Review: Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)


Enam tahun jelas merupakan jangka waktu yang cukup lama untuk merilis sekuel bagi sebuah seri film yang sedang berjalan. Namun, layaknya banyak karakter dalam setiap seri film yang tergabung dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe, karakter Doctor Stephen Strange yang diperankan oleh Benedict Cumberbatch juga telah muncul di berbagai film lain yang tergabung dalam linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe semenjak penampilan perdananya di Doctor Strange (Scott Derrickson, 2016) – mulai dari Thor: Ragnarok (Taika Waititi, 2017), Avengers: Infinity War dan Avengers: Endgame (Anthony Russo, Joe Russo, 2018 – 2019), hingga menjadi bagian krusial bagi penceritaan Spider-Man: No Way Home (Jon Watts, 2021). Tidak mengherankan jika film kedua dalam seri film Doctor Strange, Doctor Strange in the Multiverse of Madness, telah berjalan jauh melampaui linimasa cerita yang sebelumnya dihadirkan pada film pertamanya.

Kursi penyutradaraan Doctor Strange in the Multiverse of Madness kini ditempati oleh Sam Raimi yang, seperti halnya Derrickson, juga lebih dikenal sebagai sineas yang banyak berkecimpung di pengisahan horor lewat film-film seperti seri film Evil Dead (1981 – 1992), The Gift (2000), serta Drag Me to Hell (2009). Raimi, tentu saja, sebelumnya pernah mengarahkan trilogi Spider-Man (2002 – 2007) yang juga diadaptasi dari seri komik rilisan Marvel Comics. Materi cerita Doctor Strange in the Multiverse of Madness memberikan kesempatan pada Raimi untuk menggunakan pengalamannya dalam mengarahkan film bertema pahlawan super sekaligus menerapkan berbagai ciri pengarahan maupun pengisahan horornya – sentuhan yang, entah disengaja atau tidak, menjadikan Doctor Strange in the Multiverse of Madness hadir sebagai presentasi horor perdana bagi Marvel Cinematic Universe.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Michael Waldron, alur cerita Doctor Strange in the Multiverse of Madness dimulai ketika Doctor Stephen Strange (Cumberbatch) bermimpi dirinya dan seorang remaja, America Chavez (Xochitl Gomez), sedang berada dalam kejaran sesosok setan ketika sedang berusaha mendapatkan Book of Vishanti – buku yang menjadi sumber utama bagi pengetahuan akan ilmu sihir putih di Bumi. Siapa sangka, keesokan harinya, Doctor Stephen Strange bersama dengan rekannya, Wong (Benedict Wong), benar-benar bertemu dan menyelamatkan remaja yang tadinya ada dalam mimpinya tersebut dari kejaran sosok setan lain. America Chavez menjelaskan bahwa penglihatan yang dialami oleh Doctor Stephen Strange bukanlah mimpi, melainkan kejadian nyata yang terjadi pada dirinya bersama dengan sosok Doctor Stephen Strange dari semesta lain yang berusaha menyelamatkan dirinya dari kejaran setan yang berusaha merebut kemampuannya untuk menjelajahi multisemesta. Menyadari dirinya akan berhadapan dengan kekuatan ilmu sihir hitam, Doctor Stephen Strange lantas berkonsultasi dengan Wanda Maximoff/Scarlet Witch (Elizabeth Olsen) untuk mendapatkan bantuan.

Ekspansi berkelanjutan dari linimasa pengisahan Marvel Cinematic Universe – yang, tentu saja, berhubungan erat dengan usaha The Walt Disney Company untuk memperkuat berbagai lini usahanya – jelas memberikan pengaruh bagi alur penuturan cerita Doctor Strange in the Multiverse of Madness. Daripada hadir sebagai sekuel langsung bagi Doctor Strange, komposisi cerita film ini justru menghadirkan kontinuitas kisah, konflik, ataupun karakter dari deretan film maupun serial televisi garapan Marvel Studios seperti Spider-Man: No Way Home, What If…? (2021), serta WandaVision (2021) yang justru memberikan pengaruh paling krusial bagi alur cerita Doctor Strange in the Multiverse of Madness. Di saat yang bersamaan, dengan banyaknya elemen cerita yang coba dihadirkan serta embel-embel “multisemesta” yang menjadi premisnya, Waldron dan Raimi secara mengejutkan masih mampu mengemas presentasi filmnya dengan cukup membumi (baca: familiar dengan berbagai formula pengisahan standar Marvel Cinematic Universe).

Ada anekdot yang mengatakan bahwa sutradara kaliber dengan gaya penceritaan khas dan otentik tidak akan mampu menguasai materi cerita Marvel Cinematic Universe secara utuh (Chloé Zhao, anyone?). Anekdot yang… well… tidak sepenuhnya benar. Kenneth Branagh mampu menjadikan Thor (2011) hadir layaknya film-film adaptasi karya sastra William Shakespeare yang dahulu menjadi spesialisasinya. Guyonan sarkas yang menjadi ciri film-film komedi garapan James Gunn berhasil mendorong Guardians of the Galaxy (2014) menjadi presentasi yang begitu memikat. Waititi bahkan sukses mengaplikasikan warna komedinya yang seringkali berkesan aneh untuk menghasilkan Thor: Ragnarok sebagai film pahlawan super yang sama anehnya. Pendekatan horor yang diberikan Raimi jelas menjadi warna penyutradaraan personal paling kental yang pernah dihadirkan dalam sebuah film yang menjadi bagian Marvel Cinematic Universe. Tentu, unsur magis yang menjadi elemen tak terpisahkan dari pengisahan seri film Doctor Strange memberikan ruang yang besar bagi Raimi untuk menerapkan tata pengisahan khasnya. Tetap saja, kelihaian pengisahan Raimi menjadikan Doctor Strange in the Multiverse of Madness terasa begitu istimewa.

Dengan kebebasan berkreativitas yang sepertinya diberikan secara penuh kepadanya, Raimi tidak segan untuk menghadirkan adegan-adegan penuh dengan unsur horor yang mengejutkan, kekerasan yang kadang tampil dengan tumpahan darah maupun potongan bagian tubuh, guyonan-guyonan khas yang menyebar di sejumlah bagian cerita, hingga kemasan visual berkesan campy maupun over-the-top yang sering menjadi ciri film-film horor garapannya. Dibantu dengan kualitas produksi yang berkelas serta tata musik garapan Danny Elfman yang menghipnotis,  kekuatan pengarahan Raimi  berhasil menjadikan Doctor Strange in the Multiverse of Madness selalu menarik untuk diikuti sekaligus sukses untuk menutupi sejumlah kelemahan di tubuh penceritaan filmnya – khususnya paruh kedua yang berjalan lamban dan seringkali terasa hambar. Eksplorasi pengarahan Raimi juga mampu memperkuat intensitas ketegangan yang dihadirkan oleh momen-momen aksi atau sentuhan emosional dari jalinan hubungan antar karakter yang dihadirkan oleh film ini. Tema akan “merelakan” ataupun “menerima” yang sepertinya selalu menjadi fokus dari film-film dalam gabungan Marvel Cinematic Universe belakangan juga hadir dan dapat dikembangkan dengan baik oleh Doctor Strange in the Multiverse of Madness.

Meskipun karakter-karakternya tidak mendapatkan pengembangan yang begitu leluasa – khususnya berkat alur penceritaan film-film Marvel Cinematic Universe yang kini sepertinya selalu bertumpu pada ikatan pengisahan film maupun serial televisi yang telah ada sebelumnya, departemen akting masih menjadi elemen penting yang menyokong penuh presentasi kualitas Doctor Strange in the Multiverse of Madness. Cumberbatch semakin tak terpisahkan dari sosok Doctor Stephen Strange. Rachel McAdams, yang karakternya di film sebelumnya tidak mendapatkan pengembangan yang terasa memuaskan, kini diberikan porsi cerita krusial yang mampu dihidupkannya dengan sangat baik. Wong dan Gomez juga memberikan dampingan yang handal bagi penampilan Cumberbatch sebagai Doctor Stephen Strange.

Namun, Doctor Strange in the Multiverse of Madness jelas menjadi film yang dikuasai secara utuh oleh penampilan Olsen sebagai Wanda Maximoff/Scarlet Witch. Melanjutkan penampilan briliannya dari WandaVision, Olsen memberikan performa terbaiknya dalam menyelami rasa amarah maupun duka yang dialami oleh karakter yang ia perankan. Dengan penampilannya yang berkesan rapuh, Olsen mampu menjadikan karakternya begitu mudah tidak hanya untuk disukai namun dirasakan kedekatan maupun keberadaannya. Di saat yang bersamaan, gambaran karakter yang mudah untuk menjalin hubungan emosional tersebut yang menjadikan sosok Wanda Maximoff/Scarlet Witch terasa begitu menakutkan ketika dirinya sedang diselimuti oleh rasa amarah yang membara. Penampilan fenomenal yang jelas berada di kelas teratas – atau malah merupakan penampilan terbaik – yang pernah hadir di sepanjang presentasi film-film Marvel Cinematic Universe hingga saat ini. Penampilan serta presentasi film yang tidak akan mudah untuk dilupakan begitu saja.

popcornpopcornpopcornpopcornpopcorn2

doctor-strange-in-the-multiverse-of-madness-elizabeth-olsen-movie-posterDoctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)

Directed by Sam Raimi Written by Michael Waldron (screenplay), Stan Lee, Steve Ditko, Marvel Comics (characters) Produced by Kevin Feige Starring Benedict Cumberbatch, Elizabeth Olsen, Chiwetel Ejiofor, Benedict Wong, Xochitl Gomez, Michael Stuhlbarg, Rachel McAdams, Patrick Stewart, Hayley Atwell, Lashana Lynch, Anson Mount, John Krasinski, Julian Hilliard, Jett Klyne, Topo Wresniwiro, Sheila Atim, Adam Hugill, Ross Marquand, Charlize Theron, Bruce Campbell Cinematography John Mathieson Edited by Bob Murawski, Tia Nolan Music by Danny Elfman Production company Marvel Studios Running time 126 minutes Country United States Language English

One thought on “Review: Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s