Tag Archives: Jenifer Lewis

Review: Cars 3 (2017)

Do we need another Cars movie? No, really. Do we need another one? Walaupun dilahirkan dari keluarga besar Pixar Animated Studios, seri film Cars (2006 – 2011) seringkali dipandang sebagai produk terlemah (kurang difavoritkan?) dalam barisan film-film yang dihasilkan oleh rumah produksi film animasi milik Walt Disney Pictures tersebut. Meskipun begitu, tidak dapat disangkal, dua film Cars – serta dua film sempalannya, Planes (Klay Hall, 2013) dan Planes: Fires and Rescue (Roberts Gannaway, 2014) – berhasil memberikan kesuksesan komersial yang cukup besar. Tercatat, dari empat film yang berada dalam seri film Cars dan dibuat dengan total biaya produksi “hanya” sebesar US$420 juta, Pixar Animated Studios dan Walt Disney Pictures berhasil meraup raihan komersial sebesar lebih dari US$1,3 milyar dari perilisannya di seluruh dunia – dan pendapatan tersebut masih belum termasuk dari penjualan merchandise dari seri film ini yang dilaporkan bahkan telah mencapai lebih dari US$10 milyar. So do we need another Cars movie? Bagaimanapun pendapat Anda, Pixar Animated Studios dan Walt Disney Pictures adalah sebuah usaha bisnis yang jelas tidak akan melepaskan sebuah kesempatan untuk mendapatkan keuntungan begitu saja. Continue reading Review: Cars 3 (2017)

Review: The Wedding Ringer (2015)

The-Wedding-Ringer-posterJeremy Garelick, yang mungkin lebih dikenal sebagai penulis naskah film komedi yang dibintangi Jennifer Aniston dan Vince Vaughn, The Break-Up (2006), melakukan debut penyutradaraan film layar lebarnya lewat sebuah film komedi lain berjudul The Wedding Ringer. Sebagai sebuah film komedi yang mengisahkan tentang persahabatan antara sekelompok pria, melibatkan sebuah pernikahan dan satu sosok karakter yang digambarkan sebagai sosok yang sangat mengerti tentang wanita, The Wedding Ringer sangat menggantungkan dirinya pada kehangatan chemistry antara dua bintangnya, Kevin Hart dan Josh Gad. Dan beruntung, Hart dan Gad mampu menyajikan penampilan komikal yang sangat menghibur untuk mampu membuat penonton melupakan materi cerita film yang akan terasa familiar bagi penggemar film-film sejenis.

Gad berperan sebagai Doug Harris, seorang pengacara pajak sukses namun menghadapi masalah besar ketika dirinya tidak memiliki satupun teman untuk menjadi pendamping dalam acara pernikahannya dengan Gretchen Palmer (Kaley Cuoco-Sweeting). Doug lantas berkenalan dengan Jimmy Callahan (Hart) yang dikenal sebagai penasehat paling sukses bagi kaum pria dalam menghadapi pernikahan. Doug akhirnya mempercayakan seluruh masalahnya kepada Jimmy. Sebagai seseorang dengan kualitas kerja profesional, Jimmy mulai merekrut sekelompok pria yang akan berperan sebagai sahabat Doug dalam pernikahannya sekaligus menyusun berbagai rencana untuk membuat Doug terlihat sebagai calon menantu idaman bagi kedua orangtua Gretchen (Mimi Rogers dan Ken Howard).

Tentu, adalah cukup mudah untuk melihat bahwa Garelick mengimplementasikan berbagai elemen komedi dari film-film seperti The Wedding Crashers (2005), Hitch (2005) dan, tentu saja, The Hangover (2009) dalam naskah cerita The Wedding Ringer. Meskipun begitu, tidak dapat disangkal pula bahwa Garelick memiliki kemampuan yang cukup baik dalam mengelola sekaligus mengeksekusi dialog-dialog komedi dalam film ini. Penonton mungkin akan segera melupakan alur kisah maupun nama-nama deretan karakter yang hadir dalam jalan cerita film ini namun dalam 101 menit perjalanan durasi film ini Garelick berhasil menempatkan cukup banyak ruang yang akan mampu membuat para penontonnya tertawa dengan lepas. And isn’t that the true meaning of comedy, folks?

Selain berisi elemen-elemen komedi yang terlanjur terlalu familiar dan hadir tanpa adanya kejutan berarti, Garelick juga harus diakui gagal untuk mengolah karakter-karakter dalam jalan ceritanya untuk menjadi lebih memorable. Karakter-karakter teman sewaan bagi Doug yang berjumlah tujuh orang nyaris hanya disajikan sebagai aksesoris tanpa pernah dimanfaatkan untuk memberikan nilai lebih pada unsur komedi The Wedding Ringer. Karakter Gretchen Palmer juga tergambar begitu dangkal sehingga seringkali membuat sulit bagi penonton untuk mengerti mengapa karakter Doug Harris mau bersusah payah demi menyenangkan dirinya. Ritme penceritaan The Wedding Ringer juga terasa mulai berantakan di paruh kedua penceritaannya – khususnya dengan semakin minimnya bagian yang mampu memberikan hiburan. Untungnya, secara perlahan, Garelick mampu membangkitkan kembali komedinya dan menutupnya dengan paruh ketiga penceritaan yang cukup gemilang.

Chemistry Hart dan Gad dalam film ini memang menjadi menu utama yang mampu mengalirkan komedi serta alur penceritaan film. Baik Hart maupun Gad berhasil menghidupkan karakter mereka untuk dapat terasa sebagai dua sosok karakter yang sebenarnya saling membutuhkan satu sama lain dalam sebuah persahabatan namun sama sekali tidak menyadarinya. Penampilan komedi keduanya juga saling melengkapi dan tidak pernah terasa tampil berlebihan antara satu dengan yang lain. Penampilan-penampilan pendukung lain juga tampil baik meskipun adalah sangat mengecewakan untuk melihat Garelick tidak memanfaatkan momen kehadiran nama-nama seperti Mimi Rogers, Cloris Leachman, Ken Howard, Olivia Thirlby dan Josh Peck dalam kapasitas penceritaan yang lebih besar lagi ketika kehadiran mereka dalam porsi penceritaan yang cukup minimalis ternyata seringkali mampu mencuri perhatian. [C]

The Wedding Ringer (2015)

Directed by Jeremy Garelick Produced by Adam Fields, William Packer Written by Jeremy Garelick, Jay Lavender  Starring Kevin Hart, Josh Gad, Kaley Cuoco-Sweeting, Alan Ritchson, Cloris Leachman, Mimi Rogers, Ken Howard, Affion Crockett, Jenifer Lewis, Olivia Thirlby, Jorge Garcia, Josh Peck, Joe Namath, John Riggins, Ed “Too Tall” Jones, Aaron Takahashi, Dan Gill, Corey Holcomb, Colin Kane, Ignacio Serricchio, Nicole Whelan, Whitney Cummings, Jeff Ross, Nikki Leigh Music by Christopher Lennertz Cinematography Bradford Lipson Edited by Jeff Groth, Shelly Westerman, Byron Wong Production company Miramax/LStar Capital/Will Packer Productions Running time 101 minutes Country United States Language English

Review: Cars 2 (2011)

Seandainya Pixar bukanlah sebuah rumah produksi animasi yang menghasilkan film-film seperti The Incredibles (2007), WALL•E (2008), Up (2009) dan Toy Story 3 (2010), mungkin tidak akan ada seorangpun yang memandang sebelah mata terhadap Cars 2. Namun, seperti yang telah diketahui setiap penggemar film di dunia, semenjak merilis Toy Story di tahun 1995, Pixar telah tumbuh menjadi sebuah trademark akan sebuah kualitas film animasi bercitarasa tinggi yang sulit untuk disaingi rumah produksi lainnya. Di empat tahun terakhir, Pixar secara perlahan lebih meningkatkan kualitas penulisan naskah cerita film-filmnya, dengan menjadikan film-film seperti WALL•E, Up dan Toy Story 3 terkadang bahkan lebih mampu menguras emosi penontonnya jika dibandingkan dengan film-film non-animasi yang dirilis pada tahun bersamaan.

Continue reading Review: Cars 2 (2011)

Review: The Princess and the Frog (2009)

Well kiddos… Jauh sebelum Finding Nemo merebut gelar sebagai film animasi terlaris sepanjang masa (gelar yang tak bertahan lama karena Shrek 2 meraih posisi tersebut beberapa saat kemudian), atau sebelum dunia animasi kalian dipenuhi oleh tokoh-tokoh animasi CGI, ayah, ibu, dan saudara-saudara kalian yang berumur jauh lebih tua terlebih dahulu mengenal berbagai tokoh animasi yang diproduksi dengan cara yang lebih tradisional.

Continue reading Review: The Princess and the Frog (2009)