Tag Archives: Movies

Review: The Northman (2022)

Setelah The VVitch (2015) dan The Lighthouse (2019) yang berhasil melejitkan sekaligus memantapkan posisinya sebagai salah satu sutradara dengan visi serta gaya bercerita paling memikat dalam beberapa tahun terakhir, Robert Eggers kembali hadir dengan presentasi cerita terbarunya, The Northman. Berbeda dengan dua film perdananya yang banyak mengandalkan simbolisme dalam tata penuturannya, Eggers membalut The Northman dalam tuturan plot, konflik, maupun karakter yang terasa lebih mudah untuk dinikmati penonton dalam skala jangkauan yang lebih luas (baca: tidak hanya terpaku hanya pada para penikmat film-film berkelas arthouse). The Northman juga dihadirkan dengan skala produksi yang jauh lebih megah dibandingkan The VVitch maupun The Lighthouse. Meskipun begitu, bahkan dengan berbagai tata eksekusi cerita yang berkesan “baru” tersebut, The Northman tetap mempertahankan atmosfer kelam, brutal, dan dingin yang sepertinya telah menjadi ciri pengarahan Eggers. Continue reading Review: The Northman (2022)

Review: Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)

Enam tahun jelas merupakan jangka waktu yang cukup lama untuk merilis sekuel bagi sebuah seri film yang sedang berjalan. Namun, layaknya banyak karakter dalam setiap seri film yang tergabung dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe, karakter Doctor Stephen Strange yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch juga telah muncul di berbagai film lain yang tergabung dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe semenjak penampilan perdananya di Doctor Strange (Scott Derrickson, 2016) – mulai dari Thor: Ragnarok (Taika Waititi, 2017), Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame (Anthony Russo, Joe Russo, 2018 – 2019), hingga menjadi bagian krusial bagi penceritaan Spider-Man: No Way Home (Jon Watts, 2021). Tidak mengherankan jika film kedua dalam seri film Doctor Strange, Doctor Strange in the Multiverse of Madness, telah berjalan jauh melampaui linimasa cerita yang sebelumnya dihadirkan pada film pertamanya. Continue reading Review: Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)

Review: Kuntilanak 3 (2022)

Ada sesuatu yang berbeda dari presentasi cerita Kuntilanak 3. Seperti halnya Kuntilanak (2018) dan Kuntilanak 2 (2019), film ini masih diarahkan oleh Rizal Mantovani berdasarkan naskah cerita yang ditulis Alim Sudio. Namun, berbeda dengan dua film pendahulunya yang kental akan nuansa horor dalam penuturan ceritanya – well… penuturan horor yang ditujukan bagi kalangan penonton muda, Kuntilanak 3 melangkah sedikit menjauh dari warna horor dengan menghadirkan bangunan cerita berkesan fantasi yang akan dengan segera mengingatkan banyak penontonnya pada film-film dalam seri Harry Potter (2001 – 2011). Sebuah pilihan kreatif yang jelas diambil guna semakin memperluas jangkauan wilayah pengisahan Jagat Sinema Kuntilanak – yang didalamnya juga mengikutsertakan film Mangkujiwo (2020) arahan Azhar Kinoi Lubis dan akan terhubung dengan trilogi Kuntilanak (2006 – 2008) sebelumnya – garapan Mantovani bersama dengan MVP Pictures. Continue reading Review: Kuntilanak 3 (2022)

Review: Gara-gara Warisan (2022)

Dengan naskah cerita yang ditulis dan diarahkan oleh aktor sekaligus komika, Muhadkly Acho – yang menjadikan film ini sebagai debut penyutradaraan film cerita panjangnya, Gara-gara Warisan memulai linimasa penceritaannya ketika seorang pemilik penginapan, Dahlan (Yayu Unru), berusaha untuk menemukan sosok yang tepat diantara ketiga anak-anaknya, Adam (Oka Antara), Laras (Indah Permatasari), dan Dicky (Ge Pamungkas), untuk menggantikan posisinya dalam mengelola penginapan ketika mengetahui dirinya mengidap penyakit yang sukar untuk disembuhkan. Dengan masalah perekonomian yang sedang menghimpit ketiganya, Adam, Laras, dan Dicky bersaing keras untuk memperebutkan warisan sang ayah yang jelas diharapkan dapat membantu kehidupan mereka. Di saat yang bersamaan, persaingan tersebut secara perlahan membuka kembali berbagai perseteruan, duka, hingga luka yang dirasakan setiap anggota keluarga tersebut semenjak lama. Continue reading Review: Gara-gara Warisan (2022)

Review: KKN di Desa Penari (2022)

Awalnya direncanakan rilis pada awal tahun 2020, KKN di Desa Penari adalah salah satu film yang terus tertunda penayangannya akibat keberadaan pandemi COVID-19. Padahal, film ini sempat digadang akan mampu mengundang jutaan penonton ke bioskop berkat kepopuleran masif materi sumber pengisahannya yaitu utasan cuitan kisah horor berdasarkan kisah nyata yang diberi judul serupa dan disampaikan via akun Twitter @SimpleMan.  Versi film dari KKN di Desa Penari sendiri dibangun dengan naskah cerita yang ditulis oleh Lele Laila dan Gerald Mamahit serta arahan dari Awi Suryadi – Suryadi dan Laila sendiri telah bekerjasama di sejumlah film dari semesta pengisahan seri film Danur. Harus diakui, Suryadi mampu memberikan visual yang kuat akan deretan teror horor yang ingin dihadirkan oleh linimasa pengisahan film ini. Sayang, dengan pengembangan kisah dan karakter yang kurang matang, banyak potensi penceritaan KKN di Desa Penari berakhir dengan kesan gagal dituturkan secara utuh. Continue reading Review: KKN di Desa Penari (2022)

Review: Sonic the Hedgehog 2 (2022)

Dengan biaya produksi sebesar US$90 juta yang kemudian menghasilkan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$319 juta di sepanjang masa perilisannya di seluruh dunia, tidak mengherankan jika Paramount Pictures dengan segera menyetujui pembuatan sekuel bagi Sonic the Hedgehog (Jeff Fowler, 2020). Fowler masih duduk di kursi penyutradaraan. Begitu pula dengan duo penulis naskah dari film sebelumnya, Pat Casey dan Josh Miller, yang kali ini mendapatkan sokongan dari John Whittington (Dolittle, 2020). Continue reading Review: Sonic the Hedgehog 2 (2022)

Review: Morbius (2022)

Setelah kesuksesan Venom (Ruben Fleischer, 2018) dan Venom: Let There Be Carnage (Andy Serkis, 2021), Sony Pictures melanjutkan pengembangan semesta pengisahan Sony’s Spider-Man Universe yang dibentuk berdasarkan barisan kisah dan karakter dalam seri komik Spider-Man rilisan Marvel Comics dengan Morbius. Tidak seperti karakter Venom yang mungkin telah cukup dikenal keberadaannya berkat penampilannya yang menonjol pada alur pengisahan Spider-Man 3 (Sam Raimi, 2007), Morbius menjadi kali pertama bagi karakter yang diciptakan oleh komikus Roy Thomas dan Gil Kane tersebut ditampilkan secara maksimal dalam sebuah presentasi film cerita panjang – karakter Morbius sempat akan muncul secara kameo dalam satu adegan film Blade (Stephen Norrington, 1998) sebelum adegan tersebut kemudian dipotong dan tidak digunakan dalam versi Blade yang dirilis di layar lebar. Sayangnya, kualitas yang dihadirkan oleh sutradara Daniel Espinosa (Life, 2017) bagi film perdana untuk karakter Morbius ini jauh dari kesan yang baik maupun memuaskan. Sangat buruk, bahkan. Continue reading Review: Morbius (2022)

Review: RRR (2022)

Setelah menyelesaikan dwilogi Baahubali yang terdiri dari Baahubali: The Beginning (2015) – yang sempat memuncaki daftar film dengan pendapatan komersial tertinggi sepanjang masa di India – dan Baahubali: The Conclusion (2017) – yang saat ini memegang gelar sebagai film dengan pendapatan komersial tertinggi sepanjang masa di India – sutradara S. S. Rajamouli kembali menyajikan presentasi epik terbarunya lewat RRR. Naskah cerita RRR – yang merupakan singkatan dari Raama Roudra Rushitam dalam bahasa Telugu atau Rise Roar Revolt dalam terjemahan Bahasa Inggris – yang ditulis oleh Rajamouli sendiri bertutur tentang kisah fiktif akan persahabatan dua tokoh nyata revolusi India, Alluri Sitarama Raju (Ram Charan) dan Komaram Bheem (Jr NTR), yang kemudian bersatu untuk melawan kesewenangan Kemaharajaan Britania yang menguasai daratan India di masa tersebut. Seperti yang dapat diharapkan dari presentasi cerita Rajamouli, RRR disajikan sebagai epik dengan momen-momen yang tidak hanya akan dapat memukau namun juga mengundang rasa kekaguman dari setiap mata yang memandangnya. Continue reading Review: RRR (2022)

Review: Turning Red (2022)

Selepas memenangkan Academy Awards di kategori Best Animated Short Film untuk film pendeknya Bao (2018) dari ajang The 91st Annual Academy Awards, sutradara Domee Shi melanjutkan karir penyutradaraannya dengan mengarahkan film animasi cerita panjang pertamanya Turning Red. Seperti halnya Bao, naskah cerita Turning Red yang digarap Shi bersama dengan Julia Cho juga mengedepankan tuturan tentang hubungan antara ibu dan anak dengan menggunakan budaya dan/atau tradisi masyarakat Asia sebagai benang merah dari jalinan hubungan tersebut. Mengikuti formula film-film produksi Pixar Animation Studios seperti Brave (Mark Andrews, Brenda Chapman, 2012) dan Inside Out (Pete Docter, 2015) sembari mengambil inspirasi dari kehidupan pribadinya sebagai seorang anak perempuan yang memasuki masa remaja, Shi menjadikan Turning Red sebagai gambaran yang berkesan universal akan pergolakan yang dialami oleh hubungan ibu dan anak ketika sang anak mulai berusaha untuk menentukan atau menemukan identitas kehidupannya sendiri. Continue reading Review: Turning Red (2022)

Review: The Lost City (2022)

The Lost City jelas memiliki premis yang akan mengingatkan penontonnya pada sejumlah film aksi-petualangan-romansa popular dari masa lampau – Raiders of the Lost Ark (Steven Spielberg, 1981), Romancing the Stone (Robert Zemeckis, 1984), atau bahkan The Mummy (Stephen Sommers, 1999), Knight and Day (James Mangold, 2010) dan Jungle Cruise (Jaume Collet-Serra, 2021). Diarahkan oleh Adam Nee dan Aaron Nee (Band of Robbers, 2015) berdasarkan naskah cerita yang ditulis keduanya bersama dengan Oren Uziel (Mortal Kombat, 2021) dan Dana Fox (Cruella, 2021), film ini berkisah tentang seorang penulis novel romansa dewasa, Loretta Sage (Sandra Bullock), yang diculik oleh seorang miliarder eksentrik, Abigail Fairfax (Daniel Radcliffe), karena menduga Loretta Sage mengetahui cara untuk menafsirkan peta kuno yang akan menunjukkan lokasi keberadaan sebuah harta karun. Kejadian penculikan Loretta Sage disaksikan secara langsung oleh Alan Caprison (Channing Tatum), pria tampan yang selama ini menjadi model bagi sampul depan novel-novel romansa dewasa karangan Loretta Sage. Alan Caprison, yang secara diam-diam memendam perasaan suka pada Loretta Sage, dengan segera mencari pertolongan dan bahkan terlibat langsung untuk menyelamatkan wanita idamannya. Continue reading Review: The Lost City (2022)

The 94th Annual Academy Awards Winners List

Meskipun menjadi film dengan raihan nominasi terbanyak di The 94th Annual Academy Awards, film arahan Jane Campion, The Power of the Dog (2021), hanya mampu memenangkan satu kategori dari 12 nominasi diperolehnya yaitu kemenangan untuk Campion di kategori Best Director. Film yang terpilih untuk memenangkan kategori utama, Best Picture, di pagelaran Academy Awards kali ini adalah CODA (2021). Film arahan Siân Heder tersebut mampu memenangkan tiga kategori yang dinominasikan, Best Picture, Best Actor in a Supporting Role untuk Troy Kotsur, serta Best Adapted Screenplay untuk Heder. Kemenangan CODA yang dirilis oleh Apple TV+ juga menjadi kali pertama kategori Best Picture dimenangkan oleh film yang dirilis melalui layanan streaming. Continue reading The 94th Annual Academy Awards Winners List

Review: Umma (2022)

Seperti yang digariskan oleh judul film ini, Umma – yang berarti “ibu” dalam Bahasa Korea, debut pengarahan film cerita panjang dari sutradara Iris K. Shim ini berkisah tentang hubungan ibu dan anak, Amanda (Sandra Oh) dan Chris (Fivel Stewart). Didorong trauma akan hubungannya yang buruk dengan sang ibu (MeeWha Alana Lee) di masa lampau, Amanda memilih untuk membesarkan puterinya tanpa dukungan teknologi modern di sebuah peternakan yang jauh dari keramaian kota. Keseharian Amanda dan Chris berjalan menyenangkan… hingga akhirnya paman dari Amanda (Tom Yi) datang mengabarkan bahwa ibu dari Amanda telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu dengan sekaligus menghantarkan abu jenazah sang ibu. Rasa ketakutan Amanda akan sosok sang ibu kembali menyeruak dan, secara perlahan, mulai memberikan pengaruh buruk pada hubungannya dengan Chris. Continue reading Review: Umma (2022)

Review: Ambulance (2022)

Menjadi film arahan Michael Bay pertama yang dirilis secara luas di layar bioskop semenjak Transformers: The Last Knight (2017) – film arahan Bay sebelumnya, 6 Underground (2019) yang dibintangi Ryan Reynolds, dirilis secara eksklusif melalui Netflix – Ambulance adalah film aksi menegangkan yang alur ceritanya diadaptasi dari film asal Denmark berjudul sama (2005) arahan Laurits Munch-Petersen. Alur pengisahannya berfokus pada sosok veteran perang bernama William Sharp (Yahya Abdul-Mateen II) yang karena sedang berada dalam kondisi terdesak untuk mendapatkan uang guna membiayai operasi sang istri, Amy Sharp (Moses Ingram), lantas menerima tawaran dari saudara adopsinya, Danny Sharp (Jake Gyllenhaal), untuk merampok sebuah bank. Awalnya, perampokan tersebut berjalan lancar sesuai dengan rencana yang telah disusun Danny Sharp. Sial, ketika dalam kepanikan William Sharp kemudian menembak seorang polisi yang sedang bertugas, Officer Zach (Jackson White), deretan kekacauan yang mengancam nyawa keduanya mulai bermunculan. Continue reading Review: Ambulance (2022)