Tag Archives: Jack Dylan Grazer

Review: Luca (2021)

Dengan film-film seperti WALL·E (Andrew Stanton, 2008), Toy Story 3 (Lee Unkrich, 2010), serta Inside Out (Pete Docter, 2015) dan Soul (Docter, 2020) berada di dalam filmografi Pixar Animation Studios, mungkin mudah untuk memandang premis cerita yang ditawarkan oleh Luca secara sebelah mata. Merupakan debut pengarahan film cerita panjang bagi sutradara Enrico Casarosa – yang sebelumnya mengarahkan film pendek berjudul La Luna (2011) yang berhasil mendapatkan nominasi Best Animated Short di ajang The 84th Annual Academy Awards, Luca berkisah mengenai persahabatan antara dua monster laut, Luca Paguro (Jacob Tremblay) dan Alberto Scorfano (Jack Dylan Grazer), yang menyadari bahwa spesies mereka memiliki kemampuan untuk berubah wujud menyerupai manusia ketika sedang berada di daratan. Dengan kemampuan tersebut, keduanya kemudian berpetualang ke sebuah kota bernama Portorosso yang terletak di wilayah pesisir Italia dan bersahabat dengan seorang anak perempuan bernama Giulia Marcovaldo (Emma Berman). Meskipun jalinan persahabatan antara ketiganya terus bertambah erat, baik Luca Paguro dan Alberto Scorfano terus merasa khawatir akan sikap Giulia Marcovaldo serta warga sekitar Portorosso jika mereka mengetahui siapa sosok diri mereka yang sebenarnya. Continue reading Review: Luca (2021)

Review: It Chapter Two (2019)

Dengan linimasa cerita yang berlatar belakang waktu pengisahan pada 27 tahun sejak berbagai teror yang dikisahkan dalam It (Andy Muschietti, 2017), penuturan kisah It Chapter Two dimulai ketika Bill Denbrough (James McAvoy), Ben Hanscom (Jay Ryan), Beverly Marsh (Jessica Chastain), Richie Tozier (Bill Hader), Stanley Uris (Andy Bean), dan Eddie Kaspbrak (James Ransone) mendapatkan telepon dari Mike Hanlon (Isaiah Mustafa) yang memperingatkan bahwa teror Pennywise the Dancing Clown (Bill Skarsgård) telah kembali di kota Derry yang sekali lagi ditandai dengan menghilangnya banyak anak-anak di kota tersebut secara misterius. Sesuai dengan janji yang dahulu telah mereka buat, ketujuh anggota Losers’ Club tersebut kemudian berkumpul kembali untuk kemudian saling memutar otak dan menemukan cara yang ampuh untuk melenyapkan teror serta keberadaan Pennywise the Dancing Clown untuk selamanya. Continue reading Review: It Chapter Two (2019)

Review: Shazam! (2019)

Setelah Man of Steel (2013), Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), dan Justice League (2017) garapan Zack Snyder yang tampil dengan nada pengisahan yang cenderung kelam, DC Films sepertinya berusaha untuk tampil dengan atmosfer cerita tentang pahlawan super yang lebih ringan dan menghibur pada film-film garapan mereka lainnya seperti Suicide Squad (David Ayer, 2016), Wonder Woman (Patty Jenkins, 2017), dan Aquaman (James Wan, 2018). Sebuah keputusan cerdas yang ternyata mendapatkan reaksi positif – baik dari para kritikus film maupun para penikmat film. Kesuksesan “arah baru” penceritaan DC Films yang lebih berwarna tersebut kini diteruskan melalui Shazam! yang di banyak bagian linimasa pengisahannya bahkan layak disebut sebagai komedi. Merupakan kali kedua karakter yang bernama asli Captain Marvel ini dibuatkan film layar lebarnya setelah Adventures of Captain Marvel (William Witney, John English, 1941), Shazam! yang diarahkan oleh David F. Sandberg (Annabelle: Creation, 2017) berhasil menunjukkan kehandalan DC Films untuk menghadirkan sajian cerita bertemakan pahlawan super yang lebih segar – dan bahkan lebih menyenangkan dari beberapa film bertema sama garapan Marvel Studios – ketika mereka benar-benar berusaha untuk melakukannya. Continue reading Review: Shazam! (2019)

Review: It (2017)

Another week, another Stephen King’s adaptation. Wellnot really. Namun tahun 2017 jelas merupakan salah satu tahun yang menyenangkan bagi para penikmat tulisan-tulisan King. Tidak kurang dari enam karya penulis asal Amerika Serikat tersebut mendapatkan kesempatan untuk diadaptasi menjadi serial dan film di sepanjang tahun ini: David E. Kelley (Big Little Lies, 2017) mengadaptasi Mr. Mercedes menjadi sebuah serial televisi yang tayang di saluran Audience, Netflix memproduksi The Mist sebagai serial serta Gerald’s Game dan 1922 dalam bentuk film yang tayang di layanan streaming mereka sementara para penonton film bioskop mendapatkan kesempatan untuk menikmati adaptasi The Dark Tower dan It. Berbeda dengan The Dark Tower yang baru pertama kali diadaptasi ke media audio visual maka versi film dari It akan menjadi kali kedua bagi novel tersebut setelah sebelumnya sempat diangkat – dan begitu populer – sebagai sebuah miniseri pada tahun 1990. Continue reading Review: It (2017)