Tag Archives: Ben Mendelsohn

Review: Robin Hood (2018)

Hollywood sepertinya belum merasa puas untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan yang dapat mereka raih dengan kisah legenda Robin Hood. Setelah sebelumnya Ridley Scott merilis versinya pada tahun 2010 – dengan dibintangi nama-nama besar seperti Russell Crowe, Cate Blanchett, hingga Oscar Isaac, Léa Seydoux, Mark Strong, William Hurt, dan Max von Sydow – saduran teranyar dari kisah sang pahlawan rakyat jelata dari tanah Inggris tersebut kini hadir lewat film berjudul sama garapan sutradara asal Inggris, Otto Bathurst. Merupakan debut pengarahan film layar lebar bagi sutradara yang lebih dikenal sebagai sutradara bagi serial televisi seperti Peaky Blinders dan Black Mirror ini, Robin Hood mencoba menghadirkan penyegaran pada beberapa sudut pengisahan dan karakterisasi Robin Hood yang memang telah begitu familiar tersebut. Cukup menyegarkan… walau dengan durasi pengisahan yang mencapai hampir 120 menit, Robin Hood terasa mencuri waktu yang terlalu banyak untuk menjabarkan deretan konflik yang sebenarnya cukup sederhana dan kurang mendalam. Continue reading Review: Robin Hood (2018)

Advertisements

Review: Ready Player One (2018)

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Zak Penn (The Avengers, 2012) bersama dengan Ernest Cline berdasarkan novel berjudul sama yang ditulis oleh Cline, film terbaru arahan Steven Spielberg (The Post, 2017), Ready Player One memiliki pengisahan yang berlatar belakang di tahun 2045. Di masa tersebut, dunia telah berubah menjadi sebuah tempat dimana ketidakteraturan melanda seluruh elemen sosial. Untuk melarikan diri dari berbagai permasalahan tersebut, banyak orang kemudian mengikuti sebuah permainan virtual bernama Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation yang diciptakan oleh James Halliday (Mark Rylance) dimana mereka dapat beraktivitas dengan kondisi dunia yang jelas jauh lebih baik dari dunia nyata. Secara perlahan, beberapa orang mulai menemukan sebuah permainan yang disebut Anarok’s Quest yang tersembunyi di dalam  Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation yang lantas menjanjikan bahwa orang pertama yang dapat memenangkan permainan tersebut akan dijadikan pemilik hak cipta dari Ontologically Anthropocentric Sensory Immersive Simulation. Sebuah iming-iming yang jelas membuat banyak orang mulai memburu hadiah tersebut. Continue reading Review: Ready Player One (2018)

Review: Darkest Hour (2017)

Jika Dunkirk (Christopher Nolan, 2017) membawa penontonnya melaju ke medan perang ketika pasukan sekutu yang berisikan tentara-tentara dari negara Inggris, Perancis, Belgia, dan Kanada terjebak dan dikepung pasukan Jerman di wilayah pantai dan pelabuhan Dunkirk, Perancis pada 26 Mei hingga 4 Juni 1940 semasa Perang Dunia II berlangsung, maka Darkest Hour berkisah mengenai bagaimana pasukan Inggris dapat terlibat dalam situasi tersebut. Jalan ceritanya sendiri dimulai ketika Winston Churchill (Gary Oldman) dipilih untuk menggantikan posisi Neville Chamberlain (Ronald Pickup) sebagai Perdana Menteri Inggris yang dinilai kurang mampu untuk menangani permasalahan keamanan negara. Dengan Perang Dunia II yang sedang berkecamuk, posisi sebagai seorang Perdana Menteri memberikan tekanan kuat bagi Winston Churchill dalam melaksanakan tugas kesehariannya. Namun, tekanan terbesar datang ketika pasukan Inggris yang sedang berperang bersama pasukan sekutu untuk melawan pasukan Jerman mulai menderita kekalahan. Demi menyelamatkan nyawa ribuan tentaranya, anggota parlemen Inggris lantas meminta Winston Churchill untuk berunding dan melakukan perdamaian dengan Jerman. Suatu permintaan yang jelas tidak dapat diterima Winston Churchill begitu saja. Continue reading Review: Darkest Hour (2017)

Review: Rogue One: A Star Wars Story (2016)

Setelah menghabiskan dana sebesar US$4.06 milyar untuk mengakuisisi Lucasfilm pada tahun 2012 lalu, The Walt Disney Company sepertinya tidak menyia-nyiakan waktu mereka untuk memproduksi lanjutan perjalanan seri film milik Lucasfilm terpopuler, Star Wars. Dimulai dengan perilisan Star Wars: Episode VII – The Force Awakens (J.J. Abrams, 2015), The Walt Disney Company kemudian berencana untuk merilis episode terbaru dari seri Star Wars setiap dua tahun sekali. Tidak hanya itu, untuk mengisi senggang waktu dua tahun dari jarak perilisan tiap film, seri film Star Wars akan dilengkapi dengan Star Wars Anthology yang merupakan rangkaian film yang berdiri sendiri dan memiliki latar belakang waktu penceritaan sebelum terjadinya berbagai konflik yang dikisahkan pada Star Wars: Episode IV – A New Hope (George Lucas, 1977). Dan Rogue One: A Star Wars Story akan menjadi film pertama dari tiga film yang telah direncanakan The Walt Disney Company untuk dirilis sebagai bagian Star Wars Anthology tersebut. Continue reading Review: Rogue One: A Star Wars Story (2016)

Review: Killing Them Softly (2012)

Killing-Them-Softly-header

Membutuhkan waktu lima tahun bagi sutradara asal Australia, Andrew Dominik, untuk memproduksi dan merilis film ketiganya, Killing Them Softly, untuk mengikuti kesuksesan kritikal The Assasination of Jesse James by the Coward Robert Ford yang dirilis pada tahun 2007 lalu. Sama seperti film keduanya tersebut – maupun film perdananya, Chopper (2000) – Killing Them Softly masih memiliki alur penceritaan yang berfokus pada karakter-karakter yang hidup dalam kelamnya dunia kriminal. Diadaptasi sendiri oleh Dominik dari novel karya George V. Higgins yang berjudul Cogan’s Trade (1974), Killing Them Softly jelas masih akan mampu memuaskan mereka yang memang menggemari cara Dominik dalam mengarahkan sebuah cerita yang dipenuhi dengan dialog-dialog tajam, meskipun, harus diakui, Killing Them Softly tidak memiliki plot cerita sekuat The Assasination of Jesse James by the Coward Robert Ford yang fenomenal tersebut.

Continue reading Review: Killing Them Softly (2012)

Review: The Dark Knight Rises (2012)

Ketika dirilis pada tahun 2005, Batman Begins yang diarahkan oleh Christopher Nolan berhasil membersihkan imej karakter pahlawan tersebut dari kegagalan besar yang disebabkan oleh Joel Schumacher dengan Batman & Robin (1997) yang sempat dianggap telah mematikan potensi perkembangan franchise tersebut secara keseluruhan. Tidak hanya itu, atmosfer kelam dan cenderung depresif yang ditampilkan dalam penceritaan Batman Begins yang diarahkan Nolan kemudian memberikan pengaruh besar bagi banyak adaptasi kisah-kisah superhero yang muncul setelahnya, bahkan hingga saat ini. Kini, tujuh tahun setelah perilisan Batman Begins dan empat tahun selepas perilisan sekuelnya, The Dark Knight (2008), yang fenomenal itu, Nolan melengkapi trilogi The Dark Knight-nya dengan merilis The Dark Knight Rises: sebuah bagian yang nantinya mungkin akan dikenal sebagai bagian terkelam, termegah sekaligus terambisius dari trilogi The Dark Knight arahan Nolan. Tapi apakah The Dark Knight Rises akan menjadi bagian terbaik?

Continue reading Review: The Dark Knight Rises (2012)

Review: Trespass (2011)

Sebuah film yang dibintangi oleh Nicolas Cage dan Nicole Kidman serta diarahkan oleh Joel Schumacher. Percaya atau tidak, hal ini sepertinya memang akan terjadi di satu titik pada perjalanan karir ketiga nama tersebut. Sama-sama pernah memenangkan sebuah Academy Awards dan memiliki sebuah karir akting yang telah cukup teruji, Cage dan Kidman juga seringkali tidak mampu menolak tawaran untuk bermain dalam film-film yang diragukan kualitasnya. Hal tersebut berjalan linear dengan karir penyutradaraan yang dimiliki oleh Joel Schumacher. Walau bukanlah seorang sutradara spesialis film-film yang meraih penghargaan film, Schumacher pernah berada pada posisi sebagai seorang sutradara yang mampu menghasilkan film-film ringan, komersil namun berbobot. Hal tersebut, sayangnya, telah lama berlalu. Tiga film terakhir Schumacher, The Number 23 (2007), Blood Creek (2009) dan Twelve (2010), berakhir pahit dengan menjadi sasaran kritikan tajam para kritikus film sekaligus ditinggalkan para penontonnya.

Continue reading Review: Trespass (2011)

Review: Animal Kingdom (2010)

Dalam adegan pembukaan Animal Kingdom, Joshua Cody (James Frecheville), sedang duduk di sofa dan menonton sebuah acara televisi berdua bersama ibunya… hingga akhirnya ia menyadari bahwa ibunya telah meninggal dunia akibat heroin yang ia konsumsi. Saat pihak paramedis datang, Joshua menjawab setiap pertanyaan yang ditanyakan kepadanya mengenai kematian sang ibu, walau matanya masih terfokus pada acara televisi yang sedang ia saksikan. Kehidupan Joshua dan ibunya memang tidak pernah berjalan menyenangkan. Namun, kehidupan bersama ibunya tersebut masih tergolong jauh lebih baik dengan kehidupan yang akan ia hadapi setelah kematian sang ibu.

Continue reading Review: Animal Kingdom (2010)