Tag Archives: Adrian Rawlins

Review: Darkest Hour (2017)

Jika Dunkirk (Christopher Nolan, 2017) membawa penontonnya melaju ke medan perang ketika pasukan sekutu yang berisikan tentara-tentara dari negara Inggris, Perancis, Belgia, dan Kanada terjebak dan dikepung pasukan Jerman di wilayah pantai dan pelabuhan Dunkirk, Perancis pada 26 Mei hingga 4 Juni 1940 semasa Perang Dunia II berlangsung, maka Darkest Hour berkisah mengenai bagaimana pasukan Inggris dapat terlibat dalam situasi tersebut. Jalan ceritanya sendiri dimulai ketika Winston Churchill (Gary Oldman) dipilih untuk menggantikan posisi Neville Chamberlain (Ronald Pickup) sebagai Perdana Menteri Inggris yang dinilai kurang mampu untuk menangani permasalahan keamanan negara. Dengan Perang Dunia II yang sedang berkecamuk, posisi sebagai seorang Perdana Menteri memberikan tekanan kuat bagi Winston Churchill dalam melaksanakan tugas kesehariannya. Namun, tekanan terbesar datang ketika pasukan Inggris yang sedang berperang bersama pasukan sekutu untuk melawan pasukan Jerman mulai menderita kekalahan. Demi menyelamatkan nyawa ribuan tentaranya, anggota parlemen Inggris lantas meminta Winston Churchill untuk berunding dan melakukan perdamaian dengan Jerman. Suatu permintaan yang jelas tidak dapat diterima Winston Churchill begitu saja. Continue reading Review: Darkest Hour (2017)

Advertisements

Review: The Woman in Black 2: Angel of Death (2015)

The-Woman-in-Black-angel-of-death-posterThe Woman in Black 2: Angel of Death, yang merupakan sekuel dari film The Woman in Black (James Watkins, 2012), adalah salah satu contoh buruk bagaimana para produser seringkali memaksakan kehadiran adanya sebuah sekuel dengan tanpa adanya ide cerita baru yang berarti demi mengharapkan terulangnya kesuksesan komersial film pertama. Tidak lagi diarahkan oleh Watkins, dengan naskah cerita yang tidak lagi ditangani oleh Jane Goldman dan tanpa penampilan dari Daniel Radcliffe, The Woman in Black 2: Angel of Death benar-benar hadir tanpa menawarkan keistimewaan apapun. Sangat, sangat membosankan.

Jadi apa yang menjadi masalah terbesar The Woman in Black 2: Angel of Death? Naskah cerita. Di tangan Jon Crocker yang menggantikan posisi Goldman, naskah cerita The Woman in Black 2: Angel of Death hanyalah berisi berbagai perulangan petualangan horor yang dahulu sempat ditampilkan pada film pertama. Baiklah. Film ini memang menghadirkan deretan karakter dan konflik yang berbeda – termasuk dengan memodernkan latar belakang waktu penceritaan dari awal abad ke-20 menjadi masa pertengahan abad tersebut dimana Perang Dunia sedang bergejolak. Namun lebih dari itu? Sama sekali tidak ada yang baru. Masih mengisahkan mengenai sebuah rumah berhantu, dengan teror dari sang “wanita bergaun hitam”, kisah legenda mengenai sang wanita tersebut yang kemudian menjadi misteri yang berusaha dipecahkan sang karakter utama di film ini dan, tentu saja, kematian demi kematian karakter yang turut menggunakan berbagai formula film sebelumnya.

Sutradara Tom Harper, yang menggantikan posisi Watkins, sepertinya sadar akan kelemahan naskah cerita dari film yang ia arahkan. Karenanya, Harper kemudian memusatkan perhatiannya pada usaha untuk menakuti para penontonnya. Dengan cara apa? Dengan menghadirkan deretan adegan-adegan penuh kejutan horor plus tambahan iringan musik yang akan sanggup memekakkan telinga setiap penonton film ini. Medioker – jika tidak ingin disebut sebagai sebuah pengarahan yang buruk. Harus diakui, beberapa bagian kejutan horor tersebut masih mampu memberikan hiburan tersendiri. Namun setelah beberapa saat, dan dengan bangunan cerita dan eksekusi yang lemah, kehadiran kejutan demi kejutan tersebut akhirnya berubah hampa dan cenderung berkesan mengganggu.

Naskah buruk Crocker juga memberikan ruang yang begitu sempit bagi setiap karakter dalam jalan cerita film ini untuk berkembang dengan baik. Karenanya, jangan heran jika melihat aktor dan aktris bertalenta akting kuat seperti Jeremy Irvine, Helen McCrory dan Phoebe Fox tersia-siakan penampilannya dalam film ini. Jika ada bagian yang layak diberikan (sedikit) pujian dalam The Woman in Black 2: Angel of Death mungkin hal tersebut muncul dari sisi teknikal film yang berhasil merangkai gambar dan kualitas produksi beratmosfer gloomy yang benar-benar elegan. Selebihnya… well… Daniel Radcliffe jelas beruntung tidak harus memiliki film buruk ini dalam catatan filmografinya. [C-]

The Woman in Black 2: Angel of Death (2015)

Directed by Tom Harper Produced by Simon Oakes, Richard Jackson, Ben Holden, Tobin Armbrust Written by     Jon Croker (screenplay), Susan Hill (story) Starring Phoebe Fox, Jeremy Irvine, Helen McCrory, Adrian Rawlins, Leanne Best, Ned Dennehy, Jacob Oaklee Pendergast, Genelle Williams, Leilah de Meza, Claire Rafferty, Jude Wright, Amelia Pidgeon, Pip Pearce, Alfie Simmons, Casper Allpress Music by Marco Beltrami, Brandon Roberts, Marcus Trumpp Cinematography George Steel Edited by Mark Eckersley Studio Hammer Films/Entertainment One/Cross Creek Pictures Running time 98 minutes Country United Kingdom Language English

Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011)

This is it! Setelah sebuah usaha untuk sedikit memperpanjang usia franchise film Harry Potter dengan membagi dua bagian akhir dari kisah Harry Potter and the Deathly Hallows, dunia kini tampaknya harus benar-benar mengucapkan salam perpisahan mereka pada franchise yang telah berusia satu dekade dan memberikan tujuh seri perjalanan yang mengagumkan ini. Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 memiliki nada penceritaan yang menyerupai bagian awal kisahnya – yang sekaligus membuktikan bahwa Harry Potter and the Deathly Hallows adalah sebuah kesatuan penceritaan yang unik sekaligus akan memberikan efek emosional yang lebih mendalam jika diceritakan dalam satu bagian utuh. Pun begitu, dengan apa yang ia hantarkan di …The Deathly Hallows – Part 2, David Yates akan mampu memenuhi ekspektasi setiap orang tentang bagaimana final dari salah satu kisah yang paling dicintai di muka Bumi akan berakhir: EPIK!

Continue reading Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011)