Tag Archives: Movies

Review: Bebas (2019)

Sunny mungkin merupakan salah satu film drama komedi bertema persahabatan terbaik sekaligus paling hangat yang pernah diproduksi oleh industri film Korea Selatan. Dirilis pada tahun 2011, film arahan sutradara Kang Hyeong-cheol tersebut tidak hanya berhasil meraih kesuksesan secara komersial – dengan pendapatan sebesar US$51.1 juta, Sunny merupakan film dengan raihan pendapatan terbesar kedua pada tahun 2011 dan menjadi salah satu film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa di Korea Selatan hingga saat ini – namun juga mampu meraih pujian luas dari kalangan kritikus film serta meraih sembilan nominasi di ajang The 48th Annual Grand Bell Awards dan memenangkan dua diantaranya, Best Director dan Best Editing. Seperti halnya kesuksesan Miss Granny (Hwang Dong-hyuk, 2015) – yang di Indonesia diadaptasi dan dirilis dengan judul Sweet 20 (Ody C. Harahap, 2017), Sunny lantas diadaptasi menjadi film layar lebar di sejumlah negara lain. Kolaborasi antara produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza yang sebelumnya telah menghasilkan Athirah (2016), Ada Apa Dengan Cinta? 2 (2016) dan Kulari ke Pantai (2018) menangani adaptasi Sunny di Indonesia dan merilisnya sebagai Bebas. Continue reading Review: Bebas (2019)

Review: Ad Astra (2019)

Setelah George Clooney dan Sandra Bullock (Gravity, 2013), Anne Hathaway (Interstellar, 2014), serta Matt Damon (The Martian, 2015), kini giliran Brad Pitt sebagai salah satu alumni departemen akting dari seri film Ocean’s – yang mencakup tiga film arahan Steven Soderbergh; Ocean’s Eleven (2001), Ocean’s Twelve (2004), dan Ocean’s Thirteen (2007), serta Ocean’s 8 (Gary Ross, 2018) – untuk berperan sebagai sosok astronot yang lantas melakukan eksplorasi penjelajahan angkasa luas. Berbeda dengan film-film bertema luar angkasa yang dibintangi rekan-rekannya, Ad Astra yang juga menjadi film terbaru arahan sutradara James Gray (The Lost City of Z, 2017) hadir tanpa tampilan konflik serta karakter yang hingar-bingar dan memilih untuk tampil dengan pengisahan yang terasa intim sekaligus personal – layaknya film-film arahan Gray sebelumnya, tentu saja. Pilihan ini memang membuat presentasi cerita Ad Astra menjadi cenderung kelam. Namun, di saat yang bersamaan, pengarahan Gray mampu menghasilkan banyak momen emosional kuat, menyentuh, serta begitu mengharu-biru. Continue reading Review: Ad Astra (2019)

Review: Good Boys (2019)

Merupakan film yang menjadi debut pengarahan bagi penulis naskah Gene Stupnitsky (Bad Teacher, 2011), Good Boys berkisah mengenai persahabatan yang terjalin antara tiga anak laki-laki, Max (Jacob Tremblay), Lucas (Keith L. Williams), dan Thor (Brady Noon). Menamakan diri mereka sebagai Bean Bag Boys, persahabatan antara Max, Lucas, dan Thor mendapatkan tantangan terbesarnya ketika ketiga anak laki-laki tersebut menghadapi masalah personal mereka masing-masing: Max sedang tergila-gila dan merasa jatuh cinta dengan seorang gadis bernama Brixlee (Millie Davis), Lucas baru mengetahui bahwa kedua orangtuanya akan segera bercerai, dan Thor mulai menjauhi aktivitas menyanyi yang sebenarnya begitu disukainya akibat rundungan yang ia terima dari beberapa murid popular di sekolah. Ketika mendapatkan undangan ke sebuah pesta yang nantinya juga akan dihadiri oleh Brixlee, Max lantas meminta Lucas dan Thor untuk menemaninya ke pesta tersebut. Sial, ketika sedang bersiap-siap, Max secara tidak sengaja malah merusak perangkat kerja sang ayah yang berharga cukup mahal. Takut kalau dirinya akan mendapatkan hukuman dan lantas tidak diizinkan untuk berangkat ke pesta, Max mulai memutar otak guna mencari cara untuk menyelamatkan dirinya. Continue reading Review: Good Boys (2019)

Review: Pretty Boys (2019)

Selain menjadi seorang penyanyi dan dokter – dan aktor, jika Anda turut memperhitungkan penampilan singkatnya pada Trinity, The Nekad Traveler (Rizal Mantovani, 2017), Tompi menambah gelar sutradara untuk namanya dengan mengarahkan film layar lebar yang berjudul Pretty Boys. Dengan naskah yang digarap oleh Imam Darto (Coblos Cinta, 2008), Pretty Boys berkisah mengenai perjuangan dua orang pemuda, Rahmat (Deddy Mahendra Desta) dan Anugerah (Vincent Rompies), untuk menggapai mimpi mereka guna menjadi sosok yang terkenal di industri hiburan Indonesia. Kesempatan untuk mewujudkan mimpi tersebut tiba-tiba datang ketika Rahmat dan Anugerah ditawari untuk menjadi pembawa acara pendamping bagi sebuah program bincang-bincang di saluran televisi terkenal. Namun, kesempatan tersebut datang dengan sebuah syarat: Produser meminta Rahmat dan Anugerah untuk tampil layaknya para waria. Dengan penampilan tersebut, dan kemampuan berguyon mereka, Rahmat dan Anugerah secara perlahan mulai meraih popularitas mereka. Sayang, di saat yang bersamaan, popularitas tersebut lantas menghadirkan ruang pada hubungan persahabatan mereka. Continue reading Review: Pretty Boys (2019)

Review: Midsommar (2019)

Walau tidak secemerlang atau semengesankan tahun sebelumnya – dimana Jordan Peele merilis Get Out (2017) yang mendapatkan nominasi Best Picture di ajang The 90th Annual Academy Awards, Yorgos Lanthimos menghadirkan The Killing of a Sacred Deer, adaptasi layar lebar dari It (Andy Muschietti, 2017) menjadi film horor terlaris sepanjang masa, Split (2017) yang kembali memamerkan kehandalan tata cerita dan pengarahan M. Night Shyamalan, atau Joko Anwar yang menerapkan standar baru pengisahan horor bagi industri film Indonesia lewat Pengabdi Setan (2017) – rilisan horor di tahun 2018 jelas tidak tampil mengecewakan. Di tengah rilisan semacam A Quiet Place (John Krasinski, 2018), Suspiria (Luca Guadagnino, 2018), atau Annihilation (Alex Garland, 2018), penikmat film dunia menyaksikan kelahiran seorang pencerita kisah-kisah menyeramkan handal terbaru ketika Ari Aster merilis Hereditary (2018). Lewat film yang ia tulis dan arahkan tersebut, Aster mampu mengemas tema yang sebenarnya telah cukup familiar – yang secara kebetulan juga dapat ditemukan pada tiga film horor nasional yang dirilis secara berdekatan; Pengabdi Setan, Kafir (Azhar Kinoi Lubis, 2018), dan Sebelum Iblis Menjemput (Timo Tjahjanto, 2018) – menjadi sajian yang tidak hanya menakutkan namun juga berkelas, khususnya dengan adanya penampilan prima Toni Collette. Tidak salah jika banyak kritikus film menasbihkan film layar lebar perdana Aster tersebut sebagai sebuah film horor klasik yang baru. Continue reading Review: Midsommar (2019)

Review: It Chapter Two (2019)

Dengan linimasa cerita yang berlatar belakang waktu pengisahan pada 27 tahun sejak berbagai teror yang dikisahkan dalam It (Andy Muschietti, 2017), penuturan kisah It Chapter Two dimulai ketika Bill Denbrough (James McAvoy), Ben Hanscom (Jay Ryan), Beverly Marsh (Jessica Chastain), Richie Tozier (Bill Hader), Stanley Uris (Andy Bean), dan Eddie Kaspbrak (James Ransone) mendapatkan telepon dari Mike Hanlon (Isaiah Mustafa) yang memperingatkan bahwa teror Pennywise the Dancing Clown (Bill Skarsgård) telah kembali di kota Derry yang sekali lagi ditandai dengan menghilangnya banyak anak-anak di kota tersebut secara misterius. Sesuai dengan janji yang dahulu telah mereka buat, ketujuh anggota Losers’ Club tersebut kemudian berkumpul kembali untuk kemudian saling memutar otak dan menemukan cara yang ampuh untuk melenyapkan teror serta keberadaan Pennywise the Dancing Clown untuk selamanya. Continue reading Review: It Chapter Two (2019)

Review: Once Upon a Time in… Hollywood (2019)

Bahkan semenjak merilis film layar lebar pertama yang diarahkannya, Reservoir Dogs (1992), Hollywood beserta seluruh isi dan pemujanya telah mengetahui bahwa Quentin Tarantino memiliki caranya sendiri untuk menyampaikan setiap kisah yang ingin diceritakannya. Pilihan untuk menggunakan barisan dialog yang cenderung padat, adegan bernuansa kekerasan yang dieksekusi dengan kesan yang begitu nyata, struktur cerita yang seringkali jauh dari kesan teratur, hingga penggunaan lagu-lagu yang banyak berasal dari era ‘60an hingga ‘70an untuk mengisi banyak adegan filmnya memang membuat film-film arahan Tarantino tidak mudah diakses oleh kalangan penikmat film dalam skala yang lebih besar. Namun, di saat yang bersamaan, kejeniusan Tarantino dalam menggarap setiap filmnya telah membuat berbagai elemen pengisahan yang cenderung tidak biasa tersebut menjadi sebuah ciri khas yang mendorong nama Tarantino untuk dikenal sebagai salah satu sutradara dengan filmografi paling mengesankan di Hollywood. Well… kualitas filmografi yang mengesankan tersebut semakin solid dengan kehadiran film terbarunya, Once Upon a Time in… Hollywood. Continue reading Review: Once Upon a Time in… Hollywood (2019)

Review: Ready or Not (2019)

Meskipun memiliki judul yang berkesan cukup generik, Ready or Not sebenarnya menawarkan sebuah konsep ketegangan yang menyenangkan dalam alur pengisahan horor yang dibawakannya. Merupakan film panjang kedua yang diarahkan oleh duo sutradara Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett setelah Devil’s Due (2014), Ready or Not memulai penceritaannya dengan pesta pernikahan yang dilangsungkan oleh pasangan Alex (Mark O’Brien) dan Grace (Samara Weaving). Alex dan Grace memang saling mencintai satu sama lain namun latar belakang Grace yang berasal dari kalangan masyarakat ekonomi menengah membuat kehadirannya kurang disukai oleh beberapa anggota keluarga Alex yang memang memiliki harta kekayaan melimpah. Sebagai salah satu bentuk usahanya untuk merebut hati keluarga Alex, Grace setuju untuk ikut serta dalam salah satu tradisi turun temurun di malam pengantin dimana dirinya bersama dengan seluruh anggota keluarga Alex memainkan sebuah permainan yang akan dipilih sendiri oleh Grace. Sebuah tradisi kekeluargaan yang menyenangkan? Tidak ketika Grace secara acak kemudian memilih untuk memainkan sebuah permainan yang dapat mengancam nyawa siapapun yang turut serta didalamnya. Continue reading Review: Ready or Not (2019)

Review: Twivortiare (2019)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh sutradara film ini, Benni Setiawan (Toba Dreams, 2015), bersama dengan penulis naskah Alim Sudio (Makmum, 2019) berdasarkan novel Divortiare dan Twivortiare karya Ika Natassa, Twivortiare adalah romansa yang berkisah tentang kehidupan percintaan dari pasangan Beno Wicaksono (Reza Rahadian) dan Alexandra Rhea (Raihaanun). Dua tahun setelah pernikahan mereka, Beno Wicaksono dan Alexandra Rhea memutuskan untuk bercerai setelah merasa lelah dengan berbagai konflik dan pertengkaran yang terus mewarnai keseharian mereka. Perceraian ternyata tidak lantas menghilangkan rasa cinta, sayang, maupun kekaguman yang terbentuk antara keduanya. Secara perlahan, Beno Wicaksono dan Alexandra Rhea berusaha belajar lagi tentang satu sama lain yang kemudian berlanjut dengan pernikahan kembali antara kedua pasangan muda tersebut. Mencoba menjadi dewasa dan berusaha untuk saling mengerti memang bukanlah sikap yang mudah dilakukan. Dalam pernikahan keduanya, Beno Wicaksono dan Alexandra Rhea masih saja menemukan berbagai konflik dan rintangan yang coba menghalangi perjalanan hubungan mereka. Continue reading Review: Twivortiare (2019)

Review: Gundala (2019)

We’ve all been here before. Kisah tentang seseorang yang awalnya merasa tertindas, lemah, atau tidak berguna lalu secara perlahan mulai menemukan kekuatan yang lantas digunakannya untuk membela dan/atau membantu orang-orang lain yang merasa tertindas, lemah, atau tidak berguna untuk keluar dari kesulitan mereka. Kali ini, kisah familiar tersebut dituturkan oleh Joko Anwar (Pengabdi Setan, 2017) lewat Gundala – sebuah film yang juga dicanangkan sebagai langkah awal bagi keberadaan jagat sinematik film-film bertemakan pahlawan super di industri film Indonesia. Layaknya sebuah origin story, Gundala memperkenalkan penonton pada sosok sang pahlawan super, kekuatan yang dimilikinya, hingga berbagai masalah yang menghampiri: mulai dari usaha untuk mengenal sekaligus mengendalikan kekuatan yang ia miliki serta orang-orang yang kemudian mulai merasa terganggu dengan keberadaan kekuatan tersebut. Pola pengisahan yang cukup mendasar bagi film-film sejenis namun jelas akan tetap mampu terasa menarik ketika diaplikasikan dalam ruang lingkup cerita yang memiliki latar belakang lokasi dan budaya yang lebih dekat dengan penonton lokal. Continue reading Review: Gundala (2019)

Review: Angel Has Fallen (2019)

Menyusul kesuksesan Olympus Has Fallen (Antoine Fuqua, 2013) dan London Has Fallen (Babak Najafi, 2016) – yang secara mengejutkan berhasil mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$350 juta dari biaya produksi yang “hanya” mencapai US$130 juta, kisah petualangan agen rahasia Mike Banning (Gerard Butler) berlanjut dalam Angel Has Fallen. Kini diarahkan oleh Ric Roman Waugh (Snitch, 2013), Angel Has Fallen masih setia mengikuti pakem penceritaan yang telah diterapkan pada dua film sebelumnya. Dikisahkan, dalam salah satu perjalanan wisatanya, President Alan Trumbull (Morgan Freeman) mendapatkan serangan bersenjata yang membunuh hampir seluruh anggota pasukan pengamanannya – hanya Mike Banning yang selamat dari serangan tersebut. Mike Banning dan President Alan Trumbull lantas dirawat dalam keadaan koma akibat serangan yang mereka terima. Belum selesai masa penyembuhan, posisinya sebagai satu-satunya anggota pasukan pengamanan presiden yang berhasil selamat justru memancing kecurigaan dari Federal Bureau of Investigation bahwa Mike Banning terlibat dalam sebuah rencana untuk membunuh sang presiden. Sadar bahwa dirinya sedang dijebak, Mike Banning lantas melarikan diri guna mengumpulkan berbagai bukti bahwa dirinya tidak bersalah sekaligus menemukan siapa sosok yang bertanggungjawab dibalik penjebakan dirinya. Continue reading Review: Angel Has Fallen (2019)

Review: Exit (2019)

Merupakan film yang menjadi debut penyutradaraan bagi Lee Sang-geun, Exit berkisah mengenai nasib sial yang dialami oleh seorang pemuda bernama Yong-nam (Cho Jung-seok) setelah beberapa tahun menyelesaikan masa kuliah, Yong-nam masih belum mendapatkan pekerjaan yang layak untuk dirinya dan kini harus menggantungkan hidup pada kedua orangtuanya. Kondisi tersebut sering membuat Yong-nam merasa rendah diri dan bahkan dipandang sebelah mata oleh keluarga serta orang-orang di sekitarnya. Pada saat malam perayaan ulang tahun ibunya, Hyeon-ok (Go Doo-shim), Yong-nam secara tidak sengaja bertemu kembali dengan Eui-joo (Im Yoon-ah), mantan rekan kuliah Yong-nam yang sama-sama menggemari olahraga panjat tebing dan sempat merasa jatuh hati padanya. Pertemuan tersebut menginspirasi Yong-nam untuk merebut kembali perhatian Eui-joo. Sial, alih-alih mampu mendapat kesempatan untuk mendekati Eui-joo, Yong-nam dan keluarganya harus berusaha menyelamatkan diri ketika sebuah serangan gas beracun datang dan mengancam kehidupan orang-orang yang berada di sekitarnya. Continue reading Review: Exit (2019)

Review: The Angry Birds Movie 2 (2019)

Tiga tahun semenjak perilisan The Angry Birds Movie (Clay Kaytis, Fergal Reilly, 2016) – yang meskipun gagal mendapatkan tanggapan positif dari para kritikus film namun tetap berhasil mengumpulkan pendapatan komersial yang cukup lumayan – Sony Pictures Animation kini merilis sekuelnya, The Angry Birds Movie 2. Merupakan debut pengarahan bagi sutradara Thurop Van Orman dan John Rice, jalan cerita The Angry Birds Movie 2 masih mengedepankan petualangan tiga burung, Red (Jason Sudeikis), Chuck (Josh Gad), dan Bomb (Danny McBride), yang kini sering menjadi garda terdepan bagi keamanan Bird Island dari serangan Piggy Island yang dipimpin oleh King Leonard (Bill Hader). Namun, sikap permusuhan yang selama ini terbentuk antara para penghuni kedua pulau tersebut sirna dan secara perlahan menjadi saling bekerjasama ketika mereka sama-sama mendapatkan ancaman dari Zeta (Leslie Jones), pimpinan Eagle Island yang lantas melancarkan serangan guna merebut dan menguasai kedua pulau tersebut. Continue reading Review: The Angry Birds Movie 2 (2019)