Review: Little Women (2019)


Jelas merupakan salah satu novel terpopular sepanjang masa di Amerika Serikat – bahkan dunia, Little Women (1868) yang ditulis oleh Louisa May Alcott telah diadaptasi ke berbagai media, mulai dari film, film televisi, serial televisi, drama panggung, hingga drama radio. Hollywood sendiri, semenjak tahun 1917, tercatat telah menghasilkan tujuh film yang alur kisahnya diadaptasi dari Little Women dengan nama-nama aktris besar seperti Katharine Hepburn, Elizabeth Taylor, Janet Leigh, Winona Ryder, Kirsten Dunst, Claire Danes, dan Susan Sarandon pernah turut terlibat didalamnya. Adaptasi terbaru dari Little Women hadir dalam arahan Greta Gerwig (Lady Bird, 2017) berdasarkan naskah cerita yang juga ditulisnya sendiri. Berbeda dengan kebanyakan film adaptasi Little Women sebelumnya yang memberikan fokus pengisahan yang besar bagi sosok Jo March, Gerwig membuka ruang pengisahan yang lebih luas bagi karakter kakak beradik March lainnya meskipun tetap menjadikan karakter Jo March menjadi sosok sentral bagi pengisahan film. Pilihan berani nan cerdas yang ternyata berhasil menjadikan pengisahan Little Women tampil lebih hidup.

Alur pengisahan Little Women persembahan Gerwig sendiri masih setia dengan alur kisah yang telah begitu familiar bagi banyak orang. Berlatar belakang pada tahun 1861, Meg March (Emma Watson), Jo March (Saoirse Ronan), Amy March (Florence Pugh), dan Beth March (Eliza Scanlen) adalah empat bersaudara yang kini tinggal dan hidup bersama ibu mereka (Laura Dern) setelah ayah mereka (Bob Odenkirk) harus pergi dan turut serta dalam Perang Saudara yang berkecamuk di berbagai wilayah Amerika Serikat. Meg, Jo, Amy, dan Beth tumbuh menjadi empat sosok gadis dengan kepribadian yang berbeda antara satu dengan yang lain. Jo, khususnya, tampil sebagai sosok perempuan dengan pemikiran yang seringkali berbeda dan bertentangan dengan tatanan pemikiran kaum perempuan yang hidup di masanya. Pemikiran-pemikiran Jo yang begitu berbeda itulah yang juga menjadi rintangan bagi sahabatnya, Laurie (Timothée Chalamet), untuk menyatakan perasaan cintanya pada Jo March.

Berbeda dengan novel maupun film-film adaptasi sebelumnya yang memiliki linimasa pengisahan linear, Gerwig lebih memilih untuk menggunakan alur cerita bernada kilas balik bagi adaptasi Little Women-nya. Memulai kisahnya dengan karakter Jo March yang telah dan tengah berjuang menjadi seorang penulis di kota New York, Little Women kemudian bergerak ke masa lalu karakter Jo March dan lantas bercerita tentang kehidupannya bersama dengan seluruh anggota keluarganya. Kemampuan bercerita Gerwig yang cerdas lantas membuat teknik tersebut begitu efektif dalam mengikat perhatian penonton untuk terus memperhatikan sosok Jo March dan, di saat yang bersamaan, juga membuka ruang cerita yang lebih lebar bagi karakter-karakter lain yang berada di sekitarnya. Tidak hanya menjadi lebih berwarna, garapan cerita Gerwig juga mampu menjadi lebih hidup dengan tema-tema feminis seperti peran kaum perempuan dalam kehidupan, pekerjaan, maupun hubungan romansa tetap terasa relevan untuk kehidupan modern saat ini.

Keputusan Gerwig untuk memberikan penggalian kisah yang lebih mendalam pada karakter-karakter pendukung dalam alur kisah Little Women juga menjadikan film ini tampil begitu hangat. Jika hubungan persaudaraan yang terjalin antara karakter Jo March dengan Meg March, Amy March, dan Beth March dahulu sering hanya tergambar secara terbatas melalui jalan cerita, hubungan persaudaraan tersebut kini lebih mampu tampil menonjol dengan sentuhan emosional yang lebih mendalam. Konflik yang terbentuk serta dialog-dialog yang terjalin antara karakter kakak beradik tersebut disajikan secara lugas guna menggambarkan betapa eratnya hubungan mereka. Karakter Amy March, khususnya, bahkan mendapatkan galian kisah yang begitu luas sehingga menjadikannya terlihat sebagai sosok protagonis kedua mendampingi sosok Jo March dalam linimasa penceritaan Little Women. Kehandalan Gerwig juga tidak terpaku pada kemampuannya dalam mengelola jalan cerita film. Arahan yang dia berikan juga membuat Little Women berhasil bertutur dengan sempurna. Tiap karakter mendapatkan porsi pengisahan yang apik, tiap konflik mendapatkan galian cerita yang memuaskan, serta ritme pengisahan berhasil dikendalikan dengan baik.

Dengan jalan cerita yang kini lebih berfokus pada sosok-sosok karakternya, Gerwig juga sukses memilih barisan pemeran yang dapat menghidupkan karakter-karakter dalam linimasa ceritanya. Ronan, Pugh, Watson, Scanlen, dan Dern berhasil menghadirkan sebuah satuan keluarga dengan chemistry yang terasa begitu dekat dan hangat. Kesolidan kelima pemeran anggota keluarga March tersebut bahkan dapat disejajarkan dengan penampilan para pemeran Pride & Prejudice (Joe Wright, 2005) dalam menghidupkan karakter-karakter dalam keluarga Bennett. Ronan sendiri, seperti biasa, tampil dengan elegan guna menghidupkan sosok Jo March. Namun, sulit untuk tidak terpesona pada penampilan Pugh yang begitu mencuri perhatian dalam setiap kehadirannya. Sebagai sosok karakter yang banyak bicara, karakter Amy March memang diberkahi barisan dialog yang lebih berwarna dibandingkan dengan karakter-karakter lain. Pugh mampu mengeksekusi dan menghantarkan dialog-dialog tersebut secara meyakinkan. Departemen akting Little Women juga semakin solid dengan dukungan akting seluruh pemerannya, mulai dari Chalamet, Odenkirk, Tracy Letts, James Norton, Chris Cooper, Louis Garrell, hingga Meryl Streep.

Little Women garapan Gerwig mungkin tidak akan menjadi kali terakhir Hollywood mencoba untuk mengadaptasi novel karangan Alcott. Meskipun begitu, dengan berbagai capaian berkelas dan berkualitas tinggi yang berhasil diraih Gerwig, Little Women versi teranyar ini jelas menjadi adaptasi Little Women terbaik yang, tentu saja, akan menjadi film pembanding bagi film-film adaptasi Little Women di masa yang akan datang.

popcornpopcornpopcornpopcornpopcorn3

little-woman-emma-stone-saoirse-ronan-florence-pugh-eliza-scanlen-movie-posterLittle Women (2019)

Directed by Greta Gerwig Produced by Amy Pascal, Denise Di Novi, Robin Swicord Written by Greta Gerwig (screenplay), Louisa May Alcott (novel, Little Women) Starring Saoirse Ronan, Emma Watson, Florence Pugh, Eliza Scanlen, Laura Dern, Timothée Chalamet, Meryl Streep, Tracy Letts, Bob Odenkirk, James Norton, Louis Garrel, Chris Cooper, Jayne Houdyshell, Rafael Silva, Dash Barber, Hadley Robinson, Abby Quinn, Maryann Plunkett Music by Alexandre Desplat Cinematography Yorick Le Saux Edited by Nick Houy Production company Columbia Pictures/Regency Enterprises/Pascal Pictures Running time 135 minutes Country United States Language English

One thought on “Review: Little Women (2019)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s