Tag Archives: Julie Andrews

Review: Aquaman (2018)

Cukup wajar jika DC Films dan Warner Bros. Pictures menggantungkan banyak harapan mereka kepada Aquaman. Selepas kegagalan beruntun dari Man of Steel (Zack Snyder, 2013), Batman v. Superman: Dawn of Justice (Snyder, 2016), dan Suicide Squad (David Ayer, 2016) dalam meraih dukungan dari para kritikus film dunia – serta ditanbah dengan tanggapan yang cenderung medioker dari pada penggemar komik rilisan DC Comics, yang kemudian diikuti oleh melempemnya performa Justice League (Snyder, 2017) – yang tercatat menjadi film dengan capaian kesuksesan komersial paling rendah dalam seri film DC Extended Universe, keberadaan Aquaman jelas krusial untuk membangkitkan kembali tingkat kepercayaan sekaligus ketertarikan publik pada deretan pahlawan super buatan DC Comics. Atau, setidaknya, Aquaman haruslah mampu mencapai tingkatan kualitas yang berhasil diraih Wonder Woman (Patty Jenkins, 2017) yang hingga saat ini menjadi satu-satunya film dari DC Extended Universe yang berhasil meraih kesuksesan baik secara kritikal maupun komersial. Dengan ambisi besar tersebut, jelas tidak mengherankan jika Aquaman digarap megah dalam kualitas produksinya namun, seperti halnya Wonder Woman, tetap menyajikan keintiman cerita dalam hal penggalian kisah dasar mengenai sang karakter utama film ini. Continue reading Review: Aquaman (2018)

Advertisements

Review: Despicable Me 3 (2017)

Do we really need another Despicable Me movie? Well… apapun jawabannya, dengan raihan komersial yang mencapai lebih dari US$2.6 miliar dari perilisan dua seri Despicable Me (Pierre Coffin, Chris Renaud, 2010 – 2013) sebelumnya plus sebuah film subseri berjudul Minions (Coffin, Kyle Balda, 2015), Illumination Entertainment jelas akan terus melanjutkan perjalanan seri film ini. Masih diarahkan oleh pasangan sutradara yang sama, Coffin dan Renaud, serta dengan naskah cerita yang juga masih ditulis oleh Cinco Paul dan Ken Daurio yang telah menggarap naskah cerita seri film ini semenjak awal, produk teranyar dari seri animasi Despicable Me, Despicable Me 3, masih menawarkan deretan formula pengisahan yang telah cukup familiar bagi penggemar seri film ini. Does it still work? Yes. Despicable Me 3 masih mampu menawarkan hiburan (dan sentuhan emosional) di beberapa bagiannya. Namun, secara keseluruhan, cukup sulit untuk memberikan apresiasi lebih bagi film ini ketika kesuksesan-kesuksesan minor tersebut lebih sering hadir dari repetisi guyonan atau adegan dari film terdahulu daripada hasil pengolahan cerita baru yang lebih segar. Continue reading Review: Despicable Me 3 (2017)

Review: Despicable Me (2010)

Universal Pictures, melalui Illumination Entertainment, akhirnya ikut serta dalam persaingan untuk perilisan film-film animasi Hollywood. Sedikit tertinggal dari rumah-rumah produksi lainnya, namun melalui Despicable Me — yang memanfaatkan dengan tepat penggunaan teknologi 3D seperti halnya How to Train Your Dragon beberapa waktu yang lalu — Universal Pictures sepertinya akan mampu membuktikan bahwa mereka berada di posisi yang tidak terlalu jauh dari para pesaingnya.

Continue reading Review: Despicable Me (2010)

Review: Shrek: The Final Chapter (2010)

Semenjak petualangannya dimulai sembilan tahun lalu, para penggemar animasi telah melihat Shrek tumbuh menjadi seorang yang berbeda. Pada awalnya sebagai seorang monster yang menakutkan semua orang, Shrek kemudian berubah menjadi seorang monster yang telah menjadi favorit semua orang setelah ia menyelamatkan Puteri Fiona. Namun, tetap saja, di dalam diri Shrek sebenarnya, ia merindukan kebebasan dan keliaran dari seorang monster sejati seperti yang pernah ia dapat dulu sebelum bertemu Fiona.

Continue reading Review: Shrek: The Final Chapter (2010)