Tag Archives: Ciarán Hinds

Review: Silence (2016)

Di tahun 1988, Vatikan memberikan Martin Scorsese sebuah buku berjudul Silence yang ditulis oleh Shūsaku Endō. Buku tersebut diberikan Vatikan kepada Scorsese setelah sebelumnya pihak Vatikan dilaporkan merasa kecewa dengan penggambaran kehidupan Yesus Kristus oleh Scorsese pada The Last Temptation of Christ (1988). Meskipun telah difilmkan sebelumnya oleh Masahiro Shinoda pada tahun 1971 dengan menggunakan judul yang sama, Scorsese kemudian terobsesi dengan buku karangan Endō tersebut dan berhasrat untuk mengadaptasi Silence sebagai film berikutnya. Perjalanan proses adaptasi Silence menjadi sebuah film dimulai Scorsese semenjak tahun 1990. Sayangnya, berbagai hambatan yang merintangi jalan Scorsese – mulai dari naskah cerita yang tak kunjung dirasakan memuaskan, jajaran pemeran yang silih berganti hingga beberapa tuntutan hukum yang kemudian muncul akibat molornya proses produksi film – membuat Silence gagal untuk diselesaikan. Akhirnya, setelah menyelesaikan proses produksi The Wolf of Wall Street (2013) dan lebih dari dua dekade berusaha mengadaptasi Silence, Scorsese memilih untuk berkonsentrasi pada film yang telah menjadi hasrat pribadinya tersebut. Dan sebagai film yang telah menunggu hampir 30 tahun untuk dirilis, Scorsese mampu membuktikan bahwa Silence adalah sebuah mahakarya yang patut untuk diperjuangkan. Continue reading Review: Silence (2016)

Advertisements

Review: Bleed for This (2016)

Bleed for This adalah film perdana arahan Ben Younger setelah sebelumnya mengarahkan Meryl Streep dan Uma Thurman dalam Prime di tahun 2005 lalu. Naskah ceritanya sendiri bercerita mengenai perjuangan seorang petinju untuk meraih kembali karirnya yang sempat terancam akibat kecelakaan fatal yang ia alami. Sounds familiar eh? Lalu apa yang membedakan Bleed for This dengan film-film sepantarannya? Well… film yang naskah ceritanya juga ditulis oleh Younger ini sendiri mendasarkan penceritaannya pada kisah nyata tentang sekelumit bagian dari kehidupan petinju Vinny Pazienza, seorang petinju asal Amerika Serikat yang sempat memegang gelar juara dunia beberapa kali. Didukung oleh performa meyakinkan Miles Teller dan Aaron Eckhart, Bleed for This tampil tidak mengecewakan sebagai sebuah drama olahraga. Walaupun, dengan material yang ditawarkan, film ini sebenarnya memiliki potensi untuk tampil jauh lebih mengesankan jika dihadirkan dengan pengarahan cerita yang lebih kuat. Continue reading Review: Bleed for This (2016)

Review: Frozen (2013)

frozen-header

Berbeda dengan Pixar Animation Studios yang belakangan terlihat mengalami sedikit kesulitan dalam menghadapi para kompetitornya – semaniak apapun Anda terhadap rumah produksi film animasi ini, Anda harus mengakui bahwa tak satupun karya mereka semenjak Toy Story 3 (2010) mampu meraih kredibilitas kualitas yang sekuat film-film pendahulunya – Walt Disney Animation Studios justru berhasil bangkit setelah bertahun-tahun dinilai semakin tidak relevan dengan dunia modern. Dimulai dengan Tangled (2010) dan diikuti Wreck-It Ralph (2012), rumah produksi bermaskot Mickey Mouse tersebut secara perlahan meraih kembali masa-masa kejayaan film-film animasi mereka terdahulu. Di tahun 2013, Walt Disney Animation Studios merilis Frozen, yang sekaligus menjadi film animasi ke-53 yang mereka produksi. Layaknya Tangled, Frozen diadaptasi dari sebuah kisah klasik dan disajikan dengan penceritaan musikal yang humoris serta hangat yang tentunya akan mengingatkan para penontonnya pada film-film animasi klasik karya Walt Disney Animation Studios.

Continue reading Review: Frozen (2013)

Review: The Woman in Black (2012)

The Woman in Black jelas bukanlah film pertama Daniel Radcliffe yang ia bintangi di luar franchise Harry Potter (2001 – 2011). Namun, The Woman in Black memberikan sebuah kesan tersendiri mengingat film ini merupakan film pertama yang dibintangi Radcliffe seusai membintangi franchise yang hingga saat ini telah menghasilkan keuntungan komersial sebanyak lebih dari US$7 triliun dari perilisannya di seluruh dunia dan, yang lebih membuat film ini diperhatikan lebih luas lagi, bahwa Radcliffe justru memilih sebuah film horor untuk membuktikan eksistensi aktingnya selepas era Harry Potter. The Woman in Black memang bukanlah sebuah presentasi horor yang istimewa. Namun penampilan Radcliffe jelas membuktikan bahwa dirinya siap untuk keluar dari bayang-bayang besar karakter Harry Potter yang telah membesarkan namanya.

Continue reading Review: The Woman in Black (2012)

Review: John Carter (2012)

Ekspektasi jelas akan menjulang begitu tinggi bagi John Carter. Bukan hanya karena naskah cerita film aksi bernuansa science fiction ini diangkat dari bagian awal dari sebelas seri novel legendaris Barsoom karya Edgar Rice Burroughs, John Carter juga menjadi debut penyutradaraan film live action bagi pemenang dua Academy Awards, Andrew Stanton, yang mungkin lebih dikenal luas sebagai salah satu punggawa studio animasi Pixar Animation Studios dan otak dibalik kesuksesan luar biasa Finding Nemo (2003) dan WALL•E (2008). Dalam beberapa kesempatan, Stanton sempat mengungkapkan bahwa John Carter adalah proyek ambisius personalnya yang semenjak lama ingin ia wujudkan – sebuah hasrat yang akan dapat dirasakan penonton secara jelas dalam ritme penceritaan John Carter yang berjalan sepanjang 132 menit.

Continue reading Review: John Carter (2012)

Review: Ghost Rider: Spirit of Vengeance (2012)

Sekilas info: Nicolas Cage akan bergabung bersama Steve Carell, Jack Black, Catherine Keener dan Elizabeth Banks dalam film terbaru arahan sutradara sekaligus penulis naskah Charlie Kaufman, Frank or Francis, yang direncanakan akan rilis pada tahun 2013 mendatang. Jelas sebuah film dengan prospek yang sangat menjanjikan mengingat Kaufman dikenal dengan naskah-naskah filmnya seperti Being John Malkovich (1999) dan Adaptation (2002) yang meraih nominasi Academy Awards di kategori Best Original Screenplay serta Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004) yang akhirnya memenangkan Kaufman sebuah Academy Awards. Sementara menunggu perilisan Frank or Francis, Anda dapat menyaksikan penampilan Cage dalam film Ghost Rider: Spirit of Vengeance – yang mudah-mudahan akan menjadi memori terakhir Anda mengenai betapa akrabnya Cage dengan film-film berkualitas medioker.

Continue reading Review: Ghost Rider: Spirit of Vengeance (2012)

Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011)

This is it! Setelah sebuah usaha untuk sedikit memperpanjang usia franchise film Harry Potter dengan membagi dua bagian akhir dari kisah Harry Potter and the Deathly Hallows, dunia kini tampaknya harus benar-benar mengucapkan salam perpisahan mereka pada franchise yang telah berusia satu dekade dan memberikan tujuh seri perjalanan yang mengagumkan ini. Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 memiliki nada penceritaan yang menyerupai bagian awal kisahnya – yang sekaligus membuktikan bahwa Harry Potter and the Deathly Hallows adalah sebuah kesatuan penceritaan yang unik sekaligus akan memberikan efek emosional yang lebih mendalam jika diceritakan dalam satu bagian utuh. Pun begitu, dengan apa yang ia hantarkan di …The Deathly Hallows – Part 2, David Yates akan mampu memenuhi ekspektasi setiap orang tentang bagaimana final dari salah satu kisah yang paling dicintai di muka Bumi akan berakhir: EPIK!

Continue reading Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011)

Review: The Rite (2011)

Horor adalah sebuah genre yang cukup melelahkan. Hampir tidak ada sesuatu yang baru yang dapat ditawarkan oleh para pembuat film dari genre ini kepada para penontonnya. Kalikan rasa melelahkan tersebut sebanyak tiga kali jika sebuah film horor mencoba untuk bercerita mengenai teknik pengusiran setan yang dilakukan oleh para pendeta – yang akhir-akhir ini diberikan variasi dengan kisah pendeta yang kehilangan keimanan mereka. Tentu, beberapa waktu yang lalu penonton masih mampu dikejutkan oleh The Exorcism of Emily Rose (2005) dan The Last Exorcism (2010) yang walaupun masih memiliki cara penceritaan yang cenderung tradisional, berhasil diolah dengan cukup baik sehingga mampu menghasilkan momen-momen horor yang menyegarkan. Namun secara keseluruhan, apakah ada sebuah film horor yang bertema pengusiran setan yang mampu menandingi kehebatan dan kengerian yang dihasilkan The Exorcist (1973)?

Continue reading Review: The Rite (2011)