Buka’an 8, 2017) dengan Vino G. Bastian – yang merupakan putera dari Tito – berperan sebagai sang karakter sentral. Sasongko, sekali lagi, berhasil menonjolkan kemampuan yang apik dalam tatanan pengarahannya. Namun, jelas penampilan Bastian yang menjadi jiwa dan memberikan kehidupan bagi alur pengisahan Wiro Sableng yang berdurasi 123 menit ini. Continue reading Review: Wiro Sableng (2018)

Tribe Hadirkan Miniseri Kolaborasi Tiga Negara dalam DO(S)A

Untuk semakin memperkuat barisan tayangan yang disediakan di aplikasinya, Tribe baru-baru ini meluncurkan program KolaboraSEA yang menghadirkan deretan serial orisinal yang diproduksi oleh Tribe bekerjasama dengan para sineas dari negara-negara di Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Sebelumnya, KolaboraSEA berhasil meraih sukses besar dengan Gantung. Serial bernuansa horor tersebut mendasarkan penceritaannya pada novel berjudul sama yang ditulis oleh penulis asal Malaysia, Nadia Khan. Paduan kisah horor yang menarik dengan penampilan aktor dan aktris muda popular asal Indonesia dan Malaysia seperti Randy Pangalila, Brandon Salim, Mentari de Marelle, Ikmal Amry, dan Hafreez Adam mampu membuat Gantung mendapatkan banyak penggemar ceritanya. Continue reading Tribe Hadirkan Miniseri Kolaborasi Tiga Negara dalam DO(S)A

Review: The Raid 2: Berandal (2014)

The Raid 2: Berandal (PT. Merantau Films/XYZ Films, 2014)
The Raid 2: Berandal (PT. Merantau Films/XYZ Films, 2014)

Terlepas dari kesuksesan megah yang berhasil diraih oleh The Raid (2012) – baik sebagai sebuah film Indonesia yang mampu mencuri perhatian dunia maupun sebagai sebuah film yang bahkan diklaim banyak kritikus film dunia sebagai salah satu film aksi terbaik yang pernah diproduksi dalam beberapa tahun terakhir – tidak ada yang dapat menyangkal bahwa film garapan sutradara Gareth Huw Evans tersebut memiliki kelemahan yang cukup besar dalam penataan ceritanya. Untuk seri kedua dari tiga seri yang telah direncanakan untuk The Raid, Evans sepertinya benar-benar mendengarkan berbagai kritikan yang telah ia terima mengenai kualitas penulisan naskahnya. Menggunakan referensi berbagai film aksi klasik seperti The Godfather (1972) dan Infernal Affairs (2002), Evans kemudian memberikan penggalian yang lebih mendalam terhadap deretan karakter maupun konflik penceritaan sekaligus menciptakan jalinan kisah berlapis yang tentu semakin menambah kompleks presentasi kisah The Raid 2: Berandal. Lalu bagaimana Evans mengemas pengisahan yang semakin rumit tersebut dengan sajian kekerasan nan brutal yang telah menjadi ciri khas dari The Raid?

Continue reading Review: The Raid 2: Berandal (2014)