Review: Ratu Ilmu Hitam (2019)


Dalam film terbaru arahan Kimo Stamboel, Ratu Ilmu Hitam, seorang pria bernama Hanif (Ario Bayu) mengajak istri, Nadya (Hannah Al Rashid), serta ketiga anak mereka, Sandi (Ari Irham), Dina (Adhisty Zara), dan Haqi (Muzakki Ramdhan), berkunjung ke panti asuhan tempat dirinya dahulu dibesarkan untuk menjenguk pengasuh panti tersebut, Bandi (Yayu Unru), yang kini sedang berada dalam kondisi kritis akibat sakit yang ia derita. Hanif dan keluarganya tidak datang sendirian. Dua sahabat Hanif, Jefri (Miller Khan) dan Anton (Tanta Ginting), juga turut datang sembari membawa pasangan mereka masing-masing, Lina (Salvita Decorte) dan Eva (Imelda Therinne). Pertemuan Hanif dengan dua sahabatnya tersebut tentu saja membawa begitu banyak kenangan akan kehidupan mereka di masa lalu. Sial, kunjungan tersebut secara perlahan kemudian berubah menjadi sebuah teror mematikan ketika kepingan-kepingan misteri dari masa lalu Hanif, Jefri, dan Anton hadir kembali untuk menghantui mereka dan orang-orang yang mereka sayangi.

Jika dibandingkan dengan tata pengarahan yang diberikan Stamboel pada DreadOut (2019) – yang menjadi film panjang pertama yang disutradarainya secara solo, Ratu Ilmu Hitam jelas terasa hadir dengan tuturan pengisahan yang jauh lebih matang. Tentu saja, capaian tersebut jelas tidak dapat dilepaskan dari kualitas garisan cerita yang telah diterapkan Joko Anwar bagi naskah cerita film ini. Seperti yang dahulu dilakukan Anwar pada versi teranyar dari Pengabdi Setan (2017), naskah cerita Ratu Ilmu Hitam juga mengadaptasi elemen-elemen cerita yang terdapat pada film horor Indonesia klasik berjudul sama arahan Lilik Sudjio yang dibintangi Suzzana dan dahulu begitu popular ketika dirilis pada tahun 1981. Meskipun tidak lagi mengusung alur cerita yang sama, Anwar tetap menegaskan kisah balas dendam serta membalutnya dengan rajutan cerita baru yang terasa lebih sesuai dan melekat dengan era sekarang. Garapan cerita Anwar juga cukup cerdas untuk terus mempertahankan misteri dengan memberikan banyak petunjuk di sepanjang pengisahan film – meskipun tidak seluruhnya akan mengarah kepada kebenaran – sebelum akhirnya membuka tabir misteri secara utuh di paruh ketiga. Jauh lebih rapi dari susunan misteri yang disajikan Anwar dalam film yang ia tulis dan arahkan sendiri, Perempuan Tanah Jahanam (2019).

Bangunan misteri boleh saja terjalin kuat. Sayang, Ratu Ilmu Hitam dipenuhi dengan barisan karakter yang kebanyakan tidak tergali dengan karakterisasi yang maksimal. Tentu, beberapa karakter yang memegang peranan penting pada misteri utama maupun akhir cerita diberikan pendalaman yang lebih banyak – banyak, tetapi tidak terasa kuat. Namun, kebanyakan karakter yang ada terasa hanya dimanfaatkan untuk mendorong efek kejut dari jalan cerita ketika film ini mulai menampilkan deretan terornya. Lemahnya galian karakter ini cukup terasa ketika interaksi dialog yang awalnya hanya terjalin antara karakter-karakter dari keluarga Hanif mulai mengembang kepada karakter-karakter lain yang mereka temui. Tidak terasa mengikat. Sajian teror yang berfokus pada gambaran body-horror – dimana para karakter-karakternya mengalami siksaan pada anggota tubuhnya – disajikan secara apik. Dukungan efek audio dan visual yang begitu berkelas akan membuat banyak adegan teror dalam film ini tidak akan mudah terlepas dari ingatan para penontonnya. Adegan “neraka” yang tersaji di paruh ketiga film ini jelas merupakan salah satu adegan terbaik dalam sebuah film horor di sepanjang tahun ini.

Lemahnya penggarapan karakter memang menjadikan banyak pemeran kehilangan kesempatan untuk menampilkan akting yang lebih maksimal – karakter yang diperankan Irham bahkan tidak melakukan apa-apa di sepanjang pengisahan film. Meskipun begitu, penampilan dari Ramdhan, Therinne (Give this girl more roles, please!), Sheila Dara Aisha, dan Shenina Cinnamon jelas akan mampu mencuri perhatian dalam setiap kehadiran karakter mereka di dalam cerita. Hal yang sama juga akan didapat dari penampilan Al Rashid. Karakternya memang selalu menonjol semenjak awal pengisahan. Terlihat dan terasa datar namun menyimpan banyak petunjuk bahwa karakter yang ia perankan akan menjadi karakter kunci bagi jalan pengisahan film. Al Rashid mampu mengeksekusi karakter tersebut dengan lugas dan bahkan emosional pada beberapa bagian. Penampilan-penampilan akting lainnya juga tidak mengecewakan. Meskipun, dengan barisan pemeran yang jelas begitu potensial, Ratu Ilmu Hitam terasa membuang kesempatan untuk membuat kehadiran mereka menjadi lebih bermakna.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

ratu-ilmu-hitam-2019-film-indonesia-movie-posterRatu Ilmu Hitam (2019)

Directed by Kimo Stamboel Produced by Gope T. Samtani Written by Joko Anwar Starring Ario Bayu, Hannah Al Rashid, Adhisty Zara, Ari Irham, Muzakki Ramdhan, Shenina Cinnamon, Giulio Parengkuan, Miller Khan, Tanta Ginting, Salvita Decorte, Imelda Therinne, Ade Firman Hakim, Sheila Dara Aisha, Putri Ayudya, Ruth Marini, Yayu Unru, Gisellma Firmansyah Music by Aghi Narottama, Bemby Gusti, Tony Merle Cinematography Fajar Yuskemal, Yudhi Arfani Edited by Arifin Cuunk Production company Rapi Films/Sky Media Running time 100 minutes Country Indonesia Language Indonesian

One thought on “Review: Ratu Ilmu Hitam (2019)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s