Review: Serigala Langit (2021)


Diarahkan oleh Reka Wijaya (Sule Detektif Tokek, 2013) berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Titien Wattimena (Milea: Suara dari Dilan, 2020) dan Rifki Ardisha, Serigala Langit bercerita tentang Gadhing Baskara (Deva Mahenra) yang merupakan seorang penerbang pesawat tempur bagi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara dan baru saja bergabung dengan Skadron Serigala Langit. Sebagai lulusan terbaik di Akademi Angkatan Udara dan Sekolah Penerbang Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, Gadhing Baskara sempat merasa dirinya memiliki kemampuan yang lebih baik dari rekan-rekannya – sikap yang lantas membuat keberadaannya kurang disenangi oleh sejumlah seniornya. Karena langkah awal yang salah, Gadhing Baskara kini harus berjuang keras untuk membuktikan kelayakan dirinya untuk bergabung di Skadron Serigala Langit. Di saat yang bersamaan, Gadhing Baskara juga sedang dihantui oleh hubungannya yang memburuk dengan sang ayah (Nugie) yang kini sedang terbaring di rumah sakit dan terus menanyakan keberadaan dirinya.

Serigala Langit tidak hanya berbincang tentang pergulatan kehidupan pribadi yang dialami oleh karakter Gadhing Baskara – termasuk sekelumit kisah tentang hubungannya dengan teman masa kecilnya, Nadya (Anya Geraldine), atau rasa sukanya pada salah seorang rekan sekerjanya, Tami (Bunga Jelitha). Sebagai presentasi yang bertema militer – dan proses pembuatannya bekerjasama dengan pihak Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara – film ini, tentu saja, juga mengikutkan alur kisah bertema kepahlawanan tentang usaha para abdi negara untuk melawan sekelompok orang yang berusaha membahayakan kedaulatan negara. Plot ini – yang bertutur tentang Skadron Seriga Langit di bawah komando Marsekal Pertama Erik (Donny Damara) ditugasi untuk mengawal seorang perwakilan International Human Care bernama Helen (Christina Danilla) untuk mencari fakta tentang dugaan pelanggaran kejahatan kemanusiaan di Republik Kabubed – nantinya akan dipertemukan dengan linimasa pengisahan dari karakter Gadhing Baskara yang kemudian terlibat langsung dengan konflik yang dihadapi oleh Skadron Serigala Langit.

Kisah yang coba disampaikan oleh Serigala Langit, dimana alur cerita berfokus pada satu sosok karakter dan kemudian melibatkannya dalam sebuah penuturan bertema kepahlawanan, jelas bukanlah tema cerita yang benar-benar baru. Sayangnya, naskah cerita garapan Wattimena dan Ardisha terasa begitu kebingungan untuk memadukan dua alur yang sama-sama sedang berjalan tersebut. Dengan durasi cerita yang berjalan selama 100 menit, lebih dari satu jam porsi pengisahan diberikan untuk menggambarkan kehidupan sosok karakter Gadhing Baskara yang, harus diakui, tidak begitu menarik pengisahannya. Konflik yang dihadapinya dari tempat kerja barunya, hubungannya dengan karakter sang ayah, hubungan bernada romansa yang terjalin antara dirinya dengan karakter Nadya, atau kisah mengenai rasa sukanya terhadap karakter Tami – yang sebenarnya sangat tidak berguna untuk disajikan – hadir dengan pengelolaan kisah yang begitu dangkal.

Di saat yang bersamaan, Serigala Langit juga gagal untuk membentuk kisah kepahlawanan tentang gerakan dari Skadron Serigala Langit dalam menjalankan tugasnya menjadi menarik. Mereka yang sama sekali buta akan istilah-istilah militer maupun dunia penerbangan jelas akan kebingungan dengan barisan dialog yang diutarakan oleh karakter-karakter film ini. Hal ini masih ditambah dengan banyaknya karakter-karakter baru yang kemudian menyelinap dalam linimasa pengisahan yang tidak diberikan porsi pengisahan yang lugas serta sejumlah logika tentang keberadaan pasukan militer yang menyelinap atau berada atau menyerang di kawasan negara lain. Membingungkan. Wijaya sendiri mencoba untuk menguatkan elemen aksi film ini dengan menghadirkan adegan pertempuran di 30 menit akhir presentasi Serigala Langit. Tidak buruk, namun cukup terasa menjemukan ketika dihadirkan dalam kurun waktu setengah jam tanpa esensi kualitas pengisahan yang benar-benar meyakinkan.

Serigala Langit jelas menyimpan begitu banyak potensi besar dari tema cerita yang dibawakan hingga penampilan para pengisi departemen aktingnya – bahkan Geraldine terlihat meyakinkan dalam usahanya untuk menghidupkan karakter Nadya. Cukup disayangkan Wijaya tidak memiliki kemampuan yang mumpuni untuk mengelola kumpulan konflik tersebut. Tidak hanya dua linimasa yang ia hadirkan terasa gagal untuk berpadu antara satu dengan yang lain, penuturan yang cenderung bertele-tele membuat Serigala Langit tampil buruk dalam penyajiannya.

Serigala Langit (2021)

Directed by Reka Wijaya Produced by Avesina Soebli Written by Titien Wattimena, Rifki Ardisha (screenplay), Reka Wijaya, Fajar Adianto (story) Starring Deva Mahenra, Yoshi Sudarso, Bunga Jelitha, Anya Geraldine, Donny Damara, Dede Yusuf, Dian Sidik, Randy Pangalila, Thomas Sparringa, Damara Finch, Wanda Hamidah, Cristina Surya, Sekar Sari, Joko Nugroho, Yayu Unru, Prabu Revolusi, Yuyu Sutisna, Ayuning Dewanti, Nugie, Putri Ayudya, Aditya Nugroho, Godfred Orindeod, Vincentia Tiffani, Imran Baidirus, Arif Mustofa, Widyargo Ikoputra, Yanti Ikoputra, Fajar Adriyanto, Satriyo Utomo, Muchtadi Anjar Legowo, Agus Dwi Aryanto, Farrel Rigonald, Dharma Tolopan Gultom, Verial Tunruribela, Joy Murry Tangkawarow, Handika Relangga Bima Yogatama, Rahman Susianto, Widia Washington, Nadya Afiefa Putri, Brydden Music by Ricky Lionardi Cinematography Mohammad Fauzy Bausad Edited by Riko Nurmiyanto Production company E-Motion Entertainment Running time 100 minutes Country Indonesia Language Indonesian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s