Tag Archives: Movies

Review: Hotel Mumbai (2019)

Merupakan film yang menjadi debut pengarahan bagi sutradara asal Australia, Anthony Maras, Hotel Mumbai adalah sebuah film yang mencoba untuk merekonstruksi menit-menit horor terjadinya serangan terorisme di kota Mumbai, India pada tahun 2008 dengan fokus utama diberikan pada serangan yang terjadi pada The Taj Mahal Palace Hotel yang merupakan salah satu hotel tertua di India. Jalan ceritanya sendiri menjadikan beberapa karakter sebagai penentu arah pengisahan film: pasangan David (Armie Hammer) dan Zahra (Nazanin Boniadi) yang menginap di hotel tersebut bersama anak mereka dan pengasuhnya, Sally (Tilda Cobham-Hervey); seorang pramusaji bernama Arjun (Dev Patel) yang bekerja di bawah arahan atasannya, Chef Hemant Oberoi (Anupam Kher); serta seorang mantan anggota militer Rusia, Vasili (Jason Isaacs), yang merupakan pengunjung tetap hotel tersebut dan telah dikenal dengan sikap arogannya. Bersama dengan ratusan penghuni The Taj Mahal Palace lainnya, karakter-karakter tersebut terjebak selama empat hari di dalam hotel ketika sekelompok anggota teroris datang dan mulai melakukan aksi sadisnya. Continue reading Review: Hotel Mumbai (2019)

Review: Pet Sematary (2019)

Bagi banyak penikmat karya literatur, Pet Sematary mungkin merupakan salah satu novel terbaik yang pernah ditulis oleh Stephen King. Dirilis perdana pada tahun 1983, novel yang terbangun atas tema serta konflik cerita tentang kematian, rasa duka akibat kehilangan sosok yang begitu dicinta, hingga kandungan elemen misteri akan alam supranatural ini memang menjadi salah satu novel milik King paling popular, sempat memenangkan beberapa penghargaan prestisius, hingga memberikan pengaruh yang cukup signifikan pada kultur pop dunia. Hollywood, tentu saja, tidak ketinggalan untuk memanfaatkan kepopularan Pet Sematary. Sebuah film adaptasi berjudul sama arahan sutradara Mary Lambert dirilis pada tahun 1989 dan mampu meraih kesuksesan komersial yang cukup besar – meskipun dengan ulasan medioker dari para kritikus film dunia. Lambert kembali mengarahkan sekuel Pet Sematary, Pet Sematary Two (1992), yang, sayangnya, gagal mengulang kesuksesan film pertama dan bahkan tampil dengan kualitas yang membuat King memutuskan untuk tidak mengasosiakan namanya dengan film tersebut. Yikes. Continue reading Review: Pet Sematary (2019)

Review: Mantan Manten (2019)

Diarahkan oleh Farishad Latjuba (Mantan Terindah, 2014), Mantan Manten berkisah mengenai kehidupan glamor seorang manajer investasi sukses, Yasnina (Atiqah Hasiholan), yang harus berakhir ketika dirinya dikhianati oleh pemimpin perusahaannya sendiri, Iskandar (Tio Pakusadewo). Dalam sekejap, harta Yasnina habis tak bersisa. Tidak hanya itu, rencana pernikahannya dengan sang tunangan, Surya (Arifin Putra), juga terancam batal. Sepenggal harapan muncul ketika asisten Yasnina, Ardy (Marthino Lio), mengingatkan dirinya bahwa ia masih memiliki sebuah villa yang terletak di Tawangmangu yang tidak disita karena akte kepemilikannya belum dituliskan atas nama Yasnina. Villa tersebut kini menjadi tumpuan harapan Yasnina untuk dapat bangkit kembali sekaligus mendukung usahanya untuk menyeret Iskandar ke pengadilan. Namun, usaha Yasnina untuk mengambil alih kepemilikan villa tersebut mendapatkan sebuah tantangan ketika pemilik lama villa, Koes Marjanti (Tutie Kirana), memiliki rencana lain kepada Yasnina. Sebuah rencana yang nantinya akan membuka mata sekaligus mengubah masa depan hidup dari Yasnina. Continue reading Review: Mantan Manten (2019)

Review: Shazam! (2019)

Setelah Man of Steel (2013), Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), dan Justice League (2017) garapan Zack Snyder yang tampil dengan nada pengisahan yang cenderung kelam, DC Films sepertinya berusaha untuk tampil dengan atmosfer cerita tentang pahlawan super yang lebih ringan dan menghibur pada film-film garapan mereka lainnya seperti Suicide Squad (David Ayer, 2016), Wonder Woman (Patty Jenkins, 2017), dan Aquaman (James Wan, 2018). Sebuah keputusan cerdas yang ternyata mendapatkan reaksi positif – baik dari para kritikus film maupun para penikmat film. Kesuksesan “arah baru” penceritaan DC Films yang lebih berwarna tersebut kini diteruskan melalui Shazam! yang di banyak bagian linimasa pengisahannya bahkan layak disebut sebagai komedi. Merupakan kali kedua karakter yang bernama asli Captain Marvel ini dibuatkan film layar lebarnya setelah Adventures of Captain Marvel (William Witney, John English, 1941), Shazam! yang diarahkan oleh David F. Sandberg (Annabelle: Creation, 2017) berhasil menunjukkan kehandalan DC Films untuk menghadirkan sajian cerita bertemakan pahlawan super yang lebih segar – dan bahkan lebih menyenangkan dari beberapa film bertema sama garapan Marvel Studios – ketika mereka benar-benar berusaha untuk melakukannya. Continue reading Review: Shazam! (2019)

Review: My Stupid Boss 2 (2019)

Tiga tahun setelah kesuksesan film perdananya – yang berhasil meraih lebih dari tiga juta penonton selama masa penayangannya – Falcon Pictures merilis sekuel bagi My Stupid Boss, My Stupid Boss 2. Masih diarahkan oleh Upi (My Generation, 2017) berdasarkan naskah cerita yang masih diadaptasi dari seri buku berjudul sama karangan Chaos@work, My Stupid Boss 2 melanjutkan cerita akan pengalaman buruk dari Diana (Bunga Citra Lestari) dan rekan-rekannya, Mr. Kho (Chew Kinwah), Norahsikin (Atikah Suhaime), Adrian (Iedil Putra), dan Azahari (Iskandar Zulkarnaen), ketika bekerja di perusahaan yang dimiliki oleh seorang pengusaha yang lebih dikenal dengan sebutan Bossman (Reza Rahadian). Kali ini, akibat semakin banyaknya pekerja perusahaan yang mengundurkan diri akibat tidak nyaman dengan banyak peraturan semena-mena dari Bossman, Bossman kemudian mengajak Diana, Mr. Kho, dan Adrian untuk mencari pekerja dengan upah murah di Vietnam. Seperti yang dapat diduga, perilaku tidak menyenangkan dari Bossman kembali menyebabkan mereka terjebak dalam berbagai masalah. Sementara itu, Norahsikin dan Azahari yang ditugaskan untuk tetap bertugas di kantor juga harus menghadapi masalah ketika sekumpulan preman mendatangi kantor untuk menagih hutang yang dimiliki oleh Bossman. Continue reading Review: My Stupid Boss 2 (2019)

Review: Dumbo (2019)

This new Dumbo is a weird movie. Diproduksi oleh Walt Disney Pictures dan mengikuti jejak Cinderella (Kenneth Branagh, 2015), The Jungle Book (Jon Favreau, 2016), serta Beauty and the Beast (Bill Condon, 2017) sebagai film live action yang dibuat ulang berdasarkan film animasi klasik rilisan rumah produksi tersebut, paruh pengisahan film arahan Tim Burton (Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children, 2016) ini bercerita tentang seorang pemilik wahana hiburan raksasa yang membeli sebuah sirkus kecil terkenal untuk bergabung ke dalam usahanya namun kemudian membuang berbagai elemen yang membuat sirkus tersebut menjadi terkenal sekaligus merumahkan banyak para pekerjanya. Terdengar familiar? Mungkin karena Dumbo dirilis seminggu setelah negosiasi panjang Walt Disney Studios Motion Pictures untuk mengakuisisi 21st Century Fox akhirnya selesai dan, ironisnya, lantas mulai “membuang” beberapa bagian dari rumah produksi yang baru saja dibelinya tersebut. Ding ding ding. Hollywood. Continue reading Review: Dumbo (2019)

Review: On the Basis of Sex (2018)

Merupakan film pertama yang diarahkan oleh Mimi Leder setelah mengarahkan Thick as Thieves di tahun 2009 lalu, On the Basis of Sex mencoba berkisah tentang sekelumit kehidupan dari aktivis kesetaraan gender dan hak kaum perempuan yang juga kini duduk menjabat sebagai salah satu Hakim Agung Amerika Serikat, Ruth Bader Ginsburg. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Daniel Stiepleman, On the Basis of Sex memulai alur kisahnya di tahun 1956 ketika Ruth Bader Ginsberg (Felicity Jones) mengikuti jejak suaminya, Martin Ginsburg (Armie Hammer), untuk menjadi seorang mahasiswa jurusan hukum di Harvard University. Di era tersebut, posisi kaum perempuan di kehidupan bermasyarakat masih di pandang sebelah mata dan seringkali dinomorduakan di banyak aktivitas hukum, sosial, maupun budaya. Berbekal kecerdasan dan kesungguhan hatinya dalam menuntut ilmu hukum – serta dukungan suaminya yang juga memiliki pandangan kehidupan yang sama dengan sang istri, Ruth Bader Ginsburg mulai memberikan perhatian khusus terhadap jajaran hukum dan aturan di negara Amerika Serikat yang selama ini dianggap berlaku tidak adil akibat dibangun atas perbedaan jenis kelamin sekaligus berusaha untuk mengubah berbagai aturan tersebut. Continue reading Review: On the Basis of Sex (2018)

Review: Friend Zone (2019)

Seperti yang dapat ditangkap dengan mudah dari judulnya, Friend Zone berkisah mengenai hubungan persahabatan yang terjalin antara Gink (Pimchanok Luevisadpaibul) dan Palm (Naphat Siangsomboon). Palm sebenarnya telah menyimpan perasaan cinta terhadap sahabatnya tersebut semenjak di bangku kuliah. Namun perasaan tersebut ternyata hanya bertepuk sebelah tangan karena Gink hanya tertarik untuk menjadikan Palm sebagai teman dekat dimana ia dapat berkeluh kesah mengenai permasalahan hidup, termasuk permasalahan asmara yang selalu ia dapati ketika sedang menjalin hubungan asmara dengan pria lain. Ketika hubungan asmara yang dijalin Gink dengan kekasih terakhirnya, Ted (Jason Young), juga terjerembab dalam masalah dan kemudian berakhir, Palm mulai menyatakan perasaannya yang sesungguhnya pada Gink dan meminta gadis tersebut untuk melihatnya tidak lagi hanya sebagai seorang sahabat. Sebuah permintaan yang, sialnya, justru ditolak oleh Gink karena ia menilai hubungan asmara dirinya dengan Palm hanya akan merusak persahabatan erat yang telah terjalin antara keduanya selama ini. Continue reading Review: Friend Zone (2019)

Review: Us (2019)

Setahun setelah kesuksesan luar biasa dari Get Out (2017) – yang tidak hanya mampu meraih kesuksesan komersial dengan mengumpulkan pendapatan sebesar lebih dari US$255 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia namun juga sukses mendapatkan pujian luas dari para kritikus film serta meraih empat nominasi dan memenangkan satu diantaranya pada ajang The 90th Annual Academy Awards, Jordan Peele kembali merilis film terbarunya yang berjudul Us. Meskipun memiliki nada pengisahan thriller yang serupa dengan Get Out, Peele mengeksekusi Us sebagai jalinan pengisahan yang penuh dengan momen-momen menegangkan yang tersaji secara jauh lebih gamblang. Tentu saja, Us bukanlah hanya sebuah film yang mencoba untuk menawarkan kengerian kepada para penontonnya. Melalui naskah cerita yang juga digarapnya, Peele kembali membuka perbincangan mengenai ras, kelas, serta status sosial yang seringkali menimbulkan benih-benih konflik dalam kehidupan bersosial manusia. Sajian berkelas yang dengan mudah akan membuat siapapun kembali terpesona oleh kemampuan bercerita Peele yang begitu cerdas. Continue reading Review: Us (2019)

Review: Yowis Ben II (2019)

Terlepas dari barisan dialognya yang didominasi oleh Bahasa Jawa, perilisan Yowis Ben (Fajar Nugros, Bayu Skak, 2018) mampu memberikan kejutan ketika film tersebut berhasil mencuri perhatian banyak penikmat film Indonesia. Secara perlahan, film komedi yang juga menjadi debut penyutradaraan bagi Skak tersebut menyaingi keberadaan film-film lokal dan internasional lain yang dirilis di saat yang bersamaan, bertahan cukup lama di banyak layar bioskop – khususnya yang berada di Pulau Jawa, untuk kemudian sukses mengumpulkan lebih dari sembilan ratus ribu penonton selama masa tayangnya. Dengan ukiran prestasi tersebut, tidak mengherankan bila Nugros dan Skak kembali bekerjasama dan berusaha untuk mengulang (atau malah memperbesar) kesuksesan mereka dengan merilis sebuah sekuel bagi Yowis Ben. Dan dengan formula cerita dan guyonan yang masih setia dengan film pendahulunya, Yowis Ben 2 dipastikan akan tetap dapat menghibur para barisan penggemarnya – dan bahkan mungkin akan mampu mendapatkan beberapa penggemar baru. Continue reading Review: Yowis Ben II (2019)

Review: A Private War (2018)

Merupakan film cerita perdana yang disutradarai oleh Matthew Heineman yang sebelumnya lebih dikenal atas pengarahannya bagi film-film dokumenter seperti Cartel Land (2015) – yang mendapatkan nominasi Best Documentary Feature di ajang The 88th Annual Academy Awards – serta City of Ghosts (2017), A Private War adalah sebuah drama yang mengupas sekelumit kisah dari kehidupan wartawan perang legendaris asal Amerika Serikat, Marie Colvin. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Arash Amel (Grace of Monaco, 2014) berdasarkan artikel tentang Colvin, Marie Colvin’s Private War, yang ditulis oleh Marie Brenner untuk majalah Vanity Fair, A Private War mencoba untuk menyelami jiwa dan pemikiran Colvin (Rosamund Pike) yang terus mendorongnya untuk maju ke garda terdepan deretan konflik dan peperangan yang ada di berbagai belahan dunia guna mendapatkan sajian berita dengan nilai kebenaran yang akurat. Keberanian (dan kejujuran) yang membuatnya menjadi salah satu jurnalis paling dihormati dunia hingga saat ini. Continue reading Review: A Private War (2018)

Review: Captain Marvel (2019)

Sebelas tahun semenjak perilisan Iron Man (Jon Favreau, 2008) dan sembilan belas film lain yang dirilis guna mengisi linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe, Marvel Studios merilis Captain Marvel yang menandai kali perdana dimana sosok pahlawan super perempuan menjadi karakter utamanya. Seperti halnya film-film pertama para pahlawan super buatan Marvel Studios sebelumnya, Captain Marvel juga merupakan sebuah origin story yang akan memperkenalkan pada penonton mengenai sosok sang pahlawan super, kekuatan yang dimilikinya, hingga berbagai masalah yang menghampirinya ketika ia berusaha untuk mengenal sekaligus mengendalikan kekuatan yang ia miliki tersebut. Sebuah plot pengisahan yang cukup mendasar bagi sebuah film yang berasal dari semesta cerita tentang kehidupan para pahlawan super. Namun, terlepas dari berbagai elemen familiar dari penceritaan tersebut, garapan duo sutradara Anna Boden dan Ryan Fleck (It’s Kind of a Funny Story, 2010) berhasil mengemas Captain Marvel tetap menjadi sajian yang terasa segar dan sangat, sangat menyenangkan untuk diikuti. Continue reading Review: Captain Marvel (2019)

Review: Dilan 1991 (2019)

Setelah Dilan 1990 (Fajar Bustomi, Pidi Baiq, 2018), kisah cinta Dilan dan Milea kini berlanjut lewat Dilan 1991. Dengan naskah cerita yang masih ditulis oleh Titien Wattimena berdasarkan novel berjudul Dilan Bagian Kedua: Dia adalah Dilanku Tahun 1991 yang ditulis oleh Baiq, Dilan 1991 berkisah mengenai hubungan antara Dilan (Iqbaal Ramadhan) dan Milea (Vanesha Prescilla) yang kini telah resmi berpacaran. Kebahagiaan hubungan asmara pasangan muda tersebut, sayangnya, kemudian mendapatkan rintangan ketika Dilan kembali terlibat dalam sebuah perkelahian yang menyebabkan dirinya ditahan oleh pihak kepolisian dan terancam untuk dikeluarkan dari sekolahnya. Milea jelas merasa kesal dengan perilaku Dilan dan mengancam untuk mengakhiri hubungan mereka jika Dilan tidak berhenti terlibat dalam berbagai perseteruan bersama dengan geng motornya. Tanpa disangka, karena tidak suka merasa dikekang oleh siapapun, Dilan malah memilih untuk meninggalkan hubungan asmaranya dan kemudian mulai menjauhi Milea. Continue reading Review: Dilan 1991 (2019)