Tag Archives: Steve Carell

Review: Despicable Me 3 (2017)

Do we really need another Despicable Me movie? Well… apapun jawabannya, dengan raihan komersial yang mencapai lebih dari US$2.6 miliar dari perilisan dua seri Despicable Me (Pierre Coffin, Chris Renaud, 2010 – 2013) sebelumnya plus sebuah film subseri berjudul Minions (Coffin, Kyle Balda, 2015), Illumination Entertainment jelas akan terus melanjutkan perjalanan seri film ini. Masih diarahkan oleh pasangan sutradara yang sama, Coffin dan Renaud, serta dengan naskah cerita yang juga masih ditulis oleh Cinco Paul dan Ken Daurio yang telah menggarap naskah cerita seri film ini semenjak awal, produk teranyar dari seri animasi Despicable Me, Despicable Me 3, masih menawarkan deretan formula pengisahan yang telah cukup familiar bagi penggemar seri film ini. Does it still work? Yes. Despicable Me 3 masih mampu menawarkan hiburan (dan sentuhan emosional) di beberapa bagiannya. Namun, secara keseluruhan, cukup sulit untuk memberikan apresiasi lebih bagi film ini ketika kesuksesan-kesuksesan minor tersebut lebih sering hadir dari repetisi guyonan atau adegan dari film terdahulu daripada hasil pengolahan cerita baru yang lebih segar. Continue reading Review: Despicable Me 3 (2017)

Review: Foxcatcher (2014)

foxcather-posterMereka yang telah mengenal deretan film yang diarahkan oleh Bennett Miller seperti Capote (2005) dan Moneyball (2011) jelas telah familiar dengan teknik pengarahan Miller yang begitu mendalam ketika menggarap detil sebuah penceritaan, menyelami setiap sisi pemikiran karakter-karakternya namun tidak pernah membiarkan sisi emosional dari setiap plot cerita maupun karakter yang ia gali untuk hadir meluap dalam setiap adegan filmnya. Teknik eksekusi penceritaan itulah yang kembali dihadirkan Miller dalam Foxcatcher – sebuah kisah, yang seperti halnya Capote dan Moneyball, juga terinspirasi dari sebuah kejadian nyata.

Dengan naskah cerita yang digarap oleh E. Max Frye (Something Wild, 1986) dan Dan Futterman (Capote), Foxcatcher berkisah mengenai perjuangan dua orang pria dalam mempertahankan harga diri mereka: satu diantaranya berusaha keras untuk mengesankan sang ibu yang sepertinya selalu gagal untuk menghargai apapun yang ia lakukan sementara satu pria lainnya berusaha untuk keluar dari bayang-bayang kesuksesan sang kakak yang selalu menghantui kehidupannya. Tentu saja, premis tersebut adalah sebuah gambaran (terlalu) sederhana dari naskah arahan Frye dan Futterman yang sebenarnya begitu kompleks dan mengandung banyak lapisan kisah. Lebih dari itu, naskah cerita Foxcatcher dengan lihai menyinggung berbagai permasalahan sosial masyarakat modern dalam interaksi para karakternya: mulai dari perbedaan kelas, keserakahan, eksploitasi mimpi, kecemburuan sosial hingga ambisi yang seringkali menggelapkan mata orang yang memilikinya. Mungkin bukanlah deretan tema yang dapat dilihat secara kasat mata namun jelas tertanam kuat dalam penceritaan Foxcatcher.

Foxcatcher juga merupakan sebuah pembelajaran karakter yang kuat. Hadir dengan tempo penceritaan yang cenderung lamban, Miller memaparkan motif, aksi serta jalan pemikiran setiap karakternya dengan begitu seksama. Setiap karakter dibuat sedemikian kuat agar mampu tampil menonjol dan saling mempengaruhi satu sama lain. Penggambaran karakter yang begitu reaktif inilah yang berhasil membawa kereta penceritaan Foxcatcher untuk dapat terus berjalan lugas meskipun tanpa pernah datang dengan konflik maupun emosi yang begitu berapi-api. Dingin namun mampu dengan tegas secara perlahan menusuk perhatian para penontonnya.

Sebagai sebuah film yang mengedepankan pembelajaran karakter dalam alur kisahnya, Foxcatcher jelas menumpukan kualitas utamanya dari penampilan para pengisi departemen aktingnya. Kebrilianan Miller sekali lagi hadir lewat kemampuannya untuk memilih para aktor maupun aktris yang tepat sekaligus memandu mereka untuk menghidupkan setiap karakter yang ada dalam penceritaan Foxcatcher. Tiga aktor utamanya, Steve Carell, Channing Tatum dan Mark Ruffalo tampil dengan kekuatan penampilan yang begitu mengagumkan. Sebagai sosok John Eleuthère du Pont, Carell mampu menyajikan satu karakter dengan jiwa yang begitu kosong dalam setiap perbuatannya. Carell mampu menampilkan sosok penyendiri yang berusaha begitu kuat untuk mengesankan setiap orang yang ada di sekitarnya sekaligus terasa memendam kebencian serta menyalahkan dunia sekitarnya atas kondisi jiwa yang ia rasakan saat itu. Kompleks dan mampu dieksekusi dengan cerdas oleh Carell.

Karakter Mark Schultz yang diperankan Tatum – yang tampil dengan penampilan terbaiknya di dunia film hingga saat ini – juga kurang lebih menjadi refleksi bagi karakter John Eleuthère du Pont. Keduanya adalah sosok yang merasa bahwa mereka butuh untuk membuktikan keberadaan mereka di dunia. Dan chemistry yang tercipta ketika kedua karakter ini bersama dan saling mendukung satu sama lain dalam caranya masing-masing mampu dihadirkan dengan begitu meyakinkan. Dingin… dan seringkali terasa menakutkan. Walaupun hadir dalam porsi penceritaan karakter pendukung, karakter Dave Schultz yang diperankan Ruffalo jelas menjadi antitesis sendiri bagi karakter John Eleuthère du Pont dan Mark Schultz. Penampilan Ruffalo yang begitu hangat dan bersahabat jelas menjadi lawan tersendiri bagi penampilan dingin dan begitu gloomy dari Carell dan Tatum. Ketiga penampilan inilah yang kemudian berpadu dan menciptakan kedinamisan akting yang sempurna bagi Foxcatcher. Tidak lupa, dukungan penampilan dari Vanessa Redgrave dan Sienna Miller turut menambah kekuatan kualitas departemen akting Foxcatcher.

Meskipun sebuah sajian yang tidak dapat dibantah kecerdasannya, seperti layaknya Capote dan Moneyball, pendekatan Miller yang begitu dingin pada Foxcatcher jelas akan memberikan ruang yang cukup besar bagi banyak penonton untuk dapat menikmati film ini dengan lebih nyaman. Namun, meskipun perlahan, ketika Foxcatcher berhasil menangkap perhatian Anda, film ini akan memberikan sebuah pengalaman penceritaan yang begitu kuat lewat penampilan mengagumkan dari para pengisi departemen akting film, tata produksi yang hadir hampir tanpa cela serta kemampuan penceritaan Miller yang lugas dalam menggarap setiap detil sisi kisah yang ingin ia sampaikan. [B]

Foxcatcher (2014)

Directed by Bennett Miller Produced by Bennett Miller, Megan Ellison, Jon Kilik, Anthony Bregman Written by E. Max Frye, Dan Futterman Starring Steve Carell, Channing Tatum, Mark Ruffalo, Vanessa Redgrave, Sienna Miller, Anthony Michael Hall, Guy Boyd, Brett Rice, Samara Lee, Jackson Frazer, Jane Mowder, Daniel Hilt, Lee Perkins, David Bennett Music by Rob Simonsen, West Dylan Thordson Cinematography Greig Fraser Edited by Stuart Levy, Conor O’Neill, Jay Cassidy Production company Annapurna Pictures/Likely Story Running time 134 minutes Country United States Language English

The 87th Annual Academy Awards Nominations List

The nominations are in! Dan hasilnya… film arahan Alejandro González Iñárritu, ‘Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)’ dan film arahan Wes Anderson, ‘The Grand Budapest Hotel’, sama-sama memimpin daftar nominasi The 87th Annual Academy Awards dengan meraih sembilan nominasi. Keduanya akan bersaing dalam memperebutkan gelar Best Picture bersama dengan American Sniper, Boyhood, The Imitation Game, Selma, The Theory of Everything dan Whiplash. Raihan sembilan nominasi yang diraih Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) dan The Grand Budapest Hotel diikuti oleh The Imitation Game yang meraih delapan nominasi serta American Sniper dan Boyhood yang masing-masing meraih enam nominasi.

Continue reading The 87th Annual Academy Awards Nominations List

Review: Despicable Me 2 (2013)

despicable-me-2-header

Well… sebagai sebuah karya perdana, Despicable Me (2010) jelas bukanlah sebuah karya yang buruk. Meskipun dengan naskah cerita yang jelas jauh dari kecerdasan film-film animasi karya Pixar Animation Studios, termasuk sekuel dari film-film animasi yang mereka produksi, film yang diproduksi oleh Illumination Entertainment ini masih mampu tampil menghibur dengan deretan pengisi suara yang berhasil menghidupkan setiap karakter yang ada di dalam jalan cerita, pemanfaatan efek visual yang maksimal dan… kehadiran karakter pendukung bernama minions yang secara mengejutkan mampu mencuri perhatian begitu banyak penonton dunia. Dengan formula tersebut, Despicable Me yang dibuat dengan biaya produksi sebesar hanya US$69 juta berhasil mengumpulkan total pendapatan sebesar lebih dari US$543 juta dari masa perilisannya di seluruh dunia. Atau dalam bahasa lain di Hollywood… sekuel!

Continue reading Review: Despicable Me 2 (2013)

Review: Hope Springs (2012)

home-springs-header

Melepaskan dirinya dari segala ketegangan ketika memerankan Margaret Thatcher dalam film The Iron Lady (2011) – yang berhasil memberikannya penghargaan Academy Awards ketiga sekaligus menjadi salah satu penampilan terbaik di sepanjang karirnya, Meryl Streep bereuni bersama sutradara David Frankel (The Devil Wears Prada, 2006) untuk menggarap dalam sebuah film drama komedi yang berjudul Hope Springs. Well… tema penceritaan yang ditawarkan oleh film yang naskah ceritanya ditulis oleh Vanessa Taylor ini boleh saja tergolong ringan dan begitu familiar. Namun dengan eksekusi elemen drama dan komedi yang tepat serta penampilan luar biasa dari Streep, Tommy Lee Jones dan Steve Carell, Hope Springs mampu menjelma menjadi sebuah sajian yang benar-benar menghibur.

Continue reading Review: Hope Springs (2012)

Review: Crazy, Stupid, Love. (2011)

Sesuai dengan kesan yang akan didapatkan penonton ketika membaca judul film ini, Crazy, Stupid, Love. mencoba untuk menggabungkan elemen drama, komedi dan romansa ke dalam sebuah jalinan kisah yang berdurasi sepanjang 118 menit. Berhasil? Sebagai sebuah komedi, Crazy, Stupid, Love. cukup mampu untuk tampil stabil di berbagai bagian ceritanya. Didukung dengan penampilan apik para jajaran pemerannya serta naskah cerita yang berisi deretan dialog menghibur dan ditulis oleh Dan Fogelman (Cars 2, 2011), Crazy, Stupid, Love. harus diakui berhasil memberikan banyak momen-momen menyenangkan bagi penontonnya. Sayangnya, usaha untuk melebarkan sayap ke wilayah drama romansa seringkali berakhir dengan kegagalan akibat terlalu banyaknya sisi cerita yang ingin dikembangkan yang berakibat kurang fokusnya penceritaan yang disampaikan kepada penonton.

Continue reading Review: Crazy, Stupid, Love. (2011)

Review: Despicable Me (2010)

Universal Pictures, melalui Illumination Entertainment, akhirnya ikut serta dalam persaingan untuk perilisan film-film animasi Hollywood. Sedikit tertinggal dari rumah-rumah produksi lainnya, namun melalui Despicable Me — yang memanfaatkan dengan tepat penggunaan teknologi 3D seperti halnya How to Train Your Dragon beberapa waktu yang lalu — Universal Pictures sepertinya akan mampu membuktikan bahwa mereka berada di posisi yang tidak terlalu jauh dari para pesaingnya.

Continue reading Review: Despicable Me (2010)

Review: Date Night (2010)

Dengan tiga anak diantara mereka, Phil (Steve Carrell) dan Claire Foster (Tina Fey) memiliki tipe pernikahan yang dipastikan akan menjadi mimpi buruk bagi seorang Carrie Bradshaw: berjalan lambat dan sangat membosankan. Phil dan Claire sendiri telah menyadari hal ini, yang membuat mereka selalu berusaha untuk meluangkan satu malam di setiap minggunya untuk keluar bersama berdua dan melupakan segala rutinitas harian mereka. Namun, tradisi keluar bersama berdua ini sendiri lama-kelamaan mulai menjadi sebuah rutinitas yang membosankan pula bagi pasangan ini. Phil dan Claire membutuhkan sesuatu yang baru dan menyegarkan dalam kehidupan mereka!

Continue reading Review: Date Night (2010)