Tag Archives: Tom Kenny

Review: Transformers: The Last Knight (2017)

Yes. It’s Transformers bish! Mahakarya garapan Michael Bay yang telah menemani penikmat film dunia selama sepuluh tahun terakhir ini kembali hadir dengan seri terbarunya, Transformers: The Last Knight. Tentu saja, bagi sebagian penonton, memori mereka akan sebuah film Transformers diisi dengan deretan adegan kekacauan yang melibatkan banyak robot yang seringkali sukar untuk diidentifikasi, karakter-karakter manusia dengan pengisahan yang terbatas serta sosok wanita dengan penampilan fisik yang cukup memanjakan mata. Namun, bagi sebagian penonton lainnya, Transformers merupakan seri film yang secara konsisten menghadirkan sajian aksi yang memikat dengan bantuan tata efek visual yang begitu memukau – walau mereka tetap tidak akan mampu membantah lemahnya kualitas penulisan naskah cerita dalam setiap seri film ini. Lalu bagaimana dengan seri kelima – dan dikabarkan akan menjadi seri terakhir Transformers di bawah pengarahan Bay – ini? Apakah akan mampu mengubah pendapat mereka yang terlanjur merasa antipati dengan seri film ini? Continue reading Review: Transformers: The Last Knight (2017)

Advertisements

Review: The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water (2015)

The-SpongeBob-Movie-Sponge-Out-of-water-posterMeskipun berhasil meraih kesuksesan komersial luar biasa ketika dirilis pada tahun 2004 lalu, ternyata membutuhkan waktu lebih dari sepuluh tahun bagi Paramount Animation untuk merilis sekuel dari The SpongeBob SquarePants Movie. Sekuel dari film yang karakter-karakternya diadaptasi dari salah satu serial animasi televisi paling popular di dunia ini sendiri, The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water, tidak memiliki keterikatan cerita dengan film sebelumnya. Namun, tetap saja, The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water masih mengandalkan deretan karakter dengan perilaku unik plus sentuhan komedi yang tak kalah aneh yang memang semenjak lama menjadi ciri khas dari serial animasi televisi SpongeBob SquarePants produksi Nickelodeon. Dan karena faktor itu pula yang menjadikan film gabungan animasi tradisional, CGI dan live-action ini masih mampu bekerja dengan baik dalam menghibur seluruh penontonnya.

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh duo Jonathan Aibel dan Glenn Berger (Alvin and the Chipmunks: Chipwrecked, 2011), The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water mengisahkan mengenai kekisruhan yang terjadi di Bikini Bottom ketika seluruh masyarakat kota tersebut menyadari bahwa resep Krabby Patty yang begitu popular menghilang secara misterius dari restoran Krusty Krab milik Mr. Krabs (Clancy Brown). Untuk mencegah terjadinya kekacauan yang lebih luas, SpongeBob SquarePants (Tom Kenny) bersama dengan teman-temannya, Patrick Star (Bill Fagerbakke), Squidward Tentacles (Rodger Bumpass), Sandy Cheeks (Carolyn Lawrence) dan bahkan musuh bebuyutan Mr. Krabs, Plankton (Mr. Lawrence), akhirnya saling bekerjasama untuk mencari keberadaan resep Krabby Patty.

Well… berpegangan penuh pada salah satu bagian lirik lagu pembuka serial animasi televisi SpongeBob SquarePants, “If nautical nonsense be somethin’ ya wish”, The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water memang menawarkan alur penceritaan dunia laut yang benar-benar aneh dan tidak masuk akal. Namun, justru hal itulah yang memang menjadi kelebihan SpongeBob SquarePants jika dibandingkan dengan serial animasi televisi lainnya – dan sebuah faktor yang membuat SpongeBob SquarePants mampu menjangkau demografi penonton berusia dewasa. Guyonan tentang bajak laut yang konyol, burung-burung camar yang gemar bernyanyi dan mendengarkan cerita, kerusuhan karena hilangnya sejenis junk food, otak yang berisi hal-hal manis dan berwarna hingga sosok lumba-lumba yang digambarkan mengawasi pergerakan alam semesta mengisi perjalanan 92 menit durasi film ini. Aneh? Jelas. Untungnya naskah cerita film ini tetap mampu memfokuskan diri pada kerjasama dan persahabatan karakter-karakternya daripada menawarkan serangkaian guyonan aneh kepada para penontonnya.

Harus diakui, guyonan yang ditawarkan oleh The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water jelas akan lebih mampu bekerja pada mereka yang memang menggemari serial animasi televisi SpongeBob SquarePants sendiri. Bahkan, jika dibandingkan dengan film pertamanya, The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water kadang terkesan memiliki jangkauan penceritaan yang terlampau acak untuk dapat dinikmati secara serius. The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water memang bukan dibuat dengan kecermatan penceritaan yang dinamis. Membutuhkan waktu beberapa saat untuk dapat menyesuaikan diri dengan jenis guyonan yang disajikan film ini. Dan, jika Anda benar-benar mampu menikmati kegilaan yang ditawarkan jalan cerita The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water, maka Anda akan sangat menikmati unsur hiburan yang dibawakannya.

Terlepas dari berbagai sudut pandang mengenai komedi yang ditawarkan The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water, film ini tersaji dengan dukungan pengarahan dan tata teknis yang cukup memuaskan. Duo sutradara Paul Tibbitt – yang memang telah berpengalaman dalam mengarahkan serial animasi televisi SpongeBob SquarePants – serta Mike Mitchell – yang bertugas untuk mengarahkan segmen live-action dalam film ini, mampu mengeksekusi jalan cerita dengan ritme penceritaan yang begitu cepat sehingga mempersempit ruang kedataran dalam penceritaan. Perpaduan animasi tradisional, CGI dan live-action dalam film ini juga berhasil disajikan dengan baik dan terasa nyata presentasinya. Bukan sebuah film animasi yang akan dapat bertarung dalam berbagai ajang penghargaan film berkelas namun The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water tetap mampu hadir sebagai sebuah sajian hiburan yang sulit untuk ditolak begitu saja. [B-]

The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water (2015)

Directed by Paul Tibbitt, Mike Mitchell Produced by Paul Tibbitt, Mary Parent Written by Glenn Berger, Jonathan Aibel (screenplay), Stephen Hillenburg, Paul Tibbitt (story), Stephen Hillenburg (animated series, SpongeBob SquarePants) Starring Tom Kenny, Bill Fagerbakke, Rodger Bumpass, Clancy Brown, Carolyn Lawrence, Mr. Lawrence, Matt Berry, Jill Talley, Mary Jo Catlett, Lori Alan, Dee Bradley Baker, Nolan North, Paul Tibbitt, Carlos Alazraqui, Eric Bauza, Tim Conway, Eddie Deezen, Rob Paulsen, Kevin Michael Richardson, April Stewart, Cree Summer, Billy West, Carlos Alazraqui, Antonio Banderas Music by John Debney Cinematography Phil Meheux Edited by David Ian Salter Production company Paramount Animation/Nickelodeon Movies/United Plankton Pictures Running time 92 minutes Country United States Language English

Review: Hotel Transylvania (2012)

Selain kesuksesan komersial Just Go With It, 2011 sepertinya akan diingat sebagai salah satu tahun terburuk dalam karir Adam Sandler. Tidak hanya film-film yang melibatkan namanya seperti Zookeeper, Bucky Larson: Born to be a Star dan Jack and Jill mendapatkan kritikan tajam dari banyak kritikus film dunia, perolehan pendapatan komersial film-film tersebut juga tidak menunjukkan kumpulan angka yang membahagiakan jika dibandingkan dengan perolehan komersial yang berhasil dicapai oleh film-film Sandler sebelumnya. Sandler jelas membutuhkan sebuah film yang dapat mengembalikan reputasinya sebagai salah satu bintang film dengan nama paling menjual di Hollywood. Dan rasanya… sebuah film animasi jelas adalah cara yang paling mudah untuk melakukan hal tersebut.

Continue reading Review: Hotel Transylvania (2012)

Review: Frankenweenie (2012)

Kapan terakhir kali Anda menyaksikan sebuah film arahan Tim Burton yang sama sekali tidak melibatkan kehadiran Johnny Depp ataupun Helena Bonham Carter? Wellthat was long, long, long time ago. Tepatnya di tahun 1996 ketika Burton merilis Mars Attacks!. Dan sejujurnya, Burton memang benar-benar membutuhkan penyegaran dalam film-film yang ia hasilkan. Bukan hanya ia harus berhenti menempatkan Depp sebagai karakter yang selalu berpakaian aneh atau mendandani Bonham Carter dengan rambut palsu besar yang berwarna-warni, namun Burton sepertinya memang harus kembali menyegarkan ide-ide yang ada di kepalanya agar setiap film yang ia hasilkan tidak terlihat memiliki jalan cerita yang monoton antara satu dengan yang lain. Mungkin akan ada gunanya jika Burton mengunjungi kembali beberapa karya awalnya di masa lampau… seperti film pendek berjudul Frankenweenie yang dulu pernah ia hasilkan pada tahun 1984. Continue reading Review: Frankenweenie (2012)

Review: Winnie the Pooh (2011)

Dalam era ketika setiap studio film berusaha untuk menampilkan teknologi termutakhir mereka dalam menggarap sebuah film animasi, rasanya cukup mengherankan untuk melihat Winnie the Pooh. Film yang menjadi kali kedua bagi Walt Disney Animation Studios dalam mengadaptasi kisah anak-anak populer karya penulis Inggris, A. A. Milne, ini sama sekali tidak ditampilkan dengan durasi yang panjang atau dengan teknologi tingkat tinggi yang mampu membuat setiap orang terpesona atau dengan mengadaptasi teknologi 3D yang rasanya saat ini sama sekali tidak dapat dihindarkan tersebut serta sama sekali tidak menggunakan talenta suara aktor maupun aktris Hollywood ternama dalam mengisikan suara setiap karakternya. Jika ada yang ingin dicapai oleh Winnie the Pooh, maka hal itu adalah sebuah keinginan untuk membawa kembali semua kenangan indah penontonnya tentang tujuh karakter favorit mereka sekaligus menarik banyak penggemar baru dari kelompok penonton muda yang akan dengan mudah jatuh cinta dengan film ini.

Continue reading Review: Winnie the Pooh (2011)

Review: Transformers: Dark of the Moon (2011)

Adalah sebuah pengetahuan umum bagi setiap pecinta film di dunia bahwa Michael Bay adalah seorang sutradara yang sangat handal ketika ia menghantarkan sebuah film yang disertai dengan begitu banyak adegan ledakan yang memerlukan tingkat pengarahan special effect yang tinggi. Namun, merupakan rahasia umum pula bahwa dalam setiap film-film yang diarahkan oleh Bay, tidak seorangpun seharusnya mengharapkan adanya pengembangan karakter yang jelas, kontinuitas jalan cerita yang terjaga maupun aliran emosi yang akan mampu membuat penonton peduli dengan apa yang terjadi pada setiap karakter di film yang mereka tonton. Transformers: Dark of the Moon sepertinya menjadi sebuah pembuktian kembali atas kenyataan tersebut.

Continue reading Review: Transformers: Dark of the Moon (2011)