Tag Archives: Natalia Safran

Review: The Suicide Squad (2021)

Masih ingat dengan Suicide Squad (David Ayer, 2016)? Well… mungkin cukup bijaksana memilih untuk melupakan berbagai hal buruk yang menyangkut penampilan Jared Leto sebagai Joker ataupun kualitas buruk secara keseluruhan yang ditampilkan oleh film ketiga dalam seri DC Extended Universe tersebut. Namun, dengan raihan komersial sebesar lebih dari US$700 juta di sepanjang masa rilisnya – dan penghargaan Best Makeup and Hairstyling dari ajang The 89th Annual Academy AwardsWarner Bros. Pictures tentu memiliki sejuta alasan untuk mengenyampingkan berbagai reaksi negatif yang datang dari sejumlah kritikus maupun penonton dan kembali memproduksi versi teranyar dari Suicide Squad. James Gunn (Guardians of the Galaxy Vol. 2, 2017) kemudian dipilih untuk duduk di kursi penyutradaraan sekaligus menjadi penulis naskah bagi The Suicide Squad – judul yang diberikan bagi film yang dimaksudkan menjadi standalone sequel bagi Suicide Squad. Menghadirkan beberapa karakter serta pemeran baru dan memadukannya dengan nada pengisahan khas Gunn yang brutal namun menyenangkan, The Suicide Squad tidak mampu menjadi penyetel ulang kualitas linimasa penceritaan seri Suicide Squad namun juga berhasil tampil sebagai salah satu film terbaik bagi DC Extended Universe. Continue reading Review: The Suicide Squad (2021)

Review: Annabelle Comes Home (2019)

Masih ingat dengan momen ketika pasangan penyelidik masalah-masalah paranormal, Ed (Patrick Wilson) dan Lorraine Warren (Vera Farmiga), membantu dua orang mahasiswi yang merasa kehidupan mereka terganggu oleh sesosok boneka bernama Annabelle yang menjadi adegan pembuka The Conjuring (James Wan, 2013)? WellAnnabelle Comes Home akan berkisah tentang bagaimana kehadiran boneka “berkekuatan mistis” tersebut mempengaruhi kehidupan Ed dan Lorraine Warren serta puteri tunggal mereka, Judy Warren (Mckenna Grace). Berlatar belakang waktu pengisahan satu tahun semenjak Ed dan Lorraine Warren membawa boneka Annabelle untuk disimpan di rumah mereka, Judy Warren merasakan bahwa ada hal-hal aneh yang mulai mengganggu kesehariannya. Gangguan tersebut semakin hebat ketika dirinya ditinggal oleh kedua orangtuanya dan dititipkan pada dua orang gadis remaja, Mary Ellen (Madison Iseman) dan Daniela Rios (Katie Sarife), yang ditugaskan untuk mengasuhnya. Judy Warren, Mary Ellen, dan Daniela Rios harus menemukan cara agar dapat bertahan dari berbagai serangan kekuatan supranatural sembari menunggu kepulangan Ed dan Lorraine Warren. Continue reading Review: Annabelle Comes Home (2019)

Review: Shazam! (2019)

Setelah Man of Steel (2013), Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), dan Justice League (2017) garapan Zack Snyder yang tampil dengan nada pengisahan yang cenderung kelam, DC Films sepertinya berusaha untuk tampil dengan atmosfer cerita tentang pahlawan super yang lebih ringan dan menghibur pada film-film garapan mereka lainnya seperti Suicide Squad (David Ayer, 2016), Wonder Woman (Patty Jenkins, 2017), dan Aquaman (James Wan, 2018). Sebuah keputusan cerdas yang ternyata mendapatkan reaksi positif – baik dari para kritikus film maupun para penikmat film. Kesuksesan “arah baru” penceritaan DC Films yang lebih berwarna tersebut kini diteruskan melalui Shazam! yang di banyak bagian linimasa pengisahannya bahkan layak disebut sebagai komedi. Merupakan kali kedua karakter yang bernama asli Captain Marvel ini dibuatkan film layar lebarnya setelah Adventures of Captain Marvel (William Witney, John English, 1941), Shazam! yang diarahkan oleh David F. Sandberg (Annabelle: Creation, 2017) berhasil menunjukkan kehandalan DC Films untuk menghadirkan sajian cerita bertemakan pahlawan super yang lebih segar – dan bahkan lebih menyenangkan dari beberapa film bertema sama garapan Marvel Studios – ketika mereka benar-benar berusaha untuk melakukannya. Continue reading Review: Shazam! (2019)

Review: Aquaman (2018)

Cukup wajar jika DC Films dan Warner Bros. Pictures menggantungkan banyak harapan mereka kepada Aquaman. Selepas kegagalan beruntun dari Man of Steel (Zack Snyder, 2013), Batman v. Superman: Dawn of Justice (Snyder, 2016), dan Suicide Squad (David Ayer, 2016) dalam meraih dukungan dari para kritikus film dunia – serta ditanbah dengan tanggapan yang cenderung medioker dari pada penggemar komik rilisan DC Comics, yang kemudian diikuti oleh melempemnya performa Justice League (Snyder, 2017) – yang tercatat menjadi film dengan capaian kesuksesan komersial paling rendah dalam seri film DC Extended Universe, keberadaan Aquaman jelas krusial untuk membangkitkan kembali tingkat kepercayaan sekaligus ketertarikan publik pada deretan pahlawan super buatan DC Comics. Atau, setidaknya, Aquaman haruslah mampu mencapai tingkatan kualitas yang berhasil diraih Wonder Woman (Patty Jenkins, 2017) yang hingga saat ini menjadi satu-satunya film dari DC Extended Universe yang berhasil meraih kesuksesan baik secara kritikal maupun komersial. Dengan ambisi besar tersebut, jelas tidak mengherankan jika Aquaman digarap megah dalam kualitas produksinya namun, seperti halnya Wonder Woman, tetap menyajikan keintiman cerita dalam hal penggalian kisah dasar mengenai sang karakter utama film ini. Continue reading Review: Aquaman (2018)

Review: Hours (2013)

HOURS / Director Eric Heisserer

Sebagai seorang aktor, Paul Walker memang tidak pernah dikenal sebagai sosok yang memiliki jangkauan dramatikal yang kuat. Semenjak berperan sebagai Brian O’Conner dalam The Fast and the Furious (2001) – film aksi yang berhasil mengangkat namanya ke jajaran aktor papan atas Hollywood serta kemudian berkembang menjadi rangkaian seri film karena kesuksesannya dan terus ia perankan hingga Fast and Furious 6 yang dirilis tahun lalu – nama Walker memang lebih identik dengan film-film pemacu adrenalin yang (sepertinya) memang tidak memberikan tantangan yang begitu berarti bagi kemampuan akting Walker. Meskipun begitu, penampilannya dalam film-film seperti Varsity Blues (1999), Eight Below (2006) dan Running Scared (2006), cukup berhasil membuktikan bahwa dirinya memiliki kapabilitas berperan yang cukup kuat jika diberikan wilayah penceritaan yang memadai.

Continue reading Review: Hours (2013)