Tag Archives: Matthew Vaughn

Review: Kingsman: The Golden Circle (2017)

Can you believe there are actually five Academy Awards winnersWell yes of course that includes Sir Elton John – appear to support this sequel to 2015’s Matthew Vaughn-directed hit, Kingsman: The Secret Service? Bukan hal yang cukup mengejutkan sebenarnya. Dengan pendapatan komersial sebesar lebih dari US$414 juta dari bujet produksi yang “hanya” mencapai US$94 juta, Vaughn jelas memiliki kebebasan yang lebih besar untuk menarik nama-nama berkelas untuk mengisi departemen akting film kedua dari seri film Kingsman, Kingsman: The Golden Circle. Namun, tentu saja, penampilan akting terbaik sekalipun tidak akan cukup jika sebuah film tidak didukung oleh kualitas penulisan naskah cerita yang sama kuatnya. Hal itulah yang, sayangnya, terjadi pada Kingsman: The Golden Circle. Menampilkan penampilan apik dari nama-nama seperti Colin Firth, Julianne Moore, Jeff Bridges dan Halle Berry, Kingsman: The Golden Circle tidak mampu untuk tampil semenyenangkan film pendahulunya akibat kurangnya sentuhan maupun kejutan baru pada formula pengisahan film mata-mata yang digarap oleh Vaughn. Continue reading Review: Kingsman: The Golden Circle (2017)

Advertisements

Review: Kingsman: The Secret Service (2015)

kingsman-the-secret-service-posterDo you like spy movies?”

Nowadays they’re all a little serious for my taste.”

Yep. Dialog yang terjadi antara karakter Richmond Valentine (Samuel L. Jackson) dan Harry Hart (Colin Firth) dalam salah satu adegan Kingsman: The Secret Service dengan jelas menggambarkan apa yang ingin ditunjukkan oleh sutradara Matthew Vaughn (X-Men: First Class, 2011) dalam film mata-mata garapannya. Dan benar, lewat satir sekaligus tribut tentang film mata-mata yang disajikannya dengan deretan adegan yang dipenuhi dengan aksi sekaligus darah dalam ritme penceritaan yang cepat, Vaughn berhasil menghadirkan sebuah film mata-mata yang tidak hanya mampu tergarap dengan baik namun juga sangat, sangat menyenangkan untuk diikuti petualangannya.

Dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Vaughn dan Jane Goldman – yang sebelumnya sempat bekerjasama lewat Stardust (2007) – dari seri buku komik berjudul The Secret Service karya Mark Millar dan Dave Gibbons, Kingsman: The Secret Service memiliki seluruh elemen yang selalu hadir dalam seri film James Bond: seorang agen rahasia yang berpenampilan stylish, tempat persembunyian yang berada di lokasi yang sama sekali tidak terduga, perangkat senjata yang canggih dan sangat mematikan hingga karakter antagonis maniak yang berniat untuk menguasai dunia. Namun, tidak seperti halnya seri James Bond, Vaughn menghadirkannya dalam nada penceritaan layaknya Kick-Ass (2010) yang muda, penuh gairah, humor kelam yang menghibur, ritme penceritaan yang berjalan dengan cepat plus dipenuhi dengan genangan darah dan potongan tubuh manusia.

Juga berbeda dengan kebanyakan film yang berkisah tentang para mata-mata, Vaughn dan Goldman mampu mengemas setiap karakter dalam Kingsman: The Secret Service dengan begitu baik. Setiap karakter, termasuk karakter-karakter pendukung, dihadirkan secara humanis, memiliki perasaan dan motivasi yang akan membuat para penonton dengan mudah terhubung dengan mereka. Di sisi lain, fokus yang diberikan pada beberapa karakter pendukung dengan latar penceritaan yang kurang menarik justru menghambat ritme penceritaan film di beberapa bagian. Walau sama sekali tidak mengurangi kesolidan kualitas penceritaan secara keseluruhan, namun harus diakui bahwa banyaknya karakter pendukung dalam jalan cerita membuang cukup banyak durasi penceritaan. Dari sisi teknikal, Vaughn menghadirkan Kingsman: The Secret Service dalam kualitas yang berkelas. Setiap adegan aksi dalam film mampu tergarap dengan tata koreografi aksi yang kuat dan akan mampu menarik penuh perhatian para penonton.

Tentu saja, dengan deretan karakter yang telah tergambarkan dengan baik, Vaughn juga berhasil menghadirkan deretan pengisi departemen akting yang mampu menghidupkan setiap karakter yang mereka perankan dengan meyakinkan. Berada di barisan terdepan adalah duo Colin Firth dan aktor muda Taron Egerton. Berperan sebagai seorang agen rahasia senior yang mampu melakukan apa saja demi menyelesaikan misi yang telah ditugaskan padanya – termasuk deretan adegan aksi yang jelas jauh dari imej Firth sebagai seorang aktor selama ini – Firth tampak begitu nyaman dalam perannya. Pesona Firth sebagai seorang aktor memang tampil memukau dan Vaughn mampu memanfaatkan pesona tersebut untuk menjadikan karakter Harry Hart yang diperankan Firth menjadi karakter yang begitu mudah disukai (sekaligus sangat mematikan).

Meskipun tergolong wajah baru, Taron Egerton mampu hadir dengan kapabilitas akting yang dapat hadir setimpal dengan penampilan Firth. Adalah dapat diprediksi dengan mudah, dengan penampilan fisiknya yang tampan serta kemampuan aktingnya yang cukup berkualitas, Egerton adalah wajah baru yang akan segera diincar oleh banyak produser film Hollywood. Samuel L. Jackson tampil kuat sebagai karakter antagonis utama namun pemeran karakter asistennya-lah, Sofia Boutella, yang berhasil mencuri perhatian sebagai sosok wanita yang sangat mematikan. Penampilan lain dalam departemen akting Kingsman: The Secret Service juga hadir dari paduan nama-nama populer dan segar di dunia perfilman seperti Mark Strong, Michael Caine, Mark Hamill, Sophie Cookson hingga Jack Davenport. [B-]

Kingsman: The Secret Service (2015)

Directed by Matthew Vaughn Produced by Adam Bohling, David Reid, Matthew Vaughn Written by Mathew Vaughn, Jane Goldman (screenplay), Mark Millar, Dave Gibbons (comic book, The Secret Service) Starring Colin Firth, Taron Egerton, Samuel L. Jackson, Mark Strong, Michael Caine, Sophie Cookson, Sofia Boutella, Mark Hamill, Jack Davenport, Samantha Womack, Geoff Bell, Edward Holcroft, Nicholas Banks, Jack Cutmore-Scott, Tom Prior, Fiona Hampton, Hanna Alström, Bjørn Floberg, Richard Brake, Alex Nikolov Music by Henry Jackman, Matthew Margeson Cinematography George Richmond Edited by Eddie Hamilton, Jon Harris, Conrad Buff IV Production company Marv Films Running time 129 minutes Country United Kingdom, United States Language English

Review: X-Men: First Class (2011)

Setelah seri ketiga dari franchise X-Men, X-Men: The Last Stand (2006), yang diarahkan oleh Brett Ratner mendapatkan banyak kritikan tajam dari para kritikus film dunia – hal yang kemudian dialami juga oleh spin-off prekuel dari franchise tersebut, X-Men Origins: Wolverine (2009) arahan Gavin Hood – Marvel Studios dan 20th Century Fox sebagai pihak produser kemudian memutuskan untuk memberikan sebuah prekuel penuh bagi franchise X-Men yang kini telah berusia sebelas tahun itu. Dalam X-Men: First Class, penonton dibawa jauh kembali menuju masa – masa ketika Professor X masih belum mengalami kebotakan dan lebih dikenal dengan nama Dr Charles Xavier, Magneto – juga masih lebih dikenal dengan nama Erik Lensherr – belum menemukan dan menggunakan topi baja anehnya serta keduanya masih menjalami masa-masa indah persahabatan mereka.

Continue reading Review: X-Men: First Class (2011)

Review: Kick-Ass (2010)

How come nobody’s ever tried to be a superhero? Begitulah pemikiran yang berada di kepala Dave Lizewski (Aaron Johnson) sebelum ia akhirnya memilih untuk mengenakan sebuah kostum dan merubah dirinya menjadi seorang pahlawan super dengan nama Kick-Ass, walaupun ia sebenarnya tidak memiliki kekuatan apa-apa. Seorang penggemar komik sejati, Dave merasa penasaran mengapa dari sekian banyak penggemar kisah-kisah bertema pahlawan super di dunia, tidak ada satupun yang ingin mencoba menjadi salah satu diantara pahlawan super tersebut dan melakukan perbuatan terpuji dengan membantu umat manusia.

Continue reading Review: Kick-Ass (2010)