Tag Archives: Alicia Vikander

Review: Submergence (2018)

Ada banyak hal yang terjadi dalam pengisahan film terbaru arahan Wim Wenders (Every Thing Will Be Fine, 2015), Submergence. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Erin Dignam (The Last Face, 2016) berdasarkan novel berjudul sama karangan novelis J. M. Ledgard, Submergence merupakan sebuah kisah romansa yang berpadu dengan kisah petualangan di bawah laut, situasi iklim politik dunia, terorisme, misi rahasia seorang agen rahasia, hingga  beberapa sentuhan cerita tentang perubahan suhu Bumi yang secara perlahan menjebak orang-orang yang tinggal diatasnya. Cukup gampang ditebak, dengan begitu banyaknya hal yang ingin disajikan dalam 112 menit durasi penceritaan film ini, Submergence kemudian terasa kelimpungan dalam menyalurkan berbagai ide yang dimilikinya meskipun pada beberapa bagian tetap mampu hadir dengan sentuhan-sentuhan emosional yang kerapkali turut menghanyutkan penontonnya. Continue reading Review: Submergence (2018)

Advertisements

Review: Tomb Raider (2018)

Walau pemilihan Angelina Jolie untuk memerankan karakter ikonik dari permainan video Tomb Raider, Lara Croft, menghasilkan begitu banyak keluhan dari barisan penggemar permainan video tersebut – yang menilai Jolie tidak memiliki karakteristik fisik yang sesuai untuk memerankan Lara Croft, namun penampilan Jolie yang begitu meyakinkan-lah yang kemudian menjadi satu-satunya energi kuat bagi pengisahan Lara Croft: Tomb Raider (Simon West, 2001). Dengan garapan cerita yang tidak begitu mengesankan – dan menambah panjang daftar adaptasi permainan video yang berkualitas buruk – Jolie menjadi faktor utama kesuksesan komersial film tersebut sekaligus menjadikan karakter Lara Croft menjadi begitu melekat pada dirinya. Sayang, sekuel Lara Croft: Tomb Raider, Lara Croft: Tomb Raider – The Cradle of Life (Jan de Bont, 2003), sekali lagi mendapatkan tanggapan negatif dari mayoritas kritikus film dunia dan, sialnya, kemudian gagal untuk meraih kesuksesan komersial yang setara dengan film pendahulunya. Harapan untuk menyaksikan Jolie kembali beraksi sebagai sosok Lara Croft secara perlahan menghilang dan tenggelam begitu saja. Continue reading Review: Tomb Raider (2018)

Review: Testament of Youth (2015)

testament-of-youth-posterSejujurnya, adalah cukup sulit untuk tidak memberikan perbandingan langsung antara Atonement (Joe Wright, 2007) dengan Testament of Youth. Tidak hanya karena keduanya merupakan period movie yang diadaptasi dari dua karya sastra popular, baik Atonement dan Testament of Youth juga sama-sama berkisah tentang perang yang mempengaruhi kehidupan asmara pasangan yang menjadi karakter utama kedua film. Meskipun dirilis jauh setelah perilisan Atonement, Testament of Youth sendiri merupakan sebuah film drama yang mendasarkan kisahnya pada buku berjudul sama karya Vera Brittain yang dirilis pertama kali pada tahun 1933 dan berisi tentang kisah nyata perjalanan kehidupan penulis wanita legendaris asal Inggris tersebut ketika Perang Dunia I sedang berlangsung. Sayangnya, kembali pada perbandingan terhadap Atonement, Testament of Youth gagal untuk mendapatkan perlakuan yang lebih baik. Hasilnya, meskipun hadir dengan material yang memiliki begitu banyak peluang untuk menghasilkan pengisahan yang emosional, Testament of Youth cenderung tampil datar pada kebanyakan bagian penceritaannya.

Memulai kisahnya dengan latar belakang masa pengisahan pada tahun 1914 – masa ketika para gadis remaja hanya diharapkan tumbuh dewasa untuk menjalani kehidupan sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anak mereka, Vera Brittain (Alicia Vikander) muncul sebagai sosok gadis cerdas yang memberontak pada ayah dan ibunya (Dominic West dan Emily Watson) dan meminta agar dirinya diizinkan untuk turut berkuliah di Somerville College, Oxford bersama dengan kakak lelakinya, Edward (Taron Egerton). Meski awalnya menilai hal tersebut akan menjadi suatu perbuatan yang sia-sia belaka, Vera akhirnya diperbolehkan untuk meneruskan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Di sana, Vera mengasah kemampuannya dalam menulis. Tidak hanya itu, gadis cantik tersebut juga berkenalan dengan seorang pemuda bernama Roland Leighton (Kit Harrington) dan bahkan kemudian menjalin hubungan asmara dengannya. Sayang, ketika Perang Dunia I memulai pergerakannya, hubungan asmara antara Vera dan Roland mulai menemui berbagai ujian terbesarnya.

Testament of Youth sesungguhnya bukanlah sebuah film yang buruk. Bahkan, tidak seperti Atonement yang murni berkisah sebagai sebuah drama romansa, Testament of Youth memilih untuk turut tampil tegas sebagai sebuah film yang mengisahkan mengenai usaha dan kekuatan dari seorang wanita untuk menunjukkan ketangguhan dirinya pada era dimana para wanita hanya dipandang sebelah mata dalam lingkungan tempat keberadaan mereka. Pengarahan dari James Kent yang sayangnya membuat berbagai potensi dalam penceritaan Testament of Youth terasa menguap begitu saja. Arahan Kent tampil begitu datar, tanpa pernah sekalipun mampu menggali berbagai sudut konflik yang dialami oleh karakter-karakternya secara mendalam atau bahkan membuat karakter-karakternya tampil sebagai sosok yang layak untuk diikuti jalan hidupnya. Pengarahan Kent, yang melakukan debut pengarahan film layar lebarnya melalui film ini, berjalan terlalu aman dalam mengikuti berbagai formula drama romansa yang telah berulangkali dieksplorasi oleh film-film sejenis sehingga tidak mampu membuat Testament of Youth terasa lebih istimewa kehadirannya.

Pengarahan Kent juga bukanlah satu-satunya hal yang cukup mengecewakan dalam presentasi film ini. Sebagai sebuah jalan cerita yang diadaptasi dari sebuah buku legendaris yang terus diterbitkan dan menjadi salah satu buku bacaan wajib bagi para penduduk Inggris hingga saat ini, naskah cerita buatan Juliette Towhidi juga terasa memiliki lingkup pengisahan yang terlalu terbatas. Towhidi seringkali terlihat berusaha untuk menyajikan tema-tema yang lebih luas dari sekedar kisah romansa dalam jalan ceritanya seperti rasa persahabatan yang kental, efek perang terhadap mereka yang terlibat di dalamnya hingga feminisme. Namun, di saat yang bersamaan, Towhidi gagal untuk mengeksplorasi tema-tema “berat” tersebut secara lebih mendalam sehingga berlalu begitu saja tanpa kesan yang kuat. Karakter-karakter pendukung yang berada di sekitar karakter Vera Brittain juga gagal dihadirkan dengan lebih berwarna sehingga seringkali tidak mampu memberikan kontribusi yang lebih berarti pada kualitas penceritaan secara keseluruhan.

Beruntung, Testament of Youth dianugerahi jajaran pengisi departemen akting yang mampu hadir dengan kualitas penampilan yang maksimal. Well… mungkin Anda tidak akan mendapatkan kualitas chemistry yang begitu mengikat seperti halnya pada penampilan Keira Knightley dan James McAvoy pada Atonement namun baik Alicia Vikander dan Kit Harrington mampu hadir dengan penampilan yang prima. Satu hal yang cukup mengherankan adalah ketika menyaksikan chemistry antara Vikander dan Taron Egerton yang berperan sebagai kakak lelakinya terasa lebih erat dan meyakinkan daripada chemistry yang dihasilkan Vikander bersama Harrington. Pemeran pendukung lain seperti Dominic West, Emily Watson, Miranda Richardson, Colin Morgan hingga Hayley Atwell tampil mengesankan meskipun dengan porsi penceritaan yang terbatas. Kent juga mampu menyajikan Testament of Youth dengan kualitas produksi yang berkelas yang setidaknya akan membuat film ini tampil tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan film-film period lain yang berada dalam kelasnya. [C]

Testament of Youth (2015)

Directed by James Kent Produced by Rosie Alison, David Heyman Written by Juliette Towhidi (screenplay), Vera Brittain (book, Testament of Youth) Starring Alicia Vikander, Kit Harington, Colin Morgan, Taron Egerton, Dominic West, Emily Watson, Joanna Scanlan, Hayley Atwell, Jonathan Bailey, Alexandra Roach, Anna Chancellor, Miranda Richardson, Charlotte Hope Music by Max Richter Cinematography Rob Hardy Editing by Lucia Zucchetti Studio BBC Films/Heyday Films Running time 129 minutes Country United Kingdom Language English

Review: Seventh Son (2015)

seventh-son-posterAda beberapa alasan mengapa Seventh Son telah mengalami beberapa kali penundaan rilis. Awalnya dijadwalkan rilis pada awal tahun 2013, Seventh Son kemudian sempat mengalami beberapa kali pergantian pemain utama – dengan Jennifer Lawrence, Alex Pettyfer dan Sam Claflin sempat dikabarkan memiliki peran dalam film ini. Tidak hanya dari departemen akting, komposer musik A. R. Rahman dan Tuomas Kantelinen juga kemudian memilih untuk tidak lagi terlibat dalam film arahan Sergei Bodrov ini setelah mengalami beberapa kali penundaan jadwal proses produksi. Yang teranyar, jadwal rilis Seventh Son kembali mengalami penundaan rilis hingga awal tahun 2015 akibat kepemilikan rumah produksinya, Legendary Pictures, yang berpindah dari Warner Bros. ke Universal Pictures.

Terlepas dari berbagai alasan teknikal tersebut, Seventh Son sebenarnya memiliki satu penyebab kuat mengapa film yang kembali mempertemukan Jeff Bridges dan Julianne Moore setelah The Big Lebowski (1998) tersebut lama tersimpan jauh setelah melewati masa proses produksinya: Seventh Son adalah sebuah hasil produksi yang sangat lemah. Suatu hal yang sangat mengejutkan memang mengingat film ini berhasil menarik minat beberapa talenta terbaik Hollywood untuk terlibat di dalamnya. Selain Bridges dan Moore, Seventh Son juga menghadirkan penampilan akting dari Ben Barnes, Alicia Vikander, Olivia Williams, Kit Harrington dan Djimon Hounsou. Nama-nama tersebut harus diakui menjadi aset utama dari Seventh Son dengan usaha terbaik mereka dalam memberikan penampilan akting yang memuaskan. Sayang, tak satupun dari karakter yang mereka perankan mampu dituliskan dengan baik untuk jalan cerita film ini.

Karakter antagonis utama yang diperankan oleh Moore sebenarnya memiliki peluang untuk tampil kuat dan mencuri perhatian penonton. Namun, dengan porsi penulisan karakter yang miskin, karakter Moore tampil hanya sebagai karakter yang melakukan berbagai hal familiar yang dilakukan karakter antagonis dalam film-film sejenis. Tidak lebih. Sama halnya dengan karakter yang diperankan Bridges. Kembali berperan sebagai seorang mentor bagi karakter yang diperankan Ben Barnes, Bridges terlihat malas-malasan dalam berusaha untuk menghidupkan karakternya. Hasilnya? Karakter Bridges terlihat seperti karakter serupa yang ia tampilkan dalam film R.I.P.D. (2013) – dengan kostum yang berbeda, tentu saja.

Hal yang sama juga terjadi pada pemeran lain: Olivia Williams dan Djimon Hounsou mendapatkan porsi penceritaan yang terlalu minimalis, peran Alicia Vikander terasa hanyalah sebagai karakter “kekasih” yang tidak terlalu berguna di banyak bagian film dan Kit Harrington kini mungkin merasa begitu beruntung mengingat dirinya tidak terlibat terlalu banyak dalam film ini. Sebagai pemeran sang karakter utama, Ben Barnes adalah satu-satunya aktor yang memiliki porsi penggalian cerita yang maksimal dan Barnes juga mampu memberikan penampilan yang tidak mengecewakan. Namun, tetap saja, di tengah berbagai kekacauan yang terjadi dalam film ini, penampilan Barnes terasa teredam dan gagal untuk tampil bersinar.

Dan penulisan karakter hanyalah kakurangan minor dalam kualitas naskah cerita Seventh Son yang memang terasa begitu medioker. Diadaptasi dari bagian awal seri buku cerita The Wardstone Chronicles yang berjudul The Last Apprentice: Revenge of the Witch karya Joseph Delaney oleh Charles Leavitt dan Steven Knight, naskah cerita Seventh Son sama sekali tidak memberikan sebuah petualangan baru bagi penontonnya. Terlebih lagi, kisahnya yang terasa begitu familiar bagi para penikmat genre fantasy Hollywood mendapatkan eksekusi yang begitu lemah dari sutradara Sergei Bodrov. Bodrov terasa tidak memiliki visi yang jelas mengenai apa yang ingin ia sampaikan pada film ini. Dan hal tersebut diikuti dengan kualitas tata produksi yang juga hadir seadanya – jika tidak ingin disebut benar-benar mengecewakan. 103 menit durasi film ini terasa berjalan tanpa adanya detak kehidupan sama sekali. Tidak ada aliran emosi yang mengikat penonton untuk terus merasa tertarik mengikuti kisahnya. Tidak ada ketegangan yang hadir ketika menyaksikan menit-menit petualangan dalam film ini berjalan. Datar. [D]

Seventh Son (2015)

Directed by Sergei Bodrov Produced by Basil Iwanyk, Thomas Tull,Lionel Wigram Written by Charles Leavitt, Steven Knight (screenplay), Matt Greenberg (story), Joseph Delaney (bookThe Last Apprentice: Revenge of the Witch) Starring Jeff Bridges, Ben Barnes, Alicia Vikander, Kit Harington, Olivia Williams, Antje Traue, Djimon Hounsou, Julianne Moore Music by Marco Beltrami Cinematography Newton Thomas Sigel Edited by Paul Rubell Production company Legendary Pictures/Thunder Road Film Running time 103 minutes Country United States Language English

Review: Anna Karenina (2012)

anna-karenina-header

Dikenal dengan kemampuannya dalam mengeksplorasi kisah-kisah period dan costume drama­ yang telah dibuktikannya lewat Pride and Prejudice (2005) serta Atonement (2007), mungkin tidak akan ada banyak orang yang terkejut ketika mendengar Joe Wright memutuskan untuk mengadaptasi Anna Karenina sebagai proyek film yang akan ia produksi berikutnya. Diangkat dari novel legendaris berjudul sama karya penulis asal Rusia, Leo Tolstoy, yang pertama kali dirilis pada tahun 1873, Wright bukanlah orang pertama yang membawa kisah Anna Karenina ke layar lebar. Tercatat, Anna Karenina telah diadaptasi ke dalam bentuk film layar lebar semenjak tahun 1914 dengan nama-nama aktris legendaris seperti Greta Garbo, Vivien Leigh, Jacqueline Bisset, Sophie Marceau hingga Helen McCrory pernah memerankan karakter tersebut. Lalu… apa yang ditawarkan Wright pada adaptasi Anna Karenina yang diproduksinya?

Continue reading Review: Anna Karenina (2012)