Review: Pocong the Origin (2019)


Selepas kesuksesannya dalam menggarap Ada Apa Dengan Cinta? (2001), Mengejar Matahari (2004), dan Mendadak Dangdut (2006), sutradara Rudi Soedjarwo lantas menguji kemampuan penyutradaraannya untuk mengarahkan sebuah film horor yang berjudul Pocong (Dendam Yang Tak Bisa Mati) yang naskah ceritanya ditulis oleh Monty Tiwa. Sayang, film yang awalnya dijadwalkan rilis pada tahun 2006 tersebut batal diputar di layar bioskop Indonesia dikarenakan gagal lulus sensor akibat adanya muatan cerita serta adegan kekerasan yang dinilai terlalu sensitif dan brutal untuk dipresentasikan pada penonton film Indonesia. Walau film seri pertamanya tidak jadi dirilis, sekuel film tersebut, Pocong 2, yang juga masih diarahkan oleh Soedjarwo berdasarkan naskah cerita garapan Tiwa, tetap dirilis di tahun 2006 dan sekuel keduanya, Pocong 3, menyusul rilis setahun kemudian dengan Tiwa mengambil alih posisi sebagai sutradara film.

Kini, 13 tahun setelah Pocong (Dendam Yang Tak Bisa Mati) seharusnya dirilis, Tiwa merilis Pocong the Origin yang naskah ceritanya digambarkan sebagai “reinkarnasi” dari naskah cerita Pocong (Dendam Yang Tak Bisa Mati) dengan, tentu saja, beberapa bagian kisahnya mengalami pembaharuan dan penyesuaian. Jalan ceritanya sendiri berkisah mengenai perjalanan yang harus dilalui oleh Sasthi (Nadya Arina) yang harus mengantarkan jenazah sang ayah, Ananta (Surya Saputra), untuk dikuburkan di kampung halamannya. Ananta bukanlah sosok pria biasa. Meskipun Sasthi mengenal Ananta sebagai seorang sosok ayah yang begitu mengasihi dan menyayanginya, kematian Ananta sendiri terjadi karena dirinya dieksekusi mati oleh aparat keamanan sebagai hukuman dari deretan tindakan pembunuhan yang telah dilakukannya. Ditemani oleh seorang sipir penjara, Yama (Samuel Rizal), perjalanan Sasthi menuju kampung halaman sang ayah diwarnai oleh berbagai kejadian aneh bernuansa mistis yang sepertinya ingin mencegah agar Ananta tidak dikuburkan di tanah kelahirannya.

Sometimes dead is better… dan seperti halnya versi buat ulang dari Pet Sematary (Kevin Kölsch, Dennis Widmyer, 2019) yang memiliki kesan tidak begitu diperlukan keberadaannya akibat ketiadaan hal baru atau menarik yang mampu disampaikan oleh kualitas film tersebut, mungkin Tiwa juga harusnya membiarkan kenangan akan Pocong (Dendam Yang Tak Bisa Mati) terkubur dalam di masa lampau. Pola pengisahan Pocong the Origin yang disampaikan sebagai sebuah road movie – dimana karakter-karakternya dikisahkan sedang berada dalam sebuah perjalanan yang nantinya akan memberikan pengaruh atau perubahan besar dalam kehidupan mereka – memang terasa sebagai sebuah sentuhan yang cukup menyegarkan bagi sebuah film horor nasional. Sayangnya, selain tawaran horor dari perspektif baru tersebut, film ini gagal untuk dikembangkan menjadi sebuah presentasi yang lebih menawan akibat dangkalnya konflik maupun karakter yang mengisi linimasa penceritaannya.

Sebenarnya, Pocong the Origin menyimpan cukup banyak potensi untuk menjadi sebuah sajian horor yang kuat. Daripada menghadirkan filmnya sebagai sebuah film horor dengan banyak adegan yang berniat untuk mengejutkan para penontonnya, Tiwa membangun Pocong the Origin sebagai sebuah atmospheric horror yang kelam. Meskipun jauh dari kesan istimewa, banyak dari momen-momen horor tersebut berhasil tergarap kuat – termasuk sebuah adegan yang jelas-jelas merupakan “reka ulang” dari sebuah adegan yang berasal dari film horor arahan Tiwa yang lebih superior, Keramat (2009). Hambatan terus muncul ketika film ini mulai mengalihkan fokusnya kepada para karakter dan konflik yang mereka hadapi. Naskah cerita film ini terasa hanya menyentuh permukaan dari tiap konflik maupun karakter tanpa pernah berniat untuk menyelami kehadiran mereka lebih dalam. Tidak mengherankan jika Pocong the Origin kemudian menjadi hampa ketika tidak sedang mengeksplorasi elemen-elemen horornya.

Jalan cerita yang ditambatkan pada interaksi yang terjadi antara karakter Sasthi dan Yama – dan nantinya ditambah dengan kehadiran karakter (jika Anda ingin menyebutnya sebagai) seorang jurnalis bernama Jayanthi (Della Dartyan) – tampil dengan kesan yang semu berkat susunan dialog yang seringkali terasa menggelikan, chemistry antar pemeran yang nyaris tidak ditemukan keberadaannya, serta penampilan akting yang cenderung berada dalam satu nada di sepanjang pengisahan film. Eksekusi yang dilakukan Tiwa terhadap elemen komedi film ini juga seringkali gagal untuk membuahkan hasil bahkan cenderung untuk merusak ritme pengisahan yang sedang berjalan. Alhasil, terlepas dari premis akan kehadiran “titisan” kisah Pocong (Dendam Yang Tak Bisa Mati) yang melegenda itu dan beberapa momen horor yang mampu digarap menyenangkan, Pocong the Origin kemudian berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan yang berarti. [C-]

pocong-the-origin-film-indonesia-movie-posterPocong the Origin (2019)

Directed by Monty Tiwa Produced by Chand Parwez Servia Written by Monty Tiwa, Eric Tiwa (screenplay), Monty Tiwa (story) Starring Nadya Arina, Samuel Rizal, Della Dartyan, Surya Saputra, Tio Pakusadewo, Reza Nangin, Anom Perkasa, Chacha Marisa, Yeyen Lidya, Egi Fedly, Yama Carlos, Yusril Fahriza, Ananta Rispo, Izzati Khansa, Tegar Satrya, Steward Ponto,  Ozzol Ramdan Music by Andi Rianto Cinematography Anggi Frisca Production company Starvision Running time 91 minutes Country Indonesia Language Indonesian

One thought on “Review: Pocong the Origin (2019)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s