Review: The Woman in the Window (2021)

Well… Anda tidak salah jika merasa bahwa telah begitu familiar dengan judul The Woman in the Window. Film ini sebenarnya telah menyelesaikan proses produksinya pada akhir tahun 2018 dengan jadwal rilis pada akhir tahun 2019. Namun, sejumlah perubahan terus menunda perilisan film yang diarahkan oleh Joe Wright (Darkest Hour, 2017) ini. Walt Disney Studios Motion Pictures, yang merupakan pemilik baru dari rumah produksi 20th Century Fox yang memproduksi film ini, dikabarkan tidak puas dengan hasil akhir film ini pada saat tersebut dan meminta untuk dilakukan sejumlah pengambilan gambar ulang. Trent Reznor dan Atticus Ross yang awalnya bertugas sebagai penata musik film juga memilih untuk tidak melanjutkan kinerja mereka yang lantas digantikan oleh komposer Danny Elfman. Dan, tentu saja, pandemi COVID-19 juga memberikan andil dalam menggagalkan rencana rilis The Woman in the Window yang baru di awal tahun 2020. Setelah penundaan demi penundaan, yang masih ditambah dengan kondisi pandemi yang masih belum membaik, membuat Walt Disney Studios Motion Pictures kemudian memilih untuk menjual hak rilis film ini kepada Netflix yang lantas merilisnya pada awal tahun 2021 – dua tahun dari jadwal awal perilisan film ini di layar bioskop.

Dengan naskah cerita yang digarap oleh Tracy Letts (August: Osage County, 2013) berdasarkan novel berjudul sama yang ditulis oleh A. J. Finn, The Woman in the Window berkisah tentang seorang psikolog anak bernama Anna Fox (Amy Adams) yang telah menghabiskan masa selama hampir setahun terakhir terkurung di rumahnya sendiri akibat gangguan cemas agorafobia – rasa takut atau cemas akan berada di ruang terbuka – yang dideritanya. Dengan kondisi tersebut, Anna Fox menghabiskan kesehariannya dengan menonton film-film klasik Hollywood, belajar Bahasa Perancis, melakukan observasi terhadap lingkungan di sekitarnya, serta meminum minuman beralkohol favoritnya – yang membuatnya sering berada dalam kondisi setengah sadar. Ketika satu keluarga, Alistair Russell (Gary Oldman), Jane Russell (Julianne Moore), dan Ethan Russell (Fred Hechinger), pindah ke rumah yang berada di hadapan rumahnya, Anna Fox merasa seperti menemukan sebuah obyek baru yang memikat perhatiannya. Sial, rasa keingintahuannya tersebut justru menjebaknya ketika ia menjadi saksi mata atas sebuah aksi pembunuhan yang terjadi di rumah tersebut yang secara perlahan mulai membuat hidupnya semakin berantakan.

Rasanya tidak terlalu berlebihan jika sejumlah penonton mengira The Woman in the Window berada di semesta pengisahan yang sama dengan The Girl on the Train (Tate Taylor, 2016). Selain pengisahannya yang sama-sama diadaptasi dari sebuah novel serta struktur ceritanya yang juga sama-sama mengusung tata cerita a la kisah-kisah misteri garapan Alfred Hitchcock – The Woman in the Window jelas akan mengingatkan banyak penontonnya pada Rear Window (1954), The Girl on the Train dan The Woman in the Window juga menghadirkan premis cerita yang hampir senada tentang sesosok karakter perempuan dengan kegemaran akan minuman alkohol yang kemudian menjadi saksi atas terjadinya sebuah perbuatan kriminal. Kesamaan lain? Meskipun memiliki atmosfer narasi film seperti film-film pengundang sejuta tanda tanya arahan Hitchcock, baik Taylor dan Wright juga terasa mengeksekusi film arahan mereka layaknya David Fincher mengelola konflik maupun karakter dalam film-film misterinya – bukan sebuah hal yang buruk, tentu saja. Namun, layaknya The Girl on the Train, The Woman in the Window tidak mendapatkan dukungan kualitas cerita yang cukup kuat untuk menjadikannya tampil prima.

Dengan durasi penceritaan (hanya) sepanjang 100 menit, The Woman in the Window, sayangnya, menghabiskan terlalu banyak waktu untuk membangun pondasi sejumlah misteri dan konflik pada linimasa penceritaannya. Hal ini yang kemudian menyebabkan film ini terasa terburu-buru dalam menyibak tabir sejumlah misteri – dan sejumlah pelintiran cerita – pada paruh pertengahan hingga akhir cerita. Letts dan Wright mungkin memilih jalan tersebut agar penonton mampu menyelami pemikiran dari sang karakter utama dalam menghadapi sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang dihadapinya. Di saat yang bersamaan, fokus yang terlalu berlebihan akan landasan misteri maupun konflik pada paruh awal film memberikan halangan bagi sejumlah konflik maupun karakter untuk berkembang secara lebih matang.

Penataan cerita pada film ini juga menghadirkan sejumlah pertanyaan pada beberapa karakter serta bangunan konflik yang muncul namun tidak mendapatkan galian cerita yang mendalam: keluarga Russell tidak pernah mendapatkan perhatian cerita secara utuh, Jennifer Jason Leigh nyaris hanya berdiri mematung di sepanjang presentasi film, karakter David Winter yang diperankan Wyatt Russell terasa disajikan dengan pengisahan yang tidak utuh, serta, yang paling fatal, film ini bahkan meninggalkan begitu saja elemen kisah tentang gangguan agorafobia yang diderita oleh sang karakter utama dan membuatnya terasa digunakan untuk peralatan plot cerita yang hanya digunakan pada beberapa momen tertentu. Wright mengarahkan filmnya untuk dapat dinikmati bagaikan sebuah teka-teki namun meninggalkan banyak kepingan cerita yang membuat film ini terasa tidak benar-benar diselesaikan secara utuh.

Terlepas dari sejumlah kelemahan pada pengelolaan naskah ceritanya, Wright cukup berhasil untuk mengemas The Woman in the Window agar tidak terjerembab sebagai sebuah presentasi cerita yang membosankan. Aliran intrik kisah yang dipadukan dengan tatanan artistik yang akan memberi kesan akan film-film misteri klasik setidaknya akan mampu menjaga rasa perhatian penonton untuk terus membuka lapisan misteri dari cerita film ini. Dari segi akting, Wright juga sukses mengumpulkan penampilan-penampilan akting terbaik untuk menghidupkan barisan karakter dalam linimasa pengisahan filmnya. Meskipun bukan penampilan akting terbaiknya, Adams masih dapat hadir secara meyakinkan. Begitu pula dengan Oldman dan Russell. Penampilan akting terkuat dalam The Woman in the Window justru muncul dari penampilan Moore, Hechinger, dan Brian Tyree Henry. Penampilan-penampilan dalam karakter yang sebenarnya minimalis namun mampu untuk mencuri perhatian pada setiap kehadirannya.

The Woman in the Window (2021)

Directed by Joe Wright Produced by Scott Rudin, Eli Bush, Anthony Katagas Written by Tracy Letts (screenplay), A. J. Finn (novel, The Woman in the Window) Starring Amy Adams, Gary Oldman, Anthony Mackie, Fred Hechinger, Wyatt Russell, Brian Tyree Henry, Jennifer Jason Leigh, Julianne Moore, Jeanine Serralles, Mariah Bozeman, Liza Colón-Zayas, Tracy Letts Music by Danny Elfman Cinematography Bruno Delbonnel Edited by Valerio Bonelli Production companies 20th Century Studios/Fox 2000 Pictures/Scott Rudin Productions Running time 100 minutes Country United States Language English

2 thoughts on “Review: The Woman in the Window (2021)”

Leave a Reply