Review: Transformers: The Last Knight (2017)


Yes. It’s Transformers bish! Mahakarya garapan Michael Bay yang telah menemani penikmat film dunia selama sepuluh tahun terakhir ini kembali hadir dengan seri terbarunya, Transformers: The Last Knight. Tentu saja, bagi sebagian penonton, memori mereka akan sebuah film Transformers diisi dengan deretan adegan kekacauan yang melibatkan banyak robot yang seringkali sukar untuk diidentifikasi, karakter-karakter manusia dengan pengisahan yang terbatas serta sosok wanita dengan penampilan fisik yang cukup memanjakan mata. Namun, bagi sebagian penonton lainnya, Transformers merupakan seri film yang secara konsisten menghadirkan sajian aksi yang memikat dengan bantuan tata efek visual yang begitu memukau – walau mereka tetap tidak akan mampu membantah lemahnya kualitas penulisan naskah cerita dalam setiap seri film ini. Lalu bagaimana dengan seri kelima – dan dikabarkan akan menjadi seri terakhir Transformers di bawah pengarahan Bay – ini? Apakah akan mampu mengubah pendapat mereka yang terlanjur merasa antipati dengan seri film ini?

A simple and straight answer: No. Setelah empat seri yang mendahului Transformers: The Last Knight dan telah meraup pendapatan komersial sebesar lebih dari US$3.7 milyar dari perilisannya di seluruh dunia, Bay jelas telah memahami betul apa yang membuat seri film asuhannya ini mampu menarik perhatian jutaan penonton film dunia. And he’s definitely not going to stop. Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Art Marcum, Matt Holloway dan Ken Nolan, Transformers: The Last Knight masih menawarkan formula pengisahan sebuah film Transformers yang sama – tentu dengan beberapa plot penceritaan yang melanjutkan maupun memberikan penyegaran bagi pengisahan dari sebelumnya. Formula yang harus diakui kadang berhasil diolah dan dieksekusi secara menyenangkan (Transformers (2007) dan Transformers: Dark of the Moon (2011)) namun sering pula menyebabkan sakit di kepala (Transformers: Revenge of the Fallen (2009) dan Transformers: Age of Extinction (2014)).

Sejujurnya, cukup sulit untuk mendeskripsikan berbagai hal yang terjadi dalam 149 menit perjalanan Transformers: The Last Knight. There are too many things going on at once! Film ini awalnya mengisahkan bagaimana para Transformers yang berasal dari Cybertron dapat tiba di Bumi – termasuk keterlibatan mereka dalam beberapa kejadian bersejarah di planet ini. Jalan cerita kemudian mengalihkan fokusnya pada Cade Yeager (Mark Wahlberg), karakter yang sebelumnya telah diperkenalkan pada Transformers: Age of Extinction dan kini dikisahkan menjadi buronan karena keterlibatannya dengan para Transformers yang telah dianggap sebagai bahaya dan ancaman bagi keamanan negara. Secara tidak disengaja, Cade Yeager terpilih menjadi sosok ksatria terakhir bagi kaum Transformers setelah ia menerima jimat metal dari sosok Transformers yang gagal ia selamatkan, Steelbane. Pemberian jimat tersebut ternyata menimbulkan kegaduhan di berbagai pihak. Jimat yang menyimpan rahasia dimana letak persembunyian sebuah senjata kemudian menjadi incaran – yang jelas kemudian turut membuat nyawa Cade Yeager juga menjadi incaran.

Ada banyak hal dalam jalan penceritaan Transformers: The Last Knight yang sukar untuk dijelaskan. Well… sukar mungkin bukanlah kata yang tepat. Naskah arahan Marcum, Holloway dan Nolan melontarkan begitu banyak ide dalam naskah cerita mereka – yang beberapa diantaranya “terinspirasi” dari film-film seperti Logan (James Mangold, 2017) atau Arrival (Denis Villeneuve, 2016), The Da Vinci Code (Ron Howard, 2006) atau malah seri film Star Wars (1977 – 2015) – namun kemudian tidak pernah berusaha untuk menyelami atau bahkan mengembangkan deretan ide tersebut menjadi sebuah pengisahan yang utuh. Sentuhan kisah mengenai keterlibatan kaum Transformers dalam beberapa peristiwa sejarah yang terjadi di permukaan Bumi harus diakui mampu memberikan kesegaran tersendiri dalam pengisahan. Begitu pula dengan beberapa karakter baru yang dihadirkan – tidak dengan pengembangan karakter yang cukup luas namun mampu ditempatkan sebagai pendukung kisah secara cukup apik. Meskipun begitu, dengan pendalaman cerita yang benar-benar tampil seadanya, penonton jelas akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam perjalanan pengisahan film ini.

Dengan cerita dan karakter-karakter yang terdeskripsi begitu terbatas, tidak mengherankan bila banyak pengisi departemen akting film ini hadir dengan penampilan akting yang terbatas pula. Padahal nama-nama seperti Wahlberg, Anthony Hopkins, Stanley Tucci – yang tampil dalam karakter yang berbeda dengan karakter yang ia perankan sebelumnya dalam Transformers: Age of Extinction –  atau John Torturro jelas memiliki kemampuan akting yang lebih mapan lagi. Meskipun begitu, baik Wahlberg, Hopkins, Tucci dan Torturro jelas terlihat bersenang-senang dengan karakter yang mereka perankan. Laura Haddock – yang menjadi babe of the month bagi seri Transformers ini – juga tampil meyakinkan dalam karakternya. Masih belum mampu menandingi Megan Fox yang hadir di dua seri awal Transformers namun jelas tampil lebih baik jika dibandingkan Rosie Huntington-Whiteley atau Nicole Peltz yang tampil di dua seri Transformers sebelumnya.

But then again it’s a Transformers movie. You don’t really go to a Transformers movie to see its story, do you? Disinilah Transformers: The Last Knight benar-benar mampu menunjukkan kehandalannya. Seperti biasa, Bay mampu menyajikan pemandangan yang spektakuler. Mulai dari sinematografi arahan Jonathan Sela hingga iringan musik dari Steve Jablonsky berhasil mengkreasikan adegan-adegan dengan penataan efek visual yang sangat secemerlang. Tidak seperti Transformers: Age of Extinction yang hadir dengan efek visual yang cenderung tampil membabi-buta sekaligus mendistraksi penonton dari alur cerita yang sedang berjalan, Bay secara handal mengendalikan ritme kehadiran efek visual film ini. Hasilnya, selain penataan efek visual dalam Transformers: The Last Knight mampu tampil mendukung atau beriringan dengan kisah yang berjalan, film ini hadir dengan irama penceritaan yang sangat mudah untuk dinikmati. Seri Transformers terbaik setelah Transformers yang dirilis tepat sepuluh tahun lalu? Mungkin saja. [C]

Transformers-The-Last-Knight-Mark-Wahlberg-movie-posterTransformers: The Last Knight (2017)

Directed by Michael Bay Produced by Don Murphy, Tom DeSanto, Lorenzo di Bonaventura, Ian Bryce Written by Art Marcum, Matt Holloway, Ken Nolan (screenplay), Akiva Goldsman, Art Marcum, Matt Holloway, Ken Nolan (story) Starring Mark Wahlberg, Anthony Hopkins, Josh Duhamel, Laura Haddock, Minti Gorne, Isabela Moner, Stanley Tucci, John Turturro, Jerrod Carmichael, Santiago Cabrera, Glenn Morshower, Liam Garrigan, Mitch Pileggi, Nicola Peltz, Tony Hale, Peter Cullen, Erik Aadahl, Ken Watanabe, Omar Sy, Jim Carter, John DiMaggio, John Goodman, Reno Wilson, Steven Barr, Tom Kenny, Frank Welker, Steve Buscemi, Mark Ryan, Jess Harnell, Gemma Chan Music by Steve Jablonsky Cinematography Jonathan Sela Editing by Mark Sanger, John Refoua, Adam Gerstel, Roger Barton, Debra Neil-Fisher, Calvin Wimmer Studio di Bonaventura Pictures/Hasbro Studios/Angry Films Running time 149 minutes Country United States Language English

Advertisements

One thought on “Review: Transformers: The Last Knight (2017)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s