Review: Child’s Play (2019)


Jika deretan boneka hidup dalam Annabelle Comes Home (Gary Dauberman, 2019) maupun Toy Story 4 (Josh Cooley, 2019) belum cukup untuk memberikan Anda mimpi buruk… Wellhere comes Chuc… Buddi! Disutradarai oleh Lars Klevberg (Polaroid, 2019), versi teranyar dari Child’s Play, tentu saja, merupakan sebuah buat ulang dari film horor berjudul sama arahan Tom Holland yang dahulu dirilis pada tahun 1988 sekaligus menjadi penanda bagi awal pengisahan baru bagi seri film Child’s Play yang telah berusia 30 tahun dan menghasilkan tujuh film – dengan Cult of Chucky arahan Don Mancini dirilis pada tahun 2017 yang lalu. Child’s Play terbaru sendiri tidak terpaku pada pola pengisahan yang telah diterapkan oleh pendahulunya. Karakter Buddi/Chucky kini bukanlah sosok boneka yang dirasuki oleh arwah penasaran seorang penjahat namun merupakan produk berteknologi tinggi yang kemudian menghasilkan efek negatif yang mematikan. Sebuah sentuhan cerita yang membuat Child’s Play terbaru dapat saja dijadikan satu episode khusus dari serial popular Black Mirror rilisan Netflix dan ternyata menjadi elemen yang kemudian mampu menjadikan film horor ini tampil cukup memikat.

Dengan naskah cerita yang digarap oleh Tyler Burton Smith, teror dalam pengisahan Child’s Play dimulai ketika Karen Barclay (Aubrey Plaza) membelikan putra tunggalnya, Andy Barclay (Gabriel Bateman), sebuah boneka bernama Buddi (Mark Hamill) yang diproduksi dengan kecerdasan buatan paling mutakhir. Andy Barclay awalnya sangat bahagia dengan hadiah dari ibunya tersebut. Dengan teknologi teranyar yang diimplementasikan pada Buddi, Andy Barclay lantas menghabiskan banyak waktunya untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan boneka yang tengah popular tersebut. Keanehan mulai terjadi ketika Andy Barclay menyadari bahwa Buddi memiliki kecenderungan untuk melakukan berbagai tindak kekerasan. Buddi juga terkesan tidak rela ketika Andy Barclay mulai menemukan beberapa sahabat baru yang membuatnya tidak lagi menghabiskan banyak waktu bersamanya. Buddi ingin menjadi sahabat satu-satunya bagi Andy Barclay. Dan Buddi siap untuk melenyapkan siapapun yang mengancam posisinya sebagai sahabat terbaik bagi Andy Barclay.

Harus diakui, pilihan untuk menjauhkan kesan mistis maupun supranatural dari alur pengisahan Child’s Play ternyata mampu memberikan dorongan kualitas yang menyegarkan bagi film ini – khususnya ketika seri film Annabelle telah menguasai banyak benak penikmat film dunia saat ini. Di saat yang bersamaan, perubahan yang coba dibangun oleh Klevberg dan Smith tidak lantas membuat Child’s Play meninggalkan secara penuh identitas seri film pendahulunya. Child’s Play masih menghadirkan sentuhan ketegangan melalui adegan-adegan slasher penuh kekerasan dan darah yang sempat menjadikan Child’s Play dahulu begitu mengejutkan sekaligus menyenangkan. Klevberg sukses mengolah dan menggarap tiap adegan bernuansa kekerasan dengan kuat. Klevberg bahkan sepertinya mendedikasikan paruh ketiga Child’s Play untuk menyajikan adegan bernuansa kekerasan (yang dipenuhi darah dan kematian) secara utuh dan menyeluruh. Menyenangkan? Tentu saja! Dukungan sinematografi arahan Brendan Uegama yang mampu membangun atmosfer kelam nan mencekam serta tata musik garapan Bear McCreary – yang musiknya sebelumnya sukses menghidupkan Godzilla: King of the Monsters (Michael Dougherty, 2019) – yang begitu menyita perhatian dengan esensi musik horor yang kuat menjadi elemen lain dalam keberhasilan pengisahan Child’s Play versi modern ini.

Sayang, modernisasi dalam garapan cerita Child’s Play tidak lantas membuat hadir dengan ritme pengisahan yang memuaskan. Di luar deretan adegan bernuansa kekerasan yang menjadi elemen terkuat penceritaan film, Child’s Play tampil dengan penggambaran konflik dan karakter yang inkonsisten. Banyak karakter pendukung yang terasa disajikan hanya sebagai pemicu konflik belaka dan lantas menghilang begitu saja saat karakternya tidak diperlukan lagi. Tidak hanya dari karakter pendukung, hubungan ibu dan anak antara karakter Karen Barclay dan Andy Barclay juga tidak pernah tergali dan tergarap dengan apik. Sebagian dari kegagalan tersebut mungkin disebabkan oleh lemahnya chemistry yang muncul antara Plaza dan Bateman. Namun, garapan konflik dan jalinan hubungan antara kedua karakter yang diciptakan oleh Smith juga tidak mampu banyak bekerja untuk menghasilkan momen ibu dan anak yang kuat.

Inkonsistensi – jika tidak ingin menyebutnya sebagai berantakan – juga begitu dapat dirasakan pada tata pengarahan cerita yang diberikan Klevberg. Dengan durasi penceritaan selama 90 menit yang sebenarnya cukup singkat, Klevberg sering terasa kebingungan untuk menentukan atmosfer pengisahan yang tepat untuk filmnya. Kadang terasa lamban dalam membangun elemen ketegangan namun sering juga tampil terburu-buru untuk mengeksekusi momen-momen. Hasilnya, meskipun banyak menghadirkan momen horor nan menegangkan yang cukup menyenangkan dan memacu adrenalin, Child’s Play berakhir sebagai sajian yang setengah matang. [C]

childs-play-movie-posterChild’s Play (2019)

Directed by Lars Klevberg Produced by David Katzenberg, Seth Grahame-Smith Written by Tyler Burton Smith (screenplay), Don Mancini (original screenplay, Child’s Play) Starring Gabriel Bateman, Mark Hamill, Aubrey Plaza, Brian Tyree Henry, Tim Matheson, Marlon Kazadi, Beatrice Kitsos, Ty Consiglio, David Lewis, Trent Redekop, Carlease Burke, Nicole Anthony Music by Bear McCreary Cinematography Brendan Uegama Edited by Tom Elkins Production company KatzSmith Productions Running time 90 minutes Country United States Language English

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s