Review: Sabrina (2018)


Walau terdengar lebih menakutkan, film horor teranyar arahan Rocky Soraya yang berjudul Sabrina sama sekali tidak berkisah tentang sebuah situasi dimana sesosok karakter dipaksa untuk membayar dan mendengarkan lagu-lagu cover version yang dinyanyikan secara akustik oleh seorang penyanyi bernama Sabrina selama 113 menit. Film ini merupakan bagian dari semesta pengisahan film The Doll arahan Soraya yang dua seri sebelumnya sukses ketika dirilis pada tahun 2016 dan 2017. Dengan naskah cerita yang masih digarap oleh Riheam Junianti dan Fajar Umbara, Sabrina sendiri memiliki alur pengisahan yang bertindak sebagai kelanjutan kisah atau sekuel bagi The Doll 2. Sayangnya, mereka yang mengharapkan adanya perbaikan – baik dari kemampuan pengarahan Soraya maupun kualitas naskah cerita garapan Junianti dan Umbara – bagi presentasi keseluruhan Sabrina sepertinya harus bersiap untuk gigit jari. Sabrina hadir dengan kualitas yang mampu menyaingi buruknya dua seri The Doll sebelumnya.

Karakter Maira (Luna Maya), yang sebelumnya telah diperkenalkan melalui The Doll 2, kini dikisahkan telah menikah dengan seorang pengusaha bernama Aiden (Christian Sugiono). Kehidupan pernikahan mereka juga diwarnai dengan kehadiran Vanya (Richelle Georgette Skornicki) – keponakan Aiden yang kini tinggal bersama Maira dan Aiden setelah kedua orangtuanya meninggal dunia. Namun, Vanya tidak begitu saja melupakan rasa duka dan kehilangan akan kedua orangtuanya. Dengan bantuan salah seorang teman sekelasnya, Vanya kemudian melaksanakan sebuah ritual untuk memanggil arwah sang ibu. Seperti yang dapat diduga, ritual tersebut gagal untuk memanggil arwah sang ibu dan malah menyebabkan sesosok jahat yang berasal dari dunia lain datang dan mengganggu kehidupan Vanya bersama dengan Maira dan Aiden. Kini, hanya bantuan dari paranormal bernama Laras (Sara Wijayanto) yang dapat diharapkan Maira dan Aiden untuk mengembalikan kehidupan normal mereka.

Melihat struktur penceritaannya, Sabrina jelas tidak menawarkan konstruksi konflik maupun karakter yang baru jika dibandingkan dengan The Doll 2. Terasa sebagai repetisi dari pengisahan The Doll 2 namun dengan beberapa perubahan dan pelintiran kisah di beberapa bagiannya. Kefamiliaran kisah tersebut jelas membuat Sabrina seringkali terasa monoton dan mudah sekali untuk ditebak arah penceritaannya. Dan, sama halnya dengan The Doll dan The Doll 2, pelintiran kisah yang disajikan pada paruh ketiga penceritaan Sabrina juga tergolong lemah – jika tidak ingin disebut sebagai terlalu mengada-ada akibat ketidakmampuan Junianti dan Umbara dalam memberikan konklusi bagi deretan konflik yang telah mereka hadirkan pada paruh pengisahan sebelumnya.

Pilihan Soraya untuk tetap melengkapi filmnya dengan adegan-adegan yang terasa kuat terinspirasi oleh banyak film-film horor asing juga tidak banyak membantu ketika deretan adegan tersebut tereksekusi dengan kualitas produksi yang lebih berusaha menghasilkan kejutan bagi penonton daripada berusaha membangun atmosfer horor yang lebih kuat. Sabrina juga seringkali hadir dalam tempo pengisahan yang kurang mampu terjaga dengan baik: terburu-buru dalam berkisah pada satu bagian sementara terasa begitu lamban pada banyak bagian lainnya. Hal inilah yang menyebabkan intensitas pengisahan horor pada Sabrina gagal untuk tampil mengikat.

Penampilan Maya, sekali lagi, menjadi faktor yang sangat esensial bagi kualitas presentasi cerita Sabrina. Maya mampu memberikan sentuhan emosional bagi karakternya bahkan di saat karakter tersebut hadir dalam balutan pengisahan yang tergolong lemah. Di paruh akhir film, Maya bahkan mampu membuat karakternya terlihat begitu menakutkan ketika karakter yang ia perankan dikisahkan sedang mengalami kerasukan. Meskipun diperankan dengan cukup baik oleh Sugiono, karakter Aiden, sayangnya, tidak diberikan ruang pengisahan yang cukup luas untuk membuatnya tampil menarik. Selain Maya dan Sugiono, departemen akting Sabrina juga hadir penampilan akting dari Wijayanto dan Jeremy Thomas yang hadir tidak mengecewakan.  [D]

sabrina-film-indonesia-luna-maya-movie-posterThe Doll 2 (2018)

Directed by Rocky Soraya Produced by Rocky Soraya, Ram Soraya Written by Riheam Junianti, Fajar Umbara (screenplay), Rocky Soraya (storyStarring Luna Maya, Christian Sugiono, Sara Wijayanto, Jeremy Thomas, Rizky Hanggono, Richelle Georgette Skornicki Music by Stevesmith Music Production Cinematography Asep Kalila Editing by Sastha Sunu Studio Hitmaker Studios Running time 113 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s