Tag Archives: Bill Nighy

Review: Pokémon Detective Pikachu (2019)

Pokémon Detective Pikachu jelas bukanlah film perdana yang membasiskan kisahnya pada waralaba sukses Pokémon – yang dimulai dari sebuah permainan video dan kemudian diadaptasi menjadi film televisi, film pendek, buku, komik, album musik, serta merchandise yang secara keseluruhan menjadikan Pokémon sebagai salah satu waralaba permainan video terlaris sepanjang masa di dunia. Tercatat, tidak kurang dari 21 film animasi telah diproduksi berdasarkan waralaba permainan video ini dengan film animasi pertama, Pokémon: The First Movie arahan Kunihiko Yuyama, dirilis pada tahun 1998 dan film animasi teranyarnya, Pokémon the Movie: The Power of Us arahan Tetsuo Yajima, dirilis pada tahun 2018 lalu. Pokémon Detective Pikachu merupakan film pertama dalam barisan film yang diadaptasi dari waralaba Pokémon yang diproduksi sebagai sebuah sajian live-action serta digarap oleh rumah produksi yang berasal dari Hollywood. Diarahkan oleh Rob Letterman (Goosebumps, 2015), Pokémon Detective Pikachu akan membawa penontonnya pada sebuah petualangan baru dengan nuansa misteri yang jelas cukup berbeda jika dibandingkan dengan pengisahan yang biasa dihadirkan dalam film-film Pokémon sebelumnya.

Continue reading Review: Pokémon Detective Pikachu (2019)

Review: I, Frankenstein (2014)

I, Frankenstein (Hopscotch Features/Lakeshore Entertainment/Sidney Kimmel Entertainment, 2014)
I, Frankenstein (Hopscotch Features/Lakeshore Entertainment/Sidney Kimmel Entertainment, 2014)

Masih ingat dengan novel Frankenstein yang ditulis oleh Mary Shelley? Novel yang pertama kali dirilis pada tahun 1818 tersebut telah menjadi sumber inspirasi yang kuat bagi banyak pembuat film dunia. Beberapa diantaranya mengadaptasi Frankenstein sesuai dengan kisah yang dituliskan oleh Shelley sementara yang lain berusaha membawa karakter utama dalam jalan cerita tersebut untuk hidup dalam lingkup penceritaan yang baru – seperti I, Frankenstein. Diadaptasi dari novel grafis berjudul sama karya Kevin Grevioux (Underworld, 2003), I, Frankenstein menempatkan sang monster buatan Victor Frankenstein sebagai seorang karakter yang terjebak dalam perang antara dua kelompok yang berpotensi untuk memusnahkan manusia dari muka Bumi. Sounds good? Jika Anda mengharapkan sebuah film ringan yang begitu bergantung dengan kualitas tata visual efeknya maka film ini mungkin akan mampu memuaskan Anda. Lebih dari itu? Wellthat’s another completely different story.

Continue reading Review: I, Frankenstein (2014)

Review: About Time (2013)

about-time-header

Dengan film-film seperti Four Weddings and a Funeral (1994), Notting Hill (1999), Bridget Jones’ Diary (2001) dan Love Actually (2003) berada di dalam filmografinya sebagai film yang pernah ia tulis maupun arahkan, Richard Curtis jelas hidup untuk meluluhkan hati setiap penontonnya. Film terbarunya, About Time, kemungkinan besar juga akan memberikan pengaruh yang sama pada penontonnya. Dengan karakter-karakter yang diciptakan serta diarahkan begitu hangat oleh Curtis, About Time mampu memberikan sebuah perjalanan kisah romansa sekaligus drama keluarga yang manis dan mengharukan… meskipun hadir dalam penceritaan yang cenderung bertele-tele.

Continue reading Review: About Time (2013)

Review: Jack the Giant Slayer (2013)

jack_the_giant_slayer_header

Well… Hollywood sepertinya masih belum akan berhenti untuk melakukan interpretasi ulang dari berbagai kisah dongeng klasik dunia. Setelah Alice In Wonderland (2010), dua versi pengisahan terbaru dari Snow White, Mirror Mirror (2012) dan Snow White and the Huntsman (2012), serta Hansel & Gretel: Witch Hunters yang dirilis pada awal tahun, kini giliran dua kisah dongeng asal Inggris, Jack and the Beanstalk serta Jack the Giant Killer, yang dipadukan menjadi sebuah presentasi film berjudul Jack the Giant Slayer dengan Bryan Singer (Superman Returns, 2006) bertugas sebagai sutradaranya. Walau harus diakui bahwa Singer masih mampu memberikan momen-momen menyenangkan melalui penampilan para jajaran pemeran serta penampilan tata visualnya yang berkelas, namun jelas tidak dapat disangkal bahwa Jack the Giant Slayer tampil begitu dangkal dalam penceritaannya yang membuat banyak bagian film ini menjadi terasa sangat membosankan.

Continue reading Review: Jack the Giant Slayer (2013)

Review: The Best Exotic Marigold Hotel (2012)

the-best-exotic-marigold-hotel-header

Setelah menyutradarai Killshot (2009) dan The Debt (2011) yang bernuansa aksi secara berturut-turut, sutradara asal Inggris John Madden kembali ke ranah drama komedi lewat film terbarunya, The Best Exotic Marigold Hotel. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Ol Parker (Imagine Me & You, 2005) berdasarkan novel berjudul These Foolish Things oleh Deborah Moggach, The Best Exotic Marigold Hotel sebenarnya sama sekali tidak memiliki poin yang sangat istimewa dalam penceritaannya. Namun, dengan dukungan nama-nama aktor dan aktris senior papan atas Inggris seperti Judi Dench, Bill Nighy, Maggie Smith dan Tom Wilkinson, The Best Exotic Marigold Hotel mampu tampil begitu bersinar lewat karakter-karakternya yang begitu mudah untuk disukai dan berhasil memberikan penampilan yang emosional kepada seluruh penonton film ini.

Continue reading Review: The Best Exotic Marigold Hotel (2012)

Review: Total Recall (2012)

Di tahun 1990, Paul Verhoeven menyutradarai sebuah film science fiction berjudul Total Recall yang naskah ceritanya diadaptasi dari cerita pendek karya Philip K. Dick, We Can Remember it for You Wholesale (1966). Dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger dan Sharon Stone, Total Recall karya Verhoeven berhasil mencuri perhatian penikmat film dunia dengan naskah cerita yang mengandung humor satir yang segar, jalan cerita berbasis masa depan yang terasa aneh namun begitu menarik serta kemudian dipadukan dengan penampilan visual yang sangat meyakinkan – dan akhirnya berhasil memperoleh tiga nominasi Academy Awards dan memenangkan satu diantaranya yakni untuk kategori Best Visual Effects. An instant science fiction classic!

Continue reading Review: Total Recall (2012)

Review: Wrath of the Titans (2012)

Dengan pendapatan lebih dari US$400 juta yang diperoleh Clash of the Titans (2010) selama masa rilisnya di seluruh dunia, adalah sangat mudah untuk memahami keputusan para produser film tersebut yang kemudian ingin melanjutkan kesuksesan tersebut dengan memproduksi sebuah sekuel – walaupun dari sisi kritikal, Clash of the Titans dapat digolongkan sebagai sebuah kegagalan dan hampir dapat dengan mudah dilupakan banyak orang keberadaannya. Mengangkat mengenai mitos dewa-dewa Yunani yang sebenarnya sangat menarik, Louis Leterrier sayangnya gagal untuk memberikan sebuah sentuhan yang menarik dalam penceritaannya. Posisi Leterrier sendiri di sekuel Clash of the Titans, Wrath of the Titans, kini digantikan oleh Jonathan Liebesman (World Invasion: Battle Los Angeles, 2011). Sayangnya, Liebesman sendiri sepertinya juga tidak dapat melakukan banyak hal untuk dapat meningkatkan kualitas penceritaan franchise ini.

Continue reading Review: Wrath of the Titans (2012)

Review: Arthur Christmas (2011)

Bahkan seorang Santa Claus tidak mampu menolak fakta bahwa kemajuan teknologi dapat membantu dalam kesehariannya… termasuk dalam tugas vitalnya untuk membagikan seluruh bingkisan yang ia miliki untuk para anak-anak yang telah berkelakuan baik selama satu tahun terakhir di seluruh penjuru dunia. Setidaknya begitulah yang digambarkan oleh Arthur Christmas. Berkat anaknya yang paling tua – dan kini sedang bersiap untuk menggantikan posisinya, Steve (Hugh Laurie), pria yang saat ini sedang menjabat posisi sebagai Santa Claus (Jim Broadbent) telah mengadopsi teknologi canggih yang mampu membuatnya dan sekelompok besar pembantunya untuk menghantarkan setiap bingkisan yang ia miliki kepada setiap anak di seluruh dunia dengan tepat waktu sebelum masa perayaan Natal dimulai. Namun, seiring dengan waktu, pemanfaatan teknologi tersebut membuat masa pembagian bingkisan-bingkisan tersebut menjadi kurang berkesan… dan hanya sekedar menjadi sebuah tugas dan kewajiban belaka. Kini, bagi sang Santa Claus sendiri, Natal tak lebih dari sekedar sebuah roda bisnis yang harus ia jalani.

Continue reading Review: Arthur Christmas (2011)

Review: Wild Target (2010)

Dalam Wild Target, Bill Nighy berperan sebagai Victor Maynard, pria yang meneruskan bisnis keluarganya sebagai seorang pembunuh bayaran profesional. Dengan usia yang hampir menginjak 55 tahun, sebagai satu-satunya penerus generasi keluarganya yang hingga saat ini masih belum memiliki keluarga dan keturunan, wajar jika ibunya, Louisa (Eileen Atkins), mulai merasa khawatir dan mengira bahwa Victor adalah seorang homoseksual. Menyambut ulang tahun Victor, Louisa memberikannya sebuah buku berisi kumpulan artikel berita mengenai para korban yang telah berhasil dibunuh oleh Victor dan sebuah harapan bahwa Victor akan segera menemukan jodohnya. Louisa tentu saja tidak akan menyangka bahwa Victor akan segera menemukannya… dalam perwujudan seorang wanita yang seharusnya menjadi korban pembunuhannya.

Continue reading Review: Wild Target (2010)

Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1 (2010)

Sejujurnya, ide untuk membagi bagian akhir dari adaptasi dari kisah petualangan Harry Potter, Harry Potter and the Deathly Hallows, menjadi dua bagian adalah murni alasan komersial belaka daripada untuk menangkap seluruh esensi cerita dari novelnya. Hal ini, sayangnya, sangat terbukti dengan apa yang diberikan oleh sutradara David Yates lewat Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1. Filmnya sendiri berjalan cukup baik, namun dengan durasi sepanjang 146 menit, Yates terlalu banyak mengisi bagian pertama kisah ini dengan berbagai detil yang sebenarnya tidak diperlukan di dalam cerita, yang membuat …The Deathly Hallows – Part 1 terasa sebagai sebuah film dengan kisah yang sebenarnya singkat namun diulur sedemikian panjang untuk memenuhi kuota waktu penayangan.

Continue reading Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1 (2010)

Review: Glorious 39 (2009)

Nama Romola Garai mungkin banyak dikenal oleh publik setelah penampilannya yang menesankan sebagai Briony Talis remaja yang dipenuhi rasa bersalah di film Atonement. Aktris cantik asal Inggris berusia 27 tahun ini memang lebih banyak dikenal sering memilih film-film bertema period yang berskala kecil atau sebagai seorang aktris teater di negara asalnya.

Continue reading Review: Glorious 39 (2009)