Tag Archives: Leigh Whannell

Review: Insidious: The Last Key (2018)

Diarahkan oleh Adam Robitel – yang filmografinya diisi oleh film-film horor seperti The Taking of Deborah Logan (2014) dan Paranormal Activity: The Ghost Dimension (2015), film keempat dalam seri film Insidious, Insidious: The Last Key, kini menempatkan karakter Elise Rainier yang diperankan oleh Lin Shaye pada garda terdepan jajaran pengisi departemen aktingnya. Jelas suatu hal yang tidak mengherankan mengingat naskah cerita Insidious: The Last Key berusaha menyelami karakter Elise Rainier secara personal yang sekaligus menjadikan film ini sebagai bagian pertama dari seri film Insidious jika dirunut berdasarkan kronologi pengisahannya. Shaye memang mampu menjadikan karakter yang ia perankan tampil begitu mengikat namun, sayangnya, naskah garapan Leigh Whannell tidak pernah bergerak dari berbagai taktik horor yang sebelumnya telah diterapkan oleh film-film Insidious sebelumnya. Hasilnya, Insidious: The Last Key berakhir sebagai sebuh presentasi cerita yang cenderung monoton dan membosankan. Continue reading Review: Insidious: The Last Key (2018)

Advertisements

Review: The Bye Bye Man (2017)

2016 is a great year for horror movies. Yes it was. No doubt. So what’s in store for horror fans this year? Wellhere’s the first official peek, The Bye Bye Man. Diarahkan oleh Stacy Title, The Bye Bye Man berkisah tentang Elliott (Douglas Smith) yang bersama dengan kekasih, Sasha (Cressida Bonas), dan sahabatnya, John (Lucien Laviscount), memutuskan untuk keluar dari asrama kampus mereka dan tinggal bersama di sebuah rumah yang mereka sewa. Seperti yang dapat diduga, tidak lama semenjak kepindahan mereka, ketiga mahasiswa tersebut mulai mengalami berbagai kejadian aneh yang mengikuti keseharian mereka. Panik, Sasha lantas mencoba untuk meminta bantuan teman sekelasnya, Kim (Jenna Kanell), yang memiliki kemampuan supranatural untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumah tersebut. Usaha tersebut, sayangnya, tidak memberikan pengaruh apapun. Gangguan yang dialami Elliott, Sasha dan John malah semakin sering terjadi dan justru mulai mengancam nyawa mereka. Continue reading Review: The Bye Bye Man (2017)

Review: Insidious: Chapter 3 (2015)

insidious-chapter-three-posterBerbeda dengan Insidious (2011) dan Insidious: Chapter 2 (2013), Insidious: Chapter 3 tidak lagi ditangani oleh James Wan – yang kali ini lebih memilih untuk hanya bertugas sebagai seorang produser dan menyerahkan kursi penyutradaraan pada penulis naskah seri film ini, Leigh Whannell. Insidious: Chapter 3 juga meninggalkan karakter-karakter dari keluarga Lambert yang merupakan fokus penceritaan pada dua seri sebelumnya dan menjadi sebuah prekuel dari Insidious dengan menempatkan kisah dari karakter cenayang Elise Rainier (Lin Shaye) sebagai karakter utama bagi film ini. Sayangnya, dengan segala perubahan tersebut, Insidious: Chapter 3 juga dikemas dengan begitu dangkal sehingga kehilangan seluruh daya tarik yang dimiliki oleh dua seri sebelumnya yang membuat seri film ini begitu popular sekaligus dinanti oleh banyak penikmat film horor dunia. Mungkin sudah saatnya untuk mengakhiri seri film ini secara keseluruhan?

Insidious: Chapter 3 memulai kisahnya ketika seorang remaja bernama Quinn Brenner (Stefanie Scott) berkunjung ke rumah Elise Rainier (Shaye) untuk meminta bantuannya dalam menghubungi sekaligus berbicara dengan arwah ibunya yang telah lama meninggal dunia. Meskipun awalnya menolak karena takut hal buruk akan terjadi pada dirinya, Elise kemudian memulai usahanya untuk membantu Quinn. Sayang, usaha tersebut berakhir dengan kegagalan. Daripada berhasil mendatangkan dan berkomunikasi dengan arwah ibu dari Quinn, Elise justru didatangi sesosok arwah jahat dari dunia kegelapan. Elise lantas mengingatkan Quin untuk tidak lagi berusaha menghubungi arwah sang ibu karena sosok arwah jahat dapat saja datang untuk kemudian menghantui dirinya. Benar saja. Sepulangnya Quinn dari rumah Elise, gadis tersebut mulai mengalami teror supranatural yang mulai mengganggu dan bahkan dapat saja mengambil kehidupannya.

Sejujurnya, dengan segala konflik yang terjadi dan telah diselesaikan pada dua seri sebelumnya, Insidious memang telah mencapai puncak kualitas naratifnya. Insidious: Chapter 2 bahkan telah menunjukkan fakta bahwa baik James Wan maupun Leigh Whannell telah terasa kelelahan dalam menemukan bentuk ketegangan baru yang dapat ditawarkan pada penonton filmnya. Insidious: Chapter 3, sayangnya, gagal untuk menunjukkan bahwa seri film ini telah mengalami sebuah perubahan positif yang berarti. Daripada berusaha untuk menyajikan sebuah jalan cerita yang kuat dengan sentuhan beberapa adegan horor yang menegangkan, Whannell justru menjebak Insidious: Chapter 3 untuk menjadi sebuah horor murahan yang murni hanya bergantung pada beberapa adegan menegangkan berkualitas kacangan untuk dapat memberikan hiburan bagi penontonnya. Tidak lebih. Cukup menyedihkan, khususnya jika mengingat bahwa Insidious adalah salah satu film horor buatan Hollywood yang mampu mencuri perhatian dengan fokus yang kuat pada karakter dan jalan ceritanya.

Kemampuan Whannell dalam pengarahan cerita memang masih terasa lemah dalam berbagai cerita. Whannell seringkali terasa kebingungan dalam memberikan fokus penceritaan yang terpecah antara konflik pribadi yang dimiliki oleh karakter Elise Rainier atau konflik keluarga yang dimiliki oleh karakter Quinn Brenner. Akhirnya, daripada berhasil merangkai kisahnya sebagai sebuah presentasi cerita yang nyaman untuk diikuti, Insidious: Chapter 3 justru terasa hadir dengan ritme penceritaan yang berantakan. Tata produksi yang dihadirkan Whannell untuk filmnya juga terasa jauh dari kesan istimewa. Komposisi musik horor karya Joseph Bishara yang biasanya mampu menjadi nyawa tambahan bagi sentuhan horor seri film Insidious kali ini gagal untuk tampil kuat. Begitu pula dengan tata sinematografi arahan Brian Pearson yang banyak bermain di wilayah gambar-gambar kelam tanpa pernah mampu membuatnya menjadi sentuhan yang esensial bagi atmosfer penceritaan film.

Departemen akting Insidious: Chapter 3 sendiri hadir dengan kualitas yang tidak mengecewakan. Lin Shaye sekali lagi mampu menghidupkan karakter Elise Rainier yang telah ia perankan dalam dua seri Insidious sebelumnya dengan baik. Begitu pula dengan Angus Sampson dan Leigh Whannell yang masih mampu menyajikan sentuhan komedi melalui karakter duo Tucker dan Specks yang mereka perankan. Nama-nama pemeran baru dalam seri film ini juga tampil memuaskan. Stefanie Scott yang berperan sebagai karakter utama Quinn Brenner mampu memberikan penampilan yang akan dapat menarik perhatian setiap penonton pada karakter yang ia perankan. Dan meskipun karakter ayah yang ia perankan memiliki penceritaan yang cukup terbatas, namun Dermot Mulroney jelas tampil dalam kapasitas akting yang berkelas. [C-]

Insidious: Chapter 3 (2015)

Directed by Leigh Whannell Produced by Jason Blum, Oren Peli, James Wan Written by Leigh Whannell Starring Dermot Mulroney, Stefanie Scott, Angus Sampson, Leigh Whannell, Lin Shaye, Ashton Moio, Ele Keats, Hayley Kiyoko, Steve Coulter, Tate Berney, Michael Reid MacKay, Phil Abrams, Ruben Garfias, Samantha Ramraj, Joseph Bishara, Tom Fitzpatrick, Anne Bergstedt Jordanova, Amaris Davidson, Anna Ross Music by Joseph Bishara Cinematography Brian Pearson Editing by Timothy Alverson Studio Automatik Entertainment/Blumhouse Productions/Entertainment One Running time 97 minutes Country United States Language English

Review: Insidious: Chapter 2 (2013)

indisious-chapter-2-header

Dengan keberhasilan luar biasa yang didapatkan oleh Insidious (2011), baik secara kritikal maupun komersial – dimana film horor tersebut berhasil meraih pendapatan lebih dari US$97 juta dari biaya produksi yang hanya berjumlah US$1.5 juta, jelas tidak mengherankan untuk melihat Jason Blum, Oren Peli, James Wan dan Leigh Whannell kembali bekerjasama dan berusaha mengulang kembali kesuksesan tersebut. Hey! It’s Hollywood! Seperti yang dapat ditangkap dari judul film ini, Insidious: Chapter 2 adalah lanjutan langsung dari Insidious yang mencoba untuk lebih mendalami berbagai misteri yang terjadi pada karakter-karakter utamanya. Namun, sayangnya, daripada memberikan presentasi yang lebih kuat dari jalan cerita yang telah terbangun apik di seri awalnya, Wan dan Whannell justru terperangkap dengan formula penceritaan yang kembali berulang dan membuat Insidious: Chapter 2 kehilangan seluruh kejutan serta kesegaran daya tarik ceritanya.

Continue reading Review: Insidious: Chapter 2 (2013)

Review: Insidious (2011)

Setelah apa yang ia lakukan terhadap Nona Natalie Portman dalam Black Swan (2010), semua orang seharusnya tahu bahwa adalah suatu hal yang sangat berbahaya untuk memiliki hubungan darah dengan seorang Barbara Hershey. Dalam Insidious, aktris senior yang masih terlihat cantik (dan juga misterius serta sedikit menakutkan) di usianya yang telah menginjak 63 tahun tersebut berperan sebagai Lorraine Lambert, ibu dari Josh Lambert, seorang karakter yang diperankan oleh aktor Patrick Wilson. Josh, beserta istri, Renai (Rose Byrne), dan ketiga anaknya, baru saja pindah ke sebuah rumah yang walau sederhana, namun sangat nyaman untuk ditempati. Sampai akhirnya serangkaian teror mulai menghantui keluarga tersebut.

Continue reading Review: Insidious (2011)

Review: Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole (2010)

Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole menandai kali pertama sutradara Zack Snyder (300 (2007), Watchmen (2009)) menangani sebuah film yang bergenre animasi dengan jalan cerita yang ditujukan bagi penonton kalangan keluarga. Hal ini tentu saja adalah merupakan sebuah dunia yang sangat baru bagi Snyder – yang selama ini mengerjakan film-film dengan genre dewasa yang seringkali mengandung unsur kekerasan dan seksual yang tinggi. Walau begitu, melihat apa yang dicapai oleh Snyder lewat Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole – dengan tetap menggunakan beberapa teknik khasnya, seperti gerakan slow motion yang dramatis – terbukti kalau Snyder sangatlah mudah untuk beradaptasi dengan dunia baru tersebut.

Continue reading Review: Legend of the Guardian: The Owls of Ga’Hoole (2010)