Tag Archives: James McAvoy

Review: Split (2017)

Sutradara M. Night Shyamalan (After Earth, 2013) dan produser Jason Blum (Insidious: Chaper 3, 2015) pertama kali saling bekerjasama untuk The Visit pada tahun 2015 lalu. Film thriller yang dibuat dengan bujet minimalis sebesar US$5 juta itu ternyata mampu mengundang reaksi positif, baik dari kalangan kritikus yang menilai Shyamalan mulai bangkit dari keterpurukannya setelah mengarahkan The Last Airbender (2010) dan After Earth yang gagal total maupun dari kalangan penikmat film dunia yang membuat The Visit kemudian sukses meraih pendapatan sebesar US$98.5 juta dari perilisannya di seluruh dunia. Kesuksesan kerjasama Shyamalan dan Blum tersebut kini berlanjut dalam Split – sebuah psychological horror yang naskah ceritanya juga ditulis sendiri oleh Shyamalan. Dibantu dengan penampilan fenomenal James McAvoy, Split sekali lagi menunjukkan bahwa Shyamalan yang dahulu pernah dikagumi karena kemampuannya yang handal dalam mengontrol ritme pengisahan film-film dari genre horor dan thriller kini telah kembali dengan kemampuan pengarahannya yang bahkan semakin matang. Continue reading Review: Split (2017)

Advertisements

Review: Arthur Christmas (2011)

Bahkan seorang Santa Claus tidak mampu menolak fakta bahwa kemajuan teknologi dapat membantu dalam kesehariannya… termasuk dalam tugas vitalnya untuk membagikan seluruh bingkisan yang ia miliki untuk para anak-anak yang telah berkelakuan baik selama satu tahun terakhir di seluruh penjuru dunia. Setidaknya begitulah yang digambarkan oleh Arthur Christmas. Berkat anaknya yang paling tua – dan kini sedang bersiap untuk menggantikan posisinya, Steve (Hugh Laurie), pria yang saat ini sedang menjabat posisi sebagai Santa Claus (Jim Broadbent) telah mengadopsi teknologi canggih yang mampu membuatnya dan sekelompok besar pembantunya untuk menghantarkan setiap bingkisan yang ia miliki kepada setiap anak di seluruh dunia dengan tepat waktu sebelum masa perayaan Natal dimulai. Namun, seiring dengan waktu, pemanfaatan teknologi tersebut membuat masa pembagian bingkisan-bingkisan tersebut menjadi kurang berkesan… dan hanya sekedar menjadi sebuah tugas dan kewajiban belaka. Kini, bagi sang Santa Claus sendiri, Natal tak lebih dari sekedar sebuah roda bisnis yang harus ia jalani.

Continue reading Review: Arthur Christmas (2011)

Review: X-Men: First Class (2011)

Setelah seri ketiga dari franchise X-Men, X-Men: The Last Stand (2006), yang diarahkan oleh Brett Ratner mendapatkan banyak kritikan tajam dari para kritikus film dunia – hal yang kemudian dialami juga oleh spin-off prekuel dari franchise tersebut, X-Men Origins: Wolverine (2009) arahan Gavin Hood – Marvel Studios dan 20th Century Fox sebagai pihak produser kemudian memutuskan untuk memberikan sebuah prekuel penuh bagi franchise X-Men yang kini telah berusia sebelas tahun itu. Dalam X-Men: First Class, penonton dibawa jauh kembali menuju masa – masa ketika Professor X masih belum mengalami kebotakan dan lebih dikenal dengan nama Dr Charles Xavier, Magneto – juga masih lebih dikenal dengan nama Erik Lensherr – belum menemukan dan menggunakan topi baja anehnya serta keduanya masih menjalami masa-masa indah persahabatan mereka.

Continue reading Review: X-Men: First Class (2011)

Review: Gnomeo & Juliet (2011)

Tentu, dengan mendasarkan kisahnya pada salah satu naskah drama paling populer di atas muka Bumi yang ditulis oleh William Shakespeare, semua orang tahu cerita apa yang akan mereka dapatkan dalam Gnomeo & Juliet: sebuah kisah cinta terlarang antara dua anak manusia yang keluarganya semenjak lama berseteru satu sama lain. Errr… ganti kata manusia dengan patung kurcaci maka Anda akan mendapatkan premis dasar dari film animasi pertama karya rumah produksi Sir Elton John ini. Walau begitu, premis tersebut hanyalah satu-satunya yang dapat menghubungkan film ini dengan karya Shakespeare tersebut. Sembilan orang penulis naskah telah mengubah total kisah tragedi tersebut menjadi sebuah komedi sekaligus menjadikan kisah film animasi ini menjadi lebih mudah untuk dilupakan begitu saja.

Continue reading Review: Gnomeo & Juliet (2011)