Tag Archives: Sam Neill

Review: Thor: Love and Thunder (2022)

Rasanya tidak mengherankan jika Marvel Studios mendapuk Taika Waititi untuk kembali duduk di kursi penyutradaraan bagi film keempat Thor, Thor: Love and Thunder. Setelah racikan Alan Taylor untuk Thor: The Dark World (2013) gagal untuk mengikuti standar tinggi yang telah diterapkan Kenneth Branagh dalam Thor (2011) – yang bahkan menjadikan film tersebut sebagai salah satu produk dengan kualitas terlemah dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe, Waititi sukses memberikan penyegaran bagi tata penuturan seri film Thor ketika ia menghadirkan Thor: Ragnarok (2017) dengan sentuhan komedi yang begitu menyenangkan sekaligus begitu berbeda dengan tuturan komedi yang sebelumnya pernah ditampilkan oleh film-film yang tergabung dalam semesta pengisahan sinematik milik Marvel. Bekerjasama dengan penulis naskah Jennifer Kaytin Robinson (Unpregnant, 2020), Waititi berusaha untuk mengulang kembali penuturan komikal Thor: Ragnarok sekaligus memadukannya dengan sejumlah paparan dramatis yang bernilai emosional. Dan lumayan berhasil. Continue reading Review: Thor: Love and Thunder (2022)

Review: Jurassic World Dominion (2022)

Setelah posisinya sebagai sutradara digantikan oleh J. A Bayona pada Jurassic World: Fallen Kingdom (2018), Colin Trevorrow kini kembali duduk di kursi pengarahan Jurassic World Dominion yang dirancang menjadi film penutup bagi trilogi sekuel dari Jurassic Park yang linimasa pengisahannya dimulai oleh Jurassic World (2015) yang juga diarahkan Trevorrow. Harus diakui, seperti halnya The Lost World: Jurassic Park (Steven Spielberg, 1997) dan Jurassic Park III (Joe Johnston, 2001), dua film pertama dari seri Jurassic World memang tidak pernah mampu untuk menghasilkan kesan istimewa – sebuah “kutukan” yang sepertinya ditinggalkan oleh bayang-bayang besar kesuksesan mahakarya klasik sekelas Jurassic Park (Spielberg, 1993) bagi tiap film penerus yang berusaha untuk melanjutkan pengisahannya. Problema serupa juga dapat dirasakan pada Jurassic World Dominion yang tidak hanya menghadirkan pengembangan plot maupun karakter yang telah benar-benar usang namun juga arahan cerita yang berkualitas hambar. Continue reading Review: Jurassic World Dominion (2022)

Review: The Commuter (2018)

Dalam film teranyarnya bersama sutradara Jaume Collet-Serra (The Shallows, 2016), The Commuter, Liam Neeson berperan sebagai sosok pria paruh baya yang terjebak dalam situasi sulit yang membuatnya seringkali harus terlibat dalam banyak adegan adu fisik yang intens. Yes. You’ve been here before. Sosok karakter yang terdengar familiar karena Neeson pada dasarnya memerankan karakter yang hampir serupa dengan karakter-karakter yang dahulu ia perankan dalam Unknown (2011), Non-Stop (2014), dan Run All Night (2015) yang juga diarahkan oleh Collet-Serra. So what makes The Commuter different then? Tidak banyak. Bahkan, meskipun tetap didampingi penampilan prima dari Neeson, The Commuter gagal untuk hadir dengan pengarahan yang mampu membuat laju penceritaan film ini mengikat kuat para penontonnya. Continue reading Review: The Commuter (2018)

Review: Thor: Ragnarok (2017)

Masih ingat dengan Thor: The Dark World (Alan Taylor, 2013)? Well… tidak akan ada yang menyalahkan jika Anda telah melupakan sepenuhnya mengenai jalan cerita maupun pengalaman menonton dari sekuel perdana bagi film yang bercerita tentang Raja Petir dari Asgard tersebut. Berada di bawah arahan Taylor yang mengambil alih kursi penyutradaraan dari Kenneth Branagh, Thor: The Dark World harus diakui memang gagal untuk melebihi atau bahkan menyamai kualitas pengisahan film pendahulunya. Tidak berniat untuk mengulang kesalahan yang sama, Marvel Studios sepertinya berusaha keras untuk memberikan penyegaran bagi seri ketiga Thor, Thor: Ragnarok: mulai dari memberikan kesempatan pengarahan pada sutradara Taika Waititi yang baru saja meraih kesuksesan lewat dua film indie-nya, What We Do in the Shadows (2014) dan Hunt for the Wilderpeople (2016), menghadirkan naskah cerita yang menjauh dari kesan kelam, hingga memberikan penampilan-penampilan kejutan dalam presentasi filmnya. Berhasil? Mungkin. Continue reading Review: Thor: Ragnarok (2017)

Review: The Vow (2012)

Pertama-tama… The Vow, yang dibintangi oleh Rachel McAdams (The Notebook, 2004) dan Channing Tatum (Dear John, 2010), bukanlah sebuah film yang diadaptasi dari novel yang ditulis oleh Nicholas Sparks – penulis versi novel dari The Notebook, Dear John dan juga sederetan kisah romansa lain seperti Message in a Bottle (1999), A Walk to Remember (2002) atau The Last Song (2010). The Vow, yang berkisah mengenai perjuangan seorang suami yang mencoba bertahan ketika sang istri kehilangan memorinya setelah sebuah kecelakaan yang mereka alami, memang terdengar seperti jalinan kisah romansa yang akan ditulis oleh Sparks. Jalan cerita The Vow sendiri terinspirasi dari kisah nyata yang sama yang dialami oleh pasangan Kim dan Krickitt Carpenter dari New Mexico, Amerika Serikat yang kemudian menuliskan kisah mereka pada buku yang berjudul The Vow: The Kim and Krickitt Story (2000) – walaupun versi film dari The Vow tidak begitu terikat dengan alur cerita dalam buku tersebut.

Continue reading Review: The Vow (2012)

Review: Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole (2010)

Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole menandai kali pertama sutradara Zack Snyder (300 (2007), Watchmen (2009)) menangani sebuah film yang bergenre animasi dengan jalan cerita yang ditujukan bagi penonton kalangan keluarga. Hal ini tentu saja adalah merupakan sebuah dunia yang sangat baru bagi Snyder – yang selama ini mengerjakan film-film dengan genre dewasa yang seringkali mengandung unsur kekerasan dan seksual yang tinggi. Walau begitu, melihat apa yang dicapai oleh Snyder lewat Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole – dengan tetap menggunakan beberapa teknik khasnya, seperti gerakan slow motion yang dramatis – terbukti kalau Snyder sangatlah mudah untuk beradaptasi dengan dunia baru tersebut.

Continue reading Review: Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole (2010)

Review: Daybreakers (2010)

Semenjak kemunculan Twilight, vampir mungkin merupakan salah satu obyek yang paling banyak diminati oleh para produsen film Hollywood untuk dibuatkan kisahnya. Bukan apa-apa, franchise Twilight sendiri terbukti sangat berhasil dalam meraup jumlah raihan penonton dalam angka yang cukup besar, khususnya dari para kaum penonton wanita.

Continue reading Review: Daybreakers (2010)