Review: Teka-teki Tika (2021)


Dalam film cerita panjang keenam yang ia tulis dan arahkan, Ernest Prakasa (Imperfect, 2019) mencoba untuk keluar dari wilayah nyaman penuturan komedi yang sebelumnya telah begitu melekat pada setiap karyanya. Well… Prakasa sebenarnya tidak menghilangkan unsur komedi secara utuh dari linimasa pengisahan Teka-teki Tika. Meskipun kental dengan nuansa drama misteri, film ini disajikan dengan bangunan konflik dan dialog yang cenderung ringan. Prakasa juga masih menghadirkan sosok karakter bernilai komikal guna mengeksekusi dialog-dialog pemancing senyum maupun tawa yang digarapnya. Tetap saja, Teka-teki Tika adalah sebuah penyegaran dalam filmografi Prakasa – meskipun tidak diiringi dengan kualitas cerita yang terasa mampu menyegarkan.

Alur pengisahan Teka-teki Tika dimulai ketika perayaan ulang tahun pernikahan dari pasangan Budiman (Ferry Salim) dan Sherly (Jenny Zhang) yang dihadiri oleh kedua putra dan pasangan mereka, Arnold (Dion Wiyoko) dan Laura (Eriska Rein) serta Andre (Morgan Oey) dan Jane (Tansri Kemala), diusik dengan kedatangan seorang perempuan asing yang mengaku bernama Tika (Sheila Dara). Secara lantang, Tika membuat pengakuan bahwa dirinya adalah buah cinta Budiman dengan selingkuhannya yang telah meninggal dunia dan meminta keluarga pengusaha tersebut untuk memberikannya uang sebesar Rp100 juta atau dirinya akan membeberkan rahasia kelam tersebut ke berbagai media. Budiman jelas membantah pernyataan tersebut namun Sherly, yang telah mengetahui rekam jejak perselingkuhan Budiman di masa lampau, merasa perlu untuk mendengarkan keterangan Tika secara lebih mendalam.

Prakasa mengeksekusi filmnya dengan ritme yang cenderung bergerak cepat. Selepas alur pengisahan Teka-teki Tika memperkenalkan karakter Tika, penonton mulai dijejali dengan berbagai pertanyaan tentang siapa sosok karakter Tika sebenarnya dan apa motivasi dibalik tindakan karakter tersebut. Pergerakan cerita yang cepat memang tidak memberikan ruang yang mumpuni bagi pengembangan tiap karakter yang muncul dalam penceritaan. Meskipun begitu, Prakasa menciptakan sejumlah lapisan cerita yang melibatkan karakter-karakternya dalam bangunan konflik yang cukup mampu memperkuat unsur misteri yang coba diangkat oleh film ini sekaligus membuat para karakter tersebut tidak berkesan membosankan kehadirannya.

Di saat yang bersamaan, sulit menyangkal kesan bahwa Prakasa kehabisan amunisi ceritanya ketika paruh pertengahan Teka-teki Tika lebih banyak berisi plot yang tidak begitu berhubungan dengan misteri utama dan hanya mengisi waktu sebelum akhirnya alur pengisahan memberikan jawaban atas semua misteri yang telah dibentuk. Kesan acak dari bagian pertengahan film mungkin masih dapat dimaafkan jika Prakasa dapat menghasilkan “momen pengungkapan” yang kuat. Sayangnya, hal tersebut tidak terjadi. Momen final Teka-teki Tika berkesan datar berkat penggarapan misteri dan karakter yang terlalu dangkal.

Sebuah epilog hadir pada pertengahan credit title di bagian penutupan film yang sepertinya digunakan Prakasa untuk memperkenalkan sosok karakter Tika secara lebih mendalam – sekaligus usaha untuk memperluas semesta pengisahan film demi mengantisipasi kehadiran sebuah sekuel di masa yang akan datang. Cukup terkemas baik dengan kehadiran beberapa wajah familiar meskipun penyajiannya tampil layaknya film yang berbeda dari Teka-teki Tika dan penuturannya terasa “curang” karena memberikan lebih banyak informasi akan sosok karakter Tika dibandingkan dengan apa yang dihadirkan pada badan cerita utama dari presentasi film ini.

Terlepas dari berbagai masalah penuturannya, eksperimen Prakasa untuk menghadirkan sajian misteri tidak pernah terasa benar-benar buruk. Lemah, namun bukanlah capaian yang buruk. Kualitas produksinya tampil berkelas. Meskipun penampilan Dara sering terasa karikatural dan berlebihan serta porsi penceritaan Kemala tidak lebih dari sesosok comic relief dengan nyaris tanpa fungsi pengisahan yang lain, kualitas penampilan departemen akting film ini juga jauh dari kesan mengecewakan. Konsistensi Prakasa untuk menyelipkan sentilan-sentilan sosial dalam cerita garapannya – khususnya yang berhubungan dengan komunitas Tionghoa-Indonesia – masih dapat tergarap tajam disini. Teka-teki Tika memiliki bahan ramuan yang sebenarnya telah cukup. Namun, dengan garapan dan pengolahan yang kurang matang, hasil akhirnya gagal untuk memberikan cita rasa yang memuaskan.

popcornpopcornpopcorn-halfpopcorn2popcorn2

Teka-teki Tika (2021)

Directed by Ernest Prakasa Produced by Chand Parwez Servia, Reza Servia, Ernest Prakasa Written by Ernest Prakasa Starring Sheila Dara, Ferry Salim, Jenny Zhang, Morgan Oey, Dion Wiyoko, Tansri Kemala, Eriska Rein, Ayu Laksmi, Whani Darmawan, Kiki Narendra, Joshua Pandelaki, Boris Bokir, Ratna Riantiarno, Dian Sastrowardoyo, Izabel Jahja, Andi Annisa, Teddy Snada, Volland Humonggio, Kristo Immanuel, Iwan Surya, Peter Taslim, Jason Doulez, Ernest Prakasa Music by Rooftopsound Cinematography Robin Budidharma Edited by Ryan Purwoko Production company Starvision/Indie Pictures/Imajinari/Fosa Pictures Running time 83 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s