Tag Archives: Helen McCrory

Review: Loving Vincent (2017)

Loving Vincent bukanlah sebuah film animasi biasa. Diinspirasi oleh lukisan-lukisan karya Vincent van Gogh – yang sebagian kisah kehidupannya menjadi fokus utama penceritaan film ini, Loving Vincent dibuat dengan bantuan 125 pelukis yang berasal dari seluruh penjuru dunia yang kemudian menghasilkan sekitar 65 ribu frame gambar berupa lukisan cat minyak yang nantinya dipadukan untuk mengisi deretan adegan cerita film ini. Sebuah teknik yang jelas rumit dan akhirnya menghabiskan waktu selama empat tahun untuk menyelesaikan seluruh proses produksi film ini. Namun, sebagaimana layaknya sebuah lukisan yang menjadi mahakarya para pembuatnya, Loving Vincent yang digarap oleh Dorota Kobiela dan Hugh Welchman ini juga mampu hadir dengan kualitas akhir yang begitu memuaskan: deretan gambar dalam film ini tampil begitu indah untuk disaksikan dengan jalan cerita yang menyertainya bahkan mampu disajikan dengan sentuhan emosional yang begitu mengikat. Continue reading Review: Loving Vincent (2017)

Advertisements

Review: The Woman in Black 2: Angel of Death (2015)

The-Woman-in-Black-angel-of-death-posterThe Woman in Black 2: Angel of Death, yang merupakan sekuel dari film The Woman in Black (James Watkins, 2012), adalah salah satu contoh buruk bagaimana para produser seringkali memaksakan kehadiran adanya sebuah sekuel dengan tanpa adanya ide cerita baru yang berarti demi mengharapkan terulangnya kesuksesan komersial film pertama. Tidak lagi diarahkan oleh Watkins, dengan naskah cerita yang tidak lagi ditangani oleh Jane Goldman dan tanpa penampilan dari Daniel Radcliffe, The Woman in Black 2: Angel of Death benar-benar hadir tanpa menawarkan keistimewaan apapun. Sangat, sangat membosankan.

Jadi apa yang menjadi masalah terbesar The Woman in Black 2: Angel of Death? Naskah cerita. Di tangan Jon Crocker yang menggantikan posisi Goldman, naskah cerita The Woman in Black 2: Angel of Death hanyalah berisi berbagai perulangan petualangan horor yang dahulu sempat ditampilkan pada film pertama. Baiklah. Film ini memang menghadirkan deretan karakter dan konflik yang berbeda – termasuk dengan memodernkan latar belakang waktu penceritaan dari awal abad ke-20 menjadi masa pertengahan abad tersebut dimana Perang Dunia sedang bergejolak. Namun lebih dari itu? Sama sekali tidak ada yang baru. Masih mengisahkan mengenai sebuah rumah berhantu, dengan teror dari sang “wanita bergaun hitam”, kisah legenda mengenai sang wanita tersebut yang kemudian menjadi misteri yang berusaha dipecahkan sang karakter utama di film ini dan, tentu saja, kematian demi kematian karakter yang turut menggunakan berbagai formula film sebelumnya.

Sutradara Tom Harper, yang menggantikan posisi Watkins, sepertinya sadar akan kelemahan naskah cerita dari film yang ia arahkan. Karenanya, Harper kemudian memusatkan perhatiannya pada usaha untuk menakuti para penontonnya. Dengan cara apa? Dengan menghadirkan deretan adegan-adegan penuh kejutan horor plus tambahan iringan musik yang akan sanggup memekakkan telinga setiap penonton film ini. Medioker – jika tidak ingin disebut sebagai sebuah pengarahan yang buruk. Harus diakui, beberapa bagian kejutan horor tersebut masih mampu memberikan hiburan tersendiri. Namun setelah beberapa saat, dan dengan bangunan cerita dan eksekusi yang lemah, kehadiran kejutan demi kejutan tersebut akhirnya berubah hampa dan cenderung berkesan mengganggu.

Naskah buruk Crocker juga memberikan ruang yang begitu sempit bagi setiap karakter dalam jalan cerita film ini untuk berkembang dengan baik. Karenanya, jangan heran jika melihat aktor dan aktris bertalenta akting kuat seperti Jeremy Irvine, Helen McCrory dan Phoebe Fox tersia-siakan penampilannya dalam film ini. Jika ada bagian yang layak diberikan (sedikit) pujian dalam The Woman in Black 2: Angel of Death mungkin hal tersebut muncul dari sisi teknikal film yang berhasil merangkai gambar dan kualitas produksi beratmosfer gloomy yang benar-benar elegan. Selebihnya… well… Daniel Radcliffe jelas beruntung tidak harus memiliki film buruk ini dalam catatan filmografinya. [C-]

The Woman in Black 2: Angel of Death (2015)

Directed by Tom Harper Produced by Simon Oakes, Richard Jackson, Ben Holden, Tobin Armbrust Written by     Jon Croker (screenplay), Susan Hill (story) Starring Phoebe Fox, Jeremy Irvine, Helen McCrory, Adrian Rawlins, Leanne Best, Ned Dennehy, Jacob Oaklee Pendergast, Genelle Williams, Leilah de Meza, Claire Rafferty, Jude Wright, Amelia Pidgeon, Pip Pearce, Alfie Simmons, Casper Allpress Music by Marco Beltrami, Brandon Roberts, Marcus Trumpp Cinematography George Steel Edited by Mark Eckersley Studio Hammer Films/Entertainment One/Cross Creek Pictures Running time 98 minutes Country United Kingdom Language English

Review: Skyfall (2012)

Casino Royale (2006) memang menandai sebuah era baru dalam perjalanan franchise film James Bond yang kini telah berusia 50 tahun tersebut. Tidak hanya film tersebut telah memperkenalkan Daniel Craig sebagai sesosok James Bond dengan imej yang jauh lebih gelap dan serius, namun Casino Royale juga berhasil membuktikan bahwa sebuah seri James Bond mampu tampil dengan kualitas jalan cerita yang lebih dari sekedar film yang hanya mampu menawarkan deretan adegan aksi dan wanita cantik belaka – sebuah pernyataan yang kemudian membuat Quantum of Solace (2008) yang lebih berorientasi pada adegan aksi dinilai sebagai sebuah kemunduran bagi banyak kritikus film dunia. Tidak hanya membutuhkan sesosok aktor yang berkharisma tinggi dalam memerankan karakter agen rahasia ikonik tersebut, seri James Bond jelas juga membutuhkan kehadiran seorang sutradara yang benar-benar tahu mengenai berbagai seluk-beluk penceritaan seri tersebut yang sesungguhnya.

Continue reading Review: Skyfall (2012)

Review: Hugo (2011)

Berbeda dengan Raging Bull (1980), Goodfellas (1990) atau The Departed (2006) yang berhasil menghantarkannya untuk memenangkan Academy Awards, Hugo sama sekali tidak menghadirkan tema kejahatan dan kekerasan yang biasa dihadirkan Martin Scorsese dalam film-film yang berhasil membawa namanya ke jajaran sutradara legendaris dan paling dihormati di dunia. Diangkat dari novel The Invention of Hugo Cabret karya Brian Selznick, Hugo merupakan sebuah bentuk dedikasi Scorsese pada dunia film yang ia geluti dan begitu ia cintai selama ini. Dengan penggarapan cerita yang begitu hangat dan dirangkum dengan tampilan visual berteknologi 3D yang mempesona, penonton juga akan dapat dengan mudah merasakan bagaimana kecintaan dan hasrat Scorsese yang besar kepada dunia perfilman.

Continue reading Review: Hugo (2011)

Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011)

This is it! Setelah sebuah usaha untuk sedikit memperpanjang usia franchise film Harry Potter dengan membagi dua bagian akhir dari kisah Harry Potter and the Deathly Hallows, dunia kini tampaknya harus benar-benar mengucapkan salam perpisahan mereka pada franchise yang telah berusia satu dekade dan memberikan tujuh seri perjalanan yang mengagumkan ini. Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 memiliki nada penceritaan yang menyerupai bagian awal kisahnya – yang sekaligus membuktikan bahwa Harry Potter and the Deathly Hallows adalah sebuah kesatuan penceritaan yang unik sekaligus akan memberikan efek emosional yang lebih mendalam jika diceritakan dalam satu bagian utuh. Pun begitu, dengan apa yang ia hantarkan di …The Deathly Hallows – Part 2, David Yates akan mampu memenuhi ekspektasi setiap orang tentang bagaimana final dari salah satu kisah yang paling dicintai di muka Bumi akan berakhir: EPIK!

Continue reading Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011)

Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1 (2010)

Sejujurnya, ide untuk membagi bagian akhir dari adaptasi dari kisah petualangan Harry Potter, Harry Potter and the Deathly Hallows, menjadi dua bagian adalah murni alasan komersial belaka daripada untuk menangkap seluruh esensi cerita dari novelnya. Hal ini, sayangnya, sangat terbukti dengan apa yang diberikan oleh sutradara David Yates lewat Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1. Filmnya sendiri berjalan cukup baik, namun dengan durasi sepanjang 146 menit, Yates terlalu banyak mengisi bagian pertama kisah ini dengan berbagai detil yang sebenarnya tidak diperlukan di dalam cerita, yang membuat …The Deathly Hallows – Part 1 terasa sebagai sebuah film dengan kisah yang sebenarnya singkat namun diulur sedemikian panjang untuk memenuhi kuota waktu penayangan.

Continue reading Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1 (2010)

Review: Fantastic Mr. Fox (2009)

Selain science-fiction, animasi adalah genre yang paling banyak dapat berbicara sepanjang tahun 2009 lalu. Bukan hanya secara kuantitas, film-film animasi yang beredar di sepanjang tahun lalu mampu membuktikan kualitas mereka jika dibandingkan film-film dari genre lainnya. Salah satu film animasi yang dirilis tahun lalu adalah film animasi yang disutradarai oleh Wes Anderson berikut, Fantastic Mr. Fox.

Continue reading Review: Fantastic Mr. Fox (2009)