Tag Archives: James Wan

Review: Aquaman (2018)

Cukup wajar jika DC Films dan Warner Bros. Pictures menggantungkan banyak harapan mereka kepada Aquaman. Selepas kegagalan beruntun dari Man of Steel (Zack Snyder, 2013), Batman v. Superman: Dawn of Justice (Snyder, 2016), dan Suicide Squad (David Ayer, 2016) dalam meraih dukungan dari para kritikus film dunia – serta ditanbah dengan tanggapan yang cenderung medioker dari pada penggemar komik rilisan DC Comics, yang kemudian diikuti oleh melempemnya performa Justice League (Snyder, 2017) – yang tercatat menjadi film dengan capaian kesuksesan komersial paling rendah dalam seri film DC Extended Universe, keberadaan Aquaman jelas krusial untuk membangkitkan kembali tingkat kepercayaan sekaligus ketertarikan publik pada deretan pahlawan super buatan DC Comics. Atau, setidaknya, Aquaman haruslah mampu mencapai tingkatan kualitas yang berhasil diraih Wonder Woman (Patty Jenkins, 2017) yang hingga saat ini menjadi satu-satunya film dari DC Extended Universe yang berhasil meraih kesuksesan baik secara kritikal maupun komersial. Dengan ambisi besar tersebut, jelas tidak mengherankan jika Aquaman digarap megah dalam kualitas produksinya namun, seperti halnya Wonder Woman, tetap menyajikan keintiman cerita dalam hal penggalian kisah dasar mengenai sang karakter utama film ini. Continue reading Review: Aquaman (2018)

Review: Fast & Furious 7 (2015)

fast-and-furious-7-posterMeskipun lebih dikenal sebagai seorang sutradara yang menghasilkan film-film horor seperti Saw (2004), Dead Silence (2007), Insidious (2011) dan The Conjuring (2013), James Wan sebenarnya pernah menginjakkan kakinya ke ranah film aksi ketika ia mengarahkan Death Sentence pada tahun 2007. Sayang, selain film tersebut gagal untuk meraih keuntungan komersial seperti film-film horornya, kritikus film dunia sepertinya juga tidak begitu terkesan dengan film yang dibintangi Kevin Bacon tersebut. Namun, film aksi kedua arahan Wan sepertinya tidak akan dilupakan begitu saja oleh penikmat film dunia: film tersebut dibintangi oleh nama-nama besar bintang aksi Hollywood, memiliki efek visual yang mengagumkan dan menjadi bagian dari salah satu seri film aksi terlaris di dunia sepanjang masa. A little indie movie called Fast and Furious 7. Continue reading Review: Fast & Furious 7 (2015)

Review: Insidious: Chapter 2 (2013)

indisious-chapter-2-header

Dengan keberhasilan luar biasa yang didapatkan oleh Insidious (2011), baik secara kritikal maupun komersial – dimana film horor tersebut berhasil meraih pendapatan lebih dari US$97 juta dari biaya produksi yang hanya berjumlah US$1.5 juta, jelas tidak mengherankan untuk melihat Jason Blum, Oren Peli, James Wan dan Leigh Whannell kembali bekerjasama dan berusaha mengulang kembali kesuksesan tersebut. Hey! It’s Hollywood! Seperti yang dapat ditangkap dari judul film ini, Insidious: Chapter 2 adalah lanjutan langsung dari Insidious yang mencoba untuk lebih mendalami berbagai misteri yang terjadi pada karakter-karakter utamanya. Namun, sayangnya, daripada memberikan presentasi yang lebih kuat dari jalan cerita yang telah terbangun apik di seri awalnya, Wan dan Whannell justru terperangkap dengan formula penceritaan yang kembali berulang dan membuat Insidious: Chapter 2 kehilangan seluruh kejutan serta kesegaran daya tarik ceritanya.

Continue reading Review: Insidious: Chapter 2 (2013)

Review: The Conjuring (2013)

the-conjuring-header

Nama James Wan mungkin selamanya akan dikenal sebagai seorang penulis naskah sekaligus sutradara dari film Saw (2004) – sebuah film thriller yang sukses mencuri perhatian penikmat film dunia dan lalu berkembang menjadi sebuah franchise yang berisikan tujuh seri film sekaligus menyebarkan kembali virus torture porn di kalangan pembuat film Hollywood lainnya. Pun begitu, seperti yang dapat disaksikan lewat Dead Silence (2007) dan Insidious (2011), Wan kemudian memilih untuk menyajikan kengerian dalam film-film yang ia hadirkan berikutnya lewat formula horor tradisional yang lebih mengutamakan atmosfer penceritaan yang mencekam, intensitas ketegangan yang terjaga serta kejutan-kejutan horor daripada deretan adegan yang dipenuhi kekerasan, simbahan darah maupun potongan tubuh para karakter yang ada di dalam jalan cerita. Film teranyar arahan Wan, The Conjuring, sekali lagi mencoba untuk mengeksplorasi formula horor tradisional tersebut dalam memaparkan dua tema penceritaan horor yang familiar – rumah berhantu dan aksi pengusiran setan – dan menggabungkannya menjadi sebuah kesatuan cerita yang mampu menghadirkan rasa ketakutan mendalam pada setiap penontonnya.

Continue reading Review: The Conjuring (2013)

Review: Insidious (2011)

Setelah apa yang ia lakukan terhadap Nona Natalie Portman dalam Black Swan (2010), semua orang seharusnya tahu bahwa adalah suatu hal yang sangat berbahaya untuk memiliki hubungan darah dengan seorang Barbara Hershey. Dalam Insidious, aktris senior yang masih terlihat cantik (dan juga misterius serta sedikit menakutkan) di usianya yang telah menginjak 63 tahun tersebut berperan sebagai Lorraine Lambert, ibu dari Josh Lambert, seorang karakter yang diperankan oleh aktor Patrick Wilson. Josh, beserta istri, Renai (Rose Byrne), dan ketiga anaknya, baru saja pindah ke sebuah rumah yang walau sederhana, namun sangat nyaman untuk ditempati. Sampai akhirnya serangkaian teror mulai menghantui keluarga tersebut.

Continue reading Review: Insidious (2011)