Tag Archives: Susan Sarandon

Review: A Bad Moms Christmas (2017)

Tidak berada jauh dari masa perilisan (dan kualitas pengisahan) Daddy’s Home Two (Sean Anders, 2017), duo sutradara, Jon Lucas dan Scott Moore, menghadirkan sekuel bagi film komedi dewasa mereka, Bad Moms, yang berjudul A Bad Moms Christmas. Seperti halnya Daddy’s Home (Anders, 2015), Bad Moms berhasil memberikan kejutan pada Hollywood ketika film komedi yang dibintangi trio Mila Kunis, Kristen Bell, dan Kathryn Hahn tersebut mampu meraih kesuksesan komersial luar biasa dengan raihan pendapatan sebesar lebih dari US$183 juta dari biaya produksi sebesar US$20 juta. Percaya atau tidak, A Bad Moms Christmas bahkan memiliki alur penceritaan yang hampir serupa dengan Daddy’s Home Two dengan Cheryl Hines, Christine Baranski, dan Susan Sarandon memerankan karakter ibu bagi ketiga karakter utama. Sial, juga seperti Daddy’s Home Two, A Bad Moms Christmas tampil inferior jika dibandingkan dengan film pendahulunya – meskipun masih memiliki beberapa momen menyenangkan maupun menyentuh yang tergarap dengan cukup baik. Continue reading Review: A Bad Moms Christmas (2017)

Advertisements

Review: The Big Wedding (2013)

the-big-wedding-header

Apa yang akan terjadi jika Anda menempatkan nama-nama bintang besar Hollywood seperti Robert De Niro, Diane Keaton, Susan Sarandon, Topher Grace, Ben Barnes, Katherine Heighl dan Amanda Seyfried bersama untuk membintangi sebuah film drama komedi romantis? Well… dengan materi dan pengarahan sutradara yang kuat, jajaran pengisi departemen akting tersebut jelas akan mampu memberikan penampilan yang sangat memuaskan. Sayangnya, The Big Wedding, sama sekali tidak memiliki dua keunggulan tersebut. Naskah cerita arahan sutradara Justin Zackham (Going Greek, 2001) tampil begitu datar dalam bercerita dan sama sekali gagal dalam menonjolkan sisi komedi maupun romansa dari film ini. Bukan sebuah presentasi yang cukup mampu untuk memberikan hiburan pada penontonnya. Continue reading Review: The Big Wedding (2013)

Review: Snitch (2013)

snitch-header

How far would you go to save your son/daughter/wife/loved ones? Akrab dengan tagline maupun premis cerita tersebut? Well… Film drama aksi berjudul Snitch yang menjadi debut penyutradaraan bagi Ric Roman Waugh – yang sebelumnya berprofesi sebagai seorang pemeran pengganti untuk film-film seperti Total Recall (1990), The Crow (1994) hingga Gone in Sixty Seconds (2000) – ini juga menawarkan sebuah alur cerita yang hampir serupa. Namun, naskah cerita Snitch – yang juga ditulis oleh Waugh bersama Justin Haythe (Revolutionary Road, 2008) – tidak hanya sekedar menghadirkan kisah petualangan sesosok karakter dalam menghadapi berbagai rintangan fisik yang harus ditempuhnya sebelum berhasil menyelamatkan karakter yang mereka sayangi. Dalam banyak bagiannya, Snitch mampu menghadirkan penggalian yang lebih mendalam kepada setiap karakter yang hadir di dalam jalan cerita dan sekaligus membuat film ini dapat hadir dalam  kapasitas drama yang lebih kuat.

Continue reading Review: Snitch (2013)

Review: The Company You Keep (2012)

the-company-you-keep-header

Perbincangan mengenai dunia politik sepertinya tidak akan dapat dijauhkan dari setiap film yang diarahkan oleh Robert Redford. Setelah sebelumnya merilis Lion for Lambs (2007) dan The Conspirator (2010), kini Redford menghadirkan The Company You Keep, sebuah thriller politik dengan naskah cerita yang diadaptasi oleh Lem Dobbs (Haywire, 2011) dari novel berjudul sama karya Neil Gordon. Menyinggung masalah politik, terorisme hingga perkembangan dunia jurnalisme modern, The Company You Keep jelas memiliki momen-momen dimana film ini mampu tampil sangat meyakinkan dalam ceritanya, khususnya berkat dukungan jajaran pengisi departemen akting yang mampu menghidupkan setiap karakter dengan baik. Namun sayangnya, seperti yang juga dapat dirasakan pada dua film Redford sebelumnya, The Company You Keep secara perlahan kehilangan intensitas penceritaannya justru di saat-saat film ini membutuhkan kapasitas penceritaan yang lebih kuat – hal yang membuat The Company You Keep kemudian berakhir dengan datar dan terkesan begitu… pointless.

Continue reading Review: The Company You Keep (2012)

Review: Cloud Atlas (2012)

cloud-atlas-header

Diangkat dari novel berjudul sama karya David Mitchell, Cloud Atlas mengisahkan enam cerita yang berjalan pada enam era yang berbeda – tepatnya terjadi sepanjang hampir 500 tahun masa kehidupan karakter-karakternya, dimulai dari tahun 1849 hingga tahun 2321. Terdengar seperti premis film-film yang menawarkan banyak cerita kebanyakan? Mungkin saja. Namun oleh tiga sutradaranya, duo Lana dan Andy Wachowski (trilogi The Matrix, 1999 – 2003) serta Tom Tykwer (The International, 2009), premis tersebut mampu dikembangkan menjadi salah satu presentasi film paling ambisius selama beberapa tahun terakhir: digerakkan dengan gaya penceritaan interwoven, diperankan oleh deretan pengisi departemen akting yang sama serta dihadirkan dengan kualitas tata produksi yang begitu memukau. Dan yang lebih mengagumkan lagi, terlepas dari berbagai tampilan audio visualnya yang megah, Cloud Atlas tetap mampu menghadirkan sentuhan emosional yang kuat dari setiap sisi ceritanya.

Continue reading Review: Cloud Atlas (2012)

Review: The Greatest (2009)

Bennett Brewer (Aaron Johnson) telah menyukai teman satu sekolahnya, Rose (Carey Mulligan), semenjak pertama kali ia menginjakkan kakinya di sekolah tersebut. Bennett, sayangnya, tidak memiliki cukup keberanian untuk menyapa Rose secara langsung, yang membuatnya menghabiskan masa empat tahun sekolahnya untuk menjadi pengagum rahasia Rose – yang ternyata juga telah lama menyukai Bennett. Di hari terakhir sekolahnya, Bennett akhirnya memberanikan diri untuk menyapa Rose. Berdua mereka akhirnya menghabiskan satu hari bersama, bersenang-senang, bercinta dan mencoba untuk mengetahui satu sama lain lebih dalam. Namun, hari yang indah tersebut berakhir tragis setelah sebuah kecelakaan yang dialami mereka kemudian merenggut nyawa Bennett untuk selama-lamanya.

Continue reading Review: The Greatest (2009)

Review: Solitary Man (2010)

Kapan terakhir kali Anda menyaksikan performa Michael Douglas dalam sebuah film yang banyak diakui keunggulannya oleh para kritikus film dunia? Memerlukan waktu satu dekade ke belakang untuk menemukan film tersebut, yakni ketika Douglas berperan sebagai Professor Grady Tripp di film Wonder Boys (2000) di bawah arahan sutradara Curtis Hanson. Setelahnya, resume Douglas kebanyakan diisi oleh film-film yang kebanyakan malah mengubur imej dirinya sebagai seorang aktor watak yang masih dapat diperhitungkan.

Continue reading Review: Solitary Man (2010)

Review: Peacock (2010)

Peacock adalah sebuah film thriller yang disutradarai oleh Michael Lander. Film yang dibintangi oleh Cillian Murphy, Ellen Page dan Susan Sarandon ini pada awalnya akan dirilis pada akhir 2009 lalu oleh Mandate Pictures. Entah kenapa, perilisan film ini akhirnya mengalami beberapa kali penundaan. Peacock akhirnya malah kemudian langsung dirilis dalam format DVD pada akhir April 2010.

Continue reading Review: Peacock (2010)

Review: The Lovely Bones (2009)

Entah mengapa, film The Lovely Bones mengingatkan saya pada Heavenly Creatures, film asal Selandia Baru yang disutradarai oleh Peter Jackson dan menjadi debut akting bagi aktris favorit saya, Kate Winslet, yang ketika itu masih berusia 16 tahun. Mungkin karena selain tema yang sedikit mirip, The Lovely Bones juga menampilkan penampilan apik dari Saoirse Ronan, aktris muda yang melejit lewat film drama period, Atonement. Continue reading Review: The Lovely Bones (2009)