Review: Eternals (2021)


Setelah Black Widow (Cate Shortland, 2021) dan Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (Destin Daniel Cretton, 2021), laju fase keempat dari Marvel Cinematic Universe berlanjut dengan Eternals. Seperti halnya Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings, film arahan Chloé Zhao (Nomadland, 2020) yang naskah ceritanya diadaptasi dari seri komik garapan Jack Kirby berjudul sama ini adalah sebuah origin story yang akan memperkenalkan sejumlah karakter baru dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe. Berbeda dengan Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings maupun barisan origin story lain yang telah dirilis oleh seri film ini sebelumnya, Eternals disajikan dengan penuturan yang cukup berbeda. Tema cerita akan krisis eksistensial serta keberadaan Zhao, yang lebih dikenal sebagai seorang sutradara film-film dengan warna pengisahan cerita yang berkesan intim, memberikan sentuhan berbeda yang sebenarnya cukup menyegarkan. Apakah sentuhan yang berbeda cukup untuk menghasilkan kualitas penceritaan yang kuat? Wellthat’s another story.

Alur cerita Eternals dimulai dengan latar belakang waktu pengisahan pada tahun 5000 Sebelum Masehi ketika sepuluh makhluk asing dari angkasa luar ciptaan Celestials yang secara berkelompok dikenal dengan sebutan Eternals – Ajak (Salma Hayek), Sersi (Gemma Chan), Ikaris (Richard Madden), Kingo (Kumail Nanjiani), Sprite (Lia McHugh), Phastos (Brian Tyree Henry), Makkari (Lauren Ridloff), Druig (Barry Keoghan), Gilgamesh (Don Lee), dan Thena (Angelina Jolie) – ditugaskan oleh salah seorang Celestials, Arishem (David Kaye), untuk turun ke Bumi guna menghancurkan kelompok makhluk asing dari angkasa luar ciptaan Celestials lainnya yang dikenal dengan sebutan Deviants. Para anggota Eternals juga menjalin hubungan dengan manusia sekaligus menuntun dan mendorong mereka untuk mendapatkan ilmu pengetahuan serta kehidupan yang lebih baik.

Tugas tersebut dapat diselesaikan pada tahun 1521 Sebelum Masehi ketika makhluk Deviants terakhir berhasil dibunuh. Sembari menunggu Arishem memanggil mereka untuk kembali pulang, dan didorong dengan semakin sering terjadinya perbedaan pendapat antara mereka, para anggota Eternals akhirnya memutuskan untuk berpisah dan berbaur dengan kehidupan para manusia yang ada di Bumi. Lebih dari 500 tahun kemudian, pada kehidupan modern seusai Thanos melenyapkan setengah dari isi populasi Bumi, sekelompok Deviants kembali memperlihatkan keberadaannya. Para Deviants yang muncul bahkan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dan berbahaya dari kelompok Deviants yang sebelumnya pernah dihadapi oleh para Eternals. Tentu saja, hal ini mendorong para anggota Eternals untuk mencari keberadaan satu sama lain dan sekali lagi berjuang bersama-sama.

Jika kebanyakan origin story dalam linimasa penceritaan Marvel Cinematic Universe bertutur tentang bagaimana sesosok karakter menemukan, menggunakan, serta membiasakan diri dengan kekuatan yang baru mereka, karakter-karakter yang ditampilkan dalam Eternals adalah barisan karakter yang telah memahami fungsi dari kemampuan ataupun kekuatan yang berada dalam diri mereka. Konflik dari film ini lebih berfokus pada berbagai pertanyaan yang muncul dari sisi spritualitas setiap karakter anggota kelompok Eternals tentang arti keberadaan mereka – baik dalam hubungan mereka dengan karakter Arishem sebagai perwakilan Celestials yang menciptakan mereka, hubungan mereka antara satu dengan yang lain, maupun hubungan dan tanggung jawab mereka terhadap kaum manusia. Bahasan yang cukup mendalam dan jelas menjadi semacam perumpamaan dari hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sesama, maupun makhluk-makhluk lain yang berada di sekitar mereka.

Tidak mengherankan jika Zhao lantas memberikan pendekatan yang berkesan meditatif dan melankolis terhadap barisan konflik maupun karakter yang dihadirkan dalam Eternals. Dialog-dialog seputar aspek spiritualitas menggeser hampir seluruh dialog bernada kelakar yang biasanya menjadi ciri khas dialog yang terjalin antara karakter dalam seri film Marvel Cinematic Universe. Zhao bahkan dengan berani menghadirkan sejumlah adegan krusial dalam film ini melalui balutan visual bernada puitis layaknya film-film garapan Terrence Malick dan membiarkan penonton kemudian tenggelam dalam indah dan megahnya adegan-adegan tersebut. Bukan berarti Eternals lantas hanya berisi interaksi dialog antar karakter dan tanpa adegan-adegan aksi pemompa adrenalin. Zhao merangkai adegan-adegan aksi tersebut dalam penceritaan Eternals dan, meskipun tidak memiliki kesan bombastis, berhasil mengeksekusinya dengan efektif.

Tidak sepenuhnya berhasil. Visi pengisahan Zhao seringkali terasa terhambat oleh naskah cerita Eternals garapan Zhao bersama dengan Patrick Burleigh, Ryan Firpo, dan Kaz Firpo. Dengan durasi penceritaan yang mencapai 157 menit, fokus film ini lebih sering terdistraksi akan usaha naskah cerita film untuk mengenalkan serta memberikan tiap karakter galian cerita mereka masing-masing. Penceritaan dengan latar belakang waktu pengisahan yang bergerak maju mundur juga tidak sepenuhnya mampu membangun momen-momen cerita yang berkesan menarik. Belum lagi banyak struktur dialog akan “jati diri” dan “kemanusiaan” yang berkesan terlalu preachy dan lantas berakhir menjemukan. Deretan permasalahan dalam pengisahan Eternals tersebut juga masih ditambah dengan peliknya penataan bangunan cerita dari mitologi yang dibawa oleh karakter-karakter utama dalam film ini serta usaha pengembangannya dalam membentuk jalinan kisah dengan linimasa cerita Marvel Cinematic Universe dalam skala yang lebih besar.

Banyaknya karakter yang dihadirkan dalam penuturan Eternals mungkin tidak akan menjadi masalah besar jika karakter-karakter tersebut adalah barisan karakter yang memiliki galian cerita yang menarik untuk diikuti. Hal tersebut tidak dimiliki oleh karakter-karakter dalam film ini. Sialnya, alur cerita Eternals justru memberikan ruang pengisahan yang lebih besar pada karakter-karakter membosankan dengan jalinan cerita melodrama yang juga membosankan seperti Sersi dan Ikaris daripada karakter-karakter yang sebenarnya memiliki warna cerita yang lebih menarik seperti karakter Kingo, Makkari, ataupun Thena. Tampilan fisik Chan dan Madden memang menarik untuk dilihat, namun penampilan akting mereka terlalu hambar untuk dapat dirasakan agar membuat penonton benar-benar merasa peduli maupun terikat dengan permasalahan yang dipaparkan oleh karakter-karakter yang mereka perankan. Momen-momen kuat dalam film ini justru hadir ketika karakter Kingo yang diperankan oleh Nanjiani dan karakter Karun (Harish Patel) yang digambarkan sebagai asisten bagi karakter Kingo hadir serta membawakan sejumlah momen komedi bagi film ini.

Eksekusi yang diberikan Zhao bagi Eternals memang memberikan sentuhan serta warna yang menyegarkan bagi sebuah presentasi film yang berasal dari seri Marvel Cinematic Universe. Namun, pengisahan Zhao yang ambisius – baik dari ide, pengembangan, maupun eksekusi cerita – tidak mampu diikuti oleh paparan kisah serta karakter yang menarik. Potensi besar yang, sayangnya, tidak mampu diolah dengan lebih maksimal.

popcornpopcornpopcornpopcorn2popcorn2

eternals-richard-madden-gemma-chan-angelina-jolie-movie-posterEternals (2021)

Directed by Chloé Zhao Produced by Kevin Feige, Nate Moore Written by Chloé Zhao, Patrick Burleigh, Ryan Firpo, Kaz Firpo (screenplay), Ryan Firpo, Kaz Firpo (story), Jack Kirby (comics, Eternals) Starring Gemma Chan, Richard Madden, Kumail Nanjiani, Lia McHugh, Brian Tyree Henry, Lauren Ridloff, Barry Keoghan, Don Lee, Harish Patel, Kit Harington, Salma Hayek, Angelina Jolie, Bill Skarsgård, David Kaye, Haaz Sleiman, Esai Daniel Cross, Zain Al Rafeea, Harry Styles, Patton Oswalt, Mahershala Ali Cinematography Ben Davis Edited by Craig Wood, Dylan Tichenor Music by Ramin Djawadi Production company Marvel Studios Running time 157 minutes Country United States Language English

One thought on “Review: Eternals (2021)”

  1. Apakah saya bisa mengatakan kalau filmnya seperti drama fantasy??? Padahal karakter eternal sangat kuat tapi sayang semuanya begitu datar…bingung , jika film ini begitu datar kenapa tidak sekalian mengangkat kisah cinta sersi dan ikaris jadi tidak perlu jadi film superhero…sayang sekali.ekspektasi saya sangat jauh dari yang saya harapkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s