Tag Archives: Alex Wolff

Review: Jumanji: The Next Level (2019)

Merupakan sekuel bagi Jumanji (Joe Johnston, 1995) dan dianggap sebagai film ketiga dalam seri film Jumanji setelah Zathura: A Space Adventure (Jon Favreau, 2005) yang juga diadaptasi dari seri buku cerita anak-anak garapan Chris Van Allsburg, Jumanji: Welcome to the Jungle (Jake Kasdan, 2017) mampu memberikan kesuksesan besar bagi Columbia Pictures ketika film tersebut berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$960 juta selama masa rilisnya di seluruh dunia. Well… tentu saja tidak mengejutkan ketika setahun kemudian Columbia Pictures mengumumkan bahwa pihaknya akan memproduksi sekuel bagi Jumanji: Welcome to the Jungle dengan Kasdan kembali duduk di kursi penyutradaraan serta Dwayne Johnson, Jack Black, Kevin Hart, dan Karen Gillan turut kembali untuk menghidupkan karakter sentral yang mereka perankan. Seperti yang dapat diungkapkan dari judulnya sendiri, Jumanji: The Next Level, film ini memang menjanjikan untuk menghadirkan tingkat kesenangan yang lebih banyak dari film pendahulunya. Tujuan yang lumayan mampu dapat dipenuhi – meskipun dengan beberapa garapan yang sepertinya menahan kualitas presentasi film ini untuk melangkah lebih jauh. Continue reading Review: Jumanji: The Next Level (2019)

Review: Hereditary (2018)

Jika Anda belum familiar dengan nama Ari Aster sebelumnya, Hereditary dapat dipastikan akan membuat Anda mengingat nama sekaligus hasil debut pengarahan film layar lebarnya tersebut dalam jangka waktu yang cukup lama. Anda bahkan juga berkemungkinan akan berusaha untuk mencari film-film pendek yang ia arahkan sebelumnya hanya untuk mempertegas rasa kekaguman Anda pada pola pemikiran horornya yang cukup eksentrik – sekaligus mengisi waktu guna menunggu film arahan terbarunya di masa yang akan datang. Diarahkan berdasarkan naskah yang juga digarapnya sendiri, Aster menjadikan Hereditary sebagai sebuah meditasi terhadap rasa duka mendalam yang dirasakan oleh karakter-karakter dalam jalan ceritanya sekaligus membungkusnya dengan berbagai jejak horor klasik – namun jauh dari kesan klise – yang kemudian mendorong film ini untuk tampil begitu mencekam (baca: mengganggu). Sebuah pengalaman akan teror horor yang mampu memberikan rasa ketidaknyamanan yang begitu mendalam bagi para penontonnya. Continue reading Review: Hereditary (2018)

Review: Jumanji: Welcome to the Jungle (2017)

Dirilis lebih dari dua dekade semenjak perilisan Jumanji (Joe Johnston, 1995), Jumanji: Welcome to the Jungle dihadirkan sebagai sekuel – meskipun tampil berdiri sendiri – bagi film fantasi petualangan yang dibintangi oleh Robin Williams tersebut. Jalan ceritanya sendiri dimulai a la The Breakfast Club (John Hughes, 1985) ketika empat orang pelajar dari Brantford High School yang sedang ditempatkan bersama dalam sebuah ruangan hukuman, Spencer Gilpin (Alex Wolff), Bethany Walker (Madison Iseman), Anthony Johnson atau yang lebih sering dipanggil dengan sebutan Fridge (Ser’Darius Blain), dan Martha Kaply (Morgan Turner), memainkan sebuah mesin permainan video usang yang mereka temukan di ruangan tersebut. Tidak disangka, keempat pelajar tersebut secara ajaib masuk ke dalam permainan yang berjudul Jumanji dan berubah menjadi karakter-karakter yang terdapat di dalamnya: Spencer Gilpin berubah menjadi Dr. Smolder Bravestone (Dwayne Johnson), Fridge berubah menjadi Franklin Finbar (Kevin Hart), Martha Kaply berubah menjadi Ruby Roundhouse (Karen Gillan), dan Bethany Walker, sialnya, berubah wujud menjadi karakter pria paruh baya bernama Professor Sheldon Oberon (Jack Black). Walau awalnya merasa kebingungan dengan apa yang terjadi pada mereka, keempat pelajar tersebut akhirnya menyadari bahwa mereka harus menyelesaikan permainan Jumanji atau mereka akan tertahan – atau bahkan tewas – selamanya di dalam permainan petualangan tersebut. Continue reading Review: Jumanji: Welcome to the Jungle (2017)

Review: Patriots Day (2016)

Merupakan kali ketiga sutradara Peter Berg bekerjasama dengan aktor Mark Wahlberg setelah Lone Survivor (2013) dan Deepwater Horizon (2016), Patriots Day berkisah mengenai tragedi pengeboman bermotif terorisme yang dilakukan Dzhokhar Tsarnaev dan Tamerlan Tsarnaev pada Boston Marathon yang berlangsung di kota Boston, Amerika Serikat di tahun 2013 lalu. Dengan mendasarkan kisahnya pada buku berjudul Boston Strong yang ditulis oleh Casey Sherman dan Dave Wedge, Patriots Day juga memfokuskan kisahnya pada proses pengejaran yang dilakukan pihak kepolisian untuk menangkap Tsarnaev bersaudara yang berlangsung dramatis sekaligus kisah-kisah para korban dari tragedi tersebut dalam usaha mereka untuk melanjutkan hidup. Secara mengejutkan, Berg mampu menggarap Patriots Day dengan penuh kelembutan – berbeda dengan kebanyakan filmnya yang seringkali tampil dengan aura kemaskulinan yang kuat. Sebuah sentuhan yang membuat film ini terasa hangat sekaligus sensitif dalam membawakan pesan-pesannya tentang perdamaian yang seringkali terasa menghilang dari banyak elemen kehidupan manusia akhir-akhir ini. Continue reading Review: Patriots Day (2016)