Tag Archives: Armie Hammer

Review: Rebecca (2020)

Proses adaptasi dari buku ke film jelas bukanlah suatu proses yang mudah. Tingkat kesukaran tersebut akan lebih meningkat jika buku yang akan diadaptasi adalah sebuah buku yang telah melegenda seperti Rebecca karangan Daphne du Maurier yang telah dicetak berulang kali semenjak perilisannya pada tahun 1938 hingga saat ini, diterjemahkan ke lebih dari 15 bahasa dari seluruh penjuru dunia, dan sebelumnya telah diadaptasi ke berbagai bentuk media lainnya seperti serial televisi, film, drama panggung, hingga ke dalam bentuk opera. Oh, tidak lupa, tantangan untuk menghasilkan adaptasi film dari buku sekaliber Rebecca akan menjadi jauh lebih besar ketika salah satu adaptasi film tersebut sebelumnya diarahkan oleh sutradara dengan nama sebesar Alfred Hitchock yang versi filmnya tidak hanya mampu untuk meraih kesuksesan secara komersial namun juga berhasil meraih pujian luas dari kalangan kritikus film dunia serta memenangkan penghargaan tertinggi Best Picture dari ajang Academy Awards. Sudah dapat membayangkan beban yang harus ditanggung oleh Ben Wheatley (Free Fire, 2016) ketika ia setuju untuk menghasilkan narasi teranyar bagi Rebecca? Continue reading Review: Rebecca (2020)

Review: Hotel Mumbai (2019)

Merupakan film yang menjadi debut pengarahan bagi sutradara asal Australia, Anthony Maras, Hotel Mumbai adalah sebuah film yang mencoba untuk merekonstruksi menit-menit horor terjadinya serangan terorisme di kota Mumbai, India pada tahun 2008 dengan fokus utama diberikan pada serangan yang terjadi pada The Taj Mahal Palace Hotel yang merupakan salah satu hotel tertua di India. Jalan ceritanya sendiri menjadikan beberapa karakter sebagai penentu arah pengisahan film: pasangan David (Armie Hammer) dan Zahra (Nazanin Boniadi) yang menginap di hotel tersebut bersama anak mereka dan pengasuhnya, Sally (Tilda Cobham-Hervey); seorang pramusaji bernama Arjun (Dev Patel) yang bekerja di bawah arahan atasannya, Chef Hemant Oberoi (Anupam Kher); serta seorang mantan anggota militer Rusia, Vasili (Jason Isaacs), yang merupakan pengunjung tetap hotel tersebut dan telah dikenal dengan sikap arogannya. Bersama dengan ratusan penghuni The Taj Mahal Palace lainnya, karakter-karakter tersebut terjebak selama empat hari di dalam hotel ketika sekelompok anggota teroris datang dan mulai melakukan aksi sadisnya. Continue reading Review: Hotel Mumbai (2019)

Review: On the Basis of Sex (2018)

Merupakan film pertama yang diarahkan oleh Mimi Leder setelah mengarahkan Thick as Thieves di tahun 2009 lalu, On the Basis of Sex mencoba berkisah tentang sekelumit kehidupan dari aktivis kesetaraan gender dan hak kaum perempuan yang juga kini duduk menjabat sebagai salah satu Hakim Agung Amerika Serikat, Ruth Bader Ginsburg. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Daniel Stiepleman, On the Basis of Sex memulai alur kisahnya di tahun 1956 ketika Ruth Bader Ginsberg (Felicity Jones) mengikuti jejak suaminya, Martin Ginsburg (Armie Hammer), untuk menjadi seorang mahasiswa jurusan hukum di Harvard University. Di era tersebut, posisi kaum perempuan di kehidupan bermasyarakat masih di pandang sebelah mata dan seringkali dinomorduakan di banyak aktivitas hukum, sosial, maupun budaya. Berbekal kecerdasan dan kesungguhan hatinya dalam menuntut ilmu hukum – serta dukungan suaminya yang juga memiliki pandangan kehidupan yang sama dengan sang istri, Ruth Bader Ginsburg mulai memberikan perhatian khusus terhadap jajaran hukum dan aturan di negara Amerika Serikat yang selama ini dianggap berlaku tidak adil akibat dibangun atas perbedaan jenis kelamin sekaligus berusaha untuk mengubah berbagai aturan tersebut. Continue reading Review: On the Basis of Sex (2018)

Review: Call Me by Your Name (2017)

Merupakan film ketiga dalam trilogi Desire milik Luca Guadagnino – yang dimulai dengan I Am Love (2009) dan diikuti dengan A Bigger Splash (2015), Call Me by Your Name adalah sebuah drama romansa yang naskah ceritanya diadaptasi oleh James Ivory (The Divorce, 2003) berdasarkan novel berjudul sama karya André Aciman. Seperti halnya I Am Love dan A Bigger Splash, Guadagnino juga menggunakan keindahan alam negara Italia sebagai latar belakang lokasi pengisahan film terbarunya. Bercerita mengenai keindahan sekaligus kepedihan yang dirasakan oleh seorang remaja ketika ia mengalami jatuh cinta dan patah hati pertamanya, Guadagnino merangkai Call Me by Your Name dengan penuturan khasnya yang penuh kelembutan untuk menjadikan film ini dipenuhi dengan momen-momen emosional yang akan mampu menyentuh setiap penontonnya. Continue reading Review: Call Me by Your Name (2017)

Review: Cars 3 (2017)

Do we need another Cars movie? No, really. Do we need another one? Walaupun dilahirkan dari keluarga besar Pixar Animated Studios, seri film Cars (2006 – 2011) seringkali dipandang sebagai produk terlemah (kurang difavoritkan?) dalam barisan film-film yang dihasilkan oleh rumah produksi film animasi milik Walt Disney Pictures tersebut. Meskipun begitu, tidak dapat disangkal, dua film Cars – serta dua film sempalannya, Planes (Klay Hall, 2013) dan Planes: Fires and Rescue (Roberts Gannaway, 2014) – berhasil memberikan kesuksesan komersial yang cukup besar. Tercatat, dari empat film yang berada dalam seri film Cars dan dibuat dengan total biaya produksi “hanya” sebesar US$420 juta, Pixar Animated Studios dan Walt Disney Pictures berhasil meraup raihan komersial sebesar lebih dari US$1,3 milyar dari perilisannya di seluruh dunia – dan pendapatan tersebut masih belum termasuk dari penjualan merchandise dari seri film ini yang dilaporkan bahkan telah mencapai lebih dari US$10 milyar. So do we need another Cars movie? Bagaimanapun pendapat Anda, Pixar Animated Studios dan Walt Disney Pictures adalah sebuah usaha bisnis yang jelas tidak akan melepaskan sebuah kesempatan untuk mendapatkan keuntungan begitu saja. Continue reading Review: Cars 3 (2017)

Review: Mine (2016)

Merupakan debut pengarahan film layar lebar bagi duo sutradara asal Italia, Fabio Guaglione dan Fabio Resinaro, Mine berkisah mengenai seorang anggota pasukan tentara Amerika Serikat yang sedang bertugas di Afrika Utara, Mike Stevens (Armie Hammer). Setelah sebuah misi yang gagal untuk dieksekusi, ia dan rekannya, Tommy Madison (Tom Cullen), harus berjalan menempuh luas dan panasnya daratan gurun pasir untuk kembali ke pangkalan militer mereka. Sial, di tengah perjalanan, keduanya secara tidak sengaja menginjak ranjau darat yang kemudian membunuh Tommy Madison. Sendirian di tengah gurun, Mike Stevens harus memutar otak untuk dapat menyelamatkan hidupnya, baik dari ranjau darat yang dapat meledak kapan saja maupun dari berbagai tantangan yang dapat menghampirinya dari berbagai penjuru gurun tersebut. Continue reading Review: Mine (2016)

Review: Entourage (2015)

Empat tahun setelah masa tayangnya berakhir di saluran televisi kabel HBO, kreator serial televisi Entourage, Doug Ellin, akhirnya membawa kisah persahabatan antara lima orang pria dalam usaha mereka untuk bertahan dalam kerasnya kehidupan serta persaingan di Hollywood ke layar lebar. Kembali bekerjasama dengan Mark Wahlberg dan Stephen Levinson yang turut memproduseri serial televisi yang sempat tayang selama delapan musim tersebut, Ellin menyajikan Entourage dalam formula penceritaan familiar yang jelas akan sangat mampu mengobati kerinduan para penggemar kepada kelima karakter utama dalam serial televisi tersebut. Apakah hal tersebut berarti bahwa versi film dari Entourage akan mengalienasi mereka yang sama sekali belum familiar dengan serial pemenang Emmy Awards tersebut? Tidak. Ellin cukup cerdas untuk merangkai naskah cerita Entourage untuk menjadi sebuah kisah intrik dunia perfilman Hollywood yang mampu bercerita dalam skala yang cukup luas. Continue reading Review: Entourage (2015)

Review: The Lone Ranger (2013)

Jangan terlalu merasa heran jika banyak ulasan mengenai The Lone Ranger akan menggambarkan film ini sebagai “variasi western dari franchise film The Pirates of the Caribbean”. Well… dengan keberadaan Jerry Bruckheimer sebagai produser, Gore Verbinski duduk di kursi penyutradaraan serta Johnny Depp yang, sekali lagi, tampil dengan peran yang memiliki karakteristik hampir serupa dengan karakter Captain Jack Sparrow, The Lone Ranger memang banyak berbicara dengan nada yang hampir seirama dengan franchise film yang telah menghasilkan pendapatan lebih dari US$3,7 milyar dari masa perilisannya di seluruh dunia tersebut. Bukan masalah yang besar sebenarnya karena terlepas dari durasi penceritaan yang terlalu panjang, Verbinski mampu menggarap The Lone Ranger menjadi sebuah sajian western yang cukup menghibur.

Continue reading Review: The Lone Ranger (2013)

Review: Mirror Mirror (2012)

Kesuksesan mengejutkan yang dialami oleh Walt Disney Pictures ketika merilis Alice in Wonderland tahun 2010 lalu sepertinya telah menyadarkan banyak produser Hollywood bahwa dunia tidak akan pernah merasa lelah untuk mendengarkan kisah-kisah dongeng klasik. Menyusul Alice in Wonderland, banyak rumah produksi di Hollywood yang kini sedang memproduksi versi modern dari berbagai kisah dongeng klasik popular, termasuk kisah klasik Snow White and the Seven Dwarves atau yang lebih dikenal sebagai Puteri Salju bagi masyarakat Indonesia. Tercatat, terdapat tiga proyek pembuatan film berbeda yang kini memanfaatkan inspirasi kisah Snow White and the Seven Dwarves dalam alur kisah film mereka. Mirror Mirror, yang disutradarai oleh Tarsem Singh (Immortals, 2011) dan diproduksi oleh Relativity Media, adalah film pertama tentang sang Puteri Salju yang dirilis ke pasaran.

Continue reading Review: Mirror Mirror (2012)

The 17th Annual Screen Actors Guild Awards Nominations List

Columbia Pictures sepertinya harus melakukan kampanye yang lebih giat lagi untuk mempromosikan film David Fincher, The Social Network, jika mereka tidak menginginkan film tersebut secara perlahan mulai tenggelam oleh kepopuleran The King’s Speech maupun The Fighter. Setelah “hanya” berhasil memperoleh enam nominasi di ajang The 68th Annual Golden Globe Awards, perolehan nominasi The Social Network di ajang The 17th Annual Screen Actors Guild Awards kali ini juga hanya mampu berdiri di belakang The King’s Speech dan The Fighter. Jika kedua film tersebut berhasil memimpin dengan meraih empat nominasi, maka The Social Network harus berpuas diri dengan hanya meraih dua nominasi.

Continue reading The 17th Annual Screen Actors Guild Awards Nominations List

Review: The Social Network (2010)

The Social Network bukanlah The Curious Case of Benjamin Button (2008), dimana setiap penontonnya dapat memandang kagum sekaligus terhanyut atas penggunaan special effects yang terdapat di sepanjang film drama romantis tersebut. The Social Network juga bukanlah Fight Club (1999), Panic Room (2002) atau Zodiac (2007) yang mampu memberikan intensitas ketegangan yang tinggi ketika penonton menyaksikan film-film tersebut. Sama sekali tidak ada darah, adegan percintaan yang romantis maupun misteri sebuah kejahatan yang harus dipecahkan di dalam naskah cerita The Social Network. Film ini berkisah mengenai bagaimana Facebook dibentuk dan pengaruhnya pada kehidupan para penciptanya. Berpotensi membosankan, namun David Fincher berhasil membuktikan di tangan seorang jenius, naskah cerita yang memiliki premis datar dapat menjadi sebuah tontonan yang sangat menarik.

Continue reading Review: The Social Network (2010)