Review: Darkest Hour (2017)


Jika Dunkirk (Christopher Nolan, 2017) membawa penontonnya melaju ke medan perang ketika pasukan sekutu yang berisikan tentara-tentara dari negara Inggris, Perancis, Belgia, dan Kanada terjebak dan dikepung pasukan Jerman di wilayah pantai dan pelabuhan Dunkirk, Perancis pada 26 Mei hingga 4 Juni 1940 semasa Perang Dunia II berlangsung, maka Darkest Hour berkisah mengenai bagaimana pasukan Inggris dapat terlibat dalam situasi tersebut. Jalan ceritanya sendiri dimulai ketika Winston Churchill (Gary Oldman) dipilih untuk menggantikan posisi Neville Chamberlain (Ronald Pickup) sebagai Perdana Menteri Inggris yang dinilai kurang mampu untuk menangani permasalahan keamanan negara. Dengan Perang Dunia II yang sedang berkecamuk, posisi sebagai seorang Perdana Menteri memberikan tekanan kuat bagi Winston Churchill dalam melaksanakan tugas kesehariannya. Namun, tekanan terbesar datang ketika pasukan Inggris yang sedang berperang bersama pasukan sekutu untuk melawan pasukan Jerman mulai menderita kekalahan. Demi menyelamatkan nyawa ribuan tentaranya, anggota parlemen Inggris lantas meminta Winston Churchill untuk berunding dan melakukan perdamaian dengan Jerman. Suatu permintaan yang jelas tidak dapat diterima Winston Churchill begitu saja.

Mereka yang familiar dengan filmografi milik sutradara film ini, Joe Wright, jelas telah mengetahui bahwa Darkest Hour bukanlah kali pertama sutradara asal Inggris tersebut bersinggungan dengan narasi tentang Pertempuran Dunkirk. Dalam Atonement (2007), Wright – dengan bantuan penata sinematografi, Seamus McGarvey, serta komposer, Dario Marianelli – berhasil merangkai sebuah adegan ikonik dan begitu menyentuh tentang suasana para tentara sekutu yang menanti nasib mereka di wilayah pantai dan pelabuhan Dunkirk. Darkest Hour bukanlah Atonement – ataupun Dunkirk. Tidak ada adegan aksi maupun peperangan penuh darah yang mewarnai penceritaan film ini. Wright menggarap Darkest Hour layaknya sebuah drama panggung yang didominasi deretan intrik dan dialog yang terbentuk antara karakter-karakternya. Penggarapan yang tenang dan, secara mengejutkan, mampu menghanyutkan.

Naskah cerita yang digarap oleh Anthony McCarten (The Theory of Everything, 2014) sendiri mampu tampil lugas dalam mengolah setiap karakter maupun konflik bernuansa politik dan personal yang dihadirkannya. Sentuhan komedi yang ditanamkan pada sosok Winston Churchill dan deretan dialog yang dilontarkannya juga memberikan dorongan kuat bagi Darkest Hour untuk tampil dengan atmosfer pengisahan yang lebih segar. Kecilnya lingkup pengisahan yang diiringi dengan hadirnya cukup banyak karakter memang terkadang memberikan beban tersendiri bagi film ini untuk mampu berkembang dengan baik. Selain Winston Churchill, nyaris tak satupun karakter lain dalam jalan penceritaan Darkest Hour mampu diberikan alur pengisahan yang lebih besar dan layak. Memang, karakter-karakter tersebut tampil dalam porsi pendukung yang tidak begitu mendominasi cerita. Namun, jalan pengisahan Darkest Hour jelas akan terasa lebih dinamis jika didampingi oleh barisan kisah pendukung yang sama menariknya dengan kisah utama yang disajikannya.

Tidak dapat dipungkiri, penampilan prima Oldman menjadi daya tarik sekaligus kekuatan utama bagi film ini. Meskipun dibebani tampilan tata rias yang cukup berat, penampilan Oldman sebagai Winston Churchill tidak pernah terasa sebagai sebuah penampilan yang dipaksakan. Oldman mampu menghadirkan Winston Churchill dengan daya tarik alami yang mampu menjadikannya sebagai pusat perhatian setiap orang. Elemen komedi yang digariskan pada karakternya juga mampu dieksekusi Oldman dengan sempurna. Begitu pula dengan chemistry yang ia hadirkan bersama dengan para pemeran lainnya. Sebuah pidato yang diutarakan karakter Winston Churchill di hadapan para anggota parlemen Inggris dalam sebuah adegan di paruh ketiga penceritaan Darkest Hour berhasil disajikan Oldman dengan penuh emosional dan menjadi momen emas puncak bagi film ini.

Karakter-karakter yang mereka perankan memang tidak diberikan porsi pengisahan yang maksimal namun penampilan akting dari Kristin Scott Thomas, Ben Mendelsohn, hingga Lily James hadir dalam kualitas yang tampil memperkuat solidnya penampilan departemen akting Darkest Hour. Iringan komposisi musik karangan Marianelli juga senantiasa memberikan banyak momen kuat bagi film ini. Sebuah penggarapan yang cukup memuaskan dari Wright meskipun seringkali terasa kurang mampu menjangkau para penontonnya dengan lebih kuat. [B-]

darkest-hour-gary-oldman-movie-posterDarkest Hour (2017)

Directed by Joe Wright Produced by Tim Bevan, Lisa Bruce, Eric Fellner, Anthony McCarten, Douglas Urbanski Written by Anthony McCarten Starring Gary Oldman, Kristin Scott Thomas, Ben Mendelsohn, Lily James, Ronald Pickup, Stephen Dillane, Nicholas Jones, Samuel West, David Schofield, Richard Lumsden, Malcolm Storry, Hilton McRae, Benjamin Whitrow, Joe Armstrong, Adrian Rawlins, David Bamber, David Strathairn, Jeremy Child, Brian Pettifer, Michael Gould, John Atterbury Music by Dario Marianelli Cinematography Bruno Delbonnel Edited by Valerio Bonelli Production company Perfect World Pictures/Working Title Films Running time 125 minutes Country United Kingdom Language English

Advertisements

2 thoughts on “Review: Darkest Hour (2017)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s