Tag Archives: Barry Keoghan

Review: Eternals (2021)

Setelah Black Widow (Cate Shortland, 2021) dan Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (Destin Daniel Cretton, 2021), laju fase keempat dari Marvel Cinematic Universe berlanjut dengan Eternals. Seperti halnya Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings, film arahan Chloé Zhao (Nomadland, 2020) yang naskah ceritanya diadaptasi dari seri komik garapan Jack Kirby berjudul sama ini adalah sebuah origin story yang akan memperkenalkan sejumlah karakter baru dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe. Berbeda dengan Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings maupun barisan origin story lain yang telah dirilis oleh seri film ini sebelumnya, Eternals disajikan dengan penuturan yang cukup berbeda. Tema cerita akan krisis eksistensial serta keberadaan Zhao, yang lebih dikenal sebagai seorang sutradara film-film dengan warna pengisahan cerita yang berkesan intim, memberikan sentuhan berbeda yang sebenarnya cukup menyegarkan. Apakah sentuhan yang berbeda cukup untuk menghasilkan kualitas penceritaan yang kuat? Wellthat’s another story. Continue reading Review: Eternals (2021)

Review: The Killing of a Sacred Deer (2017)

Dengan apa yang dipresentasikannya pada Dogtooth (2009) dan The Lobster (2015), rasanya tidak akan ada yang begitu terkejut dengan narasi yang dihadirkan Yorgos Lanthimos dalam The Killing of a Sacred Deer. Mendasarkan naskah cerita yang ia tulis bersama Efthymis Filippou pada drama panggung kuno asal Yunani, Iphigenia in Aulis, karangan Euripides – dimana dikisahkan Raja Yunani, Agamemnon, diharuskan untuk mengorbankan puterinya, Iphigenia, sebagai hukuman akibat ketidaksengajaannya membunuh salah satu rusa milik Dewi Artemis – Lanthimos sekali lagi membuktikan kejeniusannya dalam merangkai metafora cerita untuk menyampaikan pengisahannya yang (seperti biasa) dipenuhi oleh satir mengenai kehidupan umat manusia. Sebuah petualangan “gila” yang tidak akan dilupakan oleh para penontonnya begitu saja. Continue reading Review: The Killing of a Sacred Deer (2017)

Review: Dunkirk (2017)

Jelas cukup mudah untuk membayangkan jika film terbaru arahan Christopher Nolan, Dunkirk, merupakan sebuah presentasi drama peperangan yang dipenuhi ledakan, darah dan serpihan tubuh manusia. Tidak mengherankan. Dengan premis yang ingin bercerita tentang kisah nyata evakuasi pasukan sekutu yang berisikan tentara-tentara dari negara Inggris, Perancis, Belgia, dan Kanada ketika mereka terjebak dan dikepung pasukan Jerman di wilayah pantai dan pelabuhan Dunkirk, Perancis pada 26 Mei hingga 4 Juni 1940 semasa Perang Dunia II berlangsung, banyak penikmat film akan mengharapkan (baca: mengira) bahwa Dunkirk akan menjadi Saving Private Ryan (Steven Spielberg, 1998) atau Hacksaw Ridge (Mel Gibson, 2016) dalam filmografi Nolan. Namun, “menjebak” penontonnya dalam teror peperangan sepertinya bukan menjadi fokus utama Nolan dalam menceritakan Dunkirk. Nolan lebih memilih untuk menjadikan Dunkirk sebagai sebuah disaster movie dimana penonton dapat “menikmati” detik-detik ketidakpastian nasib setiap jiwa yang menunggu di pinggiran pantai Dunkirk sekaligus tetap menghadirkan harapan pada kehidupan pada mereka. Continue reading Review: Dunkirk (2017)