Tag Archives: Chris Cooper

Review: Cars 3 (2017)

Do we need another Cars movie? No, really. Do we need another one? Walaupun dilahirkan dari keluarga besar Pixar Animated Studios, seri film Cars (2006 – 2011) seringkali dipandang sebagai produk terlemah (kurang difavoritkan?) dalam barisan film-film yang dihasilkan oleh rumah produksi film animasi milik Walt Disney Pictures tersebut. Meskipun begitu, tidak dapat disangkal, dua film Cars – serta dua film sempalannya, Planes (Klay Hall, 2013) dan Planes: Fires and Rescue (Roberts Gannaway, 2014) – berhasil memberikan kesuksesan komersial yang cukup besar. Tercatat, dari empat film yang berada dalam seri film Cars dan dibuat dengan total biaya produksi “hanya” sebesar US$420 juta, Pixar Animated Studios dan Walt Disney Pictures berhasil meraup raihan komersial sebesar lebih dari US$1,3 milyar dari perilisannya di seluruh dunia – dan pendapatan tersebut masih belum termasuk dari penjualan merchandise dari seri film ini yang dilaporkan bahkan telah mencapai lebih dari US$10 milyar. So do we need another Cars movie? Bagaimanapun pendapat Anda, Pixar Animated Studios dan Walt Disney Pictures adalah sebuah usaha bisnis yang jelas tidak akan melepaskan sebuah kesempatan untuk mendapatkan keuntungan begitu saja. Continue reading Review: Cars 3 (2017)

Advertisements

Review: Live by Night (2016)

Menjadi film pertama arahan Ben Affleck setelah filmnya, Argo (2012), memenangkan Best Picture di ajang The 85th Annual Academy Awards sekaligus menjadi film kedua Affleck yang merupakan adaptasi dari novel milik Dennis Lehane setelah Gone Baby Gone (2007), Live by Night mengisahkan perjalanan hidup dari seorang pria bernama Joe Coughlin (Affleck) yang merupakan putra dari seorang kapten di Kepolisian Boston, Thomas Coughlin (Brendan Gleeson). Namun, berbeda dari sang ayah, Joe menjalani sebuah kehidupan yang jauh berbeda. Setelah kekasihnya, Emma (Sienna Miller), diculik dan dibunuh oleh seorang gangster bernama Albert White (Robert Glenister), Joe kemudian berusaha membalaskan dendamnya dengan bergabung bersama kelompok mafia Italia pimpinan Maso Pescatore (Remo Girone) yang menjadi rival Albert White. Bersama dengan kelompok tersebut, karir Joe sebagai sosok penjahat yang disegani mulai meningkat dan bahkan mulai mampu menyaingi berbagai usaha yang dimiliki Albert White. Namun, ketika Joe dan rekan bisnisnya, Dion Bartolo (Chris Messina), gagal untuk menjalankan sebuah tugas dari Maso Pescatore, usaha sekaligus kehidupan keduanya mulai mendapatkan ancaman. Continue reading Review: Live by Night (2016)

Review: The Company You Keep (2012)

the-company-you-keep-header

Perbincangan mengenai dunia politik sepertinya tidak akan dapat dijauhkan dari setiap film yang diarahkan oleh Robert Redford. Setelah sebelumnya merilis Lion for Lambs (2007) dan The Conspirator (2010), kini Redford menghadirkan The Company You Keep, sebuah thriller politik dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Lem Dobbs (Haywire, 2011) dari novel berjudul sama karya Neil Gordon. Menyinggung masalah politik, terorisme hingga perkembangan dunia jurnalisme modern, The Company You Keep jelas memiliki momen-momen dimana film ini mampu tampil sangat meyakinkan dalam ceritanya, khususnya berkat dukungan jajaran pengisi departemen akting yang mampu menghidupkan setiap karakter dengan baik. Namun sayangnya, seperti yang juga dapat dirasakan pada dua film Redford sebelumnya, The Company You Keep secara perlahan kehilangan intensitas penceritaannya justru di saat-saat film ini membutuhkan kapasitas penceritaan yang lebih kuat – hal yang membuat The Company You Keep kemudian berakhir dengan datar dan terkesan begitu… pointless.

Continue reading Review: The Company You Keep (2012)

Review: The Muppets (2011)

Disiarkan pertama kali sebagai sebuah serial televisi pada tahun 1976, The Muppet Show kemudian tumbuh menjadi sebuah acara keluarga yang mendapatkan begitu banyak penggemar berkat penulisan jalan cerita bernuansa komedi yang dinilai benar-benar cerdas sekaligus menghibur – dan ditambah dengan konsistensi untuk menghadirkan para bintang Hollywood ternama sebagai bintang tamu di setiap episodenya. Acara serial komedi musikal tersebut kemudian tumbuh dan berkembang menjadi salah satu franchise yang paling dikenal di dunia dan terus mampu mempertahankan kepopulerannya dengan perilisan film, serial televisi maupun album musik yang memanfaatkan nama The Muppets hingga saat ini. Setelah terakhir kali merilis Muppet from Space di tahun 1999, The Muppets hadir lagi untuk memuaskan kerinduan para penggemarnya dengan merilis sebuah film layar lebar yang diberi judul cukup sederhana, The Muppets.

Continue reading Review: The Muppets (2011)

Review: Breach (2007)

Well… memang cukup menyedihkan ketika memasuki bulan keempat pada tahun 2011 dan seluruh layar bioskop Indonesia masih diisi dengan film-film yang telah berusia lima tahun atau lebih. Krisis yang dialami industri perfilman nasional memang masih belum menunjukkan tanda akan berakhir, namun jika para importir film asing nasional kemudian mengalihkan pilihan mereka untuk memasukkan film-film independen cerdas asal Amerika Serikat ke layar bioskop Indonesia dalam mengisi masa jeda kekosongan film rilisan terbaru buatan Hollywood, seharusnya para penikmat film sejati tidak akan merasa terlalu berkecil hati karenanya.

Continue reading Review: Breach (2007)

Review: The Company Men (2010)

Setelah berkarir di dunia televisi sebagai seorang produser mulai dari tahun 1987 dan menghasilkan serial-serial berkelas seperti The West Wing (1999-2006) dan ER (1994-2009), tahun 2010 menjadi tahun yang cukup bersejarah bagi John Wells ketika ia akhirnya memutuskan untuk melakukan debut penyutradaraannya lewat The Company Men. Seperti Up in the Air (2009) yang membahas mengenai efek krisis ekonomi Amerika Serikat terhadap para pekerja di negara tersebut, The Company Men juga melakukan observasi yang sama terhadap tema tersebut. Namun, The Company Men melakukan observasi tersebut secara lebih mendalam dan menarik kisahnya langsung dari sisi para pekerja yang mengalami pemecatan tersebut.

Continue reading Review: The Company Men (2010)

Review: The Town (2010)

Setelah melakukan debut penyutradaraannya lewat Gone Baby Gone (2007), yang berhasil membuat dunia melirik Ben Affleck sebagai seorang sutradara baru yang potensial serta mengembalikan citra baik dirinya, aktor berusia 38 tahun tersebut kembali ke kursi penyutradaraan, sekaligus bertindak sebagai seorang penulis naskah, lewat The Town, sebuah thriller yang diadaptasi dari novel Chuck Hogan berjudul Prince of Thieves. Kembali mengandalkan kota Boston sebagai latar belakang lokasi ceritanya, The Town berhasil kembali membuktikan bahwa kesuksesan Affleck sebagai seorang sutradara Gone Baby Gone bukanlah sebuah kebetulan belaka.

Continue reading Review: The Town (2010)

Review: Remember Me (2010)

Walaupun tidak benar-benar memulai karirnya dari awal dengan membintangi franchise The Twilight Saga, namun tidak akan ada yang menyangkal bahwa nama aktor asal Inggris, Robert Pattinson, yang sebelumnya juga turut serta membintangi Harry Potter and the Goblet of Fire, benar-benar menjadi sebuah nama yang dikenal publik dunia semenjak ia memerankan karakter Edward Cullen di franchise tersebut. Sebegitu melekatnya Pattinson pada peran tersebut hingga sepertinya tidak mungkin untuk tidak menyebutkan nama karakter vampir tersebut ketika menyebutkan nama Pattinson.

Continue reading Review: Remember Me (2010)

Review: Married Life (2008)

Tidak akan ada yang menyangkal bahwa pernikahan adalah suatu hal yang mudah. Mempertahankan pernikahan tersebut, dan tetap mencintai pasangan Anda setelah beberapa tahun lamanya, mungkin adalah bagian tersulit dari pernikahan itu sendiri. Itu yang coba dipaparkan oleh sutradara Ira Sachs lewat film yang diadaptasi dari novel berjudul Five Roundabouts to Heaven karya John Bingham ini, Married Life.

Continue reading Review: Married Life (2008)

Review: Where the Wild Things Are (2009)

Where the Wild Things Are adalah sebuah film fantasi yang diadaptasi oleh sutradara Spike Jonze dari sebuah buku anak-anak populer berjudul sama karya Maurice Sendak yang dirilis pada tahun 1963. Walt Disney Pictures sendiri pernah membeli hak pembuatan versi film dari buku ini pada awal 80-an untuk diadaptasi menjadi sebuah film animasi yang akan menggabungkan karakter yang digambarkan secara animasi tradisional dan digabung dengan setting yang dibuat oleh komputer.

Continue reading Review: Where the Wild Things Are (2009)

Review: New York, I Love You (2009)

Dari produser film Paris, Je T’aime, New York,  I Love You adalah sebuah film yang mengumpulkan 11 film pendek karya 10 sutradara film dunia, dimana masing-masing segmen film berdurasi sepanjang 10 menit. Berbeda dengan Paris, Je T’aime, dimana setiap cerita tidak memiliki hubungan antar satu dengan yang lainnya, di film ini beberapa karakter di satu cerita terhubung dengan karakter yang berada di cerita lainnya.

Continue reading Review: New York, I Love You (2009)