Tag Archives: Marissa Nasution

Review: Epen Cupen the Movie (2015)

epen-cupen-the-movie-posterEmpat tahun setelah mengarahkan Lost in Papua – yang selamanya mungkin diingat sebagai salah satu pengalaman menonton film terburuk bagi kebanyakan penikmat film Indonesia, Irham Acho Bachtiar kembali membawa penontonnya ke wilayah paling timur Indonesia tersebut lewat Epen Cupen the Movie. Epen Cupen the Movie sendiri diangkat dari kesuksesan sebuah webseries berjudul Epen Cupen – akronim dari Emang Penting Cukup Penting – yang menyajikan deretan sketsa komedi singkat tentang kehidupan keseharian penduduk Papua yang digarap oleh Papua Selatan Film Community. Untuk versi filmnya, Irham Acho Bachtiar tetap menghadirkan sentuhan komedi khas masyarakat Papua seperti yang selalu tersaji dalam webseries Epen Cupen sekaligus mengemasnya dengan dukungan elemen aksi pada beberapa bagian penceritaannya.

Jalan cerita Epen Cupen the Movie sendiri dimulai ketika seorang pemuda asal Papua bernama Celo (Klemens Awi) ditugaskan oleh sang ayah untuk mencari saudara kembarnya yang telah hilang semenjak kecil. Dalam perjalanannya tersebut, Celo kemudian bertemu dengan seorang pemuda asal Medan, Babe (Babe Cabiita), yang sedang dalam pelarian dari para penagih hutang akibat usahanya yang telah mengalami kebangkrutan. Dengan janji akan memberikan sejumlah uang untuk membantu melunasi hutang-hutangnya, Babe akhirnya setuju untuk membantu Celo. Perjalanan keduanya lantas berlanjut ke Jakarta. Di kota tersebut, keduanya mendapatkan kejutan ketika mengetahui bahwa saudara kembar Celo merupakan seorang pemimpin salah satu kelompok preman yang kini tengah berseteru dengan pimpinan kelompok preman lainnya, John (Edward Gunawan).

Untungnya, dengan sentuhan komedi yang cukup kental, perjalanan ke ranah Papua yang dilakukan Irham Acho Bachtiar kali ini mampu tampil jauh lebih baik daripada Lost in Papua. Kekuatan utama film ini jelas hadir dari chemistry yang terjalin antara dua pemeran utamanya, Klemens Awi dan Babe Cabiita, yang mampu menyajikan benturan perbedaan budaya yang terdapat diantara kedua karakter mereka menjadi sumber komedi tingkat tinggi yang begitu menghibur. Tidak mengherankan jika paruh pertama film yang banyak mengeksplorasi lemparan guyonan antara Klemens Awi dan Babe Cabiita menjadi momen keemasan tersendiri bagi Epen Cupen the Movie. Tampil prima dengan sentuhan komedi yang begitu kental dan terasa hangat.

Sayangnya, seiring dengan kehadiran beberapa konflik dan karakter pendukung, Epen Cupen the Movie mulai terasa kehilangan fokus dan ketajaman dalam penceritaannya. Bukan berarti film ini lantas berubah menjadi demikian buruk namun, jika dibandingkan dengan paruh pertama film yang benar-benar bertumpu pada pembangunan kisah persahabatan antara karakter Celo dan Babe, paruh kedua film menghadirkan konflik yang terkesan datar dan kurang utuh penggalian kisahnya. Banyak diantara konflik pendukung tersebut hanya sekedar menjadi pemicu bagi kehadiran adegan aksi dalam jalan cerita film tanpa pernah benar-benar tersaji dengan menarik. Berbicara mengenai adegan aksi dalam film ini, Irham Acho Bachtiar mampu dengan baik mengeksekusi setiap adegan aksi dalam Epen Cupen the Movie. Tidak istimewa namun jelas jauh dari mengecewakan.

Selain Klemens Awi dan Babe Cabiita yang mampu tampil bersinar dalam elemen komedi mereka, departemen akting Epen Cupen the Movie juga diisi oleh beberapa nama lain seperti Marissa Nasution, Edward Gunawan hingga kehadiran beberapa comics – sebutan untuk para pelaku stand-up comedy – di beberapa bagian kisahnya. Tidak banyak hal yang dapat diungkapkan dari penampilan para pemeran pendukung film ini. Baik Marissa Nasution dan Edward Gunawan terasa canggung dalam memerankan karakter mereka. Edward Gunawan – yang tampil memukau dalam Arisan! 2 (Nia Dinata, 2011) dan Street Society (Awi Suryadi, 2014) bahkan hadir dengan penampilan akting yang terlalu dibuat-buat sebagai sosok pimpinan kelompok preman yang berkepribadian tangguh. Ruang penceritaan yang minimalis juga tidak banyak memberikan kesempatan bagi para comics untuk lebih meningkatkan adrenalin komedi pada paruh kedua film. Hasilnya, Epen Cupen the Movie yang awalnya terasa cukup menjanjikan sebagai sebuah film aksi komedi berakhir dengan tanggung dan gagal memberikan kesan yang lebih mendalam. [C]

Epen Cupen the Movie (2015)

Directed by Irham Acho Bachtiar Produced by Gope T. Samtani Written by Irham Acho Bachtiar Starring Klemens Awi, Babe Cabiita, Marissa Nasution, Edward Gunawan, Nato Beko, Fico Fachriza, Deddy Mahendra Desta, Pierre Gruno, Abdur Arsyad, Temon Templar, David Nurbianto, Uus, Fadly Jackson, Wita, Hengky Henggise, Cesilia Birio, Maria Fan Gebze, Vera Minipko, Thomas Kimko Music by Indra Q Cinematography Fachmi J. Saad Editing by Ryan Purwoko Studio Rapi Films Running time 95 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: Si Jago Merah 2: Air & Api (2015)

air-dan-api-posterMerupakan sekuel bagi film Si Jago Merah (Iqbal Rais, 2008), Si Jago Merah 2: Air & Api kini melanjutkan kisah perjalanan karir dua karakter dari seri sebelumnya, Gito (Deddy Mahendra Desta) dan Rojak Panggabean (Judika Sihotang), sebagai anggota petugas pemadam kebakaran. Dibawah kepemimpinan Komandan Dicky (Bucek Depp), keduanya kini ditugaskan untuk membina calon petugas pemadam kebakaran yang baru. Diantara pendatang baru tersebut terdapat Radit (Tarra Budiman) yang dipaksa sang ayah untuk bergabung dalam kelompok tersebut, Dipo (Dion Wiyoko) yang bergabung karena keinginannya untuk dapat menolong orang banyak meskipun hal tersebut mendapat larangan dari sang ayah (Ferry Salim) serta Sisi (Enzy Storia) yang ingin mengikuti jejak almarhum sang ayah sebagai seorang petugas pemadam kebakaran. Tentu saja, ada banyak tantangan dalam melatih para personel baru, mulai dari masalah cinta lokasi antara sesama petugas hingga keahlian masing-masing petugas ketika diturunkan dalam lokasi bencana.

Masalah terbesar yang dihadapi oleh Si Jago Merah 2: Air & Api sendiri harus diakui datang dari konten yang terkandung dalam naskah ceritanya. Sebagai sebuah film yang mengisahkan tentang para petugas pemadam kebakaran – karakter yang kisahnya masih sangat amat jarang ditemukan dalam jalan cerita film Indonesia, Si Jago Merah 2: Air & Api justru lebih banyak mengangkat masalah romansa yang terjadi antara para karakter yang hadir dalam jalan cerita film ini. Bukan masalah yang cukup besar jika garisan cerita romansa tersebut mampu dikemas menarik (dan berimbang). Sayangnya, kisah cinta segitiga yang tergambar antara karakter Radit, Sisi dan Dipo terasa begitu mengganggu akibat penggalian materi cerita yang dangkal sehingga terasa bertele-tele dalam penyampaiannya. Materi kisah cinta segitiga tersebut juga mengambil porsi yang (terlalu) luas sehingga seringkali menghalangi plot-plot kisah lain yang coba ditonjolkan oleh film ini. Hasilnya, meskipun Si Jago Merah 2: Air & Api berkisah mengenai kehidupan para petugas pemadam kebakaran, film ini sama sekali tidak pernah mampu menjadi sebuah film yang benar-benar dapat bercerita panjang kali lebar mengenai kehidupan para petugas pemadam kebakaran.

Tidak hanya dari penceritaannya. Penggambaran karakter-karakter dalam film ini juga harus diakui terasa digambarkan cukup lemah. Kedangkalan sikap beberapa karakter dalam menghadapi masalah personal mereka jelas terasa berlawanan dengan tugas berat mereka sebagai petugas pemadam kebakaran. Si Jago Merah 2: Air & Api memanglah sebuah fiksi. Namun ketika sebuah jalan cerita film dihadapkan atau dikaitkan pada beberapa karakter yang memang telah familiar karakteristiknya, jelas hal tersebut harusnya menjadi pertimbangan tersendiri dalam pendalaman penulisan dari masing-masing karakter dalam cerita. Lemahnya penceritaan memang harus terasa cukup mengganggu. Meskipun begitu, arahan Raymond Handaya (I Love You Masbro, 2012) bagi film ini masih mampu terasa kekuatannya. Pemilihan alur penceritaan yang berjalan cepat setidaknya membuat Si Jago Merah 2: Air & Api tetap terasa lugas dalam perjalanannya. Raymond juga mampu memberikan arahan yang baik bagi tata teknikal film yang beberapa kali disajikan dengan tuntutan adanya efek visual pada gambarnya. Seluruh tatanan teknikal mampu dieksekusi dengan lancar dan terasa nyaman untuk dinikmati penonton.

Raymond Handaya juga rasanya beruntung diberkahi barisan pengisi departemen akting yang kuat dalam film ini. Mulai dari Tarra Budiman, Dion Wiyoko, Enzy Storia hingga pemeran pendukung seperti Bucek Depp, Ferry Salim dan Joehana Sutisna mampu memberikan kontribusi terbaik mereka dalam menghidupkan kehadiran setiap karakter. Namun, jelas adalah Deddy Mahendra Desta dan Judika Sihotang yang selalu berhasil menjadi pencuri perhatian utama dalam Si Jago Merah 2: Air & Api. Keduanya mampu menjalankan plot komedi dan drama yang diberikan pada karakter mereka dengan baik. Sejujurnya, mungkin Si Jago Merah 2: Air & Api akan menjadi lebih menarik jika saja fokus penceritaan tetap diberikan pada karakter yang diperankan Deddy Mahendra Desta dan Judika Sihotang seperti yang disajikan Iqbal Rais dalam seri sebelumnya. [C-]

Si Jago Merah 2: Air & Api (2015)

Directed by Raymond Handaya Produced by Chand Parwez Servia, Fiaz Servia Written by Raymond Handaya, Hilman Mutasi, Away Martianto (screenplay), Hilman Mutasi, Fajar Nugros (characters) Starring Judika Sihotang, Deddy Mahendra Desta, Dion Wiyoko, Tarra Budiman, Enzy Storia, Abdur Arsyad, Bucek Depp, Marissa Nasution, Girindra Kara, Joehana Sutisna, Putri Una, Ferry Salim, Meriam Bellina, Dwi Yan, Volland Humonggio, Lina Marpaung, Kezia Karamoy, Umar Lubis, Sacha Stevenson, Ingrid Widjanarko, Joshua Pandelaki, Mongol Stres, Laila Sari, Iranty Purnamasari Music by Andhika Triyadi Cinematography Yoyok Budi Santoso Editing by Wawan I. Wibowo, Dody Chandra Studio Starvision Running time 99 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Review: 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 (2014)

Dengan memanfaatkan basis penggemar yang cukup kuat dari novel sukses berjudul sama karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra, 99 Cahaya di Langit Eropa tetap mampu mencuri minat penikmat film Indonesia dan berhasil menjadi salah satu film dengan raihan penonton tertinggi meskipun dirilis dalam tempo yang berdekatan dengan masa perilisan dua film blockbuster Indonesia lainnya, Soekarno dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, pada akhir tahun 2013 lalu. Sadar bahwa materi penceritaan 99 Cahaya di Langit Eropa terlalu luas untuk dimuat dalam satu penceritaan film – atau justru sadar bahwa materi penceritaan tersebut memiliki nilai komersial yang tinggi – para produser film 99 Cahaya di Langit Eropa secara bijaksana kemudian membagi penceritaan tersebut menjadi dua bagian. Kini, tepat tiga bulan setelah perilisan film pertamanya, bagian kedua dari penceritaan 99 Cahaya di Langit Eropa hadir kembali untuk melanjutkan berbagai kisah sekaligus konflik yang dialami oleh pasangan suami istri, Rangga dan Hanum, selama mereka berada di Eropa. Mampukah 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 mengulangi kesuksesan film pertamanya? Atau, yang terlebih penting, mampukah film ini memperbaiki berbagai kekurangan yang terdapat pada kualitas penceritaan filmnya yang terdahulu?

Continue reading Review: 99 Cahaya di Langit Eropa Part 2 (2014)

Review: 99 Cahaya di Langit Eropa (2013)

99-cahaya-di-langit-eropa-header

Sebagai sebuah novel, 99 Cahaya di Langit Eropa yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra adalah sebuah fenomena tersendiri. Selain berhasil mendapatkan banyak pujian berkat kemampuan dua penulis untuk menggambarkan seluk beluk sejarah keberadaan Islam di benua Eropa, 99 Cahaya di Langit Eropa juga mampu meraih sukses komersial yang besar. Novel tersebut bahkan telah dirilis ulang puluhan kali semenjak cetakan pertamanya pada Juli 2011. Tidak mengherankan – ditengah menjamurnya film-film yang diadaptasi dari deretan novel best seller di industri film Indonesia – jika kemudian Maxima Pictures memilih untuk mengangkat novel yang kisahnya didasarkan pada pengalaman pribadi dua penulisnya tersebut menjadi sebuah film layar lebar. Namun, apakah versi film dari 99 Cahaya di Langit Eropa mampu turut sukses dalam memberikan pengalaman menggali sejarah Islam di Eropa dengan kuat bagi para penontonnya?

Continue reading Review: 99 Cahaya di Langit Eropa (2013)

Review: Cowok Bikin Pusing (2011)

Ditulis oleh Sekar Ayu Asmara – orang yang sama yang menghasilkan naskah cerita depresif seperti Belahan Jiwa (2006) yang hampir membunuh karir lima aktris muda Indonesia paling berbakat serta Pintu Terlarang (2009) yang berhasil diselamatkan oleh ending mengejutkan dan sentuhan visual yang dieksekusi dengan baik oleh Joko Anwar – Cowok Bikin Pusing menjadi sebuah karya yang sedikit berbeda dari karya-karya Sekar Ayu Asmara sebelumnya. Bebas dari pemikiran-pemikiran yang berpotensi membuat penontonnya berniat untuk bunuh diri, Cowok Bikin Pusing justru berisi banyak sentuhan drama komedi romantis a la Sekar Ayu Asmara yang terkadang berhasil menjalankan tugasnya dengan baik di bawah eksekusi sutradara, Winaldha E. Melalatoa (Ai Lop Yu Pul, 2009). Walau lebih sering terasa bagaikan sebuah film televisi daripada sebuah film layar lebar, namun Cowok Bikin Pusing tidak dapat disangkal mampu memberikan hiburan tersendiri bagi setiap penontonnya.

Continue reading Review: Cowok Bikin Pusing (2011)