Review: Married Life (2008)


Tidak akan ada yang menyangkal bahwa pernikahan adalah suatu hal yang mudah. Mempertahankan pernikahan tersebut, dan tetap mencintai pasangan Anda setelah beberapa tahun lamanya, mungkin adalah bagian tersulit dari pernikahan itu sendiri. Itu yang coba dipaparkan oleh sutradara Ira Sachs lewat film yang diadaptasi dari novel berjudul Five Roundabouts to Heaven karya John Bingham ini, Married Life.

Berlatar belakang cerita di tahun ’50-an, Married Life menceritakan hubungan pasangan Pat (Patricia Clarkson) dan Harry Allen (Chris Cooper), yang telah lama menikah namun tidak memiliki anak. Rasa hambar mulai membayangi kehidupan percintaan pasangan ini, yang menyebabkan Harry akhirnya mulai melabuhkan cintanya pada wanita lain yang jauh lebih muda dari dirinya, Kay Nesbitt (Rachel McAdams).

Hanya ada satu orang yang tahu mengenai perselingkuhan Harry, yakni sahabatnya, Richard Langley (Pierce Brosnan). Berbeda dengan Harry, Richard adalah seorang pria yang lebih santai dan menganggap cinta adalah suatu hal yang terlalu mengada-ada. Namun, semua akan berubah ketika Harry mengenalkan Kay padanya. Semenjak pertama kali berjumpa, Richard langsung jatuh hati pada Kay.

Fatalnya, karena telah percaya dengan sahabatnya, Harry malah menyuruh Richard untuk beberapa kali mengunjungi Kay dengan alasan untuk menemani Kay yang sering sendirian di rumahnya. Richard pun secara perlahan mulai mendekati Kay. Sementara itu, Harry yang telah merasa sangat jatuh cinta pada Kay dipusingkan dengan bagaimana cara untuk berpisah dengan sang istri. Ia merasa bahwa Pat terlalu cinta kepada dirinya dan dengan menceraikannya akan membuat hidup Pat menderita. Harry akhirnya menyusun rencana untuk membunuh Pat yakni dengan mengganti obat Pat dengan racun yang telah ia beli.

Satu hal yang paling akrab dari film-film berlatar belakang waktu di tahun ’50-an yang sering digambarkan oleh Hollywood adalah bagaimana orang-orang di saat tersebut berusaha keras untuk menutupi segala macam permasalahannya untuk menghindari berakhirnya sebuah perceraian (Revolutionary Road yang disutradarai oleh Sam Mendes serta Far From Heaven yang disutradarai Todd Haynes juga membawakan tema yang sama). Bagian inilah yang seringkali menjadi bagian utama yang paling dapat dinikmati dari film-film sejenis. Melihat bagaimana para karakter berusaha memainkan drama di dalam kehidupan pernikahannya.

Sutradara Ira Sachs juga melakukan metode yang sama terhadap Married Life, namun ia melakukannya dengan ritme yang cenderung lebih lamban dari dua film lain yang dicontohkan diatas. Ini mungkin akan menjadi sedikit hambatan bagi mereka yang tidak terbiasa dengan drama penuh dialog dan nada penceritaan yang lamban. Tidak seperti Revolutionary Road atau Far From Heaven, Married Life tidak pula menyediakan tata sinematografi yang cukup memukau untuk diberikan kredit lebih. Film ini murni mempertahankan kualitasnya dari sisi cerita dan akting para jajaran pemerannya.

Untungnya, dua sisi tersebut dapat tertutupi dengan baik. Naskah cerita Married Life memang bukan hal baru bagi perfilman Hollywood. Namun dengan cara penceritaan yang dibawakan oleh Sachs, cerita tersebut menjadi lebih segar dari biasanya. Beberapa twist yang diberikan diujung durasi penceritaan juga cukup memberikan poin tersendiri bagi naskah cerita film ini.

Karakter pasangan Harry dan Pat Allen dimainkan dengan sangat sempurna oleh Chris Cooper dan Patricia Clarkson. Karakter pria depresi, pendiam dan cenderung menyimpan seluruh masalah pada dirinya sendiri memang bukanlah sebuah karakter baru bagi aktor Chris Cooper. Cooper seringkali memainkan peran tersebut (lihat Adaptation dan Breach) sehingga karakter Harry Allen sepertinya benar-benar sempurna untuk dimainkan oleh Cooper, yang juga memiliki perawakan sesuai dengan yang diperlukan untuk menghidupkan karakter Harry Allen.

Patricia Clarkson, salah seorang aktris Hollywood yang juga selalu konsisten dalam setiap peran yang ia mainkan, juga sempurna sebagai Pat Allen. Penonton pasti merasa iba melihat bagaimana Harry memperlakukan sang istri yang begitu mencintainya, namun akan terkejut melihat apa sebenarnya yang dilakukan Pat di belakang Harry. Clarkson, seperti halnya Cooper, juga bukan pertama kali memainkan karakter seperti ini (lihat Pieces of April yang memberikannya sebuah nominasi Academy Award), namun baik Cooper dan Clarkson tetap memberikan kehidupan sendiri bagi karakter yang mereka bawakan di film ini.

Masih ada Rachel McAdams dan Pierce Brosnan yang mengisi dua posisi sisa karakter utama di Married Life, dan sama sekali tidak ada masalah dengan cara mereka memerankan karakternya. Hanya saja, karakter Richard dan Kay yang mereka perankan memang tidak terlalu dipenuhi banyak konflik yang mampu memberikan Brosnan dan McAdams kesempatan yang lebih  banyak untuk menonjolkan kemampuan akting mereka.

Cukup aneh memang melihat Married Life, sebuah film tentang orang-orang yang mengalami depresi dalam pernikahan mereka, tanpa adanya teriakan-teriakan keras antar karakter mereka. Tidak ada, karena Married Life lebih bercerita mengenai apa yang dirasakan di dalam hati setiap karakternya. Sebuah siksaan batin. Sutradara Ira Sachs cukup baik dalam mengemas dan menangkap esensi dari penderitaan dan kesepian yang ada di dalam jalan cerita Married Life. Walau nada penceritaan yang lamban dan cenderung gelap bukanlah menjadi favorit setiap orang, namun film dengan drama dengan cerita dan karakterisasi yang kuat ini merupakan sebuah pencapaian yang cukup dapat dibanggakan.

Rating: 3.5 / 5

Married Life (Sony Pictures Classics, 2008)

Married Life (2008)

Directed by Ira Sachs Produced by Ira Sachs, Steve Golin, Sidney Kimmel, Jawal Nga Written by Ira Sachs, Oren Moverman (screenplay) John Bingham (novel) Starring Chris Cooper, Patricia Clarkson, Pierce Brosnan, Rachel McAdams, David Wenham Music by Dickon Hinchliffe Cinematography Peter Deming Editing by Affonso Gonçalves Distributed by Sony Pictures Classics Running time 90 minutes Country United States Language English

One thought on “Review: Married Life (2008)”

  1. Sedikit ralat, yang bikin pernikahan Harry dan Pat hambar bukan karena ga ada anak. Ada kok adegan mereka makan bareng sama si anak perempuan, menantu, dan cucunya. Tapi karena bagi Pat, cinta adalah sex, sedangkan Harry pengen dicintai dalam arti sesungguhnya yang dia dapatkan dari Kay. Film ini juga bikin kita mikir, di dalam sekelompok orang yang akrab satu sama lain, ternyata tetap ada rahasia dan skandal didalamnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s