Tag Archives: HBO Max

Review: King Richard (2021)

Dunia mungkin saja tidak merasa familiar dengan nama Richard Williams. Meskipun begitu, dengan obsesi, ego, sikap keras kepala, dan kerja kerasnya, Richard Williams mampu menempa dua sosok atlet perempuan hingga namanya kini selalu dikenang sebagai dua atlet terbaik sepanjang masa: Venus Williams dan Serena Williams. Kisah inilah yang dituturkan oleh sutradara Reinaldo Marcus Green (Joe Bell, 2020) lewat King Richard yang naskah ceritanya ditulis oleh Zach Baylin. Perjalanan tersebut dimulai ketika Richard Williams (Will Smith) menyadari bahwa seorang atlet tenis dapat mengumpulkan penghasilan yang besar setiap tahunnya. Richard Williams kemudian menuliskan rencana hidup jangka panjang sebanyak 78 halaman bagi dua puterinya, Venus Williams (Saniyya Sidney) dan Serena Williams (Demi Singleton), untuk membentuk dan mengarahkan mereka menjadi atlet tenis handal. Bukan sebuah perjalanan mudah. Dengan latar belakang ekonomi pas-pasan serta berasal dari kelompok ras kulit hitam di era dimana tenis didominasi oleh atlet berkulit putih, perjuangan Richard Williams seringkali terbentur berbagai hambatan. Namun, tentu saja, Richard Williams tidak menyerah begitu saja. Continue reading Review: King Richard (2021)

Review: Malignant (2021)

Setelah mengarahkan Aquaman (2018) yang menjadi salah satu film tersukses (dan terbaik) dalam seri film DC Extended Universe, James Wan kembali hadir dengan Malignant yang menjadi film horor pertama yang disutradarainya setelah The Conjuring 2 (2016). Malignant juga menandai cerita orisinal pertama yang diarahkan oleh Wan semenjak mengarahkan The Conjuring (2013). Malignant sendiri membawa Wan pada warna pengisahan horor yang baru dan menjauh dari horor akan teror supranatural seperti yang dihadirkan oleh seri film Insidious (2010 – 2018) dan The Conjuring (2013 – 2021) serta sejumlah film lepasan yang diproduksi oleh Wan. Di saat yang bersamaan, mereka yang telah semenjak lama mengikuti karir penyutradaraan Wan jelas dapat merasakan bahwa elemen misteri serta ketegangan yang dipenuhi dengan tumpahan darah yang dihadirkan dalam film ini jelas dipengaruhi oleh tata pengisahan yang dahulu pernah dipamerkan Wan dalam Saw (2003) maupun Dead Silence (2007). Continue reading Review: Malignant (2021)

Review: Cry Macho (2021)

Merupakan film ke-39 yang diarahkan oleh Clint Eastwood yang sekaligus menandai tahun ke-50 karir penyutradaraan yang ia mulai semenjak mengarahkan Play Misty for Me di tahun 1971, Cry Macho yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan N. Richard Nash telah mengalami sejumlah kegagalan untuk dieksekusi menjadi presentasi cerita layar lebar. Bermula di tahun 1988, produser Albert S. Ruddy menawarkan Eastwood untuk menjadi pemeran utama dalam Cry Macho yang kemudian ditolak karena komitmen Eastwood untuk membintangi sekuel teranyar dari seri film Dirty Harry, The Dead Pool (Buddy Van Horn, 1988). Proses pembuatan versi film dari Cry Macho kemudian melibatkan nama-nama seperti Robert Mitchum, Roy Scheider, Burt Lancaster, Pierce Brosnan, hingga Arnold Scwarzenegger sebagai pemeran utama namun tak satupun proyek film tersebut dapat terselesaikan. Lebih dari tiga dekade kemudian, tepatnya di tahun 2020, Warner Bros. Pictures mengumumkan bahwa Eastwood akan mengarahkan sekaligus membintangi Cry Macho yang masih menggunakan naskah cerita asli garapan Nash dengan sejumlah modifikasi yang dilakukan oleh Nick Schenk (The Judge, 2014). Continue reading Review: Cry Macho (2021)

Review: Reminiscence (2021)

Meraih rekognisi lebih luas berkat kesuksesan serial televisi Westworld (2016) yang mereka ciptakan, Lisa Joy dan Jonathan Nolan kembali berkolaborasi untuk memproduseri film fiksi ilmiah, Reminiscence, yang juga menandai debut pengarahan film cerita panjang bagi Joy. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Joy, Reminiscence memiliki latar belakang waktu pengisahan di masa depan dimana dua orang veteran, Nick Bannister (Hugh Jackman) dan Emily Sanders (Thandiwe Newton), membuka sebuah usaha yang memanfaatkan teknologi terkini untuk dapat menghidupkan kembali ingatan tertentu bagi mereka yang menginginkannya. Teknologi inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh seorang penyanyi klub malam, Mae (Rebecca Ferguson), untuk dapat mengingat kembali dimana keberadaan kunci-kuncinya. Tidak hanya mendapatkan kembali kunci-kuncinya, Mae juga berhasil menarik perhatian Nick Bannister. Romansa dengan segera tumbuh diantara keduanya. Namun, setelah beberapa saat menjalin hubungan, Mae meninggalkan Nick Bannister dan menghilang tanpa jejak begitu saja. Continue reading Review: Reminiscence (2021)

Review: The Suicide Squad (2021)

Masih ingat dengan Suicide Squad (David Ayer, 2016)? Well… mungkin cukup bijaksana memilih untuk melupakan berbagai hal buruk yang menyangkut penampilan Jared Leto sebagai Joker ataupun kualitas buruk secara keseluruhan yang ditampilkan oleh film ketiga dalam seri DC Extended Universe tersebut. Namun, dengan raihan komersial sebesar lebih dari US$700 juta di sepanjang masa rilisnya – dan penghargaan Best Makeup and Hairstyling dari ajang The 89th Annual Academy AwardsWarner Bros. Pictures tentu memiliki sejuta alasan untuk mengenyampingkan berbagai reaksi negatif yang datang dari sejumlah kritikus maupun penonton dan kembali memproduksi versi teranyar dari Suicide Squad. James Gunn (Guardians of the Galaxy Vol. 2, 2017) kemudian dipilih untuk duduk di kursi penyutradaraan sekaligus menjadi penulis naskah bagi The Suicide Squad – judul yang diberikan bagi film yang dimaksudkan menjadi standalone sequel bagi Suicide Squad. Menghadirkan beberapa karakter serta pemeran baru dan memadukannya dengan nada pengisahan khas Gunn yang brutal namun menyenangkan, The Suicide Squad tidak mampu menjadi penyetel ulang kualitas linimasa penceritaan seri Suicide Squad namun juga berhasil tampil sebagai salah satu film terbaik bagi DC Extended Universe. Continue reading Review: The Suicide Squad (2021)

Review: Space Jam: A New Legacy (2021)

Setelah sukses besar yang diraih oleh Space Jam (Joe Pytka, 1996) – termasuk kesuksesan fenomenal yang diraih oleh lagu temanya, I Believe I Can Fly, yang dibawakan R. Kelly – Warner Bros. Pictures memang telah langsung bersiap untuk memproduksi sekuelnya. Namun, ketika Michael Jordan – yang kepopulerannya sebagai atlet basket di kala itu memang menjadi salah satu kunci krusial bagi kesuksesan komersial yang berhasil diraih Space Jam – memutuskan untuk tidak lagi terlibat, Warner Bros. Pictures lantas juga memilih untuk tidak lagi meneruskan proses pembuatan sekuel Space Jam. Tahun demi tahun berlalu, ide akan pembuatan sekuel bagi Space Jam terus muncul dan sempat melibatkan nama-nama sejumlah atlet popular seperti Jeff Gordon dan Tiger Woods atau aktor Jackie Chan. Baru di tahun 2014, ketika nama bintang basket LeBron James mulai diikutsertakan, proses pembuatan sekuel bagi Space Jam kembali berjalan. Menunjuk Malcolm D. Lee (Scary Movie 5, 2013) untuk duduk di kursi penyutradaraan, sekuel yang kemudian diberi judul Space Jam: A New Legacy memulai proses produksinya di tahun 2019 dengan kembali menghadirkan deretan karakter animasi Looney Tunes seperti Bugs Bunny, Daffy Duck, Sylvester, Tasmanian Devil, hingga Road Runner. Continue reading Review: Space Jam: A New Legacy (2021)

Review: In the Heights (2021)

Sebelum namanya mengangkasa berkat Hamilton: An American Musical (2015) – yang selain berhasil meraih pujian luas dari para kritikus teater dan memenangkan 11 kategori di ajang The 70th Annual Tony Awards dari 16 nominasi yang diraihnya, juga mampu meraih sukses besar secara komersial sekaligus menjadi perbincangan diantara kalangan pemerhati kultur pop Amerika Serikat (dan dunia) – Lin-Manuel Miranda memulai karirnya di dunia teater dengan menjadi pemeran utama serta penata musik serta penulis lirik lagu-lagu yang dihadirkan dalam drama panggung musikal In the Heights (2005). Meskipun tidak sepopular Hamilton: An American Musical, In the Heights mampu memenangkan sejumlah penghargaan, termasuk Tony Awards dan Grammy Awards pertama yang dimenangkan oleh Miranda. Perbincangan untuk mengadaptasi In the Heights menjadi sebuah presentasi film musikal juga telah dimulai semenjak tahun 2008. Namun, setelah melalui beberapa perubahan dan penggantian produser serta sutradara, proses produksi versi film dari In the Heights baru benar-benar dimulai pada tahun 2018 dengan Jon M. Chu (Crazy Rich Asians, 2018) duduk di kursi penyutradaraan. Continue reading Review: In the Heights (2021)

Review: The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021)

Seri terbaru dari The Conjuring, The Conjuring: The Devil Made Me Do It, memiliki alur pengisahan yang diinspirasi dari kisah nyata akan kasus hukum yang dihadapi oleh seorang pemuda bernama Arne Cheyenne Johnson pada tahun 1981. Kasus yang dikenal dengan sebutan kasus “Devil Made Me Do It” tersebut menjadi perhatian publik Amerika Serikat (dan dunia) setelah Johnson yang menjadi tersangka dalam kasus tersebut melakukan pembelaan diri terhadap tindakan pembunuhan yang dituduhkan padanya dengan mengungkapkan bahwa dirinya sedang mengalami kesurupan ketika melakukan perbuatan kriminal tersebut. Dan, tentu saja, perhatian media semakin membesar ketika dua penyelidik paranormal popular, Ed dan Lorraine Warren, diketahui turut terlibat dari awal bermulanya kasus tersebut. Seperti halnya film-film lain dalam seri The Conjuring, The Conjuring: The Devil Made Me Do It melakukan sejumlah dramatisasi terhadap proses peradilan yang dijalani oleh Johnson dengan, tentunya, memberikan penekanan pada berbagai unsur horor dari kisah tersebut. Continue reading Review: The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021)

Review: Those Who Wish Me Dead (2021)

Diadaptasi dari novel karangan Michael Koryta yang berjudul sama, film cerita panjang kedua – ketiga jika Anda ingin menghitung Vile (2011) yang tidak pernah diakui sebagai film arahannya – yang diarahkan oleh Taylor Sheridan setelah Wind River (2017), Those Who Wish Me Dead, berkisah mengenai pertemuan yang tidak disengaja antara seorang anggota pasukan khusus pemadam kebakaran hutan, Hannah Faber (Angelina Jolie), dengan seorang anak laki-laki bernama Connor Casserly (Finn Little). Sial, pertemuan tersebut tidak berlangsung dalam kondisi yang menyenangkan. Connor Casserly baru saja menyaksikan ayahnya, Owen Casserly (Jake Weber), dibunuh dan saat ini sedang berada dalam pelarian dari dua orang pembunuh sang ayah, Patrick Blackwell (Nicholas Hoult) dan Jack Blackwell (Aidan Gillen), yang kini juga sedang mengincar nyawanya. Mengetahui tragedi yang dialami oleh anak yang baru ia temui, Hannah Faber mulai menyusun rencana untuk dapat menyelamatkannya. Continue reading Review: Those Who Wish Me Dead (2021)

Review: Mortal Kombat (2021)

Dirilis pertama kali pada tahun 1992 oleh Midway Games, Mortal Kombat dengan segera meraih popularitas diantara para penikmat permainan video bertema pertarungan – khususnya berkat tampilan grafisnya yang tidak segan mengumbar begitu banyak unsur darah serta kekerasan yang sempat memicu kontroversi dari sejumlah pihak. Popularitasnya tersebut mampu membawa Mortal Kombat menjadi salah satu permainan video bertema pertarungan dengan angka penjualan terbaik di sepanjang sejarah yang kemudian coba diadaptasi dan dikembangkan ke berbagai bentuk media lainnya, mulai dari film, serial televisi, komik, novel, permainan kartu, hingga kompetisi judi secara daring. Adaptasi film layar lebar pertama dari Mortal Kombat sendiri dirilis pada tahun 1995. Meskipun mendapatkan sambutan yang kurang begitu hangat dari para kritikus film dunia, Mortal Kombat mampu meraih sukses besar secara komersial sekaligus meluncurkan karir dari sutradara Paul W. S. Anderson di Hollywood. Sayang, sekuel arahan John R. Leonetti yang berjudul Mortal Kombat: Annihilation (1997) gagal untuk meraih kesuksesan serupa dan menutup pintu bagi adanya kesempatan untuk adaptasi film layar lebar dari Mortal Kombat selanjutnya. Continue reading Review: Mortal Kombat (2021)

Review: Godzilla vs. Kong (2021)

Setelah merilis tiga film – Godzilla (Gareth Edwards, 2014), Kong: Skull Island (Jordan Vogt-Roberts, 2017), dan Godzilla: King of the Monsters (Michael Dougherty, 2019) – dua karakter utama dalam semesta pengisahan MonsterVerse milik Legendary Entertainment, Godzilla dan Kong, akhirnya mendapatkan kesempatan untuk berbagi layar sekaligus linimasa penceritaan lewat Godzilla vs. Kong. Godzilla vs. Kong sendiri bukanlah kali pertama bagi kedua karakter monster tersebut untuk berada dalam satu film yang sama. Toho Studios pernah memproduksi dan merilis King Kong vs. Godzilla arahan Ishirō Honda di tahun 1962 yang turut menjadi inspirasi bagi penuturan kisah film ini. Seperti tiga film sebelumnya, film ini berhasil menawarkan sajian pertunjukan yang mengeksplorasi kualitas tata audio maupun visual secara maksimal. Di saat yang bersamaan, lewat arahan Adam Wingard (Death Note, 2017) atas naskah cerita yang ditulis oleh Eric Pearson (Thor: Ragnarok, 2017) dan Max Borenstein – yang menjadi penulis naskah bagi tiga film dalam seri MonsterVerse sebelumnya, Godzilla vs. Kong berhasil dihadirkan dengan kualitas cerita yang lebih padat dan lebih memikat. Continue reading Review: Godzilla vs. Kong (2021)

Review: Zack Snyder’s Justice League (2021)

Para penikmat film dunia, khususnya mereka yang menggemari film-film bertemakan pahlawan super yang berada dalam semesta pengisahan DC Extended Universe, jelas telah familiar dengan sejumlah drama yang terjadi di balik layar proses produksi hingga perilisan Justice League (Zack Snyder, 2017). Dihinggapi berbagai permasalahan selama proses produksinya, mulai dari naskah cerita yang terus mengalami penulisan ulang hingga isu bahwa Warner Bros. Pictures tidak menyukai produk final yang dihasilkan, Snyder kemudian memilih untuk melepaskan tugasnya sebagai sutradara ketika Justice League sedang berada dalam tahap pascaproduksi setelah dirinya harus berhadapan dengan sebuah tragedi yang menimpa keluarganya. Warner Bros. Pictures lantas menunjuk Joss Whedon (The Avengers, 2012) untuk mengisi posisi serta melanjutkan proses pembuatan film yang ditinggalkan Snyder. Continue reading Review: Zack Snyder’s Justice League (2021)

Review: Let Them All Talk (2020)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Deborah Eisenberg, film terbaru arahan Steven Soderbergh (Magic Mike, 2012), Let Them All Talk, berkisah tentang seorang penulis, Alice Hughes (Meryl Streep), yang berencana untuk melakukan perjalanan dari Amerika Serikat ke Inggris untuk menerima sebuah penghargaan. Mengingat Alice Hughes bukanlah seorang yang gemar untuk melakukan perjalanan dengan pesawat terbang, agennya, Karen (Gemma Chan), lantas menempatkannya dalam perjalanan laut dengan menggunakan kapal pesiar. Untuk menemaninya, Alice Hughes mengajak keponakannya, Tyler Hughes (Lucas Hedges), serta dua temannya yang sebenarnya telah lama tidak berkomunikasi lagi dengannya, Roberta (Candice Bergen) dan Susan (Dianne Wiest). Seperti yang dapat diduga, pertemuan kembali antara Alice Hughes dengan kedua (mantan) teman dekatnya membuka sejumlah luka lama yang memang semenjak lama belum terselesaikan diantara mereka. Continue reading Review: Let Them All Talk (2020)