Tag Archives: Charlotte Rampling

Review: Submergence (2018)

Ada banyak hal yang terjadi dalam pengisahan film terbaru arahan Wim Wenders (Every Thing Will Be Fine, 2015), Submergence. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Erin Dignam (The Last Face, 2016) berdasarkan novel berjudul sama karangan novelis J. M. Ledgard, Submergence merupakan sebuah kisah romansa yang berpadu dengan kisah petualangan di bawah laut, situasi iklim politik dunia, terorisme, misi rahasia seorang agen rahasia, hingga  beberapa sentuhan cerita tentang perubahan suhu Bumi yang secara perlahan menjebak orang-orang yang tinggal diatasnya. Cukup gampang ditebak, dengan begitu banyaknya hal yang ingin disajikan dalam 112 menit durasi penceritaan film ini, Submergence kemudian terasa kelimpungan dalam menyalurkan berbagai ide yang dimilikinya meskipun pada beberapa bagian tetap mampu hadir dengan sentuhan-sentuhan emosional yang kerapkali turut menghanyutkan penontonnya. Continue reading Review: Submergence (2018)

Advertisements

Review: Red Sparrow (2018)

Kembali berada di bawah arahan sutradara Francis Lawrence – yang dahulu mengarahkannya dalam dua seri The Hunger Games, The Hunger Games: Catching Fire (2013) serta The Hunger Games: Mockingjay – Part 1 (2014) dan The Hunger Games: Mockingjay – Part 2 (2015), Jennifer Lawrence tampil sebagai seorang agen rahasia berkewarganegaraan Rusia yang kehidupannya dipenuhi dengan begitu banyak intrik dalam Red Sparrow. Diadaptasi dari buku berjudul sama karya Jason Matthews, Red Sparrow sekilas mungkin terlihat sebagai sebuah film yang mengedepankan deretan aksi menegangkan seorang karakter agen rahasia perempuan seperti halnya Salt (Phillip Noyce, 2010) atau Atomic Blonde (David Leitch, 2017). Bukan sebuah praduga yang salah. Namun, jika ingin memberikan sebuah perbandingan, Red Sparrow lebih terasa memiliki kedekatan dengan film-film bertema sama yang diadaptasi dari buku karya John le Carré seperti Tinker Tailor Soldier Spy (Tomas Alfredson, 2011), A Most Wanted Man (Anton Corbijn, 2014), atau Our Kind of Traitor (Susanna White, 2016): memiliki intrik maupun konflik beraroma politik yang kental, deretan karakter yang hadir dengan kepribadian yang misterius, serta disampaikan dengan ritme pengisahan yang seringkali terasa bergerak cukup lamban. Pretty intriguing. Continue reading Review: Red Sparrow (2018)

Review: Assassin’s Creed (2016)

Expectations are quite high with this one. Selain karena belum ada film hasil adaptasi dari permainan video yang kualitasnya benar-benar tampil memuaskan, Assassin’s Creed juga kembali mempertemukan sutradara Justin Kurzel dengan dua aktor kaliber Oscar, Michael Fassbender dan Marion Cotillard, yang sebelumnya meraih sukses lewat Macbeth (2015) – yang kini dianggap sebagai salah satu adaptasi karya William Shakespeare terbaik oleh para kritikus film dunia. So what could go wrong, right? Continue reading Review: Assassin’s Creed (2016)

Review: Never Let Me Go (2010)

Berisi begitu banyak eksplorasi terhadap struktur sosial dan politik dalam kehidupan manusia, novel Never Let Me Go karya penulis asal Inggris, Kazuo Ishiguro, yang dirilis pada tahun 2005, mendapatkan pujian luas dari banyak kritikus literatur dunia yang kemudian membuat TIME Magazine menggelari novel tersebut sebagai novel terbaik di tahun 2005 dan memasukkannya dalam daftar TIME 100 Best English-Language Novel from 1923 to 2005. Sebuah pencapaian yang tentunya akan cukup sulit untuk diterjemahkan dalam bentuk audio visual, namun usaha yang dilakukan oleh sutradara Mark Romanek (One Hour Photo, 2002) ternyata tidak begitu mengecewakan.

Continue reading Review: Never Let Me Go (2010)